NAFSU

NAFSU
Tes Peck


__ADS_3

Laki-laki sederhana itu begitu mudah bergaul, belum sehari saja ia sudah mendapatkan banyak kawan.


Di sisi lain, Za kembali tertidur setelah suaminya berangkat kerja, entahlah ia selalu merasa mengantuk dan lelah.


"Masya Allah Za kau ini, pamali tidur di pagi hari, ayo bangun"Hana menepuk pundak Za lembut.


Namun wanita itu tak memdengar sama sekali, membuat sang bunda kesal.


Hana mendekat ke telinga putrinya, "Kau sudah balek Di.."mendengar nama suaminya Za segera terduduk.


"Abang sudah balek"ucap Za dengan mata yang masih enggan membuka, dan setelahnya ia menelisik kamar, tak ada suaminya yang ada hanya bundanya.


"Bunda membohongiku ya.."wajah wanita cantik itu berengut.


"Ya..karena kau tidur di pagi hari, ayo ikut bunda kita keluar"Hana mengacak pucuk kepala Za.


Akhirnya wanita itu turun juga dari ranjangnya walau dengan enggan.


Satu jam kemudian, Za sudah duduk di ruang makan, wanita itu begitu lahap menikmati makanannya, sampai ia tak melihat kedatangan bundanya.


"Za bukannya tadi kau sudah sarapan dengan suamimu, kau sudah lapar lagi?"Hana menatap putrinya heran, lalu tersenyum.


Za mendengarkan ucapan bundanya, ia nyengir ketika ingat dia sudah sarapan pagi dengan suaminya tadi, "Za lapar lagi bun"ucapnya tersipu.


Hana mengelengkan kepala dan merasa heran, "Biasanya Za selalu menjaga makannya, bahkan terkesan tak terlalu suka makan, tapi ini selera makannya bertambah, lihat pipinya makin chaby".


"Setelah makan bersiaplah kita akan ke butik, untuk melihat gaun pengantinmu"


Za menatap bundanya"Beneran mau resepsi bun.."Hana hanya mengangguk dan berlalu menuju ruang tamu.


"Bunda tunggu di depan"jelas Hana dan Za mengiyakan.


-


Saat ini Za dan kedua orangtuanya menuju butik, Pak David melihat gelagat putrinya yang seperti ogah-ogahan.


"Kenapa dek..kau malas sekali kelihatannya"ucap Pak David melirik wajah putrinya dari kaca spion.


"Setelah dari butik, kita akan melihat suamimu di perkebunan.."ucapan Pak David sukses membuat mood Za kembali full.


"Bener ya yah..."ucapnya antusias dengan wajah yang kelihatan berseri.


"Bu..Za mirip dengan bunda waktu kasmaran dengan ayahkan"goda Pak David pada istrinya.

__ADS_1


Hana memposisikan duduknya menghadap suaminya,"Sampai sekarang masih loh sayang, maunya deket terus dengan suami tercinta"balas Hana menggoda suaminya, Pak David terkekeh dan mengelus lembut pipi istrinya.


Za yang menyaksikan kelakuan kedua orangtuanya terlihat kesal.


"Ayah sama bunda kalau mau mesra-mesraan lihat juga anak, Za seperti menonton pertunjukan live saja"ejek Za dengan wajah cemberut.


-


Mereka tiba di sebuah butik terbaik, Za ditemani bundanya memilih koleksi gaun pengantin di butik itu.


"Bun ini bagus ya..warna dan modelnya Za suka"Za meraih gaun pengantin dengan model sederhana namun terlihat elegan dan bertaburkan permata Swarovski.


"Iya ini bagus..terkesan elegan nak"Hana menyetujui, dan akhirnya Za memilih gaun itu untuk acara resepsi pernikahannya dan gaun lain pilihan bundanya.



Gaun pilihan Za..cantik banget jadi pengen nyobain๐Ÿคญ


Setelah selesai dari butik, Za menagih janji ayahnya untuk mengunjungi suaminya di perkebunan.


Sepanjang menuju ke perkebunan wajah Za kelihatan berseri-seri, senyumnya selalu mengembang, membuat kedua orangtuanya saling lirik, tak menyangka awal pernikahan putrinya terlihat tak berminat sekarang malah bucin pada lelaki sederhana seperti Afdi.


Begitu mobil memasuki wilayah PT SR, Za merasakan debaran dihatinya begitu kuat, aneh seperti lama tak bertemu kekasih saja, padahal baru tadi pagi suaminya pamit bekerja.


Za memasuki ruang kantor PT SR, beberapa karyawan yang mengenal wanita itu terlihat memberi salam.


Za hanya tersenyum dan berlalu masuk ke ruangan sang kakak.


Fahd sedang focus dengan berkas laporan dari kabidnya, ketika pintu ruangannya terbuka.


Ckleeek..wajah Za meringis menatap abangnya yang menatap ke arahnya.


"Mau apa kemari.."Fahd menatap adiknya dengan tatapan datar.


"Kenapa sih bang..emang nggak boleh?"Za menjawab pertanyaan abangnya dengan balik bertanya.


"Tentu saja tidak boleh..ini kantor tempat orang bekerja..jangan karena aku abangmu kau bisa seenaknya datang"tegas Fahd, ucapan abangnya membuat Za terdiam.


"Abang nih galak sekali..Za nggak mau juga nengoki abang..Za kangen sama suami Za"kesal Za dalam hati.


"Suamimu dibagian keuangan..jangan ganggu dia, ini hari pertama ia bekerja"Fahd seperti mengerti pikiran adiknya, membuat Za melengos dan bergegas keluar ruangan abangnya.


"Galak.."gerutu Za namun masih didengar abangnya, membuat lelaki itu tersenyum tipis.

__ADS_1


Za keluar dari ruangan abangnya menuju bagian keuangan, kebetulan waktu menunjukan saat istirahat siang, Za mencari suaminya.


Beberapa karyawan menegur dan tersenyum padanya, Za mengangguk dengan sopan.


Mata wanita cantik itu melihat sosok yang ia cari, senyumnya mengembang dan dengan langkah tenang ia mendekati suaminya.


"Rajinnya abangku nih.."Za mencolek pipi suaminya, membuat Afdi terkejut.


"Dek..sama siapa kemari?"Afdi menarik kursi dan menyuruh Za duduk menghadap dirinya.


"Sama ayah dan bunda..tapi nggak tau koq nggak ikut masuk"heran Za, membuat suaminya tersenyum.


"Ayah tak akan masuk kemari sayang, karena ayah sudah menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab perusahaan ini pada abang Fahd, ayah orang yang sangat bijak, yang tak akan datang ke kantor ini atas nama pribadi"Afdi memijit ujung hidung istrinya gemas.


"Jadi ayah hanya mengantarku saja"guman Za yang diangguki suaminya.


"Kalau begitu Za balek ya bang, nanti nganggu kerjaan abang"ucap Za mengingat ucapan abang Fahd.


Afdi tersenyum dan beranjak dari duduknya, mengantarkan Za menemui mertuanya.


Setelah bertemu dengan mertuanya, Afdi pamit kembali ke kantor, karena istrinya segera kembali ke rumah.


"Gimana sudah terobati kangennya?"ejek Pak David tersenyum tipis menatap putrinya dari kaca spion, dilihatnya gadisnya itu mengangguk.


"Bun makan bakso ya..Za lapar"Hana mengiyakan keinginan putrinya, kebetulan mereka belum makan siang.


Disaat berada di warung bakso, Hana melihat selera makan putrinya, wanita itu tersenyum tipis.


"Mas..tunggui ya saya ada yang mau dicari"Hana beranjak berdiri, dan keluar dari warung setelah suaminya mengangguk.


-


Keesokan harinya setelah Afdi sudah berangkat ke perkebunan, Za terlihat malas-malasan di ranjangnya, wanita cantik itu menoleh ke arah pintu, begitu mendengar suara pintu terbuka.


Hana mendekati putrinya,"Sayang coba kau pakai alat ini"Za menerima benda pipih kecil itu ditangannya dan membaca cara penggunaannya.


Za masuk ke kamar mandi, beberapa menit kemudian ia keluar dengan dengan menggenggam tes peck ditangannya.


"Bagaimana..?"Hana melihat wajah putrinya yang terlihat tak mengerti.


Za menyerahkan tes peck di tangannya pada bundanya, ia takut untuk melihat hasilnya.


"Bunda az yang lihat"elak Za, hatinya berdebar..ada perasaan cemas menghantuinya.

__ADS_1


Ok aku sudah up, jangan lupa tinggalin jejak๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ dan comen ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2