Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 47: Menangis


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian


"Mas, mama ditelpon Tante Ameera. Minggu nanti Hamish mau melamar calon istrinya. Jadi mama mau ke sana" ujar Mama Dimas ketika mereka sedang sarapan.


"Hamish mau menikah? Dengan siapa, Ma?" tanya Adinda penasaran. Dimas menoleh ke arah istrinya yang begitu antusias ingin tahu siapa calon istrinya sepupunya itu.


"Dengan Hasna" jawab mertuanya.


"Alhamdulillah" seru Adinda tersenyum sambil melirik suaminya. "Jadi sepupu ipar, nih."


Dimas kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Adinda mengikuti langkah kaki suaminya masuk ke dalam kamar.


"Mas, aku ikut, ya" pinta Adinda karena suaminya akan pergi bersama mertuanya.


"Nggak usah. Kamu di rumah saja" ujar Dimas melarang.


"Kenapa? HPL-ku kan masih lama" protes Adinda.


"Masih lama apanya. Tepat hari Minggu nanti udah habis sembilan bulan"  jelas Dimas.


"Iya, tapi kan belum ..."


"Din ... Please nurut" tatap Dimas tajam. Dia tidak mau berdebat lagi dengan istrinya itu. Dimas mengenakan pakaiannya sambil melirik istrinya.


Adinda hanya diam duduk di tepi ranjang. Dimas melihat istrinya tampak menyeka air matanya yang mengalir. Wanita itu menangis dalam diam.


"Sayang ..." Dimas mendekat dan menarik Adinda agar berdiri. "Ini demi kebaikan kamu. Perjalanan ke rumah Tante Ameera itu jauh. Aku nggak mau kamu kecapekan."


"Aku sendirian di rumah"


"Kamu ke rumah ibu saja"


"Nggak mau" Adinda masih berlinang air mata.


"Ck. Aku nggak tanggung jawab kalau kamu melahirkan di jalan"


"Emang kamu tega membiarkan aku melahirkan di jalan?" tanya Adinda.


"Iya ... Iya. Ikut" ujar Dimas menyerah. "Paling nggak bisa diajak kompromi" batinnya.


"Mas, aku tuh nggak selemah yang kamu kira. Sudah cuti begini aku bosan di rumah saja" ucap Adinda sambil menghapus sisa air matanya di pipi.


"Iya ... Istriku ini wanita perkasa" ledek Dimas sambil mencubit pipi Adinda gemas.


"Ahh, nggak gitu juga, Mas" protes Adinda tidak suka.


"Sudah, aku mau kerja dulu, ya" pamit Dimas. Laki-laki tampan itu berjongkok lalu mencium perut besar Adinda.


"Abi pergi dulu, ya. Baik-baik dengan umi" ucap Dimas sambil mengusap perut istrinya. Kemudian dia berdiri dan mencium bibir Adinda sekilas.


"Di rumah saja" pesan Dimas sebelum keluar dari kamar. Adinda hanya tersenyum mengangguk. Dimas pun meninggalkan kamar.


"Dasar cerewet! Udah saingan aja cerewetnya dengan mama" sungut Adinda. Dia kemudian mengambil ponsel untuk cuci mata, melihat produk-produk belanja online.


***


Setelah Dimas pergi, Adinda keluar kamar mencari mertuanya. Biasanya mertuanya sudah berkutat lagi di dapur untuk menyiapkan menu makan siang.


"Din, kamu mau makan lauk apa hari ini?" tanya mertuanya ketika melihat Adinda muncul di dapur.


"Apa saja, Ma. Mas Dimas makan siang di rumah, kan?" Adinda duduk dengan pelan di kursi.


"Katanya nggak sempat pulang" jawab mertuanya.


"Hm, sejak aku cuti. Dia jarang makan siang di rumah, deh" batin Adinda mengingat-ingat.


"Ma, lamaran Hamish nanti aku mau ikut" ujar Adinda memberitahu.


"Apa?. Kamu mau ikut?" Mama Dimas mengabaikan wajannya sejenak dan menoleh ke arah menantunya itu. Adinda mengangguk.

__ADS_1


"Nggak ... Nggak boleh, Din. Udah hamil besar begitu nggak boleh pergi jauh-jauh" ujar mertuanya lagi melarang Adinda ikut.


"Tapi, Ma ..."


"Nggak ada tapi-tapi" tegas mertuanya.


Adinda hanya diam. Dimas masih bisa mengalah, tapi kalau mertuanya jangan harap.


Menjelang siang, Dimas menghubungi Adinda untuk memberitahunya bahwa dia tidak bisa pulang.


"Ck. Kemana lagi ... suami nelpon kok nggak diangkat-angkat" gumam Dimas kesal.


Sudah berapa kali dia menelpon istrinya itu namun tidak diangkat juga. Dimas akhirnya menelpon mamanya.


"Ada di kamar, Mas" ujar mamanya.


"Dinda sudah makan siang, Ma?" tanya Dimas.


"Sudah. Tahu kamu tidak makan siang di rumah, dia makan lebih awal dari biasanya" jawab mama Dimas memberitahu.


"Ya, sudah, Ma. Aku hanya khawatir Dinda pergi ke mana lagi sampe telpon nggak diangkat" Dimas kemudian memutuskan sambungan telponnya.


"Kebiasaan Adinda, suka membuat suaminya cemas" gumam mama Dimas tersenyum.


***


Sejak pulang dari kantor, Dimas belum mendengarkan suara istrinya. Setelah membersihkan diri, Dimas mendekati Adinda yang duduk di sofa kamar mereka. Dia sedang membaca buku.


"Dinda!" Dimas mengambil paksa buku yang dia baca.


"Mass!!" teriak Adinda marah. "Apa sih, mengganggu orang saja" omelnya.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Dimas.


Adinda memalingkan wajahnya. "Nggak kenapa-kenapa" ketus Adinda.


"Nggak kenapa-kenapa gimana. Pertama, aku nelpon kamu berapa kali nggak diangkat-angkat. Kedua, aku pulang dicuekin. Masih bilang tidak ada apa-apa" cerocos Dimas kemudian duduk di samping istrinya. Dia menahan emosinya agar tidak lepas. Menghadapi istri yang sedang hamil tidak bisa diduga. Harus ekstra sabar.


Dimas tersenyum. Sudah pasti mamanya tidak akan mengizinkan. "Itu demi kebaikan kamu dan anak kita, Sayang" ucap Dimas sambil mengusap kepala Adinda.


"Tapi, Mas ..." toleh Adinda menatap suaminya.


"Ssst ..." Dimas menempelkan jari telunjuknya ke bibir istrinya. "Aku nggak akan ikut, mama bisa pergi sendirian, kok."


"Kok, jadi begini ..." ucap Adinda cemberut.


"Ya, aku tidak mau mengambil resiko. Di sana kita bukan jalan-jalan, Sayang. Kita datang ketika acara akad nikahnya saja, itu lebih penting. Hmm" tatap Dimas.


Hati Adinda terharu. Suaminya begitu pengertian dan mau mengalah demi dirinya. Mata Adinda berkaca-kaca, dia kemudian mengalihkan pandangannya.


"Lho, kok mau nangis lagi" sindir Dimas.


"Kamu membuat hatiku terharu, tahu nggak" ucap Adinda masih enggan menatap suaminya. Dimas tersenyum sambil tangannya mengarahkan wajah istrinya ke hadapannya.


"Aku bukan Dimas yang dulu, suka mengajak kamu ribut hanya masalah sepele" tatap Dimas serius. Mereka saling bertatapan, bibir Adinda sudah mewek mau menangis.


"Nggak usah menangis. Kasihan adek bayinya, uminya menangis terus hari ini" ujar Dimas.


"Nggak bisa!" rengek Adinda tidak bisa menahan air matanya yang mengalir di sudut matanya.


"Yah, dibilangin malah tambah menangis" ucap Dimas tersenyum lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Mas"


"Hmm. Apa lagi?" tanya Dimas mengurai pelukannya.


"Makan malam di luar, ya" pinta Adinda memelas.


"Sayang, lebih baik ..."

__ADS_1


"Hanya makan malam saja, masa nggak boleh" potong Adinda kecewa.


Dimas menghembuskan napasnya. "Nggak dituruti nanti menangis lagi. Masya Allah ibu hamil!!" jerit hati Dimas.


Akhirnya Dimas menganggukkan kepalanya, mengabulkan permintaan istrinya itu. Adinda tersenyum lebar kemudian mencium pipi Dimas.


Dimas melongo. "Sebahagia itukah" batinnya melihat perubahan ekspresi wajah istrinya yang begitu cepat.


***


"Lho, mau ke mana?" tanya mama Dimas melihat anak dan menantunya sudah rapi.


"Dinda kepingin makan malam di luar, Ma" jawab Dimas melirik istrinya.


"Jangan sering-sering makan di luar. Mubadzir ini masakan mama" sindir mama Dimas.


"Nggak kok, hanya malam ini saja. Iya kan, Sayang" toleh Dimas memberi kode mata.


"Eh, iya, Ma. Nggak tahu kepingin banget makan malam di luar" ujar Adinda mengerti dengan kode yang diberikan oleh Dimas.


"Kamu itu kok banyak maunya ketika hamil 9 bulan. Dinda ... Dinda" ujar mertuanya meninggalkan mereka berdua.


Adinda dan Dimas tertawa kecil melihat mama mereka pergi. Ibu hamil mau dilawan.


***


Dengan lahap Adinda menikmati menu makan malam yang disajikan oleh rumah makan.


"Din ... Bapak kan punya usaha rumah makan. Kenapa nggak makan di sana saja?" tanya Dimas heran.


"Nggak enak, ah. Tiap mau makan di sana nggak mau dibayar. Tahu sendiri gimana Bapakku" jawab Adinda.


"Iya, juga. Padahal kita bayar kan nggak masalah. Anggap saja seperti pengunjung lainnya" timpal Dimas.


Adinda melanjutkan makan. Dimas seperti tidak tahu bapaknya saja.


"Hei, Dinda!" tegur seorang wanita mendekati meja mereka.


"Hesti" gumam Adinda melihat wanita yang merupakan teman SMA dia dan Dimas dulu. Dimas pun melirik Adinda.


"Hai" sapa Adinda tersenyum kecil.


"Kamu dengan Dimas?" tanya Hesti sambil melihat perut besar Adinda tidak percaya.


"Suami istri" jawab Dimas langsung.


"Ya, Allah. Aku nggak percaya, musuh bebuyutan bisa akur begini. Kok, kalian bisa menikah, sih. Gimana ceritanya?" Hesti yang tahu betul bagaimana kelakuan Dimas kepada Adinda masih belum percaya.


Adinda dan Dimas hanya mesem-mesem mendengarkan ucapan Hesti.


"Dijodohkan, Hes. Kalau bukan karena dijodohkan aku juga nggak mau menikah dengan musuhku" jawab Adinda sambil tertawa kecil. Dimas memasang wajah tidak suka dengan jawaban istrinya.


"Hm, pantesan. Ya, udah. Aku minta nomor kontak kamu, Din. Suamiku udah menunggu di mobil" ucap Hesti. Dia hanya membeli nasi yang dibungkus saja karena mau dimakan di rumah.


Setelah bertukar nomor telepon, Hesti pergi meninggalkan rumah makan itu.


"Musuhku sekarang adalah suamiku" sindir Adinda melihat Dimas.


"Iya, musuh dalam selimut" timpal Dimas cuek.


Adinda pun tertawa renyah mendengarkan ucapan suaminya itu.





__ADS_1




__ADS_2