NAFSU

NAFSU
Berita duka


__ADS_3

Warning!!!


Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐Ÿ˜œ


***


Pagi hari mentari menerobos masuk lewat cela jendela kaca, Sofi mengeliat dilihatnya Fai tak ada di sampingnya.


Ia bergegas membersihkan diri ke kamar mandi, beberapa menit kemudian ia sudah mengenakan pakaiannya semalam.


"Ayo aku antar pulang"Sofi terkejut tiba-tiba Fai masuk ke dalam kamar.


"Kau akan ke kantor"Fai mengangguk.


"Ke kantorlah biar sikembar denganku"ucap Sofi.


"Maaf ..aku tak bisa, ayo bersiap"tegas Fai segera keluar dari kamarnya.


Fai melajukan mobilnya, Sofi nampak diam sepanjang perjalanan, ia berusaha mendekatkan diri pada Fai tapi kelihatannya lelaki itu enggan dan tak menganggapnya lebih.


"Sof..kirim nomor rekeningmu"pinta Fai tenang.


Sofi mengeluh dalam hati"Dia hanya menganggapku wanita penghibur"


Fai menurunkan Sofi di sebuah gang yang masih bisa dilewati mobil.


"Ok aku lanjut"Sofi mengangguk dan berjalan menuju rumahnya.


Ia membuka rumah kontrakan yang sudah cukup lama ia tinggali, begitu masuk ke dalam rumah Sofi segera menguncinya dan bergegas ke kamar, menganti pakaiannya dan setelahnya ia naik ke ranjang, Sofi mengetik sesuatu di hapenya dan mengirim ke Fai.


Fai telah sampai di kantornya, dua bocah itu sudah duduk anteng di sofa ruang kerja papanya.


Fai tersenyum melihat kedua putranya,"Aku ingin mama melihat putraku"gumannya dalam hati.


-


Di rumah mewah Vero, pergulatan kembali terjadi di kamar tamu yang ditempati Luna.


Wanita cantik itu terus dibuat mend****, ia sangat senang melihat milik calon mertuanya yang keluar masuk di i****nya.


"Daaad milikmu luar biasa"ucapnya dengan nafas tersenggal.


"Aku akan terus memuaskan mu beb"Beni terus menghentakan bokongnya kuat dan dalam.


Pagi ini Vero sudah berangkat ke kantor, dan Diana sedang mengunjungi temannya, ia meminta suaminya menjemputnya sore nanti.


"Oh beb..kau yang terbaik"bisik Beni dengan kecepatan penuh menghentakkan miliknya, sedikit lagi ia mencapai puncak, dan tak lama erangan panjang dan tubuhnya jatuh di atas tubuh Luna.


"Love you beb.."ia memberikan kecupan basah di pelipis Luna, ditariknya tubuh polos itu dalam dekapannya.


"Kau suka dad"

__ADS_1


"Sangat ..jauh sangat nikmat, jika dibanding milik Diana beb"Luna tersenyum menyerengai.


"Dad..kapan kita keluar negeri, aku ingin menikmati hari-hari indah bersamamu, sebelum pernikahanku"


Beni terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Kau tak mau dad.."rengek Luna manja.


"Bukan tak mau beb..tapi aku harus membuat alasan yang tepat pada Diana"


"Besok kau balik ke kota ..aku akan menyusul dua hari setelahnya, kau ingin berlibur kemana beb"


"Sungguh. aku boleh memilih tempat yang kumau"mata Luna berbinar bahagia.


Beni mengangguk, dan tiba-tiba Luna sudah menyerang miliknya dan membuat lelaki paru baya itu mengerang nik***.


Luna memanjakan Beni, setiap kali keinginannya dikabulkan, Luna terus memberikan pergerakan yang membuat lelaki paru baya itu terus mengerang dan melenguh.


-


Beni telah siap menjemput Diana ketika sang putra datang dari kerja dengan wajah lesu.


"Ada apa boy.."sapa Beni pada putranya, namun lelaki tampan itu hanya memandang sekilas dan berlalu menuju kamarnya.


Vero menatap Luna yang duduk di atas ranjangnya, ia terlihat tak perduli, dikenakannya pakaiannya di depan Luna, membuat wajah wanita cantik itu merona.


Vero keluar dari kamarnya diikuti Luna"Kak mau kemana..nggak pengen nih"Luna menawarkan diri.


Luna melenggang menuju kamarnya.


"Terserah kau mau apa..ada saja daddy ku"gumannya dengan senyum, terbayang ia akan ke Itali dengan sang daddy.


Di rumah mewah milik keluarga Nathan, semua berkumpul di meja makan, termasuk Fahd dan Kanti, wanita berhijab itu sedang bahagia, ia diberi kepercayaan untuk mengandung, Fahd sangat berhati-hati menjaga istrinya.


"Mam..Shaka mau mamam sendiri"rengek Shaka ketika Za hendak menyuapi putranya.


"Sayang..biar mama suapi ya"


"No mam.."wajah bocah itu mulai cemberut.


"Sayang..biar Shaka belajar makan sendiri..ayo jagoan makanlah"Afdi yang berada di samping putranya mengelus kepala Shaka, membuat bocah yang nyaris empat tahun itu tersenyum senang.


"Papa yesss.."ucapnya mengacungkan jempolnya pada sang papa.


Semua yang melihat kelakuan Shaka tergelak,"Sudah mau sekolah ya jagoan..sudah bisa makan sendiri dong"ucap Fahd memberi semangat pada bocah tampan itu.


Disisi lain, Fai melajukan mobilnya menuju kediaman Eric, rencana besok lelaki itu datang ke Indonesia.


Mobil Fai sudah memasuki halaman rumah mewah milik Eric, nampak Lena menunggu di ruang tamu dengan wajah pucat.


Fai mengandeng tangan kedua putranya dan memasuki rumah mewah itu.

__ADS_1


"Kau sakit..."Fai melihat wajah Lena yang pucat.


Wanita itu hanya diam dan tak lama tangisnya pecah...


"Er..i...." Fai segera menangkap tubuh Lena yang melemah, dan segera membaringkannya di sofa di ruang tamu.


"Mami...mami..."sikembar panik melihat maminya yang pingsan.


Fai berteriak memanggil pelayan yang ada di rumah itu, seorang wanita paru baya menghampiri.


"Ya Allah nyonya, ada apa dengan Nyonya om?"pelayan itu ikutan panik melihat keadaan Lena.


"Saya tak tau..sedari saya datang wajahnya sudah pucat, setelah itu langsung pingsan"


Fai terlihat cemas melihat keadaan Lena, "Bik tolong jaga Lena dan sikembar, saya akan menghubungi dokter"si bibik mengangguk.


Fai menghubungi dokter pribadinya, dan menyebutkan alamat rumah Eric.


"Tadi Lena menyebut nama Er..i...Eric kah yang ia maksud"


Fai mulai menghubungi nomor Eric, nomor itu berdering namun tak diangkat, tak lama setelah itu hape Fai berdering.


"Hallo...Eric ada apa?"


"Saya asisten tuan Eric, maaf saya bicara dengan siapa?"


"Saya Fai teman tuan Eric di Indonesia, di sini istri tuan Eric sedang pingsan..kami tidak tau kenapa!"tegas Fai.


"Tuan tolong jagakan nyonya kami, saat ini tuan Eric sedang kritis"


"Apa maksudmu..bukannya hari ini Eric akan kembali le Indonesia!"


"Ya tuan..tapi satu jam yang lalu mobil yang membawa tuan Eric ke bandara mengalami kecelakaan"suara disana terdengar bergetar.


"Tidak mungkin...bagaimana ini dengan Lena"


"Tuan tolong jaga nyonya Lena demi tuan, saya akan menghubungi anda lagi, saya harus bicara dulu dengan dokter"jelas suara diseberang sana yang terdengar panik.


Tubuh Fai melemah, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak, dokter pribadinya sudah datang, dan sedang menangani wanita yang hamil besar itu.


"Aku ingin menemui suamiku"isak Lena begitu sadar dengan suara yang terdengar lemah.


"Tolong Len...kasihi bayi diperutmu, pikirkan dia"


"Aku ingin menemui suamiku..tolong aku"isak Lena yang membuat Fai bingung.


"Fer..bisakah ia melakukan perjalanan jauh"Fai menunjuk Lena dengan dagunya.


"Jika ibu dan bayinya sehat, bisa saja"


"Kau dengar itu..kau harus sehat baru bisa menemui suamimu!tegas Fai menatap lena.

__ADS_1


Yuuk kasih vote, like๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ dan comen yang banyaaak๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2