
Sinta mengeringkan rambutnya dengan handuk. Rencananya nanti malam mereka berdua akan menjemput Alika di rumah orang tua Sinta.
Hendra menghampiri Sinta yang sedang duduk di tepi ranjang setelah mengambil kotak perhiasan yang telah dibelinya tadi. Sudah lama dia tidak membelikan perhiasan emas untuk istrinya itu. Sekarang penghasilannya sudah lumayan sehingga bisa membelikan perhiasan untuk wanita yang dicintainya itu.
Hendra menunjukkan kotak perhiasan yang dibukanya separuh dan memperlihatkan sebuah kalung emas. Dia mengambil kalung itu dan membuka pengaitnya. Hendra kemudian memakaikan kalung itu di leher jenjang istrinya itu.
Sinta tersenyum sambil meraba kalung yang sudah melingkar di lehernya. "Kamu suka?" tanya Hendra tersenyum. Sinta mengangguk tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Bang. Tapi kalung ini tidak akan aku pakai, takut hilang. Jadi akan aku simpan, ya" jawab Sinta. Hendra hanya mengangguk setuju.
"Kamu masih meragukan aku, Dek?" tanya Hendra menatap manik istrinya itu. Sinta sudah salah paham dengannya. Dia tidak tahu kalau ibunya sampai bicara seperti itu tentang Mayang. Sinta sudah menceritakan apa yang sudah dia dengar ketika mau mengunjungi rumah mertuanya itu.
"Keputusan ada di tangan Abang. Kalau Abang sudah bosan denganku, Abang tidak perlu selingkuh. Cukup ceraikan aku dan Abang bisa menikah lagi. Simple, kan?" balas Sinta tersenyum.
"Kalau aku mencari wanita lain, apakah dia bisa memuaskan aku seperti kamu yang sangat pandai memuaskan suami" kedip Hendra sambil menjawil dagu istrinya.
"Ihh, Abang ini bicara apa, sih" teriak Sinta malu. Dia berdiri dan hendak pergi menghindari suaminya itu.
"Hei ..." Hendra menarik tangan Sinta hingga wanita itu jatuh kepelukannya. Mata mereka pun bertemu pandang.
"Mau kemana?"
"Abang nggak lapar apa?" tanya Sinta. Aktivitas intim mereka tadi telah menguras tenaganya dan kini perutnya merasa lapar.
"Nantilah, Dek. Kita ngobrol-ngobrol dulu di sana" ujar Hendra sambil matanya melirik ke arah ranjang. Mata Sinta mendelik.
"Ck. Kita jarang bisa lama-lama berduaan begini kalau sudah ada Alika" jelas Hendra.
Apa yang diucapkan suaminya itu memang benar. Malam hari adalah waktu untuk bersama putri mereka. Hendra pulang dari bekerja sudah sore. Hanya malam hari, dia bisa bercengkrama dengan putrinya itu.
Sinta akhirnya menurut ketika Hendra menuntunnya ke atas ranjang. Mereka berdua berbaring di sana. Sinta menjadikan tangan Hendra sebagai bantal untuk kepalanya.
"Bang" panggil Sinta.
"Apa, hmm" sahut Hendra melirik ke arah istrinya.
"Abang naik jabatan apa mungkin karena dibantu oleh Mayang?. Karena dia menyukai Abang, lantas dia meminta papanya untuk menaikkan posisi Abang di perusahaan papanya itu" ujar Sinta menebak-nebak.
__ADS_1
"Aku tidak berpikiran sampai sejauh itu, Dek" ucap Hendra. "Aku pikir karena kinerjaku memang bagus makanya aku bisa naik jabatan."
Sinta memiringkan badannya menghadap Hendra. "Abang terlalu naif. Kalau gadis itu tidak menempel terus dengan Abang baru murni karena kinerja Abang yang bagus, tapi kenyataannya tidak seperti itu kan" ujar Sinta mencoba membuka pikiran suaminya.
"Dek, kalau hati kamu menjadi tidak tenang lantaran ada Mayang di tempat kerjaku, aku akan mengundurkan diri. Dengan konsekuensinya, aku akan menjadi pengangguran" ucap Hendra tegas.
Sinta memeluk badan suaminya. "Asalkan kamu bisa jauh dari pelakor itu. Tidak masalah bagiku" batin Sinta.
"Abang kan bisa mencari pekerjaan di tempat lain" ujar Sinta sambil menggerakkan jemarinya di dada Hendra membuat bentuk abstrak di sana. Hendra hanya diam saja. Dia akan mengambil keputusan jika dia merasa tidak nyaman lagi.
Di sekolah
Dimas mengantar Adinda tepat di depan pintu gerbang sekolah. "Hari ini mau ke mana lagi?" tanya Dimas sebelum Adinda turun dari Outlander marun itu.
"Nggak kemana-mana, Mas" Adinda memanyunkan bibirnya. "Nanti jemput seperti biasa, ya" sambung Adinda mendekatkan wajahnya ke arah Dimas, bertepatan dengan Dimas yang juga menoleh ke arahnya. Tanpa sengaja bibir keduanya bersentuhan. Adinda dan Dimas saling pandang. Tak ingin moment itu berlalu begitu saja, Dimas justru memperdalam ciuman itu sejenak.
Adinda menarik diri sambil tersenyum malu. "Instingku tahu kalau kamu mau menciumku" goda Dimas sambil tersenyum.
"Insting mesum!" balas Adinda sambil membuka pintu mobil. Dia segera keluar dari dalam mobil setelah mengucapkan salam kepada Dimas. Dimas tersenyum geli kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan area tempat Adinda mengajar.
Adinda berjalan memasuki ruang guru sambil tersenyum. Dia masih teringat kejadian di mobil tadi.
"Udah ceria hari ini. Bagaimana?. Sudah selesai urusan kamu?. Alika akan dapat papa baru, nih?" tanya Adinda sambil menggoda Sinta.
"Dinda, asem!!" teriak Sinta. "Aku masih cinta dengan dia, tahu nggak."
"Lho, kata kamu sendiri Bang Hendra selingkuh. Gimana, sih" Adinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang aku lihat kemarin itu hanya salah paham saja. Bang Hendra sangat mencintai aku, kok. Pulang-pulang dia langsung minta jatah. Ya, aku tidak bisa menolak" jelas Sinta sambil tersipu malu. Adinda tertawa kecil melihat wajah Sinta sudah merona.
"Jadi wanita itu bukan selingkuhannya?" tanya Adinda memastikan.
"Bukan, dia itu anak atasan Bang Hendra" jawab Sinta. "Tapi sepertinya dia naksir suamiku. Suamiku naik jabatan pasti karena gadis itu menyukainya" sambung Sinta.
"Wah, kamu harus hati-hati, Sin. Bang Hendra kan bertemu terus dengan dia setiap hari, lama-lama bisa tergoda juga" ujar Adinda mengingatkan.
"Tenang saja, Din. Bang Hendra tidak akan melirik wanita lain karena aku selalu memuaskannya di atas ranjang" jelas Sinta sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ya, Allah, Sinta!" seru Adinda tidak percaya. "Perlu dicontoh ini sebagai perisai suami agar tidak melirik wanita lain" sambung Adinda.
"Iya, Din. Kalau dia sudah puas dengan servis istrinya di rumah, dia akan selalu ingin cepat pulang dan bertemu istrinya" tambah Sinta.
Adinda dan Sinta menutup mulutnya ketika melihat beberapa guru memasuki ruangan. Obrolan tentang domestik rumah tangga mereka pun terhenti.
Ketika pulang, Sinta dikejutkan oleh suaminya yang datang menjemputnya ke sekolah. Memang ketika pergi tadi dia diantar oleh Hendra, Sinta pun pulangnya berniat akan naik angkutan umum saja.
"Cie ... kembali seperti pengantin baru, nih. Maunya nempel terus" goda Adinda lagi. Dia pun sudah ditunggu oleh Dimas di pintu gerbang.
"Iya, dong. Memangnya kamu saja bisa mesra-mesraan terus dengan Dimas, aku juga bisa" balas Sinta tidak mau kalah. Mereka berdua terkekeh lalu berpisah menuju ke mobil suami masing-masing.
Adinda membuka pintu mobil kemudian duduk di samping Dimas. Laki-laki tampan itu melirik istrinya, wajah cantik itu terlihat begitu ceria sekali.
"Senyum-senyum terus. Ada apa, nih?" tanya Dimas kepo.
"Sinta, Mas. Dia dan suaminya seperti pengantin baru saja" jawab Adinda.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Dimas lagi sambil melajukan mobilnya.
"Sinta itu paling jarang diantar jemput suaminya, Mas. Apa lagi setelah suaminya naik jabatan, pelakor mulai merapat" jawab Adinda.
"Pelakor?. Apa itu?" Dimas mengeryitkan dahinya mendengarkan istilah itu.
"Perebut laki orang, Mas. Masa nggak tahu, sih" sungut Adinda.
Dimas hanya tersenyum kecil. Istilah apa itu dia tidak pernah mendengarnya, yang dia tahu juga itu namanya selingkuhan.
"Mas" panggil Adinda sambil menoleh ke arah Dimas.
"Apa?" sahut Dimas dengan pandangan tetap fokus ke depan.
"Kamu mau balik lagi ke kantor, ya?" tanya Adinda.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Nggak, cuma bertanya saja" jawab Adinda tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kamu mau aku nggak balik lagi ke kantor?" lirik Dimas sambil tersenyum.
Adinda hanya tersenyum saja tanpa banyak bicara lagi. Saat tiba di rumah nanti dia ingin memeluk suaminya itu, tapi apa daya pekerjaan suaminya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Dia tidak mau membuat suaminya menjadi atasan yang seenaknya saja. Adinda pun hanya memendam keinginannya itu di dalam hati.