
Acara pertemuan para pengusaha di sebuah hotel berbintang lima yang sudah diberitahukan oleh Dimas sebelumnya, menuntut Adinda harus ikut untuk menemani suaminya pergi ke sana.
Laki-laki bertubuh atletis itu sedikit memaksa istrinya untuk ikut. Meskipun Adinda sudah menyiapkan gaunnya beberapa hari yang lalu untuk menemani Dimas menghadiri acara tersebut, hatinya merasa kurang sreg untuk ikut.
"Din, kamu tega melihat aku bengong sendirian di acara itu" ujar Dimas sambil menyiapkan kemeja dan jas yang akan dia pakai.
Adinda duduk di tepi ranjang dengan memasang wajah cemberut. Dimas lalu berjalan mendekati Adinda dan berdiri tepat di hadapannya.
"Gimana kalau aku sampe melirik..." goda Dimas mengangkat dagu Adinda dengan jari telunjuknya. Dimas sengaja tidak menyelesaikan ucapannya untuk melihat respon Adinda.
Adinda langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Dimas.
"Oh, jadi kamu udah ada niat mau melirik wanita lain kalau aku nggak ada di samping kamu. Begitu, ya!!" ujar Adinda marah lalu berdiri dari tepi ranjang.
Dimas terkekeh melihat ekspresi wajah Adinda. Sudah lama dia tidak melihat wajah cantik istrinya yang sedang marah.
"Nggak kok, Sayang. Hanya bercanda. Sedikit pun nggak ada niat itu, kok" Dimas langsung menarik Adinda ke dalam pelukannya.
"Bercanda katamu. Banyak candaan lain tapi kenapa harus berkaitan dengan itu" batin Adinda merasa geram dengan ucapan Dimas.
"Ayo, siap-siap pakai baju sana" lanjut Dimas sambil mengurai pelukannya.
Adinda memakai gaun yang dia beli bersama Sinta tempo hari. Begitu juga dengan Dimas, dia mengenakan kemeja yang telah Adinda belikan.
Tak lama kemudian Dimas bersama Adinda meluncur ke hotel. Turun dari mobil, Dimas menggenggam erat tangan Adinda seolah-olah takut terlepas. Memasuki tempat acara, Dimas pun disambut oleh beberapa teman-temannya sesama pengusaha. Di dalam ruangan itu sudah disiapkan banyak meja bundar dengan enam kursi untuk para tamu undangan.
Dimas mengedarkan pandangannya mencari meja yang belum terlalu banyak diduduki oleh orang. Dimas lalu berjalan menuju meja yang ingin dia tempati sambil menggandeng tangan Adinda. Adinda pun menuruti langkah Dimas yang mengajaknya ke sana kemari.
"Mas, pelan-pelan dong" sungut Adinda. Adinda takut menginjak gaunnya yang agak sedikit panjang itu kalau dia berjalan cepat.
__ADS_1
Sebelum tiba di meja yang mereka tuju, seorang wanita berjilbab berdiri dari tempat duduknya dan melihat ke arah di mana Adinda dan Dimas sedang berjalan yang kebetulan menuju ke arahnya.
Wanita itu dan Adinda sama-sama saling terkejut ketika mereka bertemu pandang. Begitu juga dengan Dimas ketika sadar melihat ke arah yang sama, dia melihat wanita yang tidak asing lagi baginya sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua.
"Hasna!! Aduh, bagaimana ini" jerit hati Adinda cemas.
Hasna tampak fokus menatap ke arah tangan Adinda dan Dimas yang saling bergandengan. Adinda pun tampak salah tingkah karena merasa diperhatikan begitu oleh Hasna. Dia berharap agar Dimas segera melepaskan genggaman tangannya.
"Kenapa Adinda bisa jalan bergandengan tangan begitu dengan Dimas?" tanya hati Hasna gelisah.
"Dimas" tegur Hasna ketika sudah berhadapan langsung dengan pasangan itu.
"Apa kabar, Na? Kamu mewakili Om lagi, ya?" tanya Dimas tampak biasa saja. Dimas dapat merasakan bahwa Adinda sedang ingin melepaskan genggaman tangannya. Dimas pun perlahan melepaskan genggaman tangannya sebelum Hasna menyadarinya.
"Dinda, kamu?" tatap Hasna dengan pandangan curiga melihat Adinda.
"Oya, Na. Kenalkan, Adinda ini istriku" ujar Dimas seolah menjawab rasa curiga Hasna.
"Ya Allah, kenapa Engkau pertemukan kami" batin Adinda.
"Be ... benar Din, kamu istri Dimas?" tanya Hasna seolah masih tidak yakin dengan ucapan Dimas tadi.
"Iya, Na" jawab Adinda pelan.
Sungguh Adinda merasa tidak enak dengan Hasna. Hasna pasti berpikiran bahwa Adinda telah membohonginya. Hasna tersenyum kecut melihat kenyataan di depan matanya.
"Ternyata wanita yang dicintai Dimas adalah teman ku sendiri" batin Hasna sedih bercampur kecewa.
"Baiklah, aku permisi dulu mau ke toilet" pamit Hasna kemudian melewati Adinda dan Dimas.
__ADS_1
Adinda dan Dimas pun saling pandang dengan pikiran masing-masing. Namun bagi Dimas tidak menjadi masalah baginya Hasna telah mengetahui siapa istrinya. Sementara Adinda tampak begitu tidak tenang dengan tahunya Hasna bahwa Dimas adalah suaminya.
***
Di toilet, Hasna menghapus airmatanya yang mengalir deras tidak tertahankan lagi.
"Apa Adinda tidak tahu bahwa laki-laki yang ku bicarakan kepada dia dan Sinta di food court itu adalah suaminya?. Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi!!' teriak hati Hasna.
"Maaf kan aku, Din. Aku masih mencintai Dimas, suamimu" gumam Hasna menahan sesak di dadanya.
Setelah agak lama di toilet dan membersihkan wajahnya agar tidak terlihat seperti habis menangis, Hasna kembali lagi ke tempat acara. Meja tempat Hasna tidak jauh dari tempat duduk Adinda. Hasna tampak memperhatikan gerak-gerik Adinda dan Dimas tampak seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran saja. Pemandangan itu membuat hati Hasna semakin berdenyut sakit.
"Mas, udah ah. Malu tahu nggak!" seru Adinda dengan suara pelan ketika Dimas menyentuh sudut bibirnya karena ada sisa makanan yang menempel di sana.
"Kenapa harus malu? Kamu itu istriku bukan kekasih gelapku" ujar Dimas sewot. Adinda hanya memanyunkan bibirnya mendengarkan ucapan Dimas.
"Nggak usah dimanyunkan begitu tuh bibir, nanti aku tergoda" ledek Dimas tersenyum.
Karena meja yang mereka tempati masih sepi, belum ada orang lain yang duduk di sana meskipun tamu undangan terus berdatangan.
"Nggak akan bisa meskipun kamu tergoda. Ini tempat umum, Mas" balas Adinda percaya diri melihat Dimas.
"Hmm. Kamu lupa, ya, kalau kita sekarang sedang berada di hotel" tatap Dimas nakal.
Adinda baru sadar dengan ucapannya lalu mendadak salah tingkah sendiri. Dimas bisa melakukan apa saja kepadanya. Termasuk memesan kamar untuk mereka berdua bermalam.
"Aaaaa!!!" Adinda memejamkan matanya membayangkan hal itu.
"Apaan sih kamu. Nggak tahu malu banget" ujar Adinda keki.
__ADS_1
Mereka berdua tiba-tiba diam ketika ada pasangan meminta izin untuk duduk di meja yang sama. Dimas pun mengizinkan pasangan itu lalu mereka saling berkenalan satu sama lain.