
Esok harinya, selepas subuh Fajar meninggalkan warung Reni, setelah mendapat sarapan penuh keringat dan nikmat.
Fajar bergegas membuka bajunya dan masuk ke kamar mandi, begitu sampai di mesnya.
Ada yang aneh di pinggangnya, ada semacam babak merah dan kasar, sebesar jari telunjuk ketika ia menyabuni tubuhnya.
"Kemarin sepertinya tak ada".guman Fajar dalam hati.
Dikediamannya Pak David terus berpikir, langkah yang akan ia ambil untuk perbuatan Diang Ami 4 tahun silam pada Dun.
Langkah hukum ????
Ia perlu saksi dan bukti, konsultasi yang ia lakukan dengan Pak Ustad hanya untuk melindungi diri dan keluarganya.
Bagaimana ini ???
Jika yang dia tuju dirinya, maka ialah yang harus memasang tameng, tapi bagaimana jika ia mencelakai org-orang disekitarnya?
Lebih baik berperang menghadapi 10 orang musuh nyata, dari pada 1 wanita iblis ini.
Hana yang sedari tadi melihat kegelisahan suaminya, akhirmya tak tahan untuk bertanya.
"Ada apa mas..kenapa sedari tadi mas gelisah?" Hana menatap suaminya yang duduk bersandar di kepala ranjang.
Pak David menghela nafas panjang, ia memang tak bicara tentang wanita itu pada istrinya, ia tak mau istrinya cemas.
"Dek mas mau cerita, bantu mas untuk mengambil langkah yang tepat?" Pak David menatap lekat manik hitam mata istrinya.
Pak David menceritakan kejadian itu dengan detail, Hana mendengarkan dengan diam..hingga akhir cerita suaminya.
"Musuh kita bukan manusia mas, kita sulit mengambil jalan hukum, satu-satunya cara hanya menangkap wanita itu, tapi mas sendiri katakan..wajahnya berbeda dengan Diang, ia bersekutu dengan setan kita harus mencari orang yang ahli dalam hal menangkap siluman macam Diang, jangan sampai ada korban terlebih dahulu" jelas Hana, yang dibalas anggukan oleh suaminya.
"Iya sayang kamu benar, mas akan minta tolong Pak Ustad untuk mencari orang yang bisa mengusir makhluk itu , kalaupun wanita itu tak mati biarlah ia tak kembali ke dunia nyata ini, biar selamanya ia di dunia gaib agar tak menganggu kehidupan orang lain" Pak David membaringkan tubuhnya dan menarik istrinya dalam pelukannya, beberapa saat kemudian mereka akhir terlelap.
-
Hampir setiap malam Fajar selalu tidur di warung Reni, kedekatan mereka tak diketahui siapapun sesuai permintaan Reni, hubungan mereka telah lewat dari bulan.
Fajar yang semula berniat menikahi Reni dan sudah mempersiapkan surat-surat untuk pernikahannya, menjadi batal karena Reni meminta menikah di bawah tangan saja.
Fajar yang sudah mabuk kepayang akhirnya setuju saja, yang penting setiap malam ia bisa selalu bersama Reni.
__ADS_1
Sore ini selepas jam kantor, Fajar menuju mesnya, ia bergegas membersihkan diri, dengan hanya menggunakan boxer dan handuk melilit dilehernya Fajar masuk ke kamar mandi.
Ia merasa heran dengan tanda macam babak merah keputihan dan kasar jika disentuh, disepanjang pinggangnya yang nyaris menyatu.
"Apakah ini kurap...atau panu? ..kenapa tidak gatal? ... kenapa hanya diseputaran pinggang? apa aku terlalu kencang memakai tali pinggangnya? ini terasa nyeri seperti menghisap..aku akan periksakan ke klinik lusa nanti"guman Fajar dalam hati.
Setelah mandi dan berdandan rapi ia keluar dari mes menuju kantor PT SR, malam ini ia lembur, sampai waktu isya nanti, hatinya selama lebih sebulan ini selalu diliputi perasaan bahagia, perasaan berbalas dari wanita yang sangat dia cintai.
"Wah gantengnya mas Fajar ini, jam segini sudah wangi pula..padahal yang lainnya masih bau keringat"ejek Tia sesama rekan kerja di kantor PT SR.
"Ada yang ditaksir tuh Ia..kamu kayak nggak tau az yang lagi terpanah cintrong..hahhahhh"suara rekan Fajar yang paling nyablak.
"Wah siapa nih yang bisa manah hati mas Fajar, rekan kita juga kah mas?" kepo Tia yang dibalas senyuman oleh Fajar dan tak perduli dengan kekepoan rekannya.
"Wah semangat bener lemburnya?"tiba-tiba Pak David keluar dari ruangannya dan melewati ruangan para karyawan kantornya.
"Ya lah pak harus semangat..buat tambah-tambah tabungan, buat melamar pak uang lemburannya...hiiihiihh"celetuk si nyablak.
Pak David tersenyum dan berpamitan pada anak buahnya, tentu saja diikuti oleh sang asisten atau bodyguard .. siapa lagi kalau bukan Badi.
"Badi kamu yang bawa mobil, kita langsung ke rumah"Pak David menyerahkan kunci mobil pada Badi dan segera naik ke mobil.
Badi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, mereka bercakap-cakap seputar situasi di perkebunan.
"Dari pengamatan saya dan teman yang saya mintai tolong sih tidak ada, hanya saja...."Badi ragu apakah ini pantas dibicarakan pada bosnya.
"Hanya saja apa Di...?Pak David menatap Badi dari samping dan lelaki itu sekilas menatap bosnya dan beralih lagi pandangannya focus ke jalan.
"Ya bapak kan tau dia banyak disukai pekerja, katanya setiap malam ada yang menemaninya...."Badi tak melanjutkan ucapannya, ia tak enak bicara karena biar bagaimanapun Diang mantan istri majikannya.
Pak David diam,"Aku tak menyangka kau bisa melakukan itu Diang, bersyukurlah aku yang sudah menalakmu..hingga aku tak ikut menanggung dosamu"batin Pak David.
"Biarlah Di..itu bukan urusan kita"guman Pak David lirih.
Mobil yang dikendarai Badi memasuki halaman rumah besar tuan Nathan, nampak dua bocah sedang bermain bola dengan tuan Nathan.
"Ayah..."mereka berteriak dan berlari begitu melihat Pak David turun dari mobil.
"Ayah kotor sayang..biar ayah mandi dulu ya..jangan bilang kalian belum mandi" kata Pak David menelisik ke dua putranya.Badi yang melihat kelakuan sikembar tersenyum dan segera berpamitan melihat putranya yang sudah berusia nyaris setahun.
"Mereka belum mandi, ini masih pukul 16 lewat..nanti mereka berkeringat lagi kalau terlalu cepat mandi"sang kai mengangkat Faiz kedalam gendongannya.
__ADS_1
"Cucu kai ini makin sehat saja, kai bisa tak kuat mengendong kalian nanti"canda tuan Nathan sembari mencium pipi Faiz.
"Ayah Fah mau gendong"rengek fah menatap ayahnya dengan kedua tangannya yang siap diangkat kegendongan ayahnya.
"Ok jagoan ayah..ayo kita mandi bersama ya"Pak David menganjak putranya masuk ke rumah melewati pintu belakang, tentu saja dua bocah kembar itu senang diajak mandi bareng ayahnya.
Tuan Nathan tersenyum melihat keceriaan putra dan cucu-cucunya.
Disisi lain, Badi yang sudah mandi dan berganti pakaian asik bermain dengan putranya ditempat tidur di dalam kamarnya, ia menciumi perut putranya yang membuat Afdi putranya tertawa geli.
Sumi yang baru masuk kamar tersenyum melihat dua lelaki kesayangannya tertawa bahagia.
"Mas makan kue ini dulu ngih, tadi Sumi buat kue untuk anak-anak"Badi duduk dengan memangku putranya, ia menerima suapan dari istrinya.
"Afdi mau juga sayang?"Badi bertanya pada putranya yang diangguki kepala oleh Afdi.
"Dia mau juga bu..disuapi"Badi mencium kepala putranya dengan sayang.
Beberapa waktu kemudian selepas isya, ditempat lain di mes PT SR, Fajar telah selesai dengan lembur malamnya, perutnya sudah sangat lapar dan rasa rindunya pada istri sirinya sudah membuatnya tak sabar ingin sampai di warung Rani.
Waktu menunjukan pukul 22 malam, dengan berjalan kaki Fajar melewati perkebunan, ia sudah biasa untuk memperpendek jarak, kebetulan malam ini purnama hingga jalan cukup terang, selang 15 menit ia sudah sampai di warung Reni.
Fajar membuka pintu dan bergegas masuk, wanita cantik itu semakin mengoda dengan mengunakan gaun malam satin tipis yang menerawang berwarna kuning kunyit, kontras dengan kulitnya yang putih susu.
Fajar menelan salivanya melihat pemandangan yang membuatnya melupakan rasa laparnya.
"Kakak makan dulu..jangan memandang begitu"Reni menyiapkan makanan di meja dengan suara lirih ke telinga suami sirinya.
"Kakak jadi pengen makan adik dulu kalau begini, adik lebih mengugah selera..malam ini semakin cantik saja"Fajar menarik tubuh Reni dan menghirup wangi melati yang sangat memabukan.
"Makanlah, kakak perlu tenaga lebih malam ini untuk membuat Reni puas"wanita cantik itu berbisik lembut membuat bagian tubuh Fajar semakin bergejolak.
Fajar segera menyelesaikan makanan yang disiapkan istri sirinya, ia ingin cepat menyantap hidangan penutup malam dengan Reni.
Malam kian larut Fajar semakin terbuai, jeritan manja Reni, membuatnya semakin menghentakan kuat pinggulnya, membuatnya makin melambung.
Malam ini Fajar merasakan keagresifan istrinya semakin menjadi, membuatnya semakin tak ingin berhenti, berkali-kali ia mencapai puncak nirwana, sangat nikmat namun juga sangat nyeri di pinggangnya.
Wajah Fajar kelihatan memucat, matanya terlihat cekung kehitaman, ia merasa tenaganya betul-betul terkuras, namun ia merasakan malam ini..merupakan malam ternikmat bersama Reni dibanding malam-malam sebelumnya.
Fajar terlelep dengan nafasnya yang makin tersegal-sengal....
__ADS_1
Selamat membaca ceritaku, semoga menghibur kalian, maaf masih banyak kekurangan๐๐๐
Jangan lupa like dan comen๐๐๐