
Badi dan bik Sumi akhirnya saling bicara dan mulai ngobrol itu membuat Hana memberikan jempolnya ke udara pada mbak Titin.
"Mas pegang Faiz dulu ya, aku mau pesan bakso?" Hana beranjak dari duduknya dan segera menuju kafetaria yang menyediakan bakso dan jus buah.
"Han..Hana...kan...?"suara itu membuat Hana menoleh dan terkejut melihat seseorang yang menyebut namanya.
"Ya Allah Han, aku mencarimu ternyata kita malah bertemu disini, sayang"seorang lelaki tampan yang menegur Hana itu menitikan airmata kebahagiaan, bertemu dengan wanita yang dicintainya, yang ia cari setelah dirinya keluar dalam jeruji besi.
Lelaki itu adalah Danu, penampilannya agak berbeda dari terakhir yang Hana lihat, Danu yang ini lebih kurus dengan kulit yang sedikit kecoklatan.
Hana hanya menatap dalam diam, ia tak bersuara,"Han.mas kangen banget sama kamu"Danu berusaha meraih tangan Hana namun reflek Hana menghindar.
"Maaf anda salah mengenali orang"ucap Hana sembari menuju kafetaria.
"Aku tak mungkin salah sayang, walau kau sedikit berbeda namun aku tak akan bisa lupa sayangku"Hana memicikkan mata ia merasa risih dengan ucapan Danu, yang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu padanya.
"Dek ada apa..?"seorang wanita yang Hana ingat mendatangi mereka, ia adalah kakak Danu, Yunda.
"Bukankah dia..istrimu itu dek?"Hana semakin risih mendengar ucapan wanita itu, sedang Danu mengangguk mantap.
"Maaf Hana waktu itu...harusnya aku tak memaksa Danu menalakmu"Kak Yunda terisak, seperti ada penyesalan dihatinya.
"Ternyata Dewi memang ******, aku menyesal ikut mendukungnya waktu itu, Hana maafkan mbak ya?"Yunda sudah memeluk tubuh Hana yang membeku, "Apa maksud mereka ini"
"Hana mbak tak tau kebenarannya waktu itu, dan ternyata Dewi benar-benar wanita tak punya malu" Yunda menarik tangan Hana untuk duduk dibangku depan kafetaria, dan entah kenapa wanita cantik itu hanya diam menurut.
Danu memandangi wajah Hana dengan hati yang sangat bahagia, ada harapan di dalam hatinya untuk wanita yang sampai saat ini masih bersemayam dalam hatinya.
"Maafkan kakak ya Han, kakak salah besar waktu itu mendukung Dewi,....wanita itu ternyata ular"Yunda menarik nafasnya panjang, ada beban kesedihan dihatinya, Hana masih diam memandang wanita yang ternyata kakak mantan suaminya.
Yunda mulai bercerita tentang perselingkuhan Dewi dengan suaminya, semenjak Danu di dalam sel karna kasus pencurian kabel yang mana ia sebagai atasan yang harus bertanggung jawab bersama rekannya, Danu disel selama 1 tahun dan saat itu Dewi dengan suaminya melakukan perselingkuhan, bang Ali kerap datang ke tempat Dewi dengan alasan khawatir terhadap adik sepupunya.ternyata mereka selalu melakukan hubungan suami istri.
Yunda memergoki mereka saat sedang berhubungan, hal itu membuat Yunda shock ia tak menyangka jika suaminya ternyata orang pertama bagi Dewi, mereka saling menyukai bahkan mereka melakukan yang pertama disaat bang Ali berstatus sebagai suami Yunda, dan mereka kerap melakukannya di dalam rumah mereka disaat Yunda sibuk atau terlelap tidur.
__ADS_1
"Kakak dan Danu sudah pisah dari mereka Han,..Hana maukah kau kembali pada Danu?"Yunda mengenggam tangan Hana, terlihat Danu yang begitu berharap pada mantan cantiknya itu.
"Bunnnda Fah laper.." Danu dan Yunda terkejut melihat bocah tampan yang memanggil Hana bunda, dan dengan manjanya masuk kepelukan Hana.
"Maaf ya sayang, bunda pesankan dulu?" Hana memeluk tubuh putranya, Danu dan Yunda benar-benar shock apa lagi ketika Faiz datang dan merengek juga.
"Mereka anakmu Han..?"Hana hanya mengangguk, ada pikiran yang aneh dalam otak Danu.
"Han apa mereka anakku?"Hana menatap tajam ke arah Danu dan segera membuang pandangannya.
"Kalian sama ayah dulu ya, bunda pesankan bakso?"Hana berbicara pada Fahd yang memang sudah mulai paham jika disuruh, sedang Danu terdiam setelah Hana menatapnya dengan tajam.
"Ayah..?Danu dan Yunda sama-sama terkejut dengan kata ayah dan mata mereka mencari-cari dan terhenti ketika bocah kembar itu berlari ke arah seorang lelaki.
"Maaf kak saya permisi"Hana bergegas meninggalkan dua bersaudara itu yang masih dalam keterkejutannya.
Beberapa saat Hana sudah duduk disamping suaminya, mereka berdua menyuapi jagoan tampannya.
Begitu juga yang lain, mereka sama-sama menikmati bakso di atas fery.
Yunda dan Danu tak lepas memandang kemesraan itu dengan perasaan nyeri.
"Mas aku lapar, putra-putramu rupanya kelaparan juga, mungkin karna hawa dingin begini jadi ***** makan mereka meningkat" Hana menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, Pak David mengecup sayang kepala istrinya.
"Mau mas pesankan..?"Hana mengiyakan karena sepertinya fery masih perlu waktu 20 menit untuk sampai di dermaga, belum lagi turun penumpang.
Tak beberapa lama Pak David membawa bakso pesanan istrinya, Hana mulai menyantap bakso itu dan sesekali menyuapi suaminya.
Danu yang menyaksikan hal itu merasa cemburu, ia ingin sekali menarik tubuh Hana dari sisi lelaki yang sepertinya ia kenal, tapi lelaki itu mengunakan topi dan kacamata yang agak sulit untuk Danu mengenalinya.
"Siapa lelaki itu ..sepertinya aku mengenalinya?"Danu terus berpikir dan beberapa menit kemudian ia teringat lelaki itu adalah si keparat, lelaki yang paling dibencinya.
"Kau tidak boleh dengannya sayang, tidak boleh..aku akan merebutmu dari lelaki keparat itu"tangan Danu tak sadar mengepal, namun begitu ia tersadar Hana dan lelaki itu sudah tak ada dibangkunya.
__ADS_1
Fery telah bersandar di dermaga, Hana cs sudah berada dalam mobil, saat ini sekembar tak mau berpisah dari bundanya, Fahd duduk dipangkuan bundanya dan Faiz berdiri menatap ke depan dengan celotehannya, memasuki kota... laju kendaraan lebih berkurang, mengingat padatnya jalan.
"Dek Faiz sama bik Sum yuk, dipangku sini"ajak bik Sumi tak dihirau Faiz.
"Biar saja bik..dia lagi manja nih sama bundanya"ucap Pak David dan bocah tampan itu menatap ayahnya sembari tertawa.
"Bu..itu rumah apa koq gede-gede gitu?"Aris memandangi gedung -gedung dikanan kiri jalan.
"Itu tempat belanja ris, nanti kita jalan ke sana ya?"Hana menjawab pertanyaan, Aris mengiyakan dengan segera, ia sangat senang akan di ajak ke gedung besar itu.
"Fah itut na bun..Fai duga bun..ikut bun" bocah kembar itu menciumi pipi bundanya dengan berebut.
"Aduh Ayah nggak dicium juga nih"Pak David merengek pada dua jagoannya.
Mereka hanya tertawa mengejek ayahnya, yang pura-pura merengek.
Tak berapa lama mobil telah memasuki halaman rumah Hana, utih dan eyang kakung sudah menunggu diteras, begitu pintu mobil dibuka mereka sudah mengangkat dua cucunya dan menciuminya dengan rasa rindu.
"Ayoo masuk dulu, cuci tangan kita langsung menuju dapur untuk makan siang ya" Bu Asri mengiringi langkah mereka memasuki rumah.
Mereka memilih makan lesehan, dengan tikar rotan yang luas, mereka mengelilingi hidangan siang.
"Jangan sungkan, makan yang banyak, bik Sumi nggak usah repot ngurus sikembar biar mereka selama disini saya sama eyangnya yang ngurusi, kamu senang-senang saja"tinta Bu Asri.
"Tuh bik Sum..senang-senang saja kata utih, ajak mas Badinya juga..ia sama sekali belum tau kota ini"Hana menimpali dan mengedipkan mata ke arah Mbak Titin.
"Siip pokoke..kita senang-senang bik Sum"canda mbak Titin yang dibarengi gelak tawa yang lainnya.
Saat mereka mulai makan, Bik Titin menautkan nasi sayur dan lauk buat Badi, Badi tersenyum dan menerimanya dengan mengucapkan terimakasih dan itu tak lepas dari pandangan Pak David, lelaki itu senang ada yang memperhatikan Badi dengan tulus.
Acara makan sudah selesai beberapa menit lalu, para lelaki berada dihalaman belakang menikmati segelas kopi.
"Badi saya bicara sebagai seorang kakak, kamu bersedia menikah dengan Sumi? jika iya saya akan lamarkan untukmu?Badi terkejut dengan ucapan majikannya, terus terang ia suka dengan Sumi, wanita sederhana yang baik, tapi apa dia mau denganku? Badi tecenung memikirkan tawaran majikannya.
__ADS_1
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka, maaf masih banyak kekurangan๐๐๐
Jangan lupa like dan comen๐๐๐