NAFSU

NAFSU
Afdi vs Bian


__ADS_3

Beberapa jam kemudian Afdi dan Khanza pamit, Fahd dan istrinya mengantar pasangan muda itu sampai di teras.


"Sepeninggalan Afdi dan Za, Fahd menemani istrinya membereskan dapur.


"Biar saya saja mas..mas istirahat sana"tolak Kanti ketika suaminya ingin membantu.


Fahd akhirnya menurut, ia meninggalkan dapur menuju ruang keluarga.


Kanti masih sibuk dengan perkakas dapurnya, tiba-tiba ia tersentak mendengar suara bisikan di telinganya, tubuhnya meremang dan tiba-tiba tubuhnya melemas....


Kanti melihat wanita cantik yang menatapnya tajam.


"Pergilah ke sungai di pinggir hutan larangan..kau harus membebaskan ayahmu!" tintanya dengan sorot mata kejam.


"Tapi bu..aku tak bisa melakukannya"


"Kalau kau tak mau..suamimu akan mati!!!"


Kanti melihat wanita itu mendekati suaminya...dan mencekik leher Fahd hingga lelaki itu megap-megap, kakinya bergerak-gerak seiring tangannya yang berusaha melepaskan cekikan yang terlihat begitu kuat di lehernya.


Kanti terpaku...tubuhnya seperti tak dapat digerakkan,"Mas..maaass.. maaaร ss" Kanti merasa mencium bau minyak kayu putih.


"Alhamdulillah..kau sudah sadar.."Kanti menatap suaminya yang terlihat cemas.


"Apa yang terjadi mas?"suaranya lirih


"Kau pingsan di dapur sayang, duduklah dulu minum air ini"Fahd mendudukkan istrinya dan menyerahkan segelas air putih.


Setelahnya Kanti kembali mengingat apa yang sebelumnya terjadi, ia yakin itu ibunya.


Wanita itu memperhatikan sikap suaminya, lelaki yang selalu bersikap baik dan peduli padanya,"Aku tak bisa"gumannya dalam hati.


-


Khanza dan Afdi baru sampai rumah kontrakan mereka, waktu menunjukan pukul 3 siang, Afdi membereskan barang mereka dan mulai membersihkan rumah, selama ditinggal lebih dari sebulan tentu saja rumah ini baunya kurang nyaman.


Afdi membuka semua jendela dan menyapu seisi rumah, dilihatnya Za yang duduk disofa seperti kelelahan.


"Sayang..masuklah ke kamar, disini debu..biar abang bersihkan dulu ruang tamunya"tinta Afdi, Za mengangguk dan segera menuju kamarnya.


Setelah istrinya masuk ke kamar laki-laki itu mulai membersihkan ruang tamu, setelahnya ia bergegas membersihkan dirinya.


Tak terasa waktu sudah menjelang malam, Za yang sedang PW di kamarnya tersentak mendengar dering hpnya.


Ia tersenyum melihat nama My Love di layar, segera ia mengeser tombol hijau.


"Sayang kau dimana?"suara lelaki di seberang sana terdengar galau.

__ADS_1


"Kenapa.."goda Za membuat Bian frustasi.


"Aku rindu setengah mati..kau tak merindukan aku baby"guman Bian lirih.


Siapa bilang Za tak rindu, wanita itu seakan lupa akan ikatan suci antara ia dan suaminya.


"Aku juga rindu...sangat"lirih Za membuat pria diseberang sana tersenyum.


"Kita ketemu ya sayang..aku akan mengobati rindumu..please"mohon Bian merengek, akhirnya Za menyetujui dan ia segera berganti pakaian dan keluar dari kamar.


"Bang...Za keluar dulu, ada perlu"Za bergegas keluar rumah sebelum suaminya membalas ucapannya.


Afdi yang baru selesai mandi, bergegas memakai baju dan keluar kamar, namun Za sudah tak terlihat batang hidungnya.


"Kemana Za..perlu apa dia"Afdi nampak berpikir, namun setelahnya ia menepis pikiran buruknya, ia harus mengambil kepercayaan Za, "Beri dia kepercayaan Di, untuk mengambil hati istrimu"guman Afdi dalam hati.


Za telah sampai di cafe biasa ia bertemu Bian, lelaki itu tersenyum melihat kekasihnya.


"Kita langsung cabut ke kostku ya"ajak Bian dan Za mengangguk, sepertinya mereka sama-sama rindu berat, sebulan lebih tak bertemu pastilah mereka ingin meluapkan rasa.


Motor Za mengikuti motor kekasihnya, sepuluh menit kemudian motor Bian berhenti diparkiran sebuat kos-kosan.


Za pasrah az digandeng kekasihnya, mereka berpapasan dengan teman satu kos Bian, "Baru lagi Bi.."suara seorang pemuda terdengar begitu Bian membawa Za untuk masuk kostnya, Bian melirik dengan ekor matanya dan terlihat tidak suka dengan ucapan temannya.


Terdengar temannya itu tertawa, Bian segera menarik tangan Za untuk masuk dan menutup pintu sedikit keras.


Za terkejut namun beberapa menit kemudian ia membalas ciuman kekasihnya, Bian mengiring Za masuk ke kamar tanpa melepas t**** ***** mereka, c**** itu semakin d**** dan menuntut.


Tangan Bian sudah bergrilya kemana-mana, ****** kembaran yang lembut ia r***** p****, membuat Za me*******.


Bian membuka satu persatu p****** Za, hingga tinggal ** saja, ia terus membuat Za me****** n****t, Za yang belum pernah merasakan s******n itu lupa pada statusnya.


Bian meng***** kasar *** bagian kiri m**** Za, t***h gadis itu melengkung indah, Mata lelaki itu dibuat terpesona dengan t***h Za yang memang sangat s**y.


Za merasa perih di ******nya yang di****p dengan kasar, mata bian berkabut gairah.


"Sakit Bi.."rengeknya Za manja.


"Maaf sayang... karena m****mu begitu manis"suara Bian parau.


Tiba-tiba Za teringat ucapan abangnya"Layani suamimu dengan iklas".


Deeenng...


Za sontak terduduk ia bergegas memungut pakaian dan segera mengenakannya, Bian yang terkejut melihat sikap Za hanya terdiam bingung.


"Kenapa wajah Za jadi pucat begitu"gumannya dalam hati.

__ADS_1


"Aku pulang Bi.."Za bergegas keluar kamar dan segera membuka pintu kost Bian.


Di luar kost para pemuda asik dengan permainan gitarnya, melihat Za keluar sendiri dari kamar kost Bian mereka mulai bersuit-suit.


"Biasanya setelah bawa cewek dianter..ini sudah cantik disuruh pulang sendiri"


"Hebat juga Bian..bisa gonta-ganti cewek"


Za menyimak ucapan para tetangga kost kekasihnya,"Maksud apa..?"


Za yang pikirannya galau tak terlalu memikirkan ucapan para lelaki yang asik bermain gitar dan menyanyikan lagi jomblo galau.


Tiga puluh menit kemudian motor Za sudah sampai rumahnya, ia bergegas masuk ke kamarnya begitu masuk rumah, ia seakan tak melihat suaminya yang berada di ruang tamu, yang sedang memandangnya heran.


"Dek ... ada apa?"Afdi bertanya tanpa dihirau oleh istrinya, akhirnya ia kembali duduk diruang tamu memberi waktu pada istrinya agar lebih tenang.


Za mengunci pintu kamarnya, ia masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dan membasahi tubuhnya.


Perlahan ia membuka semua pakaiannya dan melihat tanda merah di bagian dadanya.


"Bagaimana jika suaminya tau kelakuannya?"gumannya dalam hati.


"Tapi abang memang taukan, kalau aku punya kekasih..wajar jika kami bercumbu..tetapi kenapa aku takut?"


Za mengakhiri mandinya dan bergegas keluar kamar mandi hanya dengan lilitan handuk.


Setelah mengenakan pakaian, ia membuka pintu kamarnya menuju dapur.


Za mulai mengisi gelas kosong dengan air putih dan meneguknya hingga tandas.


"Kau sudah makan sayang?"tiba-tiba Afdi sudah memeluknya dari belakang, tangan suaminya melingkar erat pinggangnya.


"Za lapar bang.."Afdi membalik tubuh istrinya dan satu kecupan lembut dikening Za, membuat wanita itu tenang.


"Abang buatkan mie dengan sosis"tawar Afdi lembut dan Za mengangguk.


Beberapa menit kemudian semangkuk mie dengan sosis tersedia di atas meja, wanginya membuat perut Za berdemo.


Afdi memandang istrinya yang sangat lahap, menghabiskan mie itu dalam waktu singkat dengan tersenyum.


Setelahnya Za mencuci mangkok itu dan berjalan masuk kekamarnya, Za membaringkan tubuhnya, ia membalik menghadap dinding kamar, kembali pikiran teringat cumbuan panas Bian, bagi Za itu hal pertama dan sungguh nikmat.


Tiba-tiba Za merasakan pelukan hangat, ia tau ini wangi tubuh suaminya, lelaki itu mencium tengkuknya lembut, membuat Za merinding.


Terimakasih pada pembaca setia๐Ÿ™


Jangan lupa tinggalin jejak๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ dan comen ..apa az๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2