
Hari ini Tante akan membawa Nadin kembali ke negara J. Negara di mana Nadin menetap beberapa tahun ini bersama keluarga Tantenya.Dan melihat kondisi Nadin saat ini, Tante berpikir untuk menghilang dulu sementara membawa Nadin pergi jauh dari Indonesia, dia ingin keponakan nya bisa kembali hidup tenang, kembali memulihkan kondisi Nadin secara perlahan-lahan dan terlepas dari beban kehidupan yang di pikulnya saat sekarang ini.
Walau pun saat ini Nadin tidak menyadari nya tapi Tantelah yang merasakan sakit dan kepedihan atas penderitaan yang di hadapi keponakan nya yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri. Cukup 1 tahun ini Tante melihat kesulitan dan ujian yang harus di tanggung oleh keponakan nya, meski Tante tak pernah melihat Nadin berkeluh kesah, menangis bahkan merutuki takdir yang terjadi dalam hidupnya, tapi tante tau keponakan nya sangat pandai menyimpan luka dan duka menggantinya dengan sebuah senyuman yang seolah-olah dia bahagia menghadapi ini semua dan anaknya lah sebagai penyemangat hidupnya saat itu.
Tante berharap bahwa saat cucunya lahir nanti Nadin akan kembali mendapatkan kebahagiaannya.Namun apalah daya semuanya tak seperti yang dikira.
Keadaan bahkan semakin rumit dan sulit Tante pun tak kuasa menahan kesedihan yang amat mendalam, air mata yang tertahan dalam diam, sesaknya dada menahan amarah yang memuncak yang tak bisa di lepaskan hanya terpendam, perbuatan apa yang di lakukan ponakan nya sampai sebegitu tega orang lain menghancurkan hidup keponakan yang amat di sayanginya?? pertanyaan itulah yang selalu berputar mengelilingi kepala Tante Nadin.
Ken dan Tio meluangkan waktunya untuk ikut melepaskan keberangkatan Tante dan Nadin ke negara J.
Sekarang di sinilah mereka di Bandara Nasional sebelum detik-detik keberangkatan.
"Cepatlah pulih ,mulailah kehidupan mu yang baru di sana dan berbahagia" Nadin yang tidak mengerti maksud ucapan Ken hanya mengangguk saja.
"Nak Ken,Nak Tio, Tante ucapkan terima kasih kalian telah banyak membantu kami, mungkin Tante tak bisa membalas jasa kalian semua"
"Termasuk Nak Anna, Nak Wardah dan nak Amel sampaikan salam Tante pada mereka"tutur Tante dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah kewajiban kami untuk membantu Tante dan Nadin, karna kita adalah keluarga"jawab Ken tersenyum mengangguk.
"Dan untuk anak Nadin, Tante tidak usah khawatir,dia pasti baik-baik saja dengan ayahnya" Bukan Ken yang menjawab tapi Tio.
"Kami berangkat Nak"ucap Tante menarik koper dan memegang tangan Nadin, begitu juga dengan Nadin yang juga menarik kopernya.
"Hati-hati Tante"
*****
Setelah pulang dari Bandara tadi, Ken dan Tio langsung menuju Restoran M menemui klien yang ingin menjalin kerja sama dengan perusahan Ken.
Ken yang memiliki komunikasi yang baik mampu memposisikan dirinya dengan klien juga memberikan respon-respon dalam berbincang mencair suasana menjadi lebih rileks serta membaur secara profesional agar klien merasa bisa merasa nyaman dalam diskusi dan membahas masalah perusahaan dan bisnis mereka. Dan Tio lah yang berperan penting menjelaskan secara detail produk perusahaan yang mereka tawarkan yang tentunya berkualitas.
"Baik kami setuju"Kline menyatakan deal untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Ken.
"Terimakasih, suatu kehormatan bekerja sama dengan Anda Pak" Ken mengangguk mantap berdiri menjabat tangan klien.Begitu juga Tio ikut menyambut dengan menjabat tangan klien.
*****
__ADS_1
Saat jam istirahat seperti biasa Amel mengajak Wardah makan siang di cafe kantor.
"Oh iya, Wawa hari ini mbak Nadin dan tantenya kembali ke negara J ya?"tanya Amel saat akan memakan makanannya.
"hemmm...iya, Pak Tio dan Pak Ken mengantar nya ke Bandara pagi tadi"jawab Wardah.
Amel menganggukkan-angguk sambil mengunyah makanannya.
"Aku ikut prihatin dan juga kasian dengan mbak Nadin"ujar Amel dengan wajah sendunya, Wardah mengangguk merasakan hal yang sama seperti Amel.
"Aku dengar Pak Tio dan Pak Ken masih dalam penyelidikan seseorang bernama Irvin itu, yang ternyata tidak hanya hampir membuat perusahaan ini bangkrut tapi juga membuat mbak Nadin menderita" geram Amel.
"Entahlah Mel, aku juga tidak tau, Pak Tio tidak memberi tau dan melarang ikut campur"ungkap Wardah apa adanya, setelah itu menyeruput es jeruknya.
"Mungkin suamimu takut kamu kenapa-kenapa Wawa"Wawa mengangguk.
"Menurut aku nih Wa, Orang seperti Irvin itu tidak punya peri kemanusiaan bahkan hati nuraninya sudah tertutup, dia berbuat sesukanya tanpa memikirkan orang lain sengsara karena ulahnya " Amel seolah-olah menggambarkan seperti apa Irvin sebenarnya.
"Huttss....ngak boleh ngomong begitu, kita kan ngak tau yang sebenarnya" balas Wardah
"Pikir-pikir dulu sebelum bicara Mel, Ingat kita ngak tau ada mata-mata Irvin di sini, dan bisa saja kamu terjebak dalam masalah nantinya"Lirih Wardah memperingatkan Amel.
Saat jam makan siang selesai ,Amel dan Wardah kembali ke ruangan mereka masing-masing.
*****
Di sebuah kamar bayi yang luas dan besar, dengan konsep kamar yang di sulap sesuai tipe dan kriteria yang cocok untuk anak laki-laki.Di dalam kamar terdapat lemari dengan berbagai miniatur khas laki-laki dan robot-robotan, tersusun rapi mainan bayi yang banyak, ranjang bayi yang besar agar leluasa untuk bayi bergerak juga ada tempat bermain yang di sedia, semua serba lengkap di dalam kamar bayi tersebut.
Tapi untuk apalah itu semua, bayi yang berumur 3 bulan tersebut tidaklah membutuhkannya,dia hanya butuh orang tua nya. di umur yang mulai memahami dan mengenali anggota keluarga nya terutama ayah dan ibunya, juga sudah mulai merespon dengan pergerakan-pergerakan kecil orang-orang terdekatnya.Namun kenyataan dia hanya di kasuh oleh beberapa pengasuh,tanpa seorang ibu.
Sungguh malang nasib bayi kecil tersebut belum pernah sekali pun melihat bentuk dan rupa sang ibu saat mulai membuka mata melihat dunia ini.Bukan sang ibu lah yang meninggal kan bayi kecil tanpa dosa ini tapi sang Ayahlah yang memisahkan anaknya dengan ibunya.
"Bagaimana ini, Tuan muda tidak berhenti menangis sejak tadi"ucap baby sister dengan wajah panik.
"Apa yang harus kita lakukan mbak? Aku takut Tuan besar marah lagi pada kita" baby sister yang lebih muda, dia juga tampak gelisah.
"Ini susunya, coba di beri susu dulu, mungkin saja Tuan muda haus" tampak seorang pengasuh berjalan tergopoh-gopoh membawa setabung kecil susu, menghampiri dua baby sister yang berusaha menenangkan Tuan muda kecil mereka.
__ADS_1
Saat menempelkan DOT tabung ke bibir bayi kecil itu, sang bayi malah menolak dengan memiringkan kepalanya dan tetap menangis.Yang artinya dia tidak ingin susu.
Semua baby sister uring-uringan dengan wajah cemas memikirkan cara agar menghentikan tangisan sang bayi.Mereka sudah bergantian mencoba menggendong bayi itu, menghibur dengan mainan yang biasa di mainkan sang bayi, meletakkan sang bayi dalam ayunan dan mengayunnya pelan.Sudah berbagai cara yang di lakukan oleh 3 orang pengasuh tersebut. Tapi usaha mereka hanyalah sia-sia, bukannya berhenti menangis sang bayi malah menangis sejadi-jadinya.
"Ya Tuhan bagaimana ini......Aku rasa dia rindu dengan ibunya"ungkap salah seorang baby sister.
"Ada apa ini??"suara kentara itu mengejutkan 3 orang baby sister yang berusaha menenangkan bayi kecil.
"Ada apa dengan anakku? Kenapa dia menangis?"Irvin menatap tajam 3 orang itu.
"Ma maaf Tuan, ka kami sudah berusaha menenangkan Tu tuan muda tapi Tuan muda tetap tidak berhenti menangis" jawab baby sister yang lebih tua dengan gugup.sedangkan dua baby sister lagi tak berani menunduk ketakutan.
"Dasar bodoh, mengurus bayi kecil saja kalian tidak becus, sekarang keluar semuanya"bentak Irvin dengan marah.
Setelah 3 baby sister itu keluar dari kamar Tuan muda mereka.Membiarkan Ayah dari bayi itu bersama anaknya.
Irvin pun berjalan mendekati ayunan sang anak yang masih menangis, kemudian Irvin menggendong anaknya dengan hati-hati.
Wajah bayi kecil tersebut memerah padam, menangis sesenggukan.
"Ini Ayah nak, sudah-sudah jangan menangis lagi"Irvin menepuk-nepuk pelan pantat Anaknya untuk meredakan tangisan sang anak.
"Apa yang membuat mu menangis seperti ini"Irvin mengusap air mata sang putra yang menempel di pipi gembul nya.
"Ayah tidak tau apa yang kau tangisi nak, apa ada yang sakit?"ucap Irvin menatap sedih sang putra yang terus menangis.
"Apa kau merindukan ibumu?"Irvin menatap kasian pada sang anak.
"Kau ada Ayah nak, Ayah bersama mu"ucap Irvin lembut.
Sang bayi menatap lekat-lekat ayahnya dengan air mata yang masih berderai dan bibir gemetar. Irvin mencium kening putranya lama.Tangisan putranya sedikit mereda.
" Anak Ayah lelaki tidak boleh cengeng sayang, cup cup sudah ya nak jangan nangis lagi"ucap Irvin menatap sang putra.
Irvin berjalan membawa anaknya keluar menuju balkon kamar.Supaya anaknya lebih tenang.
Irvin menatap cerah langit, memandang jauh entah apa yang di pikirkan oleh Pria yang bergelar ayah itu.
__ADS_1
******
"Kenapa aku merasa separuh jiwa ku tertinggal"gumam Nadin saat berada di dalam pesawat.