
Di sini lah semuanya berkumpul di depan ruang rawat Anna, termasuk Tio, Wardah juga Laura yang datang beberapa menit yang lalu.
Semuanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing, di satu sisi mereka bersyukur bayi Ken dan Anna lahir dengan selamat namun di sisi lain mereka merasa sedih dengan keadaan Anna yang kritis belum sadarkan diri.
Ken lah yang sangat terpuruk saat ini dari tadi dia tak beranjak dari duduknya di dekat bed sang istri yang terbaring lemah tak berdaya dengan wajah yang pucat dan di bantu dengan alat-alat medis membuat hati Ken menciut melihatnya.Air matanya tak kuasa melihat keadaan sang istri.
"Mas tak sanggup melihat Anna seperti ini, hati mas sakit sangat sakit, jika bisa di gantikan biarkan mas yang berada di posisi Anna saat ini, biarkan mas yang menanggung kesakitan Anna,biarkan mas yang melewati masa dah masa sulit Anna, tapi itu semua tidak bisa mas lakukan"
"Sayang, bukalah matamu, Anna adalah wanita yang kuat, wanita hebat dalam hidup mas, cepatlah sadar demi mas dan anak kita, kami sangat membutuhkan mu sayang untuk berada di sisi kami"lirih Ken menggenggam tangan istrinya dan menciuminya berulang kali.
Perawat masuk ke dalam ruangan Anna.
"Jam besuk sudah habis, silahkan tunggu di luar Pak, saat ini pasien dalam pengawasan kami, karna kondisi nya sangat lemah"ujar perawat tersebut berjalan ke bed Anna.
Dengan berat hati Ken beranjak dari duduknya, menghapus sisa air matanya kemudian dengan langkah gontai Ken berjalan keluar ruangan.
Tak terlihat ciri-ciri seorang CEO dalam dirinya, raut wajah yang biasanya datar dan penuh kewibawaan kini menggambarkan kesedihan dan kepiluan, sorot mata yang tajam kini menatap sendu, pakaian yang rapi kini lusuh tak menentu, rambut yang selalu tersisir rapi kini berantakkan, tak ada lagi semangat dalam hidupnya.Baru kali ini Tio melihat sisi keterpurukan Bosnya.
"Bos"
Ken melangkah tanpa mempedulikan Tio, kemudian mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi tunggu dan menutup kedua wajahnya.
"Saya ikut merasakan apa saat ini Bos rasakan, yang sabar Bos, ini ujian dari Tuhan" ucap Tio duduk di samping Ken sambil menepuk pelan bahu Ken.
Ken menoleh ke arah Tio dan menghembuskan nafas berat seperti masalahnya yang di hadapinya.
"Apa yang harus saya lakukan Tio? kenapa ini semua terjadi pada hidup saya, saya benar-benar takut dan tak berdaya" tubuh Ken gemetar tertunduk.
"Yang sabar Bos, saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdo'a dan berserah diri Bos, semoga Nona Anna kembali sadar dan pul....."ucap Tio terpotong.
"Ken......." teriak Mami, yang berjalan tergesa-gesa dengan Papi, menghampiri Ken dan Tio.
__ADS_1
Ken yang terkejut langsung berdiri menatap Tio.
"Kenapa ini bisa terjadi Ken? Kenapa.....??"Mami menarik-narik baju kemeja Ken, air mata mami tumpah begitu saja.
Papi hanya diam dengan tatapan yang tak bisa di pahami.
"Maafkan Ken mi"hanya itu yang terucap dari bibir Ken.
"Kenapa hanya menjaga istri dan anakmu saja kamu tidak becus, kenapa kamu begitu ceroboh dan lalai Ken? apa segitu sibuknya kau hingga mengabaikan mereka?? "cerca Mami
"Mami sudah bilang jika kamu tidak bisa menjaga mereka biarkan mami yang menjaga menantu dan calon cucu mami, tapi kamu menyuruh mami menemani Papi ke Bali, jika kamu peduli dan perhatian sama mereka ini pasti tidak akan terjadi"Mami mengeluarkan isi hatinya pada sang putra.
"Sudah mi, sudah tenangkan diri mami, kita di rumah sakit"Papi mengusap punggung mami supaya tenang.
"Bagaimana mami bisa tenang mi, kita selalu mendidiknya bertanggung jawab tapi sekarang apa pi? dia tidak bisa menjaga dan melindungi istri dan anaknya saja dengan baik"air mami kembali meleleh, papi merengkuh tubuh mami.
"Aku memang salah mi, pi, aku benar bodoh dan tak berguna, aku tak pantas untuk di maafkan"kata Ken menyalahkan dirinya, setelah dari tadi hanya diam membisu mendengar unek-unek maminya.
Papi berjalan ke arah Ken dan memeluk putra sulungnya itu, Ken juga membalas pelukan dari sang papi.
Tio yang dari tadi hanya terdiam, karna merasa bersalah karna telah memberitahu orangtua Bosnya, namun saat Tuan besar memeluk Bosnya, membuat Tio menarik senyum lega.
"Sabarlah nak"ucap Papi menepuk-nepuk punggung Ken.
Bunda dan yang lainnya baru kembali dari NICU melihat anak Ken dan Anna, terkejut melihat kedatangan orang tua Ken.
"Besan"lirih Mami melihat Bunda Anna dan memeluknya.
Bunda menyambut pelukan rapuh dari besannya itu.
Ken dan Papi melepas pelukannya, melihat ke arah Bunda dan Mami yang saling memeluk juga.
__ADS_1
"Kita yang sabar dan tabah menghadapi ini semua mbak, kita pasrahkan pada Allah yang maha menghidupkan dan mematikan" kata-kata penguat bunda untuk dirinya dan mertua anaknya.
" Selalu ada hikmah di balik kejadian yang menimpa" mata Bunda kembali berkaca-kaca.
Semua yang ada di sana merasa tersentuh melihat kedua ibu yang saling menguatkan satu sama lainnya.
"Alhamdulillah cucu kita lahir dengan selamat dan sehat mbak, dia perempuan"ujar Bunda menampilkan senyum bahagia namun berbalut rasa sedih.
"Alhamdulillah ya Allah" syukur bunda.
"Alhamdulillah pi, cucu kita selamat" ucap Mami terharu begitupun juga papi.
*********
Malam semakin larut, satu persatu yang datang menjenguk Anna tadi sudah pulang, termasuk Zidhan adik ipar dan ibu mertuanya, yang di suruh pulang oleh Ken walaupun Zidhan ingin tetap di rumah sakit menemaninya, tapi Ken melarangnya, Dia tau adik ipar dan mertuanya lelah berada hampir seharian di rumah sakit, apalagi Attha yang kini sendirian berada di rumah membutuhkan Zidhan dan juga Bunda untuk menenangkannya.
Ken juga meminta Tio untuk mengantar kedua orang tuanya pulang, yang tadi dari Bandara langsung saja menuju rumah sakit tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, sebab kedua orangtua Ken itu sangat mengkhawatirkan keadaan menantu dan cucu mereka.Tanpa memikirkan rasa lelah dan capeknya perjalanan dari Bali menuju Jakarta.
Kini tinggallah Ken seorang diri di rumah sakit menemani sang istri, Ken hanya dapat menungguinya di depan ruang rawat saja, tanpa di perbolehkan masuk ke dalam.
Lama Ken berdiam diri duduk di kursi tunggu dengan menyenderkan tubuhnya di dinding sambil memejamkan kedua matanya.Rasa lelah dan kantuk kini di rasakannya, di tambah dinginnya rumah sakit membuat Ken ingin mengistirahatkan tubuhnya.
Lalu Ken memutuskan pergi menuju ruangan NICU untuk melihat putrinya walau hanya di depan ruangan saja melalui kaca, sudah mengobati rasa lara dan duka di hatinya, hanya buah hatinya lah saat ini yang bisa memberikannya kekuatan.
"Terima sayang, telah hadir di tengah-tengah umma dan papa nak,kamu hadiah terindah untuk papa"
"Kita sama-sama berdoa ya nak, semoga umma bisa sadar dan pulih"lirih dengan mata berkaca-kaca menatap sang putri yang berada dalam inkubator.
Setelah puas menatap buah hatinya Ken pergi menuju musholla rumah sakit melaksanakan sholat tahajud.
Meminta dan memanjatkan do'a-do'a untuk sang istri pada sang pencipta yang berkuasa,agar kondisi sang istri segera membaik dan cepat sadar.
__ADS_1