
1 jam lebih sudah berlalu tapi belum ada tanda-tanda operasi akan selesai dan selama itu pula Ken berdiri di depan ruang operasi pandangannya terus menatap pintu ruangan operasi yang masih tertutup dan dia tidak bergeming dari posisinya, tak sedikitpun Ken merasakan kakinya kebas ataupun pegal, yang di rasakannya saat ini kecemasan dan ketakutan membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi.
Berulang kali Ken membenturkan kepalanya di dinding dan menangis dalam diam menyalahkan dirinya atas kejadian ini, Bunda pun tak tega melihat menantunya seperti itu, tapi Bunda tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menasehati Ken, sebab Bunda pun juga merasakan hal yang sama tentang putrinya.
Begitu pun Tio, Wardah dan Amel juga, tidak ada yang baik-baik saja saat ini, semuanya juga merasakan kesedihan yang sama atas Anna.
Adzan magrib pun berkumandang
Tio mengajak Wardah untuk pulang dulu ke rumah, karna dari pulang kantor tadi mereka langsung saja menuju rumah sakit belum sempat pulang.
"Bunda, kami pamit mau pulang dulu, nanti Insya Allah akan kesini lagi" pamit Wardah
"Iya nak, pulanglah kalian pasti capek"jawab Bunda memaksakan tersenyum.
"Bunda yang sabar ya bun, kami pasti mendoakan Anna yang terbaik, tolong kabari Wawa tentang kondisi Anna nanti ya Bun"tutur Wardah dengan sorot mata sendu.
"Terima kasih nak"Bunda mengangguk lemah dan menampilkan senyum miris.
Sementara Amel dia masih ingin berada di rumah sakit menunggu operasi caesar Anna selesai.
Setelah Tio dan Wardah berlalu.
Amel dan Bunda juga memutuskan untuk sholat magrib di musholla yang ada di rumah sakit.
Tinggallah Ken sendiri di depan ruangan operasi bersandar di dinding memejamkan kedua matanya yang terasa panas menahan air mata yang terus ingin keluar tanpa permisi.
Jantung yang tak henti-hentinya berdegup kencang menunggu operasi yang belum selesai, rasanya tak sanggup membayangkan betapa menyakitkan sang istri di dalam sana yang berjuang demi anaknya.
"Nak, sholat magrib dulu"ucap Bunda menyentuh lengan Ken.
Berdo'alah pada Allah meminta pada Allah semoga operasinya berjalan lancar, semoha Anna dan anak kalian bisa selamat keduanya, hanya Allah lah tempat kita mengadu saat ini,curahkan segala kegundahan dan kekhawatiran nak Kem pada Allah"nasehat bunda dengan lembut.
Ken sejenak menatap Bunda, nampak kedua mata Bunda yang sedikit bengkak dan memerah karna menangis, Ken merasa iba menatap mertuanya seolah-olah kuat padahal sebenarnya rapuh.
__ADS_1
Ken mengangguk, ada sedikit keraguan dalam dirinya meninggalkan ruangan operasi, dirinya ingin menunggu operasi selesai dan menunggu dokter keluar dari ruangan.Tapi panggilan sholat lebih penting baginya saat ini.Dengan berdo'a dan menghadap pada Allah mungkin membuatnya sedikit lebih tenang.
"Hubungi Ken jika operasi Anna telah selesai Bun"ucap Ken sebelum berlalu pergi.
Bunda mengangguk sambil tersenyum sendu.
Setelah Ken pergi untuk sholat Bunda kembali terduduk pasrah di depan ruangan operasi sembari berdzikir dan berdo'a.
Di Musholla rumah sakit.
Ken melaksanakan sholatnya dengan khusyuk, menghayati setiap bacaan sholat yang di bacanya tak terasa membuat air matanya jatuh.
Selesai sholat Ken memanjatkan doa pada Robb nya, memohon dengan kesungguhannya dan meminta dengan ketulusan hatinya.Mencurahkan segala yang dirasakannya.Air mata pun mengalir begitu saja.
..."Tiada daya dan upaya kecuali engkau yang maha adidaya, tiada kuasa yang lebih hebat kecuali kuasamu ya Robb, tiada kekuatan yang lebih kuat kecuali kekuatanmu ya Robb, engkaulah pencipta alam semesta beserta isinya, semuanya hanyalah milikmu, engkaulah yang berhak atas segalanya termasuk pada makhluk ciptaan mu, hamba berserah diri padamu ya Robb, semua yang terjadi saat ini adalah salah hamba ya Robb dengan kesalahan dan kebodohan hamba sehingga membuat istri dan anak hamba dalam keadaan bahaya, berjuang demi hidup dan mati di ruang operasi, hamba tak akan memaafkan diri hamba jika terjadi sesuatu pada mereka, selamatkanlah keduanya ya Robb yang maha menghidupkan dan mematikan.......
Aamiin, Ken menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya sambil menghapus air matanya.
Kemudian Ken melanjutkan berdzikir dan membaca Al-Qu'ran.
Saat Ken sudah dekat menuju ruang operasi bersamaan dengan itu pintu ruang operasi juga terbuka, dokter pun keluar.
Bunda, Amel dan Zidhan yang sudah ada disana langsung berdiri menghampiri sang dokter.Dan Ken sedikit berlari menghampiri.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya dok"cerca Ken tidak sabar.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, memang semuanya atas kuasa Allah, kami tidak menyangka anak bapak kuat dan mampu bertahan, Walau kondisi sang ibu sangat memprihatinkan karna kecelakaan yang menimpa dan memaksa sang bayi harus keluar dari waktu yang di tentukan tapi Alhamdulillah anak bapak lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu pun.Mungkin ini juga berkat do'a dari semua keluarga.Sekali lagi kami ucapkan
Selamat atas kelahiran anak bapak berjenis kelamin perempuan"jelas dokter tersenyum namun tersimpan kesedihan di balik senyum itu.
"Alhamdulillah"ucap syukur semuanya dengan terharu.Ken begitu bahagia mendengar penjelasan sang dokter.Air mata bahagia mewakili semuanya.
"Bagaimana dengan istri saya dok?"tanya Ken saat melihat raut wajah dokter yang berubah.
__ADS_1
Dokter terdiam, mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya.
"Pasca operasi kondisi bu Anna semakin memburuk, tekanan darahnya sangat rendah, saat ini bu Anna tidak sadarkan diri, kami akan segera memindahkan bu Anna ke ruangan IGD untuk mendapatkan perawatan yang intensif" tutur sang dokter
Seketika air mata kebahagian tadi tertahan dan berganti dengan kesedihan dan kepiluan.Ken terdiam kaku masih mencerna ucapan dokter barusan, tubuh tegapnya rasanya lemah tak bertulang, kakinya lemas dan bergetar, lidahnya pun keluh tak tau harus berkata apa.Suasana hatinya yang tadi membaik kini kembali tersayat sedih.
"Para perawat dan suster sedang membersihkan anak bapak.Setelah itu Bapak bisa masuk dan mengadzankan anak bapak, sebelum di masukkan ke dalam inkubator"saran dokter sebelum pergi meninggalkan ruangan operasi.
Ken masih terdiam kaku tak berdaya.
Zidhan menepuk bahu Ken, membuat Ken tersadar dan menoleh ke arah adik iparnya itu.
"Masuklah ke dalam kakak ipar"kata Zidhan.
Di sisi lain Ken ingin segera menemui dan mengadzankan putri kecilnya yang telah terlahir dengan selamat ke dunia ini, menyambutnya dan menggendong untuk pertama kalinya sang buah hati tercinta yang sudah lama di tunggu-tunggunya, namun Ken juga tidak akan kuat melihat kondisi istrinya, hatinya menangis teriris pilu dan tak kan sanggup melihat sang istri yang berbaring lemah tak sadarkan diri.
Dengan langkah perlahan Ken memasuki ruangan operasi lengkap dengan pakaian anti steril, suster menghampiri Ken memberikan bayi kecil yang mungil kemerahan.
Tangan Ken bergetar menyambut anaknya,untuk pertama kalinya Ken menggendong darah dagingnya, hati seorang Ayah mana yang tidak luluh dan tersentuh melihat sang buah hati untuk pertama kalinya , air mata yang di tahannya sejak tadi akhirnya meluncur juga menatap wajah malaikat kecilnya sangat kuat dan mampu bertahan dalam kondisi ibu yang sangat memprihatinkan.
"Masya Allah"terucap di bibir Ken
Wajah sang putri begitu mirip dengan ibunya.Tak hentinya Ken mengucap syukur pada sang maha kuasa.
Lalu Ken mengumandangkan adzan dengan lembut di telinga putri kecilnya.Air matanya kembali jatuh, sulit menggambarkan entah itu air mata bahagia atau sedih.
Selesai mengadzan putrinya Ken kembali menatap wajah putri kecilnya.Kemudian Ken mendarat ciuman lembut di kening buah hatinya.
"Terimakasih telah hadir sayang, selamat datang di dunia putri kecil papa"bisik Ken.
Sang perawat kembali mengambil bayi kecil itu dalam gendongan papanya dan meletakkan ke dalam inkubator.
"Mari Pak, kami akan membawa bayi ke ruangan NICU dan Bu Anna kami pindahkan ke ruangan IGD"ucap seorang perawat.
__ADS_1
Hati Ken terenyuh melihat sang istri yang terbaring tak berdaya, wajah yang terlihat pucat pasi dan di dorong oleh beberapa perawat keluar dari ruang operasi dan diikuti oleh suster membawa inkubator bayinya.
Walau kakinya terasa berat untuk melangkah, Ken tetap mengikuti memegang pegangan ranjang sang istri yang di dorong oleh perawat. Bunda, Zidhan dan Amel juga mengikuti dari belakang.