
Saat Anna dan Ken tiba di rumah langsung disambut oleh Bi Nur.
"Assalamualaikum"Salam keduanya sebelum memasuki rumah.
"Wa'alaikumusalam, selamat malam Tuan muda, Nona Anna"ujar Bi Nur sedikit menunduk hormat.
Ken dan Anna tersenyum mengangguk.
"Malam juga Bi"jawab keduanya
"Semua barang belanjaannya udah saya bereskan Tuan muda, semua kebutuhan bayi sudah saya susun di kamar atas"
"Terimakasih ya Bi"
Zidhan pun keluar dari kamar Attha.
"Attha nya udah tidur Ji?"tanya Anna sambil mendudukan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga yang di bantu oleh suaminya.
"Udah mbak, tadi sebelum tidur rewel dulu bentar, katanya tidur mau sama mbak, susah aku buat nenanginnya"keluh Zidhan
"Dia kalo sakit memang begitu, manja sama ummanya"jawab Ken
"Oh iya kamu udah makan Ji?"tanya Ken pada adik iparnya itu.
"Udah tadi bersama Attha kakak ipar, mbak dan kakak ipar udah makan?"
Ken dan Anna mengangguk.
Bi Nur datang membawakan segelas air hangat untuk Anna dan Teh hijau untuk Ken dan Zidhan.
"Terimakasih ya Bi"
___________
Setelah melaksanakan sholat Isya berjamaah, Ken membantu Anna menyandarkan tubuhnya pada bantal yang di susun di belakang punggungnya di head board ranjang mereka agar Anna bisa bernafas lega dan nyaman.
"Mas mau kemana?"Tanya Anna saat suaminya berjalan menuju pintu keluar.
"Istirahat lah dulu, mas mau ke bawah buat susu untuk Anna"
Anna tersenyum merasakan perhatian yang begitu besar suaminya berikan padanya, setiap pagi dan setiap malam Ken tidak pernah absen membuatkannya susu ibu hamil. Bahkan tengah malampun rela begadang untuk menemani istrinya yang tidur dengan gelisah.Dia selalu memperhatikan Anna untuk tidur dengan nyaman dia mengerti jika istrinya itu sulit untuk tidak tenang dalam kondisi perut yang semakin besar pasti merasakan begah dan juga sesak.
Tak lama Ken kembali masuk ke kamarnya membawakan segelas susu untuk istrinya.
"Terimakasih ya mas"Anna tersenyum lembut menyambut segelas susu yang di berikan suaminya.
"Anna pasti capek ya sayang?"Ken duduk di sisi sang istri sambil memijit lembut kaki Anna.
"Ngak papa kok mas, mas juga capek pulang kerja langsung menemani Anna buat belanja"ucap Anna menatap wajah lelah sang suami.
"Duduk di sini mas!"Anna menepuk pelan ranjang kosong di sebelah nya.Ken naik ke atas ranjang dan mendekat pada sang istri.
"maaf ya mas Anna merepotkan mas"sesal Anna
"Tidak sama sekali sayang, kenapa ngomongnya begitu?"ucap Ken lembut mengangkat dagu Anna untuk menatap padanya.
"Seharusnya mas yang minta maaf udah buat Anna jadi begini?"kekeh Ken mengusap lembut perut buncit Anna.
Anna terkekeh mendengar ucapan suaminya yang menurutnya yang berbeda dan agak lain.
"Ngomong apaan sih mas,ada-ada wae sihh mas?"Anna menepuk pelan lengan suaminya.
"Udah kewajiban Anna sebagai istri buat mengandung anak kita dan memberikan mas keturunan, melahirkan generasi yang sholeh dan sholehah"Ken dapat melihat sorot mata tulus dari istrinya saat mengucapkan kalimat barusan di lontarkan nya.
"Terimakasih sayang, sudah mau jadi ibu dari anak-anak kita nanti"ucap Ken memeluk istrinya dari samping dan melabuhkan kecupan penuh hikmat di kening sang istri.
"Aku mencintaimu Annadita Lestari Amara, calon umma anakku" Ken menatap cinta pada Anna dan mengecup singkat bibir Anna.
__ADS_1
"Anna juga mencintaimu Pak Kennan Pratama Xavier"ucap Anna tersenyum malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Membuat Ken gemas melihat sikap malu-malu istrinya saat mengucap kata cinta.
"Sayang Kok panggil Pak sih?"protes Ken dengan wajah masam.
"Kan emang benar mau jadi bapak-bapak, papanya baby!"ucap Anna menangkup pipi Ken dengan gemas.
"Iya iya ummanya baby"Ken menangkup kembali wajah sang istri dan menciumi nya.
Kemudian Ken beralih menatap perut buncit Anna mengusapnya pelan dan berbicara dengan si cabang bayi.
"Sayang cepat keluar ya nak, jangan terlalu lama di dalam sana kasian umma, dia merasa susah dan kesulitan dalam kondisi seperti ini, membuatnya sering capek dan lelah nak, membawamu kesana kemari itu berat, papa saja tidak akan kuat jika berada di posisi umma, papa tidak tega nak melihat umma".
"Papa dan Umma menantikan kehadiranmu di dunia ini baby, sebagai pelengkap hidup kami berdua nak"Ken menciumi berulang kali perut besar Anna.
Tak terasa air mata Anna jatuh membasahi pipinya, dia terharu dengan kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Anna tau suaminya adalah laki-laki yang kaku dan tidak bisa romantis tapi dengan kelembutan, cinta tulus dan kasih sayang yang di berikan suaminya padanya semakin membuat Anna mengangumi sosok suaminya. Dia merasa di perlakukan bagaikan seorang ratu oleh lelaki yang dulu dianggapnya kasar dan galak.
Begitu beruntungnya seorang wanita yang di cintai oleh lelaki yang tepat dan itu merupakan anugrah terbesar yang di impikan oleh setiap wanita.
***********
Di sisi Lain.
Jam 12.00 malam
Disaat semua orang terlelap dalam mimpi mereka berbeda dengan pasutri satu ini, mereka bertengkar dan marah-marah entah masalah apa yang terjadi .
"Ada apa dengan mu??" Tio terbangun dari tidurnya, matanya belum terbuka sempurna, tapi sang istri mencak-mencak tengah malam begini.
"Ayo tidur lagi!"ucapnya pada sang istri.
"Tidak!!"ucapnya dengan suara keras
Membuat Tio kaget dan menyimpitkan matanya menatap sang istri.
"Kenapa kau sering marah-marah tidak jelas seperti ini"ucap Tio kesal dengan sikap sang istri.
"Aku tidak marah jika kau tak berulah" tutur Wardah sengit.
"Memangnya apa yang ku lakukan?"tanya Tio tidak mengerti
"Sungguh aku pusing Wardah, tidak hanya pekerjaan yang aku pikirkan tapi juga menghadapi sikap anehmu setiap hari"
"Apaa?? apa mas? baru kali ini aku mendengar mu memanggil dengan namaku mas"Wardah terkejut menatap sambil geleng-geleng kepala pada sang suami.
"Sekesal apapun kamu padaku, tak sekalipun kamu menyebut namaku"
Tio mengusap kasar wajarnya berulang kali.Dia tidak sadar menyebut nama wardah.
"Apa salahku mas..... apa?? kenapa kau tega padaku, jika belum selesai dengan masa lalumu, kenapa kau nikahi aku hah???"Wardah melorot tidak berdaya di lantai, seolah-olah kakinya melemah tidak kuat menopang tubuhnya.
"Kenapa kau melakukan ini di belakang ku?"Wardah menutup kedua wajah.
"Apa yang kau ucapkan dear, aku tidak mengerti, masa lalu? melakukan apa? apa maksudmu?"ucap Tio terkejut dengan wajah heran tidak tau maksud perkataan istrinya.
perlahan Tio berjalan mendekati istrinya.
"Stop!! jangan mendekat, tetap berdiri di sana"titah Wardah mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan berhenti.
Wardahpun berdiri berjalan keluar dari kamar mereka.
Tio mengernyit bingung memperhatikan langkah istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mereka.
"Ya Allah apalagi ini"gumam Tio menengadah kan wajahnya ke atas.
Kemudian Tio mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang.
15 menit sudah sejak istrinya keluar dari kamar mereka sampai sekarang belum juga balik.
__ADS_1
"Kemana dia? apa yang di lakukan di bawah"Tio mulai gelisah menunggu istrinya kembali ke kamar.
ceklek
Pintu kamar terbuka terlihat lah Wardah dengan wajah yang memancarkan senyum bahagianya, kedua tangannya membawa sebuah cake ulang tahun.
Sesaat Tio terdiam dan menatap bingung pada istrinya, entah kenapa otaklah yang geniusnya berkoneksi lambat saat ini,bahkan dia tak memahami apa yang sebenarnya terjadi.Tadi istrinya itu marah-marah dan mengamuk sekarang dia tersenyum manis pada nya.Oh ya Tak lupa dengan membawa sebuah cake ulang tahun, entah untuk siapa cake itu dia tidak mengerti.
"Happy birthday to you"
"Happy birthday to you"Wardah berjalan menghampiri suaminya sambil bernyanyi.
"Selamat ulang tahun suamiku"Wardah sudah berdiri di depan suaminya.
Tio menatap tidak percaya pada sang istri, matanya berbinar bahagia.
"Mas selamat ulang tahun"Wardah kembali berucap saat suaminya belum merespon.
Tio mengambil kue ulang tahunnya dan meletakkan nya di sisi ranjang.
"Dear"Tio memeluk sang istrinya. Wardah terkejut dan mengulum senyumnya kemudian membalas pelukan sang suami sambil mengusap punggung nya.
cukup lama mereka berpelukan menyalurkan rasa bahagia yang ada di dalam hati Tio.
"Maafkan aku ya mas udah bangunin kamu malam-malam begini, juga sempat teriak padamu tadi"sesal Wardah
"Akting mu sangat bagus Dear,mas tidak menyangka kamu memprank, mas juga minta maaf ya sayang"ucap Tio merenggangkan pelukannya menatap sang istrinya.
cup cup cup beberapa kecupan mendarat lembut di wajah Wardah.
"Heh udah-udah mas, keburu lilinnya meleleh nanti"kekeh Wardah.
"Wah Iya dear"Tio tersenyum kikuk
Wardah kembali mengambil cake ulang tahun suaminya.
"Selamat ulang tahun ke 30 mas"
"Dengan berkurangnya umurmu, semoga Allah memberkahi umurmu mas, melimpah rezeki, memperkuat cinta dalam rumah tangga kita, memudahkan segala urusanmu,intinya do'a terbaik untukmu mas"ucap Wardah.
"Aamiin, terimakasih sayang, terimakasih atas do'a dan kejutan ini"jawab Tio mencium kening Wardah dengan penuh sayang.Kemudian Tio juga memanjat do'anya pada sang pencipta.
"Mas ini hadiah kecil dariku"Wardah memberikan sebuah kado kecil untuk sang suami.Setelah meletakkan cake di atas nakas.
"Terimakasih banyak sayang, apapun yang kamu berikan berarti bagi mas, dan tanpa hadiah ini pun mas sudah bahagia karena kamu adalah hadiah terindah yang mas miliki"tutur Tio dengan tulus.
Wardah tersentuh dengan kata-kata tulus suaminya.sudut matanya berair terharu.
"hmmm so sweet nya suamiku, terimakasih sayang"Wardah berhamburan memeluk sang suaminya.
Tio yang di peluk tiba-tiba tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya hingga terjatuh di atas ranjang, Wardah juga ikut terjatuh di atas tubuh suaminya.
Sontak saja dia terkejut dan melotot.
"Mas......."pekiknya berusaha ingin berdiri
namun terlambat Tio malah mempererat pelukannya mereka di pinggang sang istri.
"Kamu terlalu berani dear"Tio tersenyum menggoda
"Lepaskan aku mas, aku berat, Ayo kita berdiri!!"Wardah mulai panik.
"Tidak semudah itu sayang, bukan kamu hadiah terindah mas"Wajah Wardah tepat di depan wajah Tio.Terpaan nafas hangat suaminya bahkan mengenai wajahnya.
Tio mengedipkan matanya genit.
"Ta....tapi...." Tio membalikkan posisi tubuh mereka dengan cepat.Sekarang Wardah di bawah kukungannya.
__ADS_1
Maka terjadi apa yang seharusnya terjadi