
"Terimakasih sayangku..kau dan sikembar merupakan anugerah terindah untuk mas"Pak David makin mengeratkan pelukannya.
Pagi hari ini di rumah tuan Nathan sangat berbeda dari hari sebelumnya, pagi-pagi suara terdengar celotehan si kembar meramaikan suasana.
Tuan Nathan dan 2 nenek itu seperti berlomba mengajari bayi yang baru 3 bulan itu berbicara.
Sepertinya malah aneh, bukan bayinya yang pintar bicara tapi lafal mereka yang malah berubah seperti tak sempurna....hahaahhh
David tersenyum dan mendekati kedua putranya yang dibaringkan dalam kereta dorong.
Fahd dan Faiz tak henti berceloteh ..entah apa yang dibicarakannya
"Apa kau akan ke perkebunan nak?" Tuan Nathan menatap putranya yang terlihat sudah rapi.
"Ya yah, sudah sebulan ini saya belum melakukan pengecekan di perkebunan sawit, laporan keuangannya tidak ada masalah, tapi waktu saya tinggal saya menyarankan para pekerja untuk segera melakukan pemupukan, dan saya belum lagi melakukan pengecekan sudah sampai block mana pemupukan itu"
Tuan Nathan tersenyum, ia bangga pada putranya, yang tak lantas malas dan menunggu setoran saja, namun ia juga aktip dalam perkebunan miliknya sendiri.
Perkebunan sawit ratusan hektar dengan pekerja yang di datangkan dari luar daerah.
Sebagai pemilik perkebunan David Nathan dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab dan ramah pada pekerjanya.
Dulu sewaktu ia masih aktip sebagai Kepala Desa ia tak terlalu sibuk dengan perkebunannya, hanya kadang kala saja ia mengecek perkebunannya.
Namun sekarang ia lebih sering datang keperkebunan bukan hanya mengecek kondisi dilapangan tapi juga mendengar keluhan pekerjannya.
Perkebunan kepala sawit milik tuan Nathan itu sudah diberikan secara keseluruhan untuk putranya David Nathan, dan bernaung di bawa PT Sawit Raya atau orang di Desa Boru menyebutnya PT SR.
"Yah ..ibu..saya ke perkebunan dulu, jagoan ayah yang pintar ya?"David memberi ciuman pada kedua putranya dengan gemas.
Hana menerima pelukan suaminya dengan kecupan dikening"Jangan keluar rumah, jaga baby kita ..ok"Pak David mengedipkan mata pada istrinya, pipi Hana merona digodai ibu dan mertuanya.
"Duuh nih anak am mantu kalau sudah berdua nggak ingat sama orangtua" gerutu Bu Asri mengejek.
Tuan Nathan dan Bu Mariana tergelak melihat candaan besannya.
Nathan malah menunjukan rasa cintanya pada bunda sikembar di depan orangtua dan mertuanya.
"Ibu jaga mantumu untukku ya, jangan boleh keluar rumah.."Pak David tersenyum pada orangtua dan mertuanya, dan dengan secepat kilat ia mencuri ciuman di pipi istrinya.
__ADS_1
Mereka tergelak melihat Hana yang mengerutu karna ulah suami tersayangnya.
-
Tak terasa waktu berlalu, saat ini si kembar sudah berusia 2 tahun, bik Sumi mulai kewalahan dengan duo jagoan yang sedang senang-senangnya nelitis(kata orang jawa) tak mau diam dan ada saja tingkah mereka.
Wajah mereka berdua kalau dijejerkan bertiga dengan ayahnya, bisa jadi kembar tiga, tak membuang ayahnya kata orang.
Ibu Asri telah kembali ke rumahnya sendiri, dan Hana sudah berhenti dari pekerjaannya demi merawat sikembar.
Setiap sebulan sekali mereka akan mengunjungi rumah utih dan eyang kakungnya.
"Mas jadi besok kita ke rumah ibu?" Hana masuk kepelukan suaminya.
Mereka baru beberapa menit yang lalu melakukan ritual suami istri.
Semenjak melahirkan sikembar dan menyusui mereka tubuh Hana makin terlihat sexy, itu membuat suaminya semakin posesif.
"Iya sayangku, kita berangkat pagi saja ya..biar lebih santai, dan mbak Sumi ikut dengan kita?"
"Mas..mbak Titin dan Aris mau ikut juga loh, kan Aris pas liburan sekolah, mereka besok pagi-pagi nanti diantar kesini sama Pak Maman" Hana berucap sembari mengelus rahang suaminya dengan lembut.
-
Di halaman rumah Tuan Nathan mobil Toyota Alphard berwarna hitam sudah siap meluncur, dan mereka mendapat satu tambahan penumpang.
Ia adalah Badi, pelayan Pak David yang setia itu sekarang penampilannya sedikit berbeda, ia nampak lebih bersih dangan rambut dicukur rapi.
Semenjak rumah Pak David di Desa Boru dijadikan pusat ibadah, Badi mengkaji ilmu dengan rajin, ia sudah melaksanakan sholat 5 waktu, itu membuat Hana senang.
Usia Badi yang sudah 37 tahun tetapi enggan untuk berumah tangga, membuat Pak David dan Hana berencana menjodohkannya dengan bik Sumi.
Bik Sumi yang pernah gagal dalam berumah tangga, sepertinya trauma membangun rumah tangga baru karena suaminya yang dulu pergi dengan wanita lain dan selalu bersikap kasar padanya.
Wanita yang kini berusia 32 tahun itu, sangat rajin dan setia pada keluarga Tuan Nathan.
Mobil meluncur meninggalkan halaman rumah tuan Nathan, pasangan sepuh beserta Pak Pri dan istrinya mengantar kepergian mereka dengan banyak doa.
Pak Badi duduk dibelakang dengan Aris, bocah lelaki itu anteng dengan camilannya.
__ADS_1
Mbak Titin duduk bersebelahan dengan bik Sumi yang memeluk Fahd ditengahnya, sedang Faiz sedari tadi merenggek ingin duduk di depan dengan bundanya.
Mobil sudah keluar dari kecamatan Aru, celotehan Faiz yang tak henti setiap melihat sesuatu si depannya, membuat yang lain gemas,
Ucapan si kembar yang masih cadel itu terdengar mengemaskan, jadi pengen noel.
"Comel sekali nak Faiz nih, jadi pengen gigit" ucap Mbak Titin gemes.
"Nggak boleh gigit dede.." jerit Fahd kesal dengan mata coklatnya yang garang.
Yang lain tertawa mendengar pembelaan kakak atas adiknya.
"Abang Fahd sayangkah sama adek Faiz?"bocah kecik itu mengangguk.
"Di..kau tak inginkah punya yang comel macam anakku?"Hana menyeletuk, Badi hanya tersenyum.
"Menikah itu ibadah om Badi, ya kan mbak Sumi?"Mbak Titin mengoda mereka, Hana dan Pak David hanya tersenyum, beberapa saat kemudian
Tak terasa mobil sudah memasuki dermaga dan beberapa saat mobil masuk ke fery, para bocah bersemangat melihatnya, terlebih Aris yang baru kali ini melihat laut dan fery, ia mulai menampakan kecerewetannya, bertanya apa saja yang jadi perhatiannya.
Sedang Fahd terlelap dalam pelukan bik Sumi.
Mereka turun ketika mobil sudah mendapat posisi amannya.
Mereka mulai naik ke lantai atas, Fahd yang terlelap digendong ayahnya, sedang Faiz digendong bundanya.
Hana berbisik sesuatu pada Mbak Titin dan wanita itu tampak mengangguk,
"Kita comblangin bik Sumi dan om Badii"akal bulus mbak Titin.
Badi mengekori bik Sumi, dan atas akal bulus Mbak Titin mereka bisa duduk berdampingan.
Badi dan bik Sumi akhirnya saling bicara dan mulai ngobrol itu membuat Hana memberikan jempolnya ke udara pada mbak Titin.
"Mas pegang Faiz dulu ya, aku mau pesan bakso?" Hana beranjak dari duduknya dan segera menuju kafetaria yang menyediakan bakso dan jus buah.
"Han..Hana...kan...?"suara itu membuat Hana menoleh dan terkejut melihat seseorang yang menyebut namanya.
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka, maaf masih banyak kekurangan๐๐๐
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan comen๐๐๐