NAFSU

NAFSU
Wanita Cantik di Perkebunan #2


__ADS_3

Apa maksudnya warung sicantik, apa ada warung baru..atau orang baru?"tanya Pak David karena ucapan teman Fajar tadi membuat ia berpikir.


"Ada warung baru pak, penjualnya cantik sekali dan masih muda"jelas Fajar malu-malu.


"Warung baru..penjualnya dari mana?"


"Kami tidak tau asalnya pak, ia hanya tersenyum jika ditanya..kalau bapak mau kenal ayo sama saya, kita sarapan disana?"ajak Fajar sopan.


"Ah tidak..saya sudah sarapan..kau saja sana"tolak Pak David.


Fajar permisi dari hadapan pak David, karena memang ia sangat lapar.


"Wanita cantik diperkebunan sawit?"


Pak David geleng-geleng kepala melihat tingkah karyawannya yang masih bujang.


Tepat pukul 15, Pak David dan Badi meninggalkan perkebunan sawit, lanjut ke perkebunan buah.


Tidak perlu waktu lama mereka sudah sampai di perkebunan buah, benar adanya, buah manggis yang ada di samping rumah kebun itu berbuah lebat, warnanya sudah sebagian kehitaman siap untuk dipanen.


"Maaf pak, saya tidak tau bapak datang, saya tadi sedang di belakang, sedang sortir buah buat dikirim ke kota"Pak Wahono tergopong-gopoh menuju Pak David.


"Santai saja pak, saya mau ikut panen..tolong siapkan beberapa buah yang dipanen buat oleh-oleh di rumah dan buat tetangga"Pak David tersenyum dan menerima uluran tangan Pak Wahono.


Satu jam kemudian mobil Pak David meninggalkan perkebunan, dan lanjut ke perumahan istrinya dulu, untuk berbagi dengan rekan-rekan istrinya yang sudah seperti saudara.


Beberapa menit mobil fortuner merah itu memasuki halaman perumahan, nampak Pak Abdul, Pak Maman dan Agus sedang ngobrol di halaman, mereka menengok ke arah mobil Pak David.


Seorang lelaki gagah keluar dari mobil dan segera menghampiri meraka, "Badi turunkan 3 plastik kuning sebelah kanan buat keluarga disini"


Badi mengangguk dan segera menuju bagasi.


"Apa kabar Pak David, dari mana pak?"


Pak Abdul cs menyalimi Pak David bergantian.


"Dari kebun pak, ini ngantarkan hasil panen buat icip-icip keluarga disini"ucap Pak David merendah.


"Alhamdulillah...rezeki Pak Maman, ayo Gus bantu om Badi mengangkat buahnya!"ucap Pak Abdul antusias.


"Saya tak bisa lama bapak-bapak sudah sore, saya langsung balik..saya permisi"Pak David menangkupkan tangannya izin permisi dan diangguki oleh mereka dengan ucapan terimakasih.


-


Satu tahun kemudian

__ADS_1


"Apa perlu kita cari pengasuh si kembar sayang, bik Sumi tinggal menunggu hari saja akan melahirkan"Pak David mendekap tubuh istrinya malam itu, kedua jagoannya sudah terlelap.


"Tidak usah mas, mereka sudah makin pintar, aku tak mau melewatkan perkembangan putraku, aku masih bisa mengurusnya"tolak Hana pada suaminya.


"Sayang..kita tambah satu lagi ya?"Pak David merayu istrinya dengan wajah yang mendusel-dusel di curuk leher istrinya.


"Bukannya Hana tidak mau, tapi...eemmhhhh"Hana tersadar dari lamunannya ketika suaminya bersikap usil, tanpa Hana sadari suaminya sudah mengh**** cupnya.


"Mas...eemmmhhh"Hana tak dapat melanjutkan ucapannya, mata Pak David sudah dipenuhi kabut g*****, Hana membalas tautan manis dari suaminya, dan semakin memperdalam dengan saling bertemunya indera pengecap, bertukar saliva ...menuntun untuk lebih dari sekedar pertemuan indera pengecap.


Jeritan manja istrinya membuat lelaki beranak dua itu makin semangat, ia tak menghentikan hentakanya, tangan Pak David meremas bagian lunak dan lembut yang memompa has***nya.


sampai mereka bermandi peluh di kamar berAC yang suhunya bukan rendah tetapi justru naik.


Genjotan nikmat dari suaminya membuat wanita yang baru berusia 25 tahun itu membubung ke nirwana, dan tak lama suaminya rebah dalam dekapan istrinya, mereka terlelap setelah ritual malam, yang diharapkan akan hadir adik buat sikembar.


-


Hari berganti minggu dan bulan berganti, suasana di PT SR makin ramai, harga sawit kali ini cukup lumayan, membuat para buruh pabrik makin rajin mengunjungi warung si cantik.


Warung makan sederhana yang menyediakan makanan rumahan sebenarnya tak menjadi daya tarik pembeli, namun magnet penjualnya yang membuat para lelaki hilir-mudik makan di warung itu.


Wajah cantik yang tertutup kerudung, seperti enggan sepenuhnya dikenal orang, irit bicara bahkan nyaris jarang bersuara, hanya senyum tipis menunjukan keramahan pada pengunjung warung.


"Dek..siapa sih namanya sudah setengah tahun saya berlangganan, masak sih nggak boleh tau namanya"gerutu seorang pembeli, membuat yang lain menatap penjualnya dan mengiyakan ucapan temannya.


"Oh...Reni, namanya secantik orangnya"puji seorang pembeli dan Reni hanya tersenyum tipis.


Fajar yang kebetulan sedang sarapan di warung itu tersenyum tipis..."Reni nama yang bagus".


"Pak Fajar kami duluan ya, sudah waktunya bongkar grup kami"pamit para buruh.


"Ya silahkan", jawab Fajar melanjutkan makannya sesekali ia melirik Reni yang sedang asik dengan kegiatannya melayani pembeli.


Reni merasa dirinya sedang diamati, ia melihat seorang lelaki tampan berusia sekitar 27 tahun menatapnya sembari tersenyum, Rani hanya balas tersenyum.


Satu persatu para buruh meninggalkan warung, tertinggal Fajar sendiri, kebetulan ia bukan buruh namun seorang stap kantor.


"Dek Reni, kalau malam warungnya buka?"tanya Fajar sembari menatap wanita cantik di depannya.


"Ya..sampai jam 10 malam"guman Rani lirih, Fajar tersenyum mendengar jawaban Reni.


"Nanti malam mas simpankan buat makan malam ya, mas tinggal di mes"pinta Fajar dan diangguki Reni.


"Ini ..kembaliannya simpan saja"ucap Fajar memberi uang berwarna merah.

__ADS_1


"Ini kebanyakan kak.."


"Kebetulan sedang panen raya, rezeki buat Reni"Fajar tersenyum dan segera meninggalkan warung.


Saat jam segini biasanya tinggal satu dua yang datang untuk ngopi atau minum es teh, karena para buruh dan karyawan pada sibuk dengan kerjaannya, yang mampir biasanya para sopir dari luar yang mengantar sawit.


PT SR selain memiliki perkebunan, juga mengolah sawit jadi CPO yang akan dikirim keluar daerah, perkebunan rakyat diperbolehkan menjual hasil panen ke PT SR dengan harga yang sudah ditentukan.


Hari menjelang siang, Pak David dan Badi masih ada di perkebunan, mereka sama-sama merasa lapar, apa lagi Badi perutnya berbunyi...krrruuuukk...yang membuat Pak David tersenyum.


"Ayo kita makan"Pak David segera menuju mobilnya, Badi mengikuti dari belakang.


"Mau kemana Pak?" seorang staf kantor yang kebetulan berselisih menyapa.


"Kami mau makan siang dulu"


"Pak sekali-kali dicoba tuh di warung yang sedang digandrungi pekerja"staf itu tersenyum mengacungkan jempolnya.


Akhirnya Pak David dan Badi mencari warung yang dimaksud, hanya pengen tau saja tentang selera para pekerjanya.


Beberapa menit kemudian, Pak David dan Badi turun dari mobil, dari beberapa warung yang ada, terlihat warung berwarna kuning kunyit itu paling ramai pembeli.


Beberapa buruh keluar begitu mengetahui bos mereka datang, mereka memberikan tempat duduk pada bos mereka.


Debaran dijantung yang tak biasa, membuat mata itu menatap asal penyebab, wajahnya merona melihat seorang lelaki tampan yang gagah dan tampilannya berbeda dari pembeli lain.


"Kopi dua mbak..bapak mau makan apa?"Badi memesan kopi pada penjual dan setelahnya bertanya pada majikannya.


"Kopi saja dulu.."Pak David memandang penjual yang sedang diminati para pekerjanya, namun wajah wanita itu sulit untuk dikenali.


Wanita cantik dengan jari lentik dan kulit putih mulus meletakkan segelas kopi dengan lepek di depan Pak David.


wangi melati menyeruak lembut diindera penciuman.


"Silahkan kak.."suara lembut nan lirih terdengar diindera lelaki beranak dua itu.


"Terimakasih.."Pak David tersenyum tanpa menatap wajah cantik yang menatapnya.


Pembeli yang lain asik dengan makanan atau minumannya,Pak David menatap Badi yang sudah menikmati makan siangnya.


Lelaki beranak dua itu meraih gagang cangkir kopinya.


"Bismillah"..ucap Pak David lirih, ia menarik cangkir kopinya dari lepek.


"Subhanallah"kening lelaki itu berkerut...????

__ADS_1


Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka dan terhibur, maaf masih banyak kekurangan๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jangan lupa like dan komen๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2