
"Aaaa....Sudah hentikan"teriak panik Kania.
Melihat baku hantam Zidhan dan mantan kekasihnya.
"Jika kau tidak berhenti aku akan teriak memanggil semua orang kesini"ancam Kania.
"Berani kau mendekati pacarku"
"Kau ingin merebutnya dariku, itu tidak akan terjadi"ucap Ivan memukuli Zidhan
Tetapi Ivan seperti menulikan telinganya, tidak mengindahkan ancaman Kania, dia terus memukul Zidhan, namun masih bisa di elakkan oleh Zidhan tapi akhirnya Zidhan tetap terjatuh karna serangan Ivan.
"Hiksss henti-henti kau keterlaluan Ivan, kau bajingan"Kania berteriak histeris sambil menangis, melihat Zidhan terduduk lemas akibat pukulan Ivan.
"Zidhan, maafkan aku"Kania ikut terduduk sambil, tangannya bergetar menyentuh sudut bibir Zidhan yang sedikit berdarah.
Melihat hal itu Ivan kembali tersulut emosi langsung menarik kasar tangan Kania.
"Lepas.... lepaskan tanganku"Kania memberontak.
"Kau tidak berhak atas diriku"melepas kasar cekalan tangan Ivan di pergelangannya.
"Beraninya Kau....."Ken menahan emosinya, menghampiri,dia menarik tangan Kania.
Sekali pukulan tepat di wajah Ivan.Kania bergetar ketakutan.
"Kurang ajar, apa kau tidak puas dengan melecehkan adikku, sekarang kau berulah kembali"pukulan kedua tepat di perut Ivan.
"Abang sudah hentikan "Kania takut Ivan babak belur di tangan Abangnya, Ken tidak akan berhenti begitu saja jika emosinya sudah memuncak.
Apalagi pada seseorang yang sudah berani mengganggu adiknya, sudah sebulan ini Ken ingin menemuinya untuk membuat perhitungan atas perbuatannya yang telah di lakukan pada sang adik.
Zidhan yang melihat suasana semakin memanas, kemudian Zidhan berjalan dengan langkah gontai menghampiri Ken.
"Kania berdirilah di sana"ujar Zidhan.
"Tapi Zi, Ivan bisa mati di tangan Abang nanti"ucap Kania setengah menangis.
"Abang ipar sudah bang, hentikan! kasian dia"ucap Zidhan berusaha menengahi.
"Lelaki berengsek seperti dia tidak akan aku ampuni"
"Dia harus di beri pelajaran"ucap Ken membabi buta.Ivan terjatuh tak berdaya
"Mm mas... mas"pekik Anna terkejut dengan membulatkan matanya tidak percaya.
Anna melangkah sedikit cepat, dengan wajah kecemasan dan bergetar takut menyaksikan suaminya memukuli orang lain seperti orang kesetanan.
__ADS_1
Sesaat Anna melihat ke arah adik ipar dan menatap kasian adiknya dengan wajah yang sedikit lebam.
"Hentikan!!! "
"Apa-apaan ini, sudah!!! hentikan!!"Anna menarik lengan suaminya.
Ken terkejut dan tersadar melihat kedatangan sang istrinya, padahal Anna sedang istirahat di kamar,karena rasa nyeri di perutnya, tapi kenapa istrinya itu bisa ada disini.
"Kenapa kamu memukulinya, apa kamu tidak malu mas, kita berada di mana, lihatlah situasinya kita berada ditengah pesta pernikahan"Anna menarik Ken menjauh dari Ivan.
Untung mereka berada di halaman belakang, alunan musik serta huru-hara kehebohan dan kemeriahan acara di luar, apalagi semua orang sibuk menikmati pesta pernikahan jadi tidak akan mendengar kegaduhan yang sedang terjadi di halaman belakang.
Kania berlari menghampiri Ivan yang sudah lemah tidak berdaya, dengan wajah yang sudah tidak di kondisikan lagi. penuh dengan lebam, keunguan dan darah keluar dari mulutnya
Ken menatap dalam dan rasa bersalah pada sang istri yang masih terkejut dan shock dengan kejadian barusan.
"Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa begini??" ucap Anna dengan nafas memburu mencoba mengatur pernafasan akibat keterkejutannya melihat apa yang terjadi.
Ken tidak menjawab, matanya melirik sang adik yang mendekati Ivan.
"Kania, jangan coba-coba kau mendekat ke arahnya....."Ken menatap tajam menusuk ke arah Kania.
Anna memegang kepala, matanya melemah,pandangannya kabur,dia tidak bisa lagi menahan keseimbangan tubuhnya.
"Mbak!!!"teriak Zidhan berlari saat melihat Anna sudah melayang ke belakang.
Anna sudah tidak sadarkan diri, Ken panik luar biasa.
"Sayang!, Anna, Anna"Ken mencoba menepuk pelan pipi sang istri.
"Buka matamu, jangan buat mas cemas sayang"
"Zidhan siapkan mobil, kita akan membawa mbak mu ke rumah sakit"
"Cepat Zidhan!!"tegas Ken dengan wajah kecemasan.Dia masih memangku tubuh Anna yang lemah tak berdaya.
"Ba baik Abang"jawab Zidhan.
_
Setengah jam sudah Ken menunggu dokter memeriksa keadaan sang istri.
Namun dokter belum juga keluar membuat Ken merasa was-was, tidak tenang dan gelisah, dia terus mondar-mandir mengusap wajahnya beberapa kali.
Zidhan yang kasian Abang iparnya itu, mencoba untuk menghampirinya.
"Sabarlah Bang, mbak pasti baik-baik saja kok"Zidhan menepuk pelan bahu Ken.
__ADS_1
"Tenang kan dirimu Bang mari kita duduk dulu di sana sembari menunggu dokter keluar"ucap Zidhan meyakinkan.
"Tidak Ji"ucap Ken, dia tidak ingin beranjak di depan pintu ruangan pemeriksaan sang istri.
Zidhan yang tidak ingin memaksa, hanya bisa menghela nafasnya pelan dan berniat untuk kembali ke tempat duduknya.
"Ji pulanglah ke rumah Wawa, hari sudah larut malam, kau perlu istirahat"ujar Ken pada adik iparnya.Zidhan menoleh ke arah Ken.
"Biar Abang di sini, pasti orang-orang di sana menyariin kita, apalagi Attha"
"Tapi Bang...."belum Zidhan menyelesaikan ucapannya, dokter keluar dari ruangan Anna.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? ada apa dengannya?"tanya Ken tidak sabaran.
"Istri anda tidak apa-apa Tuan, dia hanya kelelahan dan shock hingga membuatnya pingsan"jelas dokter wanita itu membuat Ken dan Zidhan bernafas lega.
"Tapi Tuan dia perlu istirahat dengan cukup, keadaannya sangat lemah, dan jangan buat dia stress, hindari dari hal-hal yang membuatnya terkejut atau shock ,karna itu akan berpengaruh pada kehamilannya, dan rawan bagi terjadi apalagi hamil muda seperti istri anda tuan"Jelas dokter secara detail.
Ken masih belum mengerti maksud penjelasan sang dokter, Ken mencoba mencerna kembali apa yang diucapkan oleh dokter wanita tersebut.Otaknya tidak bisa terkoneksi dengan cepat saat sekarang ini.
Sedangkan Zidhan terkejut mendengar penjelasan dokter, antara percaya atau tidak percaya mendengar berita bahagia yang disampaikan dokter tentang mbaknya.
"Aa apa dok, mbak saya ha hamil?"tanya Zidhan memastikan.
Dokter seraya mengangguk.
"Benar dek, tolong di jaga kesehatan kakaknya ya, dalam kondisinya saat ini jangan dulu mengerjakan pekerjaan yang berat dan melelahkannya, kalo begitu saya permisi dulu"ucap dokter berlalu.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya mbak Anna hamil juga"puji syukur Zidhan.
Ken tersadar dan menatap Zidhan sekilas yang terlihat sangat bahagia.
Ken masuk ke ruangan Anna. perawat yang masih ada di dalam ruangan kemudian keluar.
"Biarkan Nona istirahat dulu ya Tuan, saya permisi"ucap perawat. Dan Ken mengangguk
Dengan langkah pelan dan perlahan Ken mendekat ke ranjang blankar, matanya terus menatap wajah istri yang masih pucat.
Dia merasa sangat bahagia, Ken tidak bisa menggambar kan betapa bahagianya dia mendengar kabar yang di tunggu-tunggu dan di harapkannya selama ini.
Ken tidak bisa menyembunyikan perasaan harunya, air mata kebahagian jatuh begitu saja.
"Terimakasih sayang"Ken menciumi kening dan wajah sang istri dengan penuh kasih sayang.
Puji syukur tidak henti-hentinya Ken panjatkan pada sang penciptanya,yang telah membentuk janin di rahim sang istrinya.Buah cinta mereka.
...****************...
__ADS_1