My Love Bos

My Love Bos
Hujan di Rumah


__ADS_3

Pagi ini berbeda dari biasanya,langit yang selalu cerah kini gelap di selimuti awan hitam, matahari yang bersinar terang kini bersembunyi malu di balik awan hitam, suasana yang hangat kini terasa dingin menusuk ke dalam pori-pori, rintik-rintik hujan jatuh ke bumi tanpa permisi membasahi kota besar tersebut.


Namun walaupun cuaca tidak mendukung, tidak menyurutkan semangat para manusiawi yang mengejar duniawi,mereka tetap berangkat menuju tujuan mereka masing-masing untuk melakukan aktivitas dan bekerja .Kota pun tetap macet dan padat, bunyi klakson mobil dimana-mana, setiap mereka tidak ada yang mau mengalah, semuanya bergegas untuk sampai ke tempat tujuannya.


Tapi tidak dengan Ken,dia masih berada di rumahnya dan belum berangkat ke kantor.Hujan di luar membuat Ken mengurungkan niatnya untuk ke kantor.Apalagi dengan udara yang dingin ini, yang dibutuhkan hanya kehangatan bersama orang yang dicintai.


Anna menghampiri suaminya yang duduk di sofa ruang santai, sambil membawakan teh hangat untuk suaminya.


"Jam berapa nanti ke kantor mas?"ucap Anna duduk di samping suaminya.


"Lihat aja nanti sayang, kalo hujannya udah reda baru mas ke kantor,tapi kalo hujannya ngak reda, ya berarti seharian ini mas menemani kamu di rumah"ucap Ken menggoda.


"ihhss mana bisa begitu,biasanya pak Bos tidak pernah tuh meninggalkan pekerjaannya, masa cuma hujan dikit doang buat pak Bos ngak ke kantor"cibir Anna dengan embel-embel memanggil suaminya dengan sebutan Pak Bos.


"Ngak papa lah Buk Bos sekali-sekali luangkan waktu di rumah bersama buk bos pasti lebih asik dan menyenangkan, lagian di luar juga dingin, jadi butuh kehangatan di dalam rumah buk bos "jawab Ken sambil menarik sudut bibirnya dengan alis sedikit terangkat.Mendengar ucapan Ken yang menurutnya lucu membuat Anna terkekeh.


"Dasar kamu mas"ucap Anna masih terkekeh, tangannya memukul pelan lengan suaminya.Ken menangkap tangan Anna dan menciumnya.


"Udah sayang, mas mau minum teh hangat buatan kamu dulu"ucap Ken mengambil secangkir teh yang di bawakan oleh istrinya tadi dan menyeruputnya hingga habis.


"Attha masih tidur sayang?"ucap Ken setelah minum teh hangat dari Anna.


"Iya mas, mungkin karna hujan jadi tidurnya nyenyak banget, kita aja yang udah dewasa kalo hujan-hujan begini ya bawaanya pasti tidur"ujar Anna.


"Iya yah sayang, yasudah kalo gitu ayo kita ke kamar sekalian menghangatkan tubuh kita, Anna juga pasti dingin kan?"ajak Ken dengan maksud lain pada istrinya.


"emangnya di kamar kita ada mesin penghangat tubuh? ngak kan mas?"kata Anna sambil mengernyit kebingungan.


"Ngak perlu pake mesin penghangat tubuh sayang, kita aja bisa menciptakannya berdua, melakukan kegiatan panas yang bernilai ibadah"ucapan Ken tanpa filter membuat Anna langsung terkejut dengan mulut menganga sambil menepuk jidatnya tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya itu.


"Bisa tidak mas kalo bicara yang begituan jangan di perjelas bangat, ngak ada malu-malunya, aku yang malah malu dengarnya,kalo mau bicara itu di pikir dulu, atau ngak disaring dulu mana yang mau di ucapkan, nyaman didengar atau ngak?, lah ini asal sebut aja apa yang diinginkan itu yang di sebut, seperti anak kecil saja"ujar Anna dengan wajah sebal bercampur kesal.


Kemudian Anna berdiri dan berlalu meninggalkan Ken yang masih terdiam dan mengulum senyumnya sambil melihat sang istri yang menaiki tangga menuju lantai dua.


Ken sangat heran dengan sikap istrinya akhir-akhir ini lebih sering sensian dan baper,bahkan Ken selalu salah di matanya hingga berujung dengan kesal dan marahan, padahal biasanya itu terjadi saat Anna sedang datang bulan.Tapi sekarang tidak, Anna belum datang tamu bulanannya.Ken yang jadi bingung menghadapi perubahan sikap istrinya yang tadi ketawa-ketawa sekarang malah marah-marah.

__ADS_1


Cukup lama Ken terdiam dan termenung bertanya-tanya dalam dirinya tentang perubahan sikap istrinya yang terlihat beda dari biasanya hingga Ken menyimpulkan bahwa memang sikap wanita itu sangat sulit ditebak dan penuh teka-teki yang sulit di pecahkan oleh para lelaki.


Tanpa berlarut-larut memikirkan sesuatu yang membuatnya tambah pusing, akhirnya Ken menghubungi asisten pribadinya mengatakan bahwa hari ini dia tidak ke kantor, jadi Tio dan Laura yang akan mengambil alih penuh urusan pekerjaan kantor untuk hari ini.


Setelah itu Ken menyusul istrinya ke kamar mereka.


Di sisi lain


Tio masuk ke ruangan Wardah.


"Boleh aku masuk"ujar Tio mendorong sedikit pintu kaca tersebut.


Wardah yang sedang sibuk mengetik lalu mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang yang minta izin masuk ke dalam ruangannya.


"Pak Tio? ada apa? kenapa ke ruanganku?"ucap Wardah bingung.


"Tentu saja bertemu denganmu Nona, ada yang ingin aku bicarakan"ucap Tio berjalan masuk ke dalam ruangan Wardah.Dengan Refleks Wardahpun berdiri.


"Duduklah! kenapa kamu seperti orang ketakutan saja saat melihat ku"ujar Tio bergurau,kemudian menarik kursi di depan meja wardah yang mendudukkan tubuhnya di sana. Begitu juga dengan wardah yang kembali duduk di kursinya.


"Tenang lah Nona cantik,lagian nanti semua orang juga bakalan tau bahwa sebentar lagi Nona akan menjadi istriku,apalagi undangan pernikahan kita sudah disebarkan, hanya di kantor saja yang belum,itu pun karna permintaan Nona, nanti sebelum pulang kita akan membagikannya kepada seluruh karyawan di kantor ini "


"Jadi berhubungan hari ini Bos Ken tidak masuk kantor, Nanti kita akan datang bersama, ke rumah Bos untuk meminta cuti sekalian memberikan undangan untuk Bos dan Anna"Wardah menyimak saja apa yang diucapkan Tio.


"Apakah Nona setuju?"tanya Tio, Wardah mengangguk-angguk pelan menandai dia setuju dengan apa yang Tio ucapkan.


"Oh ya satu lagi, Ayah memintaku dan Nona untuk pulang bersama ke Semarang, karna semua keluarga telah menunggu kehadiran kita di sana, termasuk semua keluarga besarku sudah berada di Semarang, tinggal H-3 lagi ........"


Tiba-tiba pintu ruangan Wardah di ketuk dari luar bersama dengan suara seseorang "Aku masuk Ya wawa"ucap Amel mendorong pintu kaca ruangan Wawa. Seketika Amel terkejut melihat kehadiran Tio yang berada di ruangan Wawa.Wardah juga sama terkejutnya kedatangan Amel yang secara tiba-tiba.


"Loh ada Pak Tio juga di ruangan Wawa?"ucap Amel melirik Wawa seperti bertanya.


"Iya saya sedang berbicara urusan pribadi dengan Wardah"jawab Tio tenang membuat Wardah membulatkan matanya sempurna.


"Ohhhhh urusan pribadii.... baiklah lanjutkan saja, maaf saya mengganggu kalian berdua"ucap Amel angguk-angguk, matanya terus melirik Wawa yang masih diam dengan raut wajah yang sulit di artikan.

__ADS_1


"Tidak apa-apalah sesekali membahas urusan pribadi di kantor"sindir Amel.


"Yasudah aku keluar dulu Wawa, Pak Tio "ucap Amel sedikit menunduk.


Saat Amel berbalik badan dan akan menarik pintu.


"Tunggu mel, kamu jangan salah paham dulu,,,"ucap Wawa berjalan dari tempat duduknya.


"Nona mana undangannya,berikan pada Amel satu, lebih baik dia tau duluan dari pada karyawan lainnya"ujar Tio menghentikan langkah Wawa.


"Pak Tio...."ucap Wardah dengan penuh penekanan.Amel kembali berbalik badan menatap aneh pasangan di depannya dengan tatapan bingung dan heran.


"Undangan apa yang di maksud pak Tio Wawa"tanya Amel.


"Nanti kamu juga tau, berikan undangannya pada Amel Nona"titah Tio


"Ta.... tatapi Pak"ucap Wardah keberatan, sebenarnya Wardah masih ingin memprivasi nya dengan semua orang, bukan tanpa sebab Wardah merahasiakan karna antara dia dan Tio tidak pernah dikabarkan memiliki hubungan dekat, apalagi dia sendiri selalu menjaga jarak dengan Tio,namun sekarang tiba-tiba saja akan menikah, yang pasti akan mengejutkan semua orang di kantor.


Tio menganggukkan kepalanya pada Wardah.


"Ada apa Wawa?, kalian berdua membuat aku kebingungan saja"celoteh Amel. Sedangkan Wardah dengan berat hati mengambil undangan di tas.


"Kamu jangan terkejut ya Mel"ucap Wardah berjalan mendekat ke arah Amel sambil membawa surat undangan pernikahannya.


"Kenapa aku harus terkejut, hanya gara-gara undangan pernikahan orang lain, asal jangan kamu saja yang nikah"ucap Amel terkekeh sambil merebut undangan itu dari Wardah.


"Yaudah terimakasih undangannya, nanti saja aku lihat, soalnya aku lagi banyak pekerjaan"ucap Amel membawa undangan itu dan keluar dari ruangan Wardah.


Tio juga menatap Wardah sekilas.


"Aku keluar dulu, lanjutkan saja pekerjaanmu, santai dan rileks saja semua orang juga bakalan tau"ucap Tio yang juga keluar dari ruangan Wardah.


Hufftttt.....


...****************...

__ADS_1


jangan lupa dukungannya readers, like, koment, vote dan gift


__ADS_2