
Daerah yang jauh dari pusat kota dan keramaian,lebih tepatnya di daerah terpencil yang tersembunyi terdapat sebuah bangunan rumah yang besar dan kokoh dengan desain dan interior modern tapi tampak seperti lebih seram dan suram bahkan rumah tersebut memancarkan aura-aura negatif yang tidak baik karna warna rumah yang serba hitam dan sekekeliling rumah juga gelap seperti tidak ada kehidupan di dalam rumah tersebut, padahal di luar rumah di jaga ketat oleh beberapa bodyguard yang bertubuh tegap dan berwajar sangar.
Masih terlihat bahwa rumah tersebut baru ditempati, penghuninya pun baru pindah ke rumahnya itu sekitar 2 bulanan ini. Desain eksterior dan interiornya juga menggambarkan kepribadian sang pemiliknya,yang kehidupannya penuh dengan kegelapan tidak ada warna di dalamnya, sehingga menjadikannya pribadi yang kejam dan menutup dirinya dengan lingkungan sekitar.
Sebuah truk pengangkut barang memasuki halaman rumah tersebut, para bodyguard langsung menghampiri, dua orang utusan dengan wajah tegang dan tubuh gemetar turun dari mobil truknya.
"A..aapakah benar ini alamat rumah yang tertara di kertas ini"ucap orang itu bertanya pada bodyguard yang berdiri di depannya.
"Benar!! ini alamatnya"
"Kalian bantu turun kan semua barang-barang dari truk ini dan bawa ke dalam"ucap bodyguard itu dengan tegas yang sepertinya kepala bodyguard.
"Semua tagihannya sudah di bayarkan oleh Bos saya"
"I iiya benar tuan, tugas kami hanya mengantarkan barang-barang saja selamat sampai tujuan"
satu persatu barang di turunkan dan di bawa masuk ke dalam rumah.
"Lakukan dengan hati-hati jangan sampai lecet"perintah kepala bodyguard tersebut berdiri mengawasi dengan tangannya berdekap di dada.
Seorang laki-laki dengan angkuhnya menuruni anak tangga, sepertinya dialah pemilik rumah ini.Kepala bodyguard kepercayaannya menghampiri laki-laki tersebut.
"Semua barang-barangnya telah di letakkan di kamar yang Tuan perintahkan"ucap bodyguard tersebut menunduk hormat.
"Hemmm bagus"jawab lelaki tersebut.
"Bik Jah"suara lelaki itu menggelegar di rumah besar itu.
Dengan tergopoh-gopoh wanita tua nan rentan itu menghampiri Tuannya yang sejak kecil di asuhnya.
"Ada apa Den Tuan??
"Rapikan semua barang-barang yang baru datang, di kamar yang berada di sebelah kamar utama"ucapnya.
"Ba baik Den Tuan"ucap Bi Ijah.
"Lakukan dengan hati-hati, saya tidak ingin ada yang lecet"
"Iya baik Tuan bibik akan lakukan dengan hati-hati"ucap Bi jah menunduk hormat kemudian berlalu dari Tuannya.
"Dan kau selalu awasi,pantau dan ikuti Nadin kemana dia pergi, jangan sampai lengah karna sebentar lagi dia akan melahirkan"
__ADS_1
"Iya baik Tuan laksanakan sesuai yang kau perintahkan"
"Beberapa hari yang lalu Nona Nadin memeriksa kandungannya di klinik xxxxxx bersama tantenya dan istri Tuan Ken"
"Lalu, bagaimana kondisi anaknya??"ucap lelaki yang tak lain adalah Irvin, ayah biologis dari anak yang di kandung Nadin.
"Menurut info dari kilinik xxxx yang saya dapat anaknya sehat dan aktif Tuan"Irvin menarik sudut bibirnya mendengar kabar tentang anaknya.
"Bagus!! saya tidak ingin anak saya kekurangan, untuk itu kau harus selalu kirimkan makanan sehat dan kebutuhan ibu hamil ke rumah Nadin, dan jangan beritahu siapa pengirimnya,apa kau mengerti"perintah Irvin dengan tegas.
"Tapi Tuan, bibi Nona Nadin selalu waspada dan mencurigai terhadap apa yang saya kirimkan"ucap bodyguard
"Bodoh!!!, itu tidak penting yang jelas dia menerimanya atau tidak"Hardik Irvin, kemudian dia berlalu begitu saja.
Di sisi Lain
Di kamar
Siang itu, hujan yang tadi pagi sedikit lebat kini sudah mereda, kembali cerah seperti biasa, ya walau matahari tampak bermalu-malu menampakkan dirinya.
Sepasang suami istri yang menghabiskan waktu mereka di dalam kamar ,ya lebih tepatnya, entah sejak kapan Anna berprofesi sebagai tukang cukur, sekarang dia seperti menjalankan perannya dengan profesi barunya, mencukur kumis dan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dagu suaminya dengan hati-hati dan teliti, sedangkan Ken hanya diam dan pasrah terhadap apa yang di lakukan istrinya itu.Menolak pun juga percuma.
"udah 2 minggu yang lalu tangan Anna sudah gatal mau mencukur habis bulu-bulu di sekitaran dagu dan rahang bawah mas ini, akhirnya kesampean juga sekarang"ucap Anna disela-sela kegiatannya.
"Emangnya agak merasa risih apa?, wajah udah hampir brewokan gini, Anna aja yang geli ngelihatnya"ujar Anna fokus mencukur.
"Itu karena mas terlalu sibuk bekerja jadi kurang memperhatikan penampilan, masa sekitaran wajah yang udah hampir di tumbuhi bulu halus dibiarkan aja ngak di bersihin"
"Nanti orang-orang malah nyalahan Anna yang ngak mengurus suaminya"celoteh Anna, Ken mengulum senyum dalam diam mendengarkan celotehan istrinya dari tadi yang tidak henti-hentinya.
"Kok malah diam aja dari tadi?, mas dengarin Anna bicara ngak sih, ngak ada responnya sama sekali, kayak sia-sia aja Anna bicara panjang lebar"ucap Anna kesal dan sebal dengan suaminya itu, yang sama sekali tidak merespon apa yang diucapkannya dari tadi.
Sejenak Ken menghentikan pergerakan sang istrinya dan mendongak menatap hangat istrinya.
"Gimana mas mau bicara sayang? disaat Anna sibuk membersihkan bulu-bulu halus di wajah mas, yang ada nanti malah membuat Anna kesusahan"ucap Ken sukses membuat sang istri mengerti, apa yang diucapkan suaminya ada benarnya juga.
"Umma...... umma..... papa..... "panggil Attha menerobos begitu saja masuk ke kamar Anna untuk mencari orangtuanya.Anna dan Ken yang berada di wasbak, wastafel kamar mandi mereka, menyahut ucapan putranya yang mencoba mencari keberadaannya.
"Iya sayang, Umma dan papa ada di kamar mandi"Attha berjalan ke kamar mandi dan mendorong pintunya dengan pelan yang memang tidak ditutup dengan rapat.
Attha terlihat mengernyit bingung sambil menetap kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Apa yang umma dan papa lakukan di disini?"ujarnya
"Tidak ada sayang, umma sedang membantu papa membersihkan bulu-bulu halus di wajahnya,tapi sudah selesai kok"ucap Anna apa adanya, ya memang tidak ada yang perlu di sembunyikan dari putranya.Attha mengangguk sembari mendekat ke arah orangtuanya.
"Ada apa sayang??"tanya Anna pada putranya.
"Tidak ada umma, Attha malas sendiri bermain, lalu menyusul umma dan papa kesini"jawab Attha
"Bukan waktunya bermain lagi Boy, waktunya tidur siang"jawab Ken, walau dirinya sendiri tidak pernah tidur siang karna kesibukan pekerjaannya,tapi dia begitu mengerti bahwa anak-anak seusia Attha membutuhkan tidur siang.
"Iya sayang benar kata papa, umma hampir saja lupa Attha harus tidur siang dulu"ucap Anna, setelah mencuci tangannya di wastafel kemudian membawa sang putra keluar dari kamar mandi.
"Kita tidur di kamar umma saja ya!"ucap Anna, dengan sedikit malas Attha mengangguk, dia memang tidak terlalu suka tidur siang, tapi kenapa ummanya dan bahkan sekarang papanya juga ikut-ikutan menyuruhnya dan seperti mengharuskannya untuk tidur siang.
Tak membutuhkan waktu lama buat Anna untuk menidurkan putranya, karna Anna menggunakan jurus andalnya agar putranya cepat mengarungi mimpinya, setelah Attha benar-benar tertidur, Ken keluar dari kamar mandi Anna yang masih menepuk-nepuk pelan pantat Attha beralih menatap suaminya, yang hanya membalutkan handuk di pinggangnya saja, pemandangan seperti ini sudah biasa Anna dapatkan setiap kali suaminya itu selesai mandi, tapi kali ini berbeda Anna terkesiap menatap suaminya yang terlihat lebih ganteng dan lebih muda dari usia sebenarnya, mungkin karna wajah sang suami sudah bersih dari bulu-bulu halus yang terdapat di sekitaran dagu dan rahang bawahnya.Bahkan memancarkan aura ketenangan saat Anna menatapnya.
"Kenapa menatap mas begitu sayang?"tanya Ken bingung dengan tatapan sang istri pada nya.
"Auranya udah beda dari biasanya, sudah sana cepat pakai bajunya mas"ucap Anna pelan sambil mengalihkan pembicaraan.
"Masa sih sayang? apanya yang beda"ucap Ken sengaja ingin berlama-lama dengan keadaan yang masih bertelanjang dada di depan sang istri. Tentu saja membuat Anna merasa tidak nyaman.
"Mas!! cepat sana pakai bajunya!"ucap Anna geram dengan tingkah suaminya itu yang sengaja ingin berlama-lama.
"Iya-iya baik sayang, tapi tidak diambilin?"Anna menghela nafasnya,dengan langkah pelan dan hati-hati Anna turun dari ranjang agar tidak membangunkan sang putra yang baru saja tertidur. Anna melangkah menuju wall closet,untuk mengambilkan baju santai untuk suaminya yang menyebalkan itu.
"Mana sayang"ucap Ken sudah ada di belakangnya.
"Nih!, pakai cepat, apa ngak kedinginan, dari tadi masih bertahan belum pakai baju"ucap Anna,membuat Ken tersenyum hangat,walau jutek begitu istrinya tetap perhatian .
Saat Ken hendak memakai bajunya, Anna melangkah berjalan keluar wall closet.
"mau kemana?"
"Mau keluar lah, masa mau melihat mas ganti baju"ucap Anna jutek , masih malu jika harus melihat Ken tanpa pakaian di depannya, kecuali jika di ranjang,itu beda lagi ceritanya.
Ken hanya terkekeh dibuat oleh istrinya yang selalu buat dia harus berpikir keras dan pusing menghadapi sikap sang istri yang sangat sulit ditebaknya.
...****************...
Bersambung.............
__ADS_1