
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca😜
***
Afdi Al Fatih dan Khanza tampil menjadi sorotan sebagai pengusaha baru.
Vero yang mendengar ucapan dari ketua untuk Za terkejut, ia tak menyangka Za langsung mendirikan NT Grup begitu kekuar dari perusahaannya.
"Bukan hanya cantik, wanita itu pemilik tambang NT Grup, perusahaan baru tapi omsetnya mengalahkan PG Grup".
Deg... Vero tersentil mendengar ucapan peserta yang hadir.
Vero hanya bisa menatap penuh damba, pada wanita yang sangat ia cintai yang saat ini berjalan maju ke podium bersama suaminya.
"Lelaki itu begitu beruntung..." guman Vero dalam hati.
Karena permintaan dari ketua Asosiasi, Afdi dan Za menyampaikan kesannya berada di antara pengusaha sukses.
"Assalamualaikum...selamat pagi menjelang siang saya ucapkan pada bapak/ibu yang ada di sini, perkenalkan saya Afdi Al Fatih dan wanita cantik di sebelah saya, adalah ibu dari putra saya"
geerrrrrrŕ....suara peserta yang hadir bersorak riuk mendengar ucapan Afdi, ada yang senang ada pulang yang merasa iri dengan lelaki sederhana itu.
"Saya bukan siapa-siapa tanpa istri saya, dia yang sudah membuat warna dalam hidup saya menjadi indah"
Kembali suiiitan dan keriuhan peserta.
"Yang merintis dari awal usaha tambang NT Grup adalah istri saya, saya hanya mengiringi kesuksesan wanita cantik ini"
Sungguh Za dibuat tersipu berkali-kali oleh sang suami, ketika Afdi memberikan mic pada Za, suasana mendadak hening.
"Saya menakutkan ya.?..kenapa jadi seperti bertemu guru yang galak begini, suasananya mendadak hening"kelakar Za membuat ramai suara lelaki berkoor.
"Terpesona mbak..seperti melihat bidadari terperangkap di antara pengusaha tambang" teriak salah seorang peserta.
Yang lain ramai tertawa, suasana menjadi akrab dan santai, saat Za mulai bercerita dari awal tentang perjuangannya.
Banyak yang salut dan kagum pada usaha wanita beranak satu itu, dan saat Za mengakhiri ucapannya, para peserta yang hadir kebali riuh.
"Saya hanya seorang ibu, yang berperan penting disini tetap suami saya, dia lelaki sempurna dimata saya, hingga sebagai istri saya merasa sangat kecil dihadapannya.
Seperti apapun kesuksesan saya, itu karena restu dan doa dari suami saya, bapak dari anak-anak saya, dan juga Pak Bisri dan Pak Zulfikar Alif, dua sosok penganti figur ayah, yang saran dan nasehatnya sangat luar biasa untuk memotivasi saya dan suami.
Tepuk tangan dan pujian membuat Za haru, disudut sana seorang dosen yang bangga dengan mantan mahasiswinya, tersenyum tipis.
Afdi reflex memberi pelukan dan mengecup punggung tangan istrinya penuh sayang.
Beberapa jam kemudian, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dan setelah ishoma, acara akan lanjut pada sesi tanya jawab untuk mengevaluasi prospek ekspor.
-
__ADS_1
Pak Bisri mengenalkan satu persatu pengusaha tambang pada Za dan Afdi, dan begitu sampai pada Vero Za menyalimi tangan lelaki itu dengan tampang biasa.
Vero mengerti sikap Za namun hatinya sangat sakit, rasanya ia ingin segera meninggalkan tempat itu.
Pertemuan itu usai, Za dan keluarga mulai menikmati liburannya.
Saat malam Za dan Afdi menghilang dari kamar putra dan ibu mertuanya, mereka memesan kamar tersendiri untuk menikmati bulan madu yang belum pernah mereka lalui.
Sumi tersenyum mendengar ucapan anak dan mantunya.
"Bu kami pindah kamar ya, biar cepat dapat adek buat Shaka"Afdi berpamitan keluar kamar untuk pindah ke kamar lain.
Sumi terkekeh, untungnya Shaka sudah pulas tertidur.
"Tau gitu..bapak diajak bang, kasihan ibu dan bapak nggak bisa liburan sama-sama"keluh Za pada suaminya.
"Nanti kita ke Bali saja yang ajak bapak dan ibunya" Za mengangguk senang.
Tak terasa liburan di kota K selesai, Hana dan Alif langsung balek ke kotanya dengan pesawat dari kota K.
Za dan keluarganya pulang bersama dengan angkutan udara.
-
Za membuka matanya, terdengar suara suaminya yang berisik di kamar mandi.
Dengan langkah pelan dan mata masih mengantuk Za menuju kamar mandi, wanita itu segera menutup hidungnya, bau muntah suaminya membuatnya mulek.
"Abang sakit.."Za meletakan punggung tangannya di kening suaminya, wajah Afdi terlihat pucat dan tubuhnya dingin karena keringat.
"Sepertinya abang masuk angin, nih merah sekali bang"
"Abang baring saja, Za buatkan susu hangat ya"Afdi mengangguk kembali, rasanya tak punya tenaga untuk menjawab.
Sudah lebih 3 kali ia keluar masuk kamar mandi, rupanya yang terakhir tadi terdengar istrinya, hingga wanita itu terbangun.
Za masuk ke kamar membawa segelas susu hangat.
"Diminum dulu bang, ini hangat koq nggak panas"Afdi meminumnya sembari memeluk pinggang Za erat dengan satu tangan, sembari menghirup aroma sang istri.
"Abang nggak usah ngantor, biar Za saja ya..abang istirahat saja"
"Enggak..abang mau dekat adek
saja"suara lelaki itu terdengar merengek.
Za menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang sudah seperti Shaka.
Afdi dan Za berangkat ke kantor, tapi Za yang membawa mobil, karena khawatir, wajah suaminya pun masih terlihat pucat.
Di kantor lelaki sederhana itu tak mau jauh dari istrinya, ia akan merengek jika Za menjauh, walau hanya sekedar mendatangi Tika saja, hingga membuat Za kesal.
__ADS_1
"Sebentar saja bang, ya"
"Ayoo abang ikut"Za bengong ketika tangannya sudah digenggam papa Shaka dan beranjak menuju ruangan Tika.
"Lu ngapai bedua kemari, mau pamer kemesraan"ketus Tika melihat tangan mereka yang bergandengan.
"Truk saja gandengan Ka..masa lu jomblo"ejek Za.
"Dasar teman luknut lu"sewot Tika.
"Carikan apa?..yang ganteng, kaya..dan..?"ucapan Tika terhenti ketika Afdi merajuk dan membuat Za terbahak.
"Yank bau Tika nggak enak banget, aku mual yank"Afdi bergegas menjauh dan menarik tangan Za keluar dari ruangan Tika.
"Dasar lu pada..nggak istri ..nggak suami..sama kelakuan"gerutu Tika dan Za tak berhenti tertawa.
"Ngapai lu kesini lagi"
"Baru juga mau masuk mbak.."Tika tersipu melihat Setyo di ambang pintu.
"Gue kira Bu Khanza"kekeh Tika malu.
"Mbak Tika ..ngomong gitu sama bu bos, entar dipecat loh"heran Setyo
dengan sikap Tika yang berani sama bu bos.
"Khanza itu my friendship..nggak ada marah-marah hanya gara-gara omongan begitu mas Set"
"Eh mbak Tika..sekali lagi manggil aku mas Set..bener langsung aku cium!"ancam Setyo gemas, membuat Tika bergidik.
"Mas Tyo..ok!!!, ini laporan yang sudah di rekap buat diperiksa Pak Afdi"
"Antar sendiri..males gue, emang lu nggak bisa apa tanpa gue!"ejek Tika.
Setyo terkekeh memdengar ucapan Tika.
"Temeni ya mbak"Tika melotot mendengar ucapan Setyo.
"Emang lu anak TK minta ditemani..ogah pergi sendiri"
"Please mbak..entar aku traktir dah kalau pulang"
Mendengar kata traktir, mata Tika berbinar.
"Bener ya ..traktir"Setyo mengangguk dan setelahnya Tika menemani Setyo menghadap bos.
"Permisi .. saya masuk "Tika mengetuk pintu dan bergegas masuk begitu terdengar suara Za.
Tika ciut melihat sorot mata Pak Afdi.
"Yank aku mual..mau muntah, suruh Tika keluar yank"
__ADS_1
"Astaga ...!"
Yuuk kasih vote, like👍👍👍 dan comen yang banyak😘😘😘