
Sungguh susah hati Dimas untuk memulai hubungannya dengan Adinda seperti semula. Awal menikah dialah yang berusaha untuk mendekati Adinda agar mau menerimanya. Kini dia masih kecewa meskipun dia telah tahu dari Sinta bahwa itu hanya lah fitnah. Tapi Dimas baru tahu fakta kalau Adinda pernah menyukai laki-laki itu. Itu yang membuatnya. Cemburu.
Adinda melihat Dimas mengemasi pakaiannya ke dalam travel bag mini.
"Mas, mau kemana?" tanya Adinda.
"Aku mau mengecek usaha papa di luar kota" jawab Dimas singkat tanpa melihat wajah Adinda. Nada suaranya pun masih dingin.
Adinda terdiam. "Kalau tidak ku tanya. Dia tidak akan bilang mau ke mana" batin Adinda sedih.
"Lama?" tanya Adinda lagi.
"Lihat situasi" jawabnya masih datar. Dimas selesai mengemasi barang yang mau dibawanya.
Adinda hanya memperhatikan saja dari sisi ranjang. Hatinya sedih. Kenapa Dimas masih bersikap dingin dengannya padahal Adinda sudah melunak. Jika dia bersikap keras suasana rumah tangganya pun akan semakin keruh.
Dimas beranjak ke luar dai kamar. Adinda dengan cepat menggamit tangannya. Dimas pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Mas, jangan memperlakukan aku seperti ini seolah-olah aku sudah melakukan kesalahan besar yang tidak termaafkan" ucap Adinda.
"Kesalahan itu ada padaku yang belum bisa melihat orang yang aku cintai bersikap manis dengan laki-laki yang pernah dia sukai" balas Dimas lalu melepas pelan pegangan tangan Adinda di pergelangan tangannya.
Dimas keluar dari kamar meninggalkan Adinda yang terpaku mencerna ucapan suaminya itu. Air matanya merembes. Hatinya perih melihat sikap Dimas seperti itu. Semarah itu kah Dimas kepadanya.
"Akh..." Adinda merintih memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Ya, Allah. Kenapa sakit sekali" Adinda berusaha mencari tempat untuk berpegangan karena pandangan matanya mulai berkunang-kunang.
"Allahuakbar" Adinda menggigit bibirnya menahan sakit sambil memegang dinding di samping pintu kamar mandi. Cairan berwarna merah menetes di ujung kakinya.
"Apa ini?" Adinda melihat ke bawah lalu...
Buk!!
Adinda tidak sadarkan diri setelah jatuh ke lantai. Dari ujung kakinya darah terus mengalir.
__ADS_1
Dimas yang belum pergi, masih mengeluarkan mobilnya dari garasi tiba-tiba dia teringat kalau ponselnya tertinggal di kamar. Dia pun bergegas kembali ke dalam kamar.
Ceklek!!
"Astaghfirullah!!" teriak Dimas terkejut melihat Adinda terbaring di lantai dengan darah yang mengalir di ujung kakinya.
"Din ... Dinda" panggil Dimas memeluk Adinda dan menepuk-nepuk pipi wanita itu dengan wajahnya sangat pucat.
Dimas menggendong Adinda dan membawanya ke rumah sakit. Hatinya sangat cemas melihat Adinda yang terkulai lemas.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" yanya Dimas.
"Pak Dimas, istri anda mengalami keguguran. Usia kehamilan baru tiga Minggu" jawab dokter.
"Adinda hamil? Aku tidak tahu, berarti dia juga tidak tahu kalau sedang hamil" batin Dimas.
"Kenapa bisa begitu, Dok? Maksudnya bisa keguguran?" tanya Dimas lagi.
"Pola makan yang tidak sehat dan bisa juga karena stres yang berlebihan" jawab Dokter.
Dimas hanya tertunduk. Harta yang paling berharga itu belum menjadi rezeki untuk mereka berdua.
***
Ada rasa penyesalan yang sangat dalam di hati Dimas. Salah satu sikapnya yang belum bisa bersikap biasa saja setelah emosi dan rasa cemburunya. Yah, Adinda pun tidak tahu kalau suaminya itu sangat pencemburu.
Dimas mendekati Adinda yang masih terbaring, wajahnya tampak pucat. Ketika merasa ada orang lain di dekatnya Adinda memalingkan wajahnya ke arah pintu.
Air matanya merembes melihat wajah Dimas yang sedang duduk di sampingnya.
Adinda sudah tahu dari perawat yang belum lama keluar dari ruangannya sebelum Dimas masuk. Dia mengalami pendarahan dan baru saja kehilangan calon bayinya.
"Aku tidak tahu kalau sedang mengandung anak mu Mas..." batin Adinda sedih.
Dimas menghapus air mata Adinda dengan tangannya. "Maafkan aku" ucap Dimas lirih meraih jemari Adinda.
__ADS_1
"Aku lah yang menyebabkan kamu seperti ini" ucap Dimas lagi lalu menciumi tangan Adinda.
Adinda hanya membisu. "Semua ini bukan salah kamu, tapi aku lah yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Kalau saja aku tahu kalau sedang hamil. Aku akan menjaga makanku dan pikiranku agar tidak stres."
Dreet.Dreet.Dreet
Ponsel Dimas berbunyi. 'Mama Calling'
[Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam. Mas, lusa mama pulang. Adinda di mana?]
[Ada, Ma]
Dimas melirik Adinda lalu memberikan ponselnya. "Mama mau bicara."
[Din, kamu baik-baik saja, kan?]
[Iya, Ma. Aku baik-baik saja. Kenapa emangnya, Ma?]
[Nggak. Semalam mama mimpi Dimas menabrak kucing lagi hamil. Aneh banget, mimpi kok begitu]
Adinda tersenyum kecut. [Aku dan Dimas ada di rumah kok, Ma]
Dimas melirik Adinda sendu. [Masak apa kamu hari ini?]
[Aku masak ikan nila sambel saos, Ma]
Lagi-lagi Adinda tidak jujur dengan mertuanya kalau dia justru sedang di rumah sakit. Boro-boro mau masak.
[Jangan pedas-pedas. Dimas mudah sakit perut tuh]
[Iya, Ma. Udah dulu, Ma]
Adinda tidak tahan lagi ingin menangis. Dia menyerahkan ponsel Dimas kembali. Mama mertuanya pasti lebih sedih lagi karena cucu yang dinanti-nantikannya ternyata telah hilang nyawanya.
__ADS_1
Dimas keluar dari kamar inap, jangan sampai mamanya mendengar suara isakan tangis Adinda.