
Hanya satu cara untuk menjatuhkan mereka..***** sh*****, jika Fahd dan istrinya sulit digoyahkan, masih ada dua anak Nathan...dan keduanya gemar berkecimpung dengan zina.
Jika Fai makin dalam dengan dosa..itu kemenangan bagi Diang Ami dan suami gaibnya.
Satu lagi yang harus mereka hancurkan, anak kesayangan keluarga Nathan..wanita muda yang masih labil itu, rumah tangga mereka... menjadi incaran bagi sosok yang penuh dendam dan amarah.
-
Hari ini di rumah keluarga Nathan, ramai dengan hiruk-pikuk pesta resepsi, sanak saudara dan sahabat turut datang membantu demi lancarnya acara resepsi itu, kecuali putra ke dua keluarga Nathan, Faiz tidak dapat hadir karena keluar kota untuk urusan pekerjaan.
"Kau cantik sekali sayang"puji Sumi pada mantunya, ketika Za sedang dirias di kamarnya.
"Terimakasih bu.."Za tersipu mendengar pujian mertuanya.
"Za..kau harus makan dulu, karena nanti kau bisa lupa atau telat makan, jika tamu sudah banyak datang..kasihan dedeknya..ibu ambilkan dulu"ucap Sumi kembali dan Za hanya mengangguk saja.
Tak berapa lama Sumi datang dengan Hana,"Cantiknya putri bunda"Hana tersenyum melihat wajah putrinya di cermin..namun tiba-tiba wajahnya memucat.
Ada sosok wanita lain di cermin itu, yang menatap mereka dengan sorot menakutkan.
"Astaghfirullahaladzim.."ucapan yang spontan keluar dari bibir Hana membuat mereka yang ada di ruangan itu terkejut.
"Ada apa bun..?"Za panik melihat wajah bundanya yang memucat.
Melihat kepanikan Za, Hana segera menggeleng.
"Tidak ada..bunda kelupaan..ada yang belum disiapkan, ya sudah bunda ke belakang dulu"elak Hana agar yang lain tak takut atas apa yang dia lihat tadi.
Kepala Hana meremang, terasa kebas dan itu membuat tubuhnya bergetar hebat.
Hana duduk di ruang makan, ia menghabiskan segelas air putih, karena masih shock.
"Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada anak-anakku"gumannya dalam hati.
"Ya Allah lindungi keluarga hamba, dari kejahatan setan, jin dan manusia"guman Hana dalam hati.
Di kamar Za sudah selesai dirias dan diantar ke pelaminan dengan mengenakan gaun yang membuat banyak mata terpesona, wanita yang usianya belum genap 19 tahun itu terlihat begitu cantik, Afdi yang sudah lebih dulu duduk di pelaminan memandang istrinya dan tersenyum dalam hati.
"Kau sangat cantik sayang, semoga tak ada mata jahat yang memandangmu"guman Afdi dalam hati.
Acara resepsi itu begitu meriah, banyak tamu penting yang di undang oleh Pak David.
__ADS_1
Seorang lelaki tampan yang usianya sekitar 27 tahun, ia datang bersama pasangannya dan menyalimi Pak David.
"Selamat ya om atas pernikahan Khanza"lelaki itu mencium punggung tangan Pak David.
"Vero..kau gagah sekali nak..waaah om tak menyangka kau tumbuh menjadi pemuda tampan begini"Pak David menepuk pelan pundak lelaki bernama Vero.
Vero tersenyum mendengar pujian Pak David.Lelaki itu merupakan anak kolega Pak David, yang sekarang menangani perusahaan tambang batu bara papanya yang ada di daerah ini.
Wanita yang bersamanya hanya mengangguk dan ikut tersenyum.
Vero mendekati sang pengantin, kecantikan Khanza membuatnya berdebar, tangannya terasa dingin ketika bersalaman dengan tangan halus Za.
"Selamat ya Za.."Khanza menatap lelaki tampan itu dengan senyum dan membalas mengucapkan terimakasih.
"Tampan sekali lelaki ini"guman Za dalam hati.
Setelah menyalimi kedua pengantin Vero turun dari pelaminan dan duduk dikursi yang telah disediakan.
Sembari menikmati makanan ia mencuri pandang ke arah pengantin wanita.
"Dia masih sangat muda, tubuh dan wajahnya sangat indah dimataku"guman Vero dalam hati.
Menjelang sore acara resepsi itu selesai, tamu dan undangan yang datang tinggal beberapa orang dan langsung menemui tuan rumah.
"Capek sayang.."Afdi menatap istrinya dengan lembut, Za mengangguk dan tersenyum.
"Minum susunya dulu ya, setelah itu istirahat..kasihan dedeknya"ucap Afdi kemudian.
Tak berapa lama, Za sudah pulas tertidur, Afdi meninggalkan istrinya yang terlelap dan bergabung dengan keluarga yang lain.
Senyum sinis dan sorot mata penuh amarah itu mendekat, dengan secepat kilat tangan kurus nyaris tak berdaging itu meremas perut Za.
Wanita cantik itu tak mampu bernafas, ia merasakan sakit dibagian perutnya, seperti dipelintir dan ditusuk benda tajam.
Za terus berusaha mengambil nafas, namun cengkraman di perutnya semakin kuat dan kencang.
" Allahu Akbar Allahu Akbar....."
Suara adzan magrib terdegar mulai berkumandang dari beberapa masjid dan mushola, tiba-tiba wanita cantik itu terduduk, nafasnya ngos-ngosan..ia merasakan nyeri di perutnya.
"Aku mimpi..tapi seperti nyata"guman Za dalam hati.
__ADS_1
Za menapakkan kakinya menuju kamar mandi, perutnya masih sedikit nyeri, Za terkejut ketika melihat bercak darah di cd nya.
"Darah apa ini...apa aku kelelahan?"gumannya dalam hati.
Za segera menganti cdnya dengan yang baru, ia kembali naik ke ranjang begitu keluar dari kamar mandi, ia masih sangat mengantuk.
Setengah jam kemudian Afdi masuk ke dalam kamar, wajahnya berseri setelah sholat magrib.
Dilihatnya Za yang masih pulas tertidur, membuat ia tak tega membangunkannya.
Hari makin larut, Za terjaga dari tidurnya ia melihat suaminya yang sudah pulas di sampingnya.
Wanita itu perlahan turun dari ranjang, ia melangkah dengan pelan menuju pintu keluar, di lihatnya jam dinding di ruang keluarga menunjukan pukul 2 malam.
Za menuju ruang makan, ia duduk dan membuka tudung saji, wanita hamil itu mengambil piring dan mengisinya dengan lauk pauk yang ada di meja.
Za makan dengan lahap dalam kesunyian, dimana semua penghuni rumah tertidur pulas karena lelahnya membantu acara semalam.
Jika penghuni rumah tertidur dalam lelap, tidak untuk sosok yang terus mengikuti wanita cantik itu.
Za menuju wastafel meletakan piring bekas makannya, namun ia merasakan kembali tangan yang mencengkram perutnya.
Za meringis kesakitan, tengkuknya meremang, wanita itu bergegas masuk ke kamarnya dan bergabung dengan suaminya di dalam selimut.
Sungguh ia ketakutan, Za tak tega membangunkan suaminya, ia akhirnya tertidur dengan mendekap suaminya di bawah selimut.
-
Di tempat lain, seorang lelaki tampan yang baru terjaga dari tidur lelapnya terjaga, karena silaunya mentari yang menyapa tepat di jendala depan ranjangnya.
Matanya menangkap tubuh sintal wanita cantik di sampingnya, ia tersenyum memandang tubuh polos yang masih setia terpejam.
Ia ingat semalam ia mengempur Lidya tanpa ampun, Lidya adalah sekertarisnya, wanita yang selalu setia menemaninya kemanapun bahkan ke ranjang.
Tak ada ikatan apapun diantara mereka, Lidya yang melemparkan dirinya ke atas ranjangnya tanpa ia minta.
Dan semalam ia berc**** dengan membayangkan Lidya sebagai Za, wanita yang membuatnya jatuh hati.
"Dalam bayangan saja kau begitu ni**** apalagi jika itu nyata sayang"senyumnya miring.
Vero lelaki tampan itu sedang berhayal, dengan senyum licik ia bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1
Yuuuk kasih likeπππ dan comenπππ