NAFSU

NAFSU
Baby Erica


__ADS_3

Warning!!!


Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐Ÿ˜œ


***


Lena meneteskan airmata mendengar ucapan Fai, hatinya sesak namun ada bahagia.."Kau harus segera menatap dunia sayang..."


Lena mengikuti intruksi dokter..untuk menarik nafas perlahan dan kembali mengejan.


"Ayo nyonya kepala bayinya sudah kelihatan..ayo mengejan sedikit lagi"


"Ayo sayang..sebentar lagi sayang"Fai berbisik ditelinga Lena lembut, tak lama..


ooeekk...oeekk...oeek...


"Alhamdulillah...bayinya cantik nyonya Lena"


Fai mencium kening Lena lembut"Terima kasih sayang..kau sudah melahirkan anakku"


Ucapan Fai membuat Lena terharu, "Lelaki menyebalkan itu..."gumannya dalam hati.


Satu jam kemudian, Lena sudah di bawa ke ruang perawatan.


Fai dengan setia menemani wanita beranak tiga itu.


Tak lama perawat datang dengan bayi cantik yang sudah dibedong.


"Tuan..silahkan diazani putri cantiknya"perawat menyerahkan bayi cantik itu kegendongan Fai, lelaki itu terlihat kaku dan sedikit canggung.


Fai mulai mengazani bayi Lena di telinga kanannya dan iqomat di telinga kiri.


Lena terharu melihat hal itu, masih ada yang peduli pada kita dek...


Fai menyerahkan bayi itu dengan sangat hati-hati ke pelukan Lena, untuk disusui seperti titah perawat.


-


Di sisi lain Pak Zul alias Pak Alif, mulai sering datang ke rumah Hana, tentu saja semua itu ulah Fahd dan Za.


Mereka bukan lupa pada mediang sang ayah, tapi mereka merasa kasihan melihat kesendirian bundanya.


Fahd dan Za memberanikan diri bicara pada bundanya, karena Pak Alif sudah menyatakan sendiri bahwa ia tidak pernah berhenti mencintai Hana.


Memang belum genap satu tahun kepergian sang ayah, namun mereka yakin ayah akan menyetujui hal ini, jika itu untuk kebaikan sang bunda.


Hana tercengah mendengar permintaan anak-anaknya.


"Sayang bunda sudah tua...bun"


"Siapa bilang bunda tua..bunda seperti kakak Za kalau kita berjalan berdua, selalu begitu perkiraan orang..ayolah bun, biar bunda ada teman yang bisa bunda ajak bertukar pendapat, berkeluh-kesah"


Za begitu antusias membuat Hana geleng kepala,"Jangan bilang kalian tak bisa membayar om Alif..terus bunda kalian jadikan tumbal"ejek Hana yang langsung membuat Za cemberut.

__ADS_1


"Nggak segitunya bun, mana tega kita..semua karna perasaan sayang kami bun"lirih Za dan diangguki Fahd.


"Benarkah Pak Alif pernah meminta bunda untuk menunggunya, dan ia akan melamar bunda?"


Hana mengangguk, ia sendiri tak menyangka ternyata lelaki itu benar-benar mencarinya.


"Kenapa sayang..?"tiba-tiba Fahd bertanya pada Kanti yang berbisik di telinganya.


Fahd mengangguk dan permisi pada bundanya.


"Mau kemana bang"


"Anakku mau nasi goreng, buatan papanya"senyum Fahd mengembang.


Kanti tersipu dan itu membuat Hana geli, begitu juga dengan Za.


"Oh sayang...jika kau ingin sesuatu bilang saja, kami akan mengabulkan, bunda tidak mau cucuku ngeces" senyum Kanti mengembang.


Za yang mendengar tersenyum licik.


"Mbak ... kerjai saja abang Fahd, minta apa gitu yang sulit-sulit, kayak Za dulu tuh..abang selalu menuruti"Za mengusili Kanti.


"Oh jadi waktu hamil Shaka ngerjai abang ya."suara Afdi yang tiba-tiba bergabung.


Za tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Shaka mana bang..?"


Afdi duduk disamping istrinya, dan Za menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Enak duduk lesehan gini bun..santai banget"


"Nasi goreng sudah siap"Fahd masuk dan membawa dua piring nasi goreng buatannya.


Fahd menyerahkan nasi goreng yang satu ke pada Hana, dan ia mulai menyuapi istrinya.


Za dan Afdi saling lirik, abang Fahd selalu bersikap baik, laki-laki bertanggung jawab itu selalu menyenangkan mata yang memandangnya.


"Bun nggak iri tuh mbak Kanti disuapi.."Za mulai mengoda bundanya.


Dan meraih piring bundanya, ia minta disuapi bundanya.


"Abang lain kali buat nasi goreng yang banyak, kasihan suamiku kepengen tuh"


Afdi tersenyum"Nggak apa bang .. jangan didengar adek itu, suka sekali mengoda"


Fahd tersenyum dan mengiyakan ucapan adek iparnya, tak lama Fahd membawa piring bekas istrinya ke dapur dan diikuti oleh Za.


Za terlihat berbisik dengan abangnya, dan Fahd tersenyum karenanya.


-


Tiga bulan kemudian...

__ADS_1


Fai mengendong baby Erica, bayi cantik anak Eric yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak bayi mungil itu dilahirkan.


"Ikutlah denganku...aku serius kali ini Len"


Lena terlihat ragu, ia tau siapa Fai namun ia pun sangat memerlukan laki-laki itu untuk ketiga anaknya.


Selama ini sebenarnya Lena masih menimbang rasa, ia tak mau kecewa lagi karena Fai, lelaki pencinta wanita itu bisa saja membuatnya patah hati.


"Aku pulang dulu..pikirkan ucapanku!"


Fai keluar dari rumah Lena, lelaki itu terlihat kacau, ia berniat menikahi Lena, tapi wanita itu sudah menolaknya..bahkan dua kali.


Mobil Fai memasuki basement, dan beberapa menit kemudian ia mulai menuju apartemennya.


"Kak.."Fai tersenyum melihat obat galaunya, dan mengajak Sofi masuk ke dalam apartemennya.


Fai memeluk tubuh Sofi, wanita cantik itu mencium lembut bi*** Fai, lelaki yang sedang kacau perasaannya itu memperdalam ciuman Sofi.


Beberapa menit pergulatan lidah mereka semakin dalam dan panas.


Fai mengendong Sofi ke kamarnya dengan tautan lidah yang tak terlepas, Fai membaringkan tubuh Sofi di ranjang dan mulai membuka pakaiannya begitu pula Sofi, saat ini mereka tak terhalang sehelai benangpun.


Fai menatap tubuh molek Sofi yang membuat kabut gairah di matanya.


Ia kembali melakukan pagutan di b****, dan setelahnya turun keceruk leher Sofi, menyesap dan memberi tanda di sana, membuat Sofi melenguh.


Fai menci*** dua benda kenyal dan lembut yang mengunung, dengan rakus mulai mengh**** pucuknya.


D****** dan gerak tubuh yang erotis dari Sofi membuat gel*** n**** Fai naik, dua jarinya sedang mengukur kelembaban terowongan yang bakal memberi jalan masuk kepemilikanya.


Sofi terus meliukan tubuh indahnya, ia kembali mengalami pelepasan, Fai memposisikan miliknya dan tak lama ia mengerang dan mend**** nik***, matanya terpejam menerima sensasi menjepit dan panas terowongan Sofi.


Beberapa detik setelahnya, kamar tidur itu menjadi ajang paduan suara dari berbagai bagian tubuh, ajang berbagi peluh dan nikmat.


Fai terus menghentak tak berjedah, makin dalam dan membuat Sofi beberapa kali mencapai puncak nirwana.


Jika sudah begini berat hati Sofi melepas kenikmatan yang diberikan Fai, lelaki yang sudah mengambil perasaannya, hanya saja ia belum bisa mendapatkan perasaan lelaki tampan yang saat ini menggungkungnya dengan gagah.


"Oh kak Fai..."d***** Sofi tersenggal.


"Iya sayang..Sofi...oh sayang"Fai mengerang panjang dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh p**** Sofi.


Disisi lain Lena merenungi ucapan Fai, ia bukan tak sanggup tinggal sendiri..jika soal materi.. Eric banyak meninggalkan harta atas namanya dan ke dua putranya, belum lagi harta yang masih atas nama suaminya yang belum balik nama atas dirinya.


Tapi ancaman Fai yang akan mengambil si kembar, membuatnya menciut, ia takut akan berdampak pada putranya jika Fai merebutnya dengan paksa, karena ia tau sifat lelaki yang pernah ia cintai itu.


"Bagaimana author saja..aku ngikuti lakonnya saja"guman Sofi menatap Author..kwwkwk.


Lena menatap baby Erica yang terlelap setelah puas menyusu, pikirannya kembali teringat mendiang suaminya.


"Sayang putri cantikmu dan aku merindukanmu, melihat wajah putrimu seperti aku sedang menatapmu...."


Yuuk kasih vote, like๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ dan comen yang banyak๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2