NAFSU

NAFSU
David Nathan Adalah Imamku


__ADS_3

Jangan-jangan istri-istrinya yang meninggal itu nggak dikasih makan ya"ucap mbak Titin Parno.


"Mbak ahh..Hana az yang nggak berani minta makan"ucap Hana.


"Apa harus minta makan dulu Han?" guman mbak Titin kesal.


-


Hana kembali ke kantor setelah tubuhnya merasa kuat kembali.


"Kenapa nggak makan?" tanya Pak Maman begitu melihat Hana datang.


"Huuss, jangan bicara keras-keras pak?"Hana meletakan telunjuknya di bibir, Pak Maman mendekat.


"Nanti dosa pak, kasihan kalau itu nggak bener"Hana mengelengkan kepalanya.


"Terserah kamu saja Han.." Pak Maman kembali dengan tugasnya.


Beberapa jam kemudian, waktu istirahat siang Hana sudah ngacir duluan, waktunya menghadap sang khalik.


Setelah selesai dengan ibadahnya Hana menganti pakaian dinasnya dengan daster berlengan spaghetti, mau rebahan bentar meluruskan punggung.


Beberapa menit kemudian disaat mau hanyut ke pulau kapuk malah terdengar ketukan pintu.


"Sayang ini mas, buka pintunya!" terdengar suara Pak David.


Hana membuka pintu dan segera kembali ke kamar.


"Dek tadi nggak kerja, ko pakai daster?"pak David mendekati istrinya yang berbaring di kasur.


Hana hanya diam dan memejamkan matanya, Pak David akhirnya ikut berbaring dan memeluk tubuh istrinya.


Awalnya Hana diam saja ketika suaminya mendekapnya dari belakang dengan tangannya yang mulai tak diam.


Entah mengapa pikiran Hana jadi teringat suara Diang semalam.


Hana mencoba melepas dekapan suaminya dan segera duduk begitu tangan suaminya terlepas dari tubuhnya.


"Kenapa sayang..?"Pak David menatap istri penuh damba.


"Ehh iya..mas bawa nasi padang tadi nyuruh orang kantor beli di kecamatan",Pak David menarik lembut tangan istrinya.


Hana yang mulai merasa lapar akhirnya makan juga, Pak David tersenyum melihat istri cantiknya.


"Maafin mas ya dek, semalam nggak ngajak makan", aku Pak David dengan wajah merasa bersalah.

__ADS_1


Hana hanya diam, ia terus menyelesaikan makanan di piringnya.


Beberapa menit setelah selesai makan dan meneguk habis segelas air putih, Hana melanjutkan berbaringnya.


Merasa dicuekin istrinya, lelaki 40 tahun itu cemas, ia tau sulitnya menaklukan istrinya jika sudah diam begini.


Pak David mendekati istrinya yang memunggunginya, dipijatnya punggung istrinya pelan, karena tidak ada penolakan ia lanjut memijat lebih bertenaga, terlihat istrinya menikmati usahanya.


Hana merasakan pijatan suaminya yang enak dan terasa mengurangi rasa pegalnya, rasa malunya hilang sudah, ia menikmati pijatan suaminya dan melupakan marahnya.


Setelah beberapa menit Pak David ikut berbaring didekapnya tubuh istrinya, dan kembali tangannya gatal ingin menyentuh kembaran istrinya.


Dengan lembut ia melakukannya, Hana yang semulai marah tak bersuara, ia menikmati perlakuan suaminya.


Tak mereka ingat jika masih ada waktu kerja setelah makan siang.


Beberapa jam kemudian, Hana terlelap dalam pelukan suaminya, kemarahamnya hilang setelah suaminya berhasil menaklukan hatinya dengan memberi rasa nikmat penuh cinta yang besar.


Memang benar tempat terbaik untuk pasutri menyelesaikan masalah ya di kasur, buktinya Hana... ia luluh juga dengan usaha suaminya.


Beberapa jam kemudian setelah terlelap dalam tidur siangnya yang diawali dengan drama romantis.


"Hana nggak mau ke rumah mas, Hana mau disini saja" gumannya pelan di depan suaminya.


Pak David menatap lembut istrinya, dikecupnya kening istrinya lama..


"Nggak...tapi Hana merasa sepi disana, Hana merasa sendiri", Suara kecewa istrinya membuat Pak David sadar bahwa perbedaan sikapnya saat di rumahnya membuat istrinya merasa asing.


Pak David gusar, ia menghela nafas kasar, Hana menyaksikan hal itu, ia melihat sorot mata suaminya yang resah, timbul iba dihatinya.


Kecupan sayang di pipi dan bibir suaminya membuat lelaki 40 tahun itu tersenyum, ada perasaan hangat di hatinya.


"Hanya Hana yang bersikap seperti ini ketika ia gusar akan hati dan pikirannya"ditariknya tubuh istrinya masuk lebih dalam kepelukannya.


"Apa sesulit ini berbagi perasaan mas pada 2 orang istri?"guman Hana lirih namun suaminya masih mendengarnya.


"Bukan itu sayang...percayalah ucapan suamimu ini, bukan karena sayangku lebih muda, cantik dan pintar...atau karena hubungan kita masih baru, bukan itu...tapi jujur rasa sayang mas pada adek karena perasaan cinta mas...mas benar-benar jatuh cinta, dan jujur saya mas dulu pernah merasa begini pada istri ke tiga mas..."Pak David menghentikan penjelasannya dengan mata berkabut ada sesak dihatinya, ia mengeleng ..mengingat semuanya.


"Mas...kenapa?"Hana mengurai pelukan suaminya, dielusnya pipi suaminya dengan lembut membuat lelaki 40 tahun itu tersentak dari pikirannya.


"Sayang apapun yang terjadi, apapun yang kau lihat dan dengar,camkan disini...di pikiran adek..di hati bahwa mas sangat...sangaaaat mencintaimu..mohonlah pada Allah agar semua berakhir baik untuk adek"sorot mata suaminya terlihat dalam dan penuh sayang.


Hana mengangguk, dan kembali masuk le dalam pelukan suaminya.


"Mas kita nggak kembali ke kantor, tapi ini sudah pukul 15..malu Hana pasti dibully Pak Maman.."rengeknya manja pada suaminya.

__ADS_1


Suara rengekan istrinya membuat Pak David bergairah, di*****nya lembut bi*** istrinya dan tanganya sudah mencari sesuatu yang membuatnya candu.


"Mas mau lagi" Suara Pak David mulai serak, Hana yang sudah hanyut dengan belaian suaminya mengangguk, akhirnya waktu di kasur itu lebih panjang beberapa jam kedepan.


-


waktu sudah lepas isya ketika Pak David melajukan mobilnya ke arah rumahnya, Hana duduk dengan tenang namun bibir dan pikiranya tak lepas dari untaian zikir.


Hana sudah memantapkan hati atas garis hidupnya sebagai madu dari seorang wanita yang awalnya ia yakini baik ternyata penuh misteri.


Hana tidak akan menghindar, namun akan mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya, bahwa lakon dalam rumah itu tetap sebagai istri yang harus berbagi dan belajar iklas..


Hana selalu ingat pesan ibunya untuk iklas dalam menjalani hidup, maka kesabaran akan mengikuti sikap kita, dan Allah menyukai hambanya yang sabar.


Seperti apapun suami Hana, ia adalah imam Hana untuk mengapai ridho Allah.


Hana tau dari mata hatinya, suaminya jujur dan tulus padanya, mungkin karena keadaan yang membuat suaminya kadang cemas mengambil tindakan, mungkin ia tak mau menyakiti hati istri-istrinya, hingga sikapnya sulit diprediksi.


Hana membawa hati dan pikirannya untuk menghormati keputusan suaminya, ia yakin suaminya akan membawa kebaikan dalam hidupnya.


"David Nathan adalah imamku"guman Hana dalam hati.


"Sayang..ayoo turun!" Pak David sudah berada di depan pintu mobil di mana istrinya duduk.


Sungguh renungan Hana membuat istri cantik David Nathan itu tak menyadari jika mobil yang dikendarai suaminya telah sampai beberapa menit lalu.


" Iya mas..Hana turun sendiri saja" ucap Hana dan berusaha turun dari mobil.


Langkah Hana terhenti ia menarik lengan suaminya, ketika langkah kaki mendekati teras rumah.


Sosok dengan bentuk seperti moster itu menatap Hana dengan sorot mata nyalang berwarna merah.


"astaghfirullahaladzim..." Hana mengeratkan pegangannya pada lengan suaminya.


Hana ingat pesan Mbak Titin dan Bu May, Hana membaca ayat kursi itu dengan iklas ...berusaha menyentuh hati Khaliknya..untuk melindunginya dari segala bentuk gaib yang mengoda manusia.


Walau sosok itu tetap berada ditempat..namun tak mendekatinya sampai ia masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa sayang..?" Pak David menangkup pipi istrinya..dia melihat ketegangan di wajah Hana.


"Mas bisakah malam ini temani Hana?"suara Hana sangat lirih, Pak David memeluk tubuh istrinya, ada sesak dihatinya.


"Mas temani sampai sayangku tidur ya" Hana mengangguk.


Hana naik ketempat tidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian babydolnya, tak lupa ia bersuci untuk menemani tidur malamnya.

__ADS_1


Selamat membaca ceritaku semoga kalian suka, maaf masih banyak kekurangan dalam cerita ini๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jangan lupa like dan comen๐Ÿ˜˜


__ADS_2