
Adinda berjalan mendekati Dimas yang tampak sedang asik memainkan ponselnya.
"Mas" panggil Adinda.
"Hmm" Dimas masih fokus pada layar ponselnya.
"Sinta mau mengajakku ke rumah sakit membesuk Bu Kenken. Boleh, ya" ujar Adinda meminta izin.
Dimas mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Adinda. Laki-laki tampan itu lalu menatap serius istrinya itu.
"Boleh, tapi aku yang mengantar kamu ke sana" ucap Dimas.
"Mas, Sinta gimana? Dia kan, bawa motor" protes Adinda.
"Tinggalkan saja di sini. Atau ketemuan di rumah sakit aja kalau dia masih mau ikut ke sana" ujar Dimas tidak menerima sikap protes Adinda.
Adinda menarik napas. Kadang sikap Dimas membuatnya jengkel. Adinda membalikkan badannya meninggalkan Dimas untuk menemui Sinta lagi di ruang tamu.
"Sin, kamu mau ke rumah sakit lagi nggak? Soalnya Dimas mau mengantarku ke sana" ujar adinda memberitahu Sinta.
"Oh begitu. Ya udah, aku naik motor aja, deh. Kita ketemuan di sana aja" ujar Sinta. Adinda tersenyum senang. Syukurlah Sinta bisa memahaminya.
"Kayaknya Dimas sekarang jadi posesif sama kamu" sambung Sinta berbisik ke telinga Adinda.
Adinda hanya tertawa kecil mendengarkan ucapan Sinta yang ada benarnya itu. Selagi sikap Dimas positif, tidak menjadi masalah dengan sikap posesif suaminya itu.
"Kalau gitu aku duluan aja, ya" pamit Sinta.
"Iya. Sampai jumpa di rumah sakit, ya" balas Adinda.
Sinta sudah lebih dulu pergi. Adinda kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
***
Tiba di rumah sakit
"Aku tunggu di luar saja" ujar Dimas ketika mereka sampai di depan kamar inap Bu Kenken.
"Mas, masuk aja. Temani aku" pinta Adinda menarik tangan Dimas. Melihat tatapan mata Adinda yang penuh harap begitu. Dimas pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Tok.Tok.Tok.
Adinda mengetuk pintu kamar. Dia dan Dimas pun masuk setelah terdengar dari dalam kamar suara laki-laki telah mempersilahkan mereka masuk.
"Assalamualaikum" sapa Adinda.
"Waalaikumsalam" beberapa suara serempak menjawab salam.
"Mba Dinda" panggil Amanda menoleh melihat Adinda dan Dimas masuk.
"Bu Dinda. Saya Toni, suami Bu Kenken" ujar seorang laki-laki memperkenalkan dirinya.
Adinda menangkupkan kedua tangannya di dada. Tak lupa, dia juga mengenalkan Dimas kepada Pak Toni.
"Iya, Pak. Bagaimana keadaan Bu Kenken?" Tanya Adinda.
"Itulah yang saya bingung, ketika Bu Amanda datang membesuk. Ibu sadarkan diri dan minta ingin bertemu Bu Dinda" jelas Pak Toni.
"Ada apa, ya?" gumam Adinda penasaran.
Adinda berjalan mendekati Amanda yang masih duduk di samping ranjang tempat Bu Kenken sedang terbaring lemah.
"Mba, Bu Kenken mau bicara dengan Mba" ucap Amanda.
"Bu Kenken mau bicara apa?" tanya Adinda pelan.
"Din ... Dinda!!" panggil Bu Kenken dengan suara lemahnya.
"Iya, Bu. Aku dengar"
"Ibu minta maaf. Tolong maafkan ibu, ya" ujar Bu Kenken memohon. Air mata mengalir di sudut matanya.
Adinda dan Amanda saling pandang. Kenapa Bu Kenken sampai mau minta maaf?
"Iya, Bu. Tapi tentang apa? Ibu tidak usah memikirkan hal itu dulu" ucap Adinda menenangkan Bu Kenken.
"Maafkan ibu, karena ibulah yang mengambil foto-foto kamu di mall waktu itu" ucap Bu Kenken dengan suara bergetar. Airmatanya tak henti mengalir.
"Amanda, ibu juga minta maaf, ya" sambung Bu Kenken melirik ke arah Amanda.
__ADS_1
"Ya Allah. Jadi dalang di balik semua kejadian yang hampir merusak rumah tanggaku kemarin karena ulah Bu Kenken" Adinda hanya membatin karena keterkejutannya mendengar pengakuan dari Bu Kenken.
Amanda, Sinta, Farhan dan Dimas yang berada di ruangan itu juga tampak sangat terkejut mendengarkan pengakuan dari Bu Kenken. Mereka saling tatap tidak percaya. Kenapa Bu Kenken sampai tega membuat fitnah seperti itu.
"Kenapa ibu tega membuat fitnah seperti itu kepada kami?" tanya Amanda.
"Itu ka ... karena rasa iri ibu kepada Adinda. Dia selalu dipuji dan dipercaya oleh kepala sekolah padahal banyak guru senior lainnya termasuk ibu" jawab Bu Kenken jujur.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu tolong maafkan kesalahan istri saya" timpal Pak Toni lalu mendekati istrinya.
Adinda berkaca, bagaimana dia harus bersikap. Karena wanita inilah pertemanan dia dan Amanda pun menjadi retak. Hingga dia pun belum memaafkan Amanda.
Akhirnya Adinda dan Amanda beserta suami mereka dengan ikhlas memaafkan semua kesalahan Bu Kenken.
***
Setelah adegan dramatis itu Adinda dan teman-temannya pamit pulang. Adinda dan Amanda telah memaafkan kesalahan Bu Kenken.
"Mba Dinda, maafkan aku juga, ya" ucap Amanda ketika mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit.
"Iya. Sudah, lupakanlah. Sebagai sesama muslimah kita harusnya saling memaafkan. Apalagi kita sudah tahu siapa dalangnya" balas Adinda tersenyum.
"Eh, jangan-jangan feeling ku ini. Bu Kenken udah masuk 40 hari, makanya dia mau minta maaf sama kalian" celetuk Sinta.
Semua mata mengarah ke Sinta. "Hanya feeling, lho" ujar Sinta keder ditatap empat manusia seolah-olah siap untuk menerkamnya hidup-hidup.
Sinta langsung menutup mulutnya seolah-olah tidak mau bicara lagi. Takut salah omong.
***
Dua hari kemudian
Ternyata ucapan Sinta di rumah sakit tempo hari tidaklah salah. Malam harinya, setelah Adinda dan teman-temannya membesuk dan mendengar pengakuan dari Bu Kenken, beliau menghembuskan napas terakhirnya.
"Tidak menyangka, ya, ternyata hari itu pertemuan terakhir kita dengan Bu Kenken" ucap Amanda mengingat kejadian ketika Bu Kenken sadar dari koma.
"Iya. Rupanya dia belum bisa pergi dengan tenang karena masih ada urusan di dunia yang belum selesai" sambung Sinta.
"Alhamdulillah, Bu Kenken masih sempat untuk meminta maaf dengan kita" toleh Adinda melihat Amanda.
__ADS_1
"Iya, Mba. Setidaknya itu akan meringankan Bu Kenken di alam kubur nanti" timpal Amanda.
Wajah-wajah rekan guru yang lain masih terlihat sedih karena mereka telah kehilangan rekan seprofesi.