
Suara ketukan pintu, membuat Dewi bergegas menuju ruang tamu, ketukan pintu itu berulang kembali.
" siapa sih malam-malam begini?ngak sabaran lagi", gerutunya.
Wajah Dewi terkejut melihat lelaki dimuka pintu, ia segera menarik masuk tangan Danu dan segera mengunci pintu, tampilan Dewi yang mengunakan kaos oblong putih dengan leher rendah dan hotpants diatas pahe, membuat Danu meradang, ingatannya kembali pada Hana yang sedang asik berdua dengan si keparat itu.
" kak Danu ngejutin az ma...eemmhh", Dewi tak dapat melanjutkan ucapannya ketika b****nya sudah l**** oleh Danu,
Seketika wanita itu bersorak senang tak harus ia merendah, Danu yang datang padanya.
-
Danu memejamkan matanya, pikiran kalut atas apa yang terjadi, ia menyesali kecerobohannya.
"bagaimana jika Dewi menuntut pertanggung jawabannya, walau ternyata dia bukan yang pertama untuk Dewi, tapi jika ...aaahhhhhk", Danu ingin menjerit atas nasibnya.
Dewi mendekap erat tubuh Danu, ia sangat bahagia...sangaaaatttt ini tujuannya..lelaki yang disukainya sejak pertama melihatnya sekarang jadi miliknya.
Dewi melihat Danu pertama kali lewat foto di hp Kak Yunda, ada getaran dihatinya ketika memandang wajah difoto itu, apa lagi kak Yunda mendukung jika Dewi bisa jadi adik iparnya.
Danu terbangun dari tidurnya, Dewi tak ada disampingnya, lelaki itu merutuki dirinya atas apa yang terjadi.
Danu keluar dari kamar dan melihat Dewi sedang menyiapkan sarapan, wanita itu tersipu begitu pandangan mereka bersirobok.
" kakak mandi dulu, baru kita sarapan bersama", ucap Dewi malu-malu.Danu hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi.
" maaf atas kejadian semalam, aku khilaf..", Danu berucap ketika ia berhadapan dengan Dewi dimeja makan. Dewi hanya diam dan menunduk, ia tak tau harus bicara apa...mau menuntut takutnya Danu tak mau bertanggung jawab karena ini bukan yang pertama bagi Dewi.
"kamu marah sama aku Dew?",
" seharusnya aku menolak kakak, tapi..",Danu memandang mata Dewi seolah bertanya.
"lupakan saja, bagi kakak Dewi bukan gadis baik, jadi g pantas buat kakak" , Dewi berdiri merapikan meja makan dan membawa piring ke wastafel.
Danu masih duduk terdiam di ruang makan, ia bingung dengan pikirannya dan juga ucapan Dewi.
" kak Danu..berangkatlah kerja, nanti terlambat", ucapan Dewi menyadarkan Danu yang segera bergegas pergi.
-
Danu tak konsen dalam pekerjaannya, ia lebih banyak diam membuat rekannya yang bernama mas Iwan, menegurnya.
" ada apa Dan, kalau sakit istirahat saja", ucap Iwan, Danu memandang kosong ke arah rekannya itu.
__ADS_1
"pulanglah..istirahat nanti biar saya yang bicara sama bos", tinta iwan, Danu mengangguk dan berjalan gontai meninggalkan rekannya.
Di sisi lain, Hana makin semangat dengan tugas yang diembannya.
semenjak dana sudah dicairkan Hana diharuskan sering berada dilapangan.
wanita itu tak pernah menyadari seseorang mengamatinya.
" Hana...ini laporan dari pemborong yang harus kamu rekap", Serly menyerahkan selembar kertas yang berisi rincian barang, Serly merupakan koordinator lapangan dari proyek desa.
" makasih mbak", .."panggil Serly az..aku g mau dipanggil mbak", senyumnya ramah..Hana tercenung.
"kenapa mbak Sita bilang Serly g suka am aku, nih orang baik az sama aku", Hana mengelengkan kepalanya.
"kenapa ..kamu sakit kepala?",
" hehee g hanya lapar az..", ucap Hana malu.
" yuk ikut aku, kita makan soto****** dijamin kamu suka", Serly menarik tangan Hana menuju motor.
" naik motor..?",
" ya ..nanti naik mobilnya kalau datang pak bos", olok Serly
Motor Serly berhenti di sebuah rumah yang memiliki halaman yang luas, rumah dari kayu itu nampak bersih padahal diseputaran rumah ditanami beraneka tanaman buah.
"kenapa aku merasa sedang diawasi" batin Hana.
Kaki Hana terasa berat untuk masuk ke dalam rumah seperti sedang dirantai dengan bola besi ratusan ton.
Murkanya lelaki kasat mata membuat wujudnya sangat mengerikan, tinggi setinggi puluhan meter dengan tubuh besar, ia berusaha mengapai cintanya.
Serly melihat ke arah Hana, dilihatnya wanita itu Hanya terdiam, ia mencoba menarik tangan Hana, namun Hana nampak bergeming.
"ayo masuk Han", ajak Serly memaksa
" ada apa ini ..kakiku terasa berat", Hana mulai melafazkan ayat**** seketika suara gemuruh dan angin membuat pepohonan disekitar meliuk kencang, suaranya terdengar seperti jeritan.
Serly merasa ketakutan dan segera masuk ke dalam rumah, mengandeng tangan Hana, pandangan mata Hana bergerak kesana-kemari ia merasakan ada makhluk lain dirumah ini yang sedang mengawasinya.
suasana di dalam ruangan lengang dan tak banyak perabotan di rumah ini, rumah yang lumayan panjang dengan banyak kamar yang terlihat gelap. mereka menuju ruang belakang yang ternyata dapur, tidak ada meja makan, hanya meja bulat dari kayu dan hambal tebal sebagai alas duduk.
Seorang wanita yang kira-kira 45 tahunan dengan senyum ramah menyambut kami," apa ini ibunya Serly?", batin Hana.
__ADS_1
Wanita itu menyiapkan makanan di meja, wanita tua itu menyuruhku duduk, ia menggunakan bahasa Indonesia yang masih belum lancar, terkadang ia menggunakan bahasa daerah yang Hana tak mengerti.
Semangkuk soto disorongkan untukku, aku menatap isi soto didepanku, penuh dengan lauk ayam yang kutau itu ayam kampung.
"ayo Han dimakan, kita harus kembali ke lokasi lagi kan", tegur Serly sembari menyodorkan nasi pulut dengan telur ayam kampung yang direbus.
" ko aneh Ly..biasanya inti kelapa..kenapa ini telur?" Hana menatap nasi pulut didepannya.
"ah ini, kebetulan az banyak telur ayam kampung dirumah ini, ada juga telur bebek, kamu kalau mau nanti bawa buat dirumah", tawar Serly
Hana hanya mangut-mangut saja.
Hana tak melihat apa yang terjadi di atas rumah ini, dua kekuatan gaib saling bertaruh untuk kesetiaannya.
Mereka berpamitan pada wanita tua itu yang hanya tersenyum dan mengangguk, Serly mengiring Hana menuju pintu depan.
"kamu tunggu dimotor dulu ya Han, ada yang tertinggal", Serly tak menunggu jawaban Hana, ia segera masuk kembali ke dalam rumah.
"ingat ucapanmu, awas kau ingkar!",
ia hanya tersenyum mendengarnya.
Serly keluar membawa kresek hitam, dan menyodorkannya pada Hana.
"kamu betulan dengan ucapanmu tadi, makasih",Hana melihat telur ayam dan bebek yang cukup banyak didalam kresek yang diberi oleh Serly.
"serius..lo besok-besok main ke sini, dibelakang rumah ada kandang macam-macam ternak", ucapan Serly membuat Hana penasaran ia senang melihat perkebunan, peternakan hal-hal itu membuatnya tenang.
Serly melajukan motornya ke arah proyek dengan Hana yang duduk diam dibelakangnya.
-
Malam menjelang disebuah kamar mewah, seorang wanita cantik terbaring polos setelah lelah menikmati *****.
"apa kau tak akan merindukan hal ini dariku, kau tau aku bisa memberikan apapun untukmu..bahkan nikmat yang tak akan kau dapat dari laki-laki lain, tapi tak masalah bagiku jika itu keiginanmu",
" kita sudah sepakat, apa kau mau mencurangiku" geramnya.
"jangan marah sayang, jika kau masih suka nikmatnya", haahhh..tawa itu terdengar mengesalkan.
"ingatlah janji adalah hutang, kau wajib membayarnya!!!
Selamat membaca semoga suka
__ADS_1
Maaf masih sering salah ketik dan typonya🙏🙏🙏
Jangan lupa like dan comen😘