NAFSU

NAFSU
Khanza


__ADS_3

Fahd menatap orangtuanya, ia memang sudah memiliki tambatan hati, namun sampai sekarang ia belum berani mengutarakan pada gadis tersebut,"Apakah sekarang saatnya?"gumannya dalam hati.


"Kenapa kau malah melamun sayang?"Hana menatap putra sulungnya dengan sayang.


"Bunda doakan ya..secepatnya abang akan membawa mantu untuk bunda" Fahd tersenyum lembut pada wanita yang masih sangat cantik itu.


Tuan David dan Hana saling memandang,"Fahd bunda tak akan pernah berhenti mendoakan kalian, anak-anak bunda dan ayah"Hana mengelus kepala putranya dengan lembut, dimana Fahd menyandarkan kepalanya pada bahu bundanya.


"Eh..jagoan jangan manja pada bundamu, cepat carilah wanita untuk tempatmu bersandar, pundak bunda milikku"ucap Pak David dengan tatapan kesal.


"Ayah... sudah tua begini masih juga cemburuan sama Fahd"ledek Hana sembari menatap lelaki yang memandangan penuh cinta.


"Ayah mah..sampai tua bucin terus, eh bun khanza dan Afdi kapan datang, ini sudah memasuki libur semester"


"Adikmu bilang mungkin lusa ia sudah datang, tapi bunda tak tau..apakah ia akan datang dengan Afdi" jelas Hana pada putra sulungnya.


"Anak dua itu selalu berangkat dan balik berdua setiap libur semester, mereka sudah seperti jodoh saja bun"timpal Fahd dan Pak David mengangguk.


"Ayah mau menjodohkannya dengan Afdi, ia lelaki yang pantas untuk adikmu, ia selalu menjaga Khanza dengan baik"Hana tersenyum, apa yang dikatakan suami benar..Afdi begitu perhatian dengan Khanza, dan selalu menjaga putri nakalnya itu dengan baik.


Dilain tempat nampak seorang gadis cantik sedang kesal, malam ini ia sudah berjanji dengan para temannya untuk nonton di sebuah moll terbesar di kota S, namun Afdi sedari tadi tak mau keluar dari kamarnya.


"Kenapa si bang, Khanza nonton juga tidak sendiri..ada teman Khanza yang menemani"gerutu Khanza membuat wajahnya cantiknya terlihat lucu.


Afdi tersenyum dalam hati, melihat gadis cantik yang diam-diam ia sukai sejak ia masih SMA, namun ia tak punya keberanian menyatakan perasaannya, ia tau diri..siapa Khanza?, anak majikan orangtuanya, gadis cantik yang sangat dimanja keluarganya.


Untungnya tawarannya agar Khanza bisa kuliah dengannya di kota S, disetujui sang gadis, dan tentu saja orangtua Khanza menyetujui putrinya kuliah ditempat yang sama dengan Afdi.


"Ayolah bang sekali ini ya..please" rengek Khanza manja dengan merangkul lengan Afdi, membuat lelaki 20 tahun itu luluh dan akhirnya mengangguk.


Khanza girang dan cup...ia tak sadar bibirnya mendarat di pipi Afdi, lelaki muda itu terkejut dan jantungnya berdebar tak karuan, hingga ia tak menyadari Khanza sudah berlari keluar rumah kontrakan mereka.


-


Beberapa jam kemudian Khanza sudah berada di dalam bioskop dengan para temannya, mereka berpasang-pasangan, Khanza duduk berdampingan dengan Bian, lelaki tampan yang tingkahnya terlihat urakan.


Sudah 3 bulan ini Khanza menjalin hubungan dengan Bian, tanpa sepengetahuan Afdi karena memang Khanza sangat berhati-hati sekali, ia tak mau Afdi tau tentang Bian .. bisa-bisa keluarganya membawanya kembali ke tempat asalnya.

__ADS_1


Gadis cantik dengan tubuh mulus dan tampilan yang memesona, sudah lama membuat Bias menelan ludah, dan syukurnya usahanya mendapatkan Khanza dibantu oleh sahabat Khanza, dia Lira gadis yang dikenal Khanza supel dan lincah.


Mereka kenal di awal semester genap kemarin, kira-kira 5 bulan lalu, mereka cocok dan akhirnya akrab.


Lira pacar teman satu genk motor Bian waktu SMA, mereka biasa melakukan touring bersama dan untuk pergaulan Bian dan Lira termasuk bebas, mereka biasa menggunakan narkoba dan itu tidak diketahui Khanza.


Setelah selesai nonton, Lira mengajak makan-makan, sampai waktu menunjukan pukul 10 malam, Khanza mulai gelisah.


"Aku duluan yaa Lir..ini sudah terlalu malam, nggak enak sama abang"Khanza beranjak dari duduknya.


"Za..lu bemalam az di tempat gue"ajak Lira membujuk Khanza, yang rupanya sudah code*an dengan Bian.


"Lain hari az Lir..OK gue pulang dulu"Khanza bergegas menuju parkiran resto dan segera menaiki motornya.


"Tenang bro..dia pasti jadi milik lu"Lira berbisik lirih di telinga Bian.


"Ayo gue antar lu pulang!"Bian menarik tangan Lira dari pasanganya si Anje.


"Gue duluan ya Je.."pamit Lira dan diangguki Anje.


"Masuk yuk...gue kangen ama milik lu"ajak Lira santai dan Bian tersenyum, ia mengekori langkah Lira dari belakang.


Mereka segera menutup pintu begitu masuk ke dalam rumah, suasana rumah sepi karena Lira tinggal sendiri, ayahnya Lira seorang pelaut yang jarang pulang dan ibunya pasti sedang bersenang-senang dengan teman-temanya.


Lira menarik tangan Bian masuk ke kamarnya, "Gue ke kamar mandi dulu ya, itu gue punya sesuatu buat lu, tapi cukup satu..bisa over lu kalau minum lebih"Lira menunjuk laci nakasnya dan Bian tersenyum sembari memberi kecupan dibibir Lira.


Tak lama Lira keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk di atas paha, Bian yang hanya mengenakan boxer, menelan salivanya.


Malam itu seperti biasa jika mereka saling ingin, dan tak memiliki patner, mereka akan melakukan ***bebas tanpa komitmen apa-apa.


Di sisi lain waktu menunjukan pukul 11 malam, dengan mengendap-endap Khanza memasuki kamarnya, namun tiba-tiba lampu ruangan itu menyala terang.


"Kau baru datang tuan putri, kau tau ini pukul berapa?"suara Afdi terdengar tegas, Khanza menatap lelaki tampan itu dengan tatapan memelas, membuat lelaki itu gusar.


"Selalu saja ia tak bisa bersikap keras pada gadis cantik yang manja ini"gumannya dalam hati.


"Abang..jangan marah sama Za.."manjanya sembari merangkul lengan Afdi, lelaki itu luluh diacaknya poni Khanza dengan gemas.

__ADS_1


"Besok lagi..abang tak akan membiarkan kau keluar sendiri"guman Afdi lirih, membuat gadis itu mencebikan bibirnya.


"Duuuh jantung..lihat yang begitu saja kau sudah tak kuat"batin Afdi dalam hati.


"Tidur lah..besok kita pagi-pagi sudah OTW dari rumah"Afdi mengelus kepala Khanza dan gadis itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Malam bang, mimpi indah.."Khanza bergegas masuk ke kamarnya, Afdi hanya tersenyum mendengar ucapan Khanza.


Beberapa menit kemudian gadis cantik itu sudah menganti pakaiannya, ia mengunakan babydol berwarna kuning lembut dengan gambar spongbob besar di bagian depannya.


Khanza tersenyum, ia mengingat kembali sikap Bian ketika di dalam bioskop tadi.


Tangan Bian berusaha mengapai kembarannya, Khanza dapat merasakan hal itu, tubuh Khanza sempat merinding, namun setelah beberapa menit ia merasakan terbang, apalagi ketika ia menyandarkan kepalanya pada dada Bian.


Remasan lembut dan pagutan b****Bian pada b****nya membuatnya kehilangan akal, Khanza tidak tau saja jika saat ini Bian melakukan hal yang lebih pada sahabatnya, bahkan mereka sudah berkali-kali mencapai nirwana.


Akhirnya Khanza tertidur dengan lelap, ia bermimpi melakukan hal yang lebih dengan Bian, yang membuatnya merasakan sesuatu yang basah dibagian bawahnya.


Waktu menjelang pagi, Afdi sudah lelah mengetuk pintu kamar Khanza berkali-kali, hingga akhirnya ia masuk ke kamar gadis itu.


"Sudah jam segini, ia masih tidur..dasar gadis pemalas!"gerutu Afdi menatap gadis yang masih lelap tertidur.


"Bangun gadis pemalas..heii"Afdi mengoyang-goyangkan lengan Khanza.


"Iya Bi..sedikit lagi..."guman Khanza lirih.


"Siapa yang dia maksud Bi..apa dia bermimpi mesum dengan laki-laki lain, apa dia memiliki kekasih?"guman Afdi dalam hati.


Dengan kesal Afdi mengambil air dan mencipratkan ke wajah Khanza.


"Hujan..hujan bang..."Khanza gelagapan dan bergegas duduk.


"gue mimpi..."gumanya lirih, sedang lelaki tampan itu terlihat kesal dengan pandangan matanya yang tajam menatap khanza


Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka, maaf masih banyak kekurangan dalam cerita akuπŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa tinggalkan like dan comen😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2