
Warning!!!
Buat anak-anak di bawah umur 21 ke bawah DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Deeenggg...jantung lelaki tampan itu seperti berhenti memompa darah, wajahnya jelas terkejut melihat penampakan wanita yang ia rindukan.
"Gila bisa-bisanya wajahnya mirip Za.."gumannya dalam hati.
Namun saat wanita itu menyampaikan laporannya, debaran di hati Vero makin menjadi.
Suara itu..suara wanita yang sangaaat ia rindukan.
Za berhasil menguasai perasaannya setelah beberapa menit berada di depan puluhan pasang mata.
Suaranya terdengar tenang dengan senyum yang membuat para staf pria meneguk saliva berjamaaah.
"Cantik sekali mbak Khanza itu."bisik-bisik terdengar dari bibir para staf.
Dan itu membuat Vero mengeraskan wajahnya, posisi duduknya yang sudah berada diantara para staf hanya saja berada di depan, tentu mendengar bisikan para stafnya yang memuji wanita cantik yang sedang berbicara tanpa peduli padanya.
"Aku akan memberi salam pertemuan padamu sayangku"guman Vero dalam hati..wajahnya kesal karena diacuhkan wanitanya.
Khanza keluar dari ruangan bersama Pak Budi, hatinya plong sudah, presentasinya diterima dengan sambutan menyenangkan.
"Kamu hebat..lancar banget Za, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya..kau keturunan David Nathan..orang yang kharismanya tak bisa ditolak saat berada diantara orang banyak"puji Pak Budi yang membuat Za tersenyum.
"Istirahat dulu Za..ini sudah memasuki waktu makan siang" Za mengangguk dan pamit ke toilet dulu.
Za tersentak ketika tiba-tiba tangannya ditarik paksa menuju ruang Ceo, ia sudah berusaha melepas cengkraman tangan Vero namun tak bisa.
Vero mengunci pintu ruangannya, dan secepat kilat dua tangannya sudah memeluk erat tubuh wanita yang sangat ia rindukan.
"Kenapa aku baru tau jika kau berada dekat denganku sayang"guman Vero lirih.
"Aku rindu..sangaaat rindu"mata lelaki itu berkaca-kaca.
"Kenapa kau tak ungkapkan rasa rindumu pada tunanganmu!"ketus Za.
__ADS_1
Deeeng...Vero mengurai pelukan eratnya, ditatapnya wajah kesal wanita cantik di depannya.
"Kau cemburu sayangku...itu paksaan mamaku, bukan mauku"bisik Vero ditelinga Za dengan lembut.
"Percayalah sayangku..hanya kamu yang aku cinta"Vero melabuhkan bibirnya pada kening Za, lama..cukup lama hingga mereka meresapi rasa rindu setelah lama tak bertemu.
Vero mengurai pelukannya mata sayunya menatap pada bibir ranum Khanza.
Ia tersenyum ketika wanitanya memejamkan mata, Vero mulai melabuhkan ci** lembut pada benda kenyal yang beraroma buah itu.
Semakin dalam mereka mengurai rindu, semakin dalam pula keinginan untuk lebih dari sekedar pagutan b****.
"Sayangku aku menginginkanmu" bisik Vero yang sudah terbakar api gairah.
Za pasrah ketika tubuh gagah itu mengungkung tubuh polosnya di kamar dalam ruangan Vero.
Lelaki itu melepas rindu dengan wanita tercintanya, berkali-kali jeritan Khanza yang menyebut namanya, membuat Vero makin bersemangat melukis peluh bersama wanita tercinta.
Vero terkapar di samping ke kasihnya, mencium kening Za sekilas dan kembali memeluk erat tubuh yang ia rindukan.
"Aku mencintaimu sayang..apa kau menyukai pertemuan ini sayang"Vero menghirup dalam aroma tubuh Za.
Za membalas pelukan Vero, ia tak mengiyakan, namun tubuhnya merindukan sentuhan Vero
"No om sayang...aku belum tua, panggil aku yang lain tapi jangan om"
rengek Vero manja.
"Baiklah pak..saya harus kembali ke ruangan saya, Pak Budi bisa membuat pengumuman nanti"Za melepas pelukan Vero.
Lelaki itu mengerang gemas, ingin ia membantai Za kembali di atas ranjang, selalu saja membantahnya, namun ia semakin menyukai wanitanya.
Za telah kembali ke ruangannya, setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi lelakinya.
Wanita itu terlihat kikuk, takut jika ada yang melihat kebersamaannya dengan Vero.
Za mendudukkan bokongnya dikursi kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang tertunda, kembali ia teringat Vero, begitu sulit lari dari pesona lelaki itu, ia selalu tak bisa menolak lelaki tampan itu.
Za sudah menghilang dari ruangannya lima belas menit sebelum waktu pulang, ia tak mau Vero menahannya pulang.
__ADS_1
Dan benar lelaki itu mencarinya,"Dia melarikan diri dariku"gumannya dalam hati, selalu saja bersikap jinak-jinak merpati membuat Vero gemas dan ingin mengurungnya dalam sangkar emas.
Za telah selesai mandi, dengan rambut masih basah wanita cantik itu keluar sari kamar mandi.
Suaminya belum lagi kembali, ia mengeringkan rambutnya dan setelahnya keluar mencari putranya.
Terlihat Shaka bermain dengan ke dua orangtuanya. Za memeluk putranya dan menciumi pipi caby kemerahan itu.
"No mam..Caka mau main sama opa"rengeknya ketika Za dengan gemas memeluknya dengan tak henti menciumi pipi bocah tampan itu.
"Mama kangen..Shaka nggak kangen sama mama"Hana mengelus kepala cucunya.
Shaka mengangguk tanda ia pun kangen mamanya.
"Ayah kenapa? Za mendekati ayahnya dan memeluk tubuh tua itu, ia merasakan ayahnya menahan rasa sakitnya.
"Ayah hanya tak enak badan saja sayang"Pak David tersenyum menghilangkan kekhawatiran di wajah putri semata wayangnya.
"Sudah ke dokter bun?" Za menatap bundanya, wanita yang masih terlihat cantik itu mengeleng.
Hana sudah berkali-kali mengajak suaminya ke dokter, tapi suaminya itu selalu menolak, dan mengatakan tidak apa-apa, ini hanya faktor usia.
Za terkejut ketika merasakan tubuh ayahnya melemah dipelukannya, wanita cantik itu sontak memandang wajah ayahnya yang memucat.
"Bun ayah pingsan!"panik Za dengan suara yang cukup keras membuat lelaki yang baru masuk ke dalam rumah berlari mendekati istrinya.
"Abang ayah bang.."tangis Khanza pecah begitu suaminya mendekat, Afdi mengelus pundak istrinya lembut.
"Kita bawa ke rumah sakit, aku panggil bapak dulu, untuk membantu mengangkat ayah ke mobil.
Saat ini di rumah sakit, Za dan suaminya serta bunda dan mertua lelakinya, wajah mereka nampak cemas.
Tak lama suara langkah yang terdengar cepat, berhenti di dekat mereka.
Za mendongak memandang kakaknya dengan mata yang sudah penuh dengan bulir bening yang basah di pipinya.
Fahd mengelus puncak kepala Za, lalu duduk di dekat bundanya bersama istrinya.
"Kau cantik dengan jilbab ini sayang"guman Hana lirih, begitu melihat perubahan dari tampilan anak mantunya.
__ADS_1
Kanti mengenggam telapak tangan mertuanya,"Kita berdoa yang terbaik saja untuk ayah ya bun"Hana mengangguk entah mengapa ia merasakan hatinya sakit, Hana menatap ke arah pintu UGD yang perlahan terbuka.
Yuuk kasih vote, like๐๐๐dan comen yang banyak๐๐๐