Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 39: Cari Jodoh


__ADS_3

Dimas merasa senang sekali dengan kedatangan sepupunya itu. Memang sudah lama mereka tidak bertemu.


"Makin sibuk saja, ya" sindir Dimas ketika mereka sedang santai setelah makan malam.


"Hanya menjalankan usaha papa dan wara-wiri menjadi Nara sumber seminar saja, Mas" jelas Hamish.


Panggilan Mas di sini bukan memanggil nama, ya, tapi sapaan Mas untuk laki-laki yang usianya lebih tua darinya. Berhubung nama panggilan Dimas juga Mas, kan sama. Jadi bukan berarti Adinda dan Hamish tidak sopan dengan Dimas.


Adinda yang duduk di samping Dimas ikut mendengarkan saja percakapan kedua laki-laki tampan itu.


"Belum mau mengundang kita, nih?" selidik Dimas.


Hamish hanya tertawa kecil. "Belum, Mas.


"Jangan sibuk kerja terus, nanti jodohmu lewat" canda Dimas.


"Atau kamu mau minta carikan calon via Mas Dimas" sela Adinda.


Lagi-lagi Hamish tertawa kecil. "Boleh, Mas. Tapi jangan sekarang" ucap Hamish menolak. Karena dia juga sedang sibuk. Nanti tidak fokus.


Dimas dan Hamish jarang bertemu sehingga mereka berdua sangat asyik mengobrol. Sementara mata Adinda sudah mengantuk karena sudah larut malam. Dia pun masuk ke kamar duluan meninggalkan Dimas.


Keesokan harinya


Dimas tampak sedang mencari sesuatu di lemari pakaian. Adinda hanya memperhatikan saja dari arah kaca towalet. "Mencari apa, sih?" batinnya.


Akhirnya Adinda menghampiri suaminya itu. "Mencari apa, Mas?" tegur Adinda.


"Itu, Sayang. Dasiku yang bergaris tipis warna abu-abu" jawab Dimas masih sambil mencari-cari.


"Pakai yang ada saja dulu, besok dicari lagi" ujar Adinda. Dimas akhirnya mengambil dasi warna lain. "Nih, kamu pasangkan" Dimas menyerahkan dasi berwarna hitam itu."


Adinda mengalungkan dasi itu ke leher Dimas. Laki-laki tampan itu memperhatikan wajah istrinya yang tampak khusyuk memasangkan dasinya.


Setelah selesai Dimas menarik pinggang Adinda agar merapat ke tubuhnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dimas seolah bisa membaca ekspresi wajah istrinya.


"Tidak" elak Adinda sambil meletakkan kedua tangannya di dada Dimas.


Dimas mendekatkan wajahnya kemudian menarik tengkuk istrinya. Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Adinda. Dimas semakin memperdalam pagutannya karena mendapatkan balasan dari istrinya. Jika tidak ada suara ketukan di pintu kamar, keduanya akan terhanyut dan lupa bahwa pagi itu mereka harus berangkat bekerja.


Dimas melepaskan pagutannya dan tersenyum menatap Adinda. Laki-laki tampan itu kemudian membuka pintu kamar.


"Kalian belum mau sarapan?. Hamish sudah menunggu dari tadi" tanya mama Dimas.


" Iya, Ma. Kenapa tidak sarapan duluan saja. Aku tadi lama mencari dasi, Mas" jawab Dimas.


"Ayo, mana Adinda" ajak mamanya.

__ADS_1


Adinda yang berada di belakang Dimas tersenyum geli. Hampir saja mereka kebablasan.


Di meja makan


"Kamu bisa pakai mobil yang ada di garasi, Ham" ujar Dimas disela mereka sarapan pagi.


"Iya, Mas. Terimakasih. Bude juga tadi sudah memberitahuku" sahut Hamish.


"Kamu akan lama kan di sini?" tanya Dimas.


"Nggak, Mas. Dua tau tiga hari saja. Pekerjaanku di sana nanti terbengkalai kalau lama di sini" jawab Hamish.


"Jadi ke sini murni untuk bekerja bukannya mau refreshing" sela Adinda. Hamish hanya tertawa kecil.


"Gimana mau dapat jodoh" sambung Dimas.


"Jodoh itu bisa di mana saja, Mas. Bisa bertemu di perjalanan atau di tempat kerja" jelas Hamish.  Sekelebat bayangan wajah Hasna melintas di pikirannya. Hamish tersenyum sendiri. Kenapa ketika membahas tentang jodoh, dia justru teringat dengan Hasna.


Dimas dan Adinda sudah menyelesaikan sarapan paginya. "Aku duluan, ya, mau mengantar Nyonya ke sekolah dulu" ujar Dimas sambil melirik adinda yang ikut beranjak dari kursinya.


"Iya, aku juga mau on the way, nih" balas Hamish.


Mereka pun berpisah dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


***


Adinda berjalan menuju ke ruang guru. Dia pun melihat Sinta baru saja datang.


"Eh, Din. Aku mau minta tolong dengan kamu" ujar Sinta.


Mereka pun mengobrol sebentar di bangku taman sebelum bel masuk berbunyi.


"Minta tolong apa?" tanya Adinda penasaran. Soalnya Sinta itu orangnya jarang sekali meminta bantuan kepada orang lain kalau tidak mendesak.


"Tolong tanyakan kepada Dimas, ada lowongan kerja tidak di perusahaannya" jawab Sinta. "Di bagian apa saja, Din, yang penting Bang Hendra bekerja."


"Iya, nanti aku tanyakan dengan Dimas. Turun jabatan nggak masalah?" ujar Adinda.


"Nggak masalah, Din. Asalkan halal dan aman dari wanita genit seperti Mayang" ucap Sinta. Adinda mengangguk setuju. Aman dari wanita seperti itu lebih penting daripada penghasilan besar tapi dikelilingi oleh setan betina.


"Eh, Hasna tadi malam mengabariku kalau dia ada di sini" sambung Sinta teringat dengan chat dia semalam dengan Hasna.


"Oh, ya. Urusan bisnis lagi?. Sibuk sekali dia" timpal Adinda.


"Iya. Mau bertemu dengannya tidak?" tanya Sinta.


"Kalau dia mau, ya, tidak masalah. Aku juga sudah melupakan semuanya" jawab Adinda. "Tapi kalau dia belum move on dari Dimas, aku malas bertemu dengannya."


"Ya, udah. Kita buat janji dulu untuk bertemu dengannya" ucap Sinta. "Dia memberitahuku kalau dia sudah melupakan Dimas dan berusaha untuk menyukai laki-laki lain."

__ADS_1


"Hasna sudah ada tambatan hati?" tanya Adinda.


"Nggak tahu juga. Tapi roman-romannya begitu. Nanti kita tanyakan saja dengan orangnya" jawab Sinta.


Di tempat lain


Disela aktivitasnya, Hasna mendapatkan telpon dari Hamish. Gadis itu tersenyum melihat nama Hamish muncul di layar ponselnya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Na" balas Hamish tersenyum. "Kamu masih sibuk, ya?"


Hamish tahu kalau Hasna ada urusan bisnis datang di kota yang sama dengannya.


"Nggak, Bang. Sebentar lagi juga istirahat"


Hasna juga sudah merapikan berkas-berkasnya. Pembahasan tentang kerjasama antara perusahaan akan dilanjutkan lagi setelah makan siang dan sholat dzuhur.


Hamish juga sedang istirahat, setelah dzuhur acara yang dia ikuti akan dilanjutkan lagi. Kebetulan acara Hamish berada di hotel yang sama tempat Hasna menginap.


"Makan siang bersama, boleh?" tanya Hamish meminta izin terlebih dahulu kepada Hasna.


"Bang Hamish ada di mana?. Aku nggak bisa keluar dari hotel" ujar Hasna kecewa karena waktunya tidak banyak.


"Aku ada di hotel yang sama dengan kamu"


"Oh, ya. Abang ada acara di sini juga, ya?" tanya Hasna tidak menyangka.


"Kita bertemu di restoran hotel, ya" ucap Hamish sebelum menutup panggilan telponnya.


Tak lama kemudian Hasna dan Hamish bertemu di restoran hotel. Mereka makan di tempat yang sama meskipun mengikuti acara yang berbeda.


"Abang masih mengisi acara seminar lagi?" tanya Hasna disela mereka sedang makan siang.


"Iya, jam tiga juga udah selesai, kok" jawab Hamish.


"Bang Hamish!!" panggil seorang gadis menghampiri meja mereka. Gadis cantik berbalut pashmina itu memegang buku karya Hamish.


Hamish dan Hasna menoleh ke arah gadis itu. "Ya, ada apa?" tanya Hamish menghentikan aktivitas makannya.


"Maaf mengganggu. Elin mau minta tanda tangan Bang Hamish, mumpung bertemu. Nanti susah mendapatkan tanda tangan, Abang" ucap gadis muda itu sambil menyodorkan bukunya.


"Boleh ... Boleh" ucap Hamish ramah sambil mengambil buku dari tangan Elin, yang merupakan salah satu peserta seminar.


Hasna hanya memperhatikan saja gerak-gerik gadis yang berada di antara mereka. Gadis itu terus menatap Hamish yang sedang menandatangani bukunya.


"Ini bukunya" ujar Hamish menyerahkan kembali buku gadis cantik itu.


"Terima kasih, Bang" Elin meninggalkan mereka.

__ADS_1


Hasna melanjutkan lagi aktivitas makannya dalam diam. Laki-laki di hadapannya itu sangat populer dan sepertinya banyak gadis-gadis cantik yang menyukainya. Laki-laki tampan, mapan dan kearab-araban.


__ADS_2