
Warning!!!
Buat anak-anak di bawah umur 21 ke bawah DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Lena mecoba melupakan lelaki yang ia cintai, saat ini ia berusaha focus dengan keluarga kecilnya.
Apa lagi ia mendengar jika Fai sudah menikahi kekasihnya dan mereka memiliki seorang putri.
"Aku akan menjaga kenangan terindah darimu dan mengubur kisah kita" guman Lena dalam hati.
Setengah jam kemudian Eric sudah selesai mandi, ia menggunakan pakaian yang disiapkan istri tercinta.
Eric mencari istrinya dan tak ada tempat terindah dan disukai istrinya selain kamar si kembar.
Wanita cantik itu duduk di sofa mengamati kedua jagoannya dengan membaca novel.
Hati Eric terasa sejuk, setiap ia pulang kerja selalu disuguhi hal manis seperti ini, istri yang betah di rumah mengurus anak mereka.
Eric mendudukan bokongnya di samping istrinya, tangannya merengkuh pundak istrinya, hingga kepala Lena terkulai di dada suaminya.
"Honey kita program lagi buat adik si kembar ya"bisik Eric manja di telinga istrinya.
"Mereka masih kecil sayang, biar mereka puas mendapat perhatian kita dulu ya"elak Lena mengelus lengan suaminya.
"Perhatian dan kasih sayang kita tak akan berkurang jika mereka memiliki adik, ayolah..aku tak mau kau meminum pil itu lagi"
Lena menghela nafas dan menatap wajah suaminya yang sudah memasang wajah seimut mungkin, dan itu membuat Lena tertawa.
"Ok.."Eric senang dengan persetujuan istrinya, dipeluknya tubuh istrinya dengan erat dan kecupan berkali-kali dipucuk kepala Lena membuat wanita itu tertawa geli, tentu saja membuat perhatian sikembar beralih.
Mereka berjalan tertatih ke arah orangtua mereka yang sedang bercengkramah.
Eric meraih tubuh kecil kedua putranya secara bergantian ke pelukan mereka.
"Love you honey..so much"Eric sangat bahagia memiliki istri penurut seperti Lena.
-
Clara baru tiba setengah jam yang lalu dari Bali, dilihatnya Stefani putri kecilnya sudah terlelap.
Tak ada tanda-tanda Fai ada di rumah, lelaki itu sudah biasa pulang larut malam, dengan mulut bau alkohol dan wangi parfum wanita yang menempel di tubuhnya.
"Sayang..dia sudah tidur"Franki memeluk Clara dari belakang yang sedang mengamati putrinya.
Laki-laki itu mencium tengkuk Cla sekilas dan berjalan menuju box putrinya.
__ADS_1
Dielusnya pipi caby balita itu, perlahan ia mencium kening sang anak, dan memeluk Clara yang sedang memandanginya.
"Tidurlah..kau pasti lelah"Franki memberi kecupan singkat di bibir wanitanya dan segera keluar dari kamar putrinya.
Cla terkejut ketika tubuhnya terasa berat, ia membuka matanya dan melihat suaminya yang sudah menguasai tubuhnya.
Fai memaksa menci** bibirnya, lelaki itu dalam keadaan setengah mabuk, Clara yang kelelah dari perjalanan jauh tak merasa jika Fai mengerayanginya.
Clara berusaha mendorong Fai, namun suaminya itu seperti sudah dikuasi naf**, mata Fai memerah dengan sorot sayu.
Clara meringis ketika Fai menghujami i*** nya dengan kasar, lelaki dengan aroma alkohol yang sangat menyengat itu terus mencari kep***an.
Tiga puluh menit kemudian Fai tumbang di atas tubuh istrinya, Clara mendorongnya hingga tubuh gagah itu terkulai di sampingnya.
Clara merutuki kelakuan suaminya, dulu ia begitu mendambahkan sentuhan suaminya, namun laki-laki itu seperti tak menganggapnya, Fai selalu pulang dalam keadaan mabuk, jika ia berhasrat, Clara akan jadi santapan empuknya.
Clara melirik ke samping, suaminya itu sudah mendengkur halus.
"Andai kau melakukan dalam keadaan sadar dan dengan cara baik, aku pasti akan melayanimu dengan senang, tapi kau membuatku seperti wanita malam, yang kau pakai disaat mabuk!"kesal Clara yang akhirmya membersihkan dirinya kembali dan berganti gaun malam yang sudah robek karena ulah suaminya.
Waktu menunjukan pukul 02 dini hari, Afdi dan Khanza terbangun karena tangis putranya.
Afdi mengecek popok bayinya dan ternyata basah, dengan telaten ia menganti popok Shaka.
Za memandangi suaminya dengan tatapan sayu,"Bang..Za haus"rengek Za dari tempat tidur.
Menit berikutnya Afdi mengendong bayi Shaka ke dekat maminya.
"Sayang dia sepertinya tak mau tidur lagi, temani mama dulu ya"Afdi meletakan bayinya diranjang di samping Za, ia segera mengambilkan air mineral untuk istri tercinta.
Afdi menyerahkan botol air yang sudah terbuka pada istrinya, Za meneguknya setengah dan menyerahkan kembali pada suaminya.
Lelaki yang benar-benar menyayangi keluarganya.
Afdi naik keranjang dengan posisi Shaka berada di tengah.
"Tidurlah jika adek ngantuk, abang akan menemani jagoan kita begadang"kekehnya menatap bayinya yang matanya membulat penuh tanda ia sudah puas tertidur.
-
Waktu terus bergulir tak terasa usia Shaka sudah 3 tahun, balita tampan itu membuat Za lupa akan niatnya dahulu, meminta talak dari suaminya.
Afdi berusaha membuat Za dekat dengan putranya, semenjak usia Shaka 1 tahun, Afdi dan putranya selalu mengantar Za untuk kuliah, jika perlu mereka menginap di hotel untuk selalu dekat dengan istrinya.
Za pun telah menjadi seorang sarjana,
dan meminta izin pada suaminya untuk bekerja, suami dan keluarga menawarkan Za untuk membantu di perkebunan, namun wanita cantik itu menolak.
__ADS_1
"Kalau larinya ke perusahaan keluarga Za nggak perlu kuliah bang, izinkan Za bekerja di perusahaan lain ya"
Karena setiap hari mendengar rengeken istrinya, akhirnya lelaki itu luluh juga.
"Kau boleh bekerja, tapi jangan lupakan kewajibanmu..sebagai istri dan mama dari putramu"Za tersenyum memeluk suaminya.
"Abang memang yang terbaik..ok Za akan ingat pesan abang, tapi bang kalau kerja Za pulangnya juga seperti abangkan..pukul 5 sore"guman Za menatap suaminya.
Afdi mengangguk dan mengelus wajah istrinya,"tolak lembur atau apapun yang pulangnya larut..kasihan Shaka dia akan merindukan mamanya"guman Afdi lirih.
Za mengeratkan pelukanya pada tubuh istrinya.
-
Za diterima di perusahaan besar di daerahnya, sebagai tenaga accounting.
Wanita cantik itu membuat banyak mata pria di perusahaan itu tak berkedip.
Za sudah mulai bekerja seminggu yang lalu, dan syukurlah waktu pulangnya selalu tepat waktu, bahkan lebih dulu dari suaminya.
Bukan uang yang dicari wanita cantik itu, namun kepuasan atas pengakuan diri, bahwa ia punya kemampuan lebih, dan syukurnya suaminya menghargai kemauanya.
Kecerdasan Za membuat ia disukai dan disegani di divisinya.
"Mbak Za..ini laporan keuangan dari Pak Budi, minta dikoreksi"seorang lelaki muda seumuran denganya, menyerahkan sebiah map.
"Ok nanti saya koreksi setelah ini selesai ya"ucap Za dan diangguki oleh Rinto nama lelaki itu.
Beberapa jam kemudian, "Za ayo istirahat dulu.."ajak Pak Budi ketika melihat bawahannya itu masih sibuk dengan laporannya.
"Nanggung pak.."elak Za pada atasannya yang usianya setengah baya.
"Pikirin kesehatan Za, kerja ada waktunya..sekarang waktunya mengisi perut, ayo nanti lewat waktu makan siangnya"
Za akhirnya menurut, dan mengiringi langkah Pak Budi menuju kantin, setelah memesan makan siangnya, Za dan Pak Budi duduk berhadapan.
"Za..apakah kau putri Pak David"Za mengangguk dan menatap lelaki tua dihadapannya.
"Pantas bapak seperti pernah melihatmu, bapak datang ke acara pernikahanmu"
Mereka berbincang-bincang sampai Za tersedak ketika Pak Budi mengatakan jika perusahan tempat ia bekerja milik Pak Vero Palagie.
"Vero Palagie.."Za mengulang ucapan Pak Budi, dan laki-laki itu mengangguk dengan wajah terlihat bingung, Za jadi merasa tak enak.
"Dia dulu dosen Za pak"
Yuuuk kasih vote, like๐๐๐ dan comen yang banyak๐๐๐
__ADS_1