NAFSU

NAFSU
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Warning!!!


Buat anak-anak di bawah umur 21 ke bawah DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐Ÿ˜œ


***


Mereka berbincang-bincang sampai Za tersedak ketika Pak Budi mengatakan jika perusahan tempat ia bekerja milik Pak Vero Palagie.


"Vero Palagie.."Za mengulang ucapan Pak Budi, dan laki-laki itu mengangguk dengan wajah terlihat bingung, Za jadi merasa tak enak.


"Dia dulu dosen Za pak"Pak Budi mangut-mangut mendengar penjelasan Za.


"Keluarga Pak Vero memang terkenal dengan bisnisnya, sama seperti ayahmu, dan tahun lalu Pak Vero bertunangan dengan anak rekan bisnis papa nya "


Deeengg..hati wanita itu merasa tercabik, namun sebisa mungkin ia mencoba tenang, takut jika mata tua Pak Budi mencurigai dirinya.


"Katanya mencintaku sangaaat, tapi goyah juga"guman Za dalam hati.


"Za kenapa kau tak bekerja di perusahaan keluargamu, bukannya cabang perusahaan Tuan Nathan ada beberapa di daerah lain"


Disela santap siangnya Za akhirnya menceritakan awal ia ingin bekerja di perusahaan lain, entahlah berbicara dengan Pak Budi sama asiknya dengan berbicara dengan ayahnya sendiri, bijak dan banyak memberi saran.


"Ya gitu memang anak muda selalu mencari tantangan, jadikan ini pengalaman buat kamu Za, biar nanti bisa ikut memimpin perusahaan keluargamu"


Za mengangguk mendengar saran pak Budi, setelah selesai dengan makan siangnya, mereka kembali ke kantor.


Za terdiam di ruangannya, ingatannya mengulas kembali kebersamaannya dengan Vero, disaat terakhir Za bersama laki-laki itu, Za meminta waktu tapi ternyata ia malah hamil, dan atas desakan keluarganya, ia mengajukan izin cuti ditambah libur semester, maka bertambah panjanglah waktu yang terbentang anatara mereka untuk tak saling jumpa.


Sampai Za selesai melahirkan, wanita itu masih membalas pesan dosennya itu, dan malam setelah ia wisuda dengan alasan merayakan kelulusan bersama teman-temannya, Za melepas rindu dengan sang dosen.


"Semoga aku tak jatuh cinta padamu Vero Palagie"guman Za dalam hati.


-

__ADS_1


Disisi lain lelaki yang sedang dipikirkan Za tak berkutik ketika orangtua datang bersama tunangannya di rumah mewahnya.


Wanita dengan wajah mirip bule itu terlihat senang berada di rumah tunangannya.


"Vero kau jaga Luna, mama dan papa besok kembali ke rumah..mama minta kau buat dia senang"Vero terlihat kesal karena mama nya terlalu mencampuri kehidupannya.


"Lun..jika lelaki itu membuat bersedih, telpon mama..ok"ucapan mamanya membuat Vero melengos namun tidak bagi Luna, ia sangat senang kedua calon mertuannya itu begitu memdukungnya.


Setelah kepergian orangtuanya, Vero masuk ke kamar Luna, wanita cantik dengan body seperti model itu baru keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk sedada, menampaknya kecantikan kulitnya yang mulus.


"Kau mau makan di rumah atau kita keluar" Vero membuang muka saat matanya melihat bukit padat yang nyaris menyembul di balik lilitan handuk putih.


Luna yang melihat tingkah Vero tersenyum licik, ia mendekat ke arah tunangannya.


Luna berdiri selangkah di depan Vero, dengan tubuh sedikit mendongak, hingga dua bukitnya bisa terlihat mengintip.


Vero terlihat gelisah, namun detik berikutnya ia keluar dari kamar yang ditempati Luna, yang membuat gadis itu terlihat sangat kesal.


"Aku tak mau wanita itu terus disini, dia harus segera pergi"guman Vero dalam hati.


Bukannya Vero tak tau cara mencari wanita tercintanya, hanya saja ia menahan diri untuk tak datang ke rumah wanita cantik itu, ia takut membuat wanitanya tersudut oleh keluarga dan suaminya, walau dalam hati kecilnya ia ingin sekali menculik Khanza.


"Den Vero, makan malam sudah siap"tiba-tiba suara bibik membuyarkan pikirannya.


"Eh iya bik..terimakasih"Vero melangkah menuju meja makan, malas sudah untuk keluar rumah.


Vero makan tanpa menunggu Luna, membuat gadis itu cemberut.


"Kenapa nggak nunggu Luna sih kak"gerutu gadis itu, namun Vero tak menghiraukan protesan gadis itu.


Lelaki tampan itu makan dalam diam, hingga makanan di piringnya habis, setelah meneguk segelas air putih, Vero meninggalkan meja makan.


Luna membanting kesal sendoknya, karena memdapat perlakuan yang menjengkelkan dari Vero.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Luna keluar dari kamarnya, dengan lingerie sexy ia mengendap-endap ke kamar Vero, namun sialnya kamar tunangannya itu terkunci dari dalam.


"Ok aku mengalah malam ini..tapi tidak malam lain"seringai licik di bibir Luna.


-


Keesokan harinya di perusahaan PG Grup, Khanza baru turun dari mobilnya di parkiran karyawan tambang.


Sorot mata lelaki yang haus keindahan, menatap dengan terpesona, namun seperti biasa wanita cantik beranak satu itu terlihat tenang.


Khanza memasuki ruangannya, dan mulai melakukan rutinitasnya, satu jam kemudian Pak Budi menghampirinya.


"Za nanti ikut bapak rapat jam 10 pagi, tolong presentasikan laporan keuangan ini ya"Pak Budi menyerahkan fale pada Khanza.


Khanza mengangguk dan mulai membuka laporan di fale itu dalam komputernya.


Beberapa jam kemudian Za sudah duduk di samping Pak Budi dalam ruang rapat, wanita cantik itu nampak gugup bukan karena akan menyampaikan laporan keuangan di depan puluhan pasang mata, namun ia takut jika Vero hadir di sini, ia tak berani menanyakan tentang kehadiran Vero pada Pak Budi, lelaki tua di sampingnya itu selalu bisa membaca gelagatnya.


5 menit kemudian seorang lelaki tampan memulai rapat, jantung Za berdebar namun ia berusaha menetralkan perasaannya, dengan berkali-kali menghela nafas, yang membuat Pak Budi tersenyum.


"Santai saja Za..kamu pasti bisa"guman Pak Budi yang berpikir Za grogi karena harus menyampaikan laporan keuangan.


Vero belum menyadari keberadaan Za, lelaki itu masih khusuk dengan pembicaraannya.


Satu jam kemudian bagian keuangan diminta melaporkan hasil keuangan triwulan ini, dengan langkah tenang walau hati masih bergetar Za tampil ke depan.


Suara suitan dari beberapa staf yang tak bisa menahan diri, membuat Vero mengangkat wajahnya melihat sekeliling.


Deeenggg...jantung lelaki tampan itu seperti berhenti memompa darah, wajahnya jelas terkejut melihat penampakan wanita yang ia rindukan.


"Gila bisa-bisanya wajahnya mirip Za.."gumannya dalam hati.


Namun saat wanita itu menyampaikan laporannya, debaran di hati Vero makin menjadi.

__ADS_1


Suara itu..suara wanita yang sangaaat ia rindukan.


Yuuk kasih vote, like๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ dan comen yang banyak๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2