NAFSU

NAFSU
Usaha Fahd


__ADS_3

Waktu menjelang pagi, Afdi sudah lelah mengetuk pintu kamar Khanza berkali-kali, hingga akhirnya ia masuk ke kamar gadis itu.


"Sudah jam segini, ia masih tidur..dasar gadis pemalas!"gerutu Afdi menatap gadis yang masih lelap tertidur.


"Bangun gadis pemalas..heii"Afdi mengoyang-goyangkan lengan Khanza.


"Iya Bi..sedikit lagi..."guman Khanza lirih.


"Siapa yang dia maksud Bi..apa dia bermimpi mesum dengan laki-laki lain, apa dia memiliki kekasih?"guman Afdi dalam hati.


Dengan kesal Afdi mengambil air dan mencipratkan ke wajah Khanza.


"Hujan..hujan bang..."Khanza gelagapan dan bergegas duduk.


"gue mimpi..."gumannya lirih, sedang lelaki tampan itu terlihat kesal dengan pandangan matanya yang tajam menatap khanza


Setelah beberapa menit, mereka sudah siap, Khanza hanya membawa tas punggung dan tas kecil berisi dompet dan aksesoris hpnya yang di selempangkan di lehernya, begitu juga Afdi ia menggunakan slingbag berwarna hitam untuk dompet dan segala aksesoris hpnya.


Entah apa mereka janjian, mereka sama-sama mengenakan jeans warna biru dongker dan kaos putih, hanya jaket mereka yang berbeda.


Mefeka berdua biasa menggunakan angkutan umum, lebih santai dan menyenangkan...itu pikiran kompak mereka.


Sepanjang perjalanan menggunakan bus patas, Khanza selalu menyandarkan kepalanya di bahu Afdi, dan lelaki itu akan terjaga sepanjang perjalanan demi wanita yang terlelap di bahunya.


"Dia manis jika sedang tidur begini"guman Afdi mengelus lembut kepala Khanza.


Di tempat lain, Bian dan Lira baru terbangun dari tidurnya setelah semalaman mereka asik mereguk nikmat, mereka baru tidur setelah subuh menjelang, kekuatan mereka semakin gila setelah mengunakan shabu.


Waktu menunjukan pukul 10 pagi, mereka seperti enggan untuk bangun, "Lu nggak ada acara pagi ini?"Lira menatap lelaki yang berbaring di sampingnya dalam keadaan polos.


"Nggak sih..pengennya gue ngantar Khanza ke terminal pagi ini, tapi dia bilang semalam nggak usah, karena balik bareng abangnya"kesal Bian.


"Dah lu nemeni gue az, gue masih punya barang"bisik Lira lirih.


"Ok...gue senang punya temen yang pengertian kaya lu?"Bian meraup b**** Lira dengan kasar dan gelut lidahpun terjadi..cukup lama baru terhenti, sampai mereka berlomba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Gue pingin banget ngerasai Khanza..sepertinya dia virgin"guman Bian tersenyum miring.

__ADS_1


Lira memandang lelaki di sampingnya, yang sepertinya sedang berkelana dengan hayalannya.


"Gue akan bantu lu dapati Khanza, tuh anak polos banget dan sepertinya mulai auka cerita gue tentang *** , dia juga cerita lu cowok pertama yang cium dia..baru lu cium az dia sudah seperti orang gila, apa lagi merasakan milik lu..dia bakal ketagihan"guman Lira pelan.


Bian teringat kejadian semalam di bioskop, ketika tangannya begitu gatal untuk menyentuh cup Khanza yang terlihat menantang, ia tak tahan..hingga semalam ia menyentuh dan sempat meremasnya lembut.


Terasa pas ditangannya, bahkan bisa dibilang lebih..saat itu ia melihat gadisnya itu melenguh, hingga ia mengambil inisiatif untuk membukam mulut Khanza, dan ia merasa beda banget...bibir Khanza terasa manis.. seperti permen, membuatnya ingin segera memiliki Khanza.


"Pikiran lu pasti mesum, dari pada hanya mikir..lu bisa praktek bareng gue"ajak Lira dengan tangannya yang sudah beraksi terlebih dahulu.


-


Khanza dan Afdi tiba di rumah ketika menjelang sore, tentu saja kedatangan mereka sudah dinanti oleh kedua orangtua mereka.


"Bunda..adek kangen"rengek Khanza manja sembari memeluk Hana.


"Kau hanya kangen pada bundamu..cantik"Pak David tersenyum melihat putrinya.


"Adek juga kangen ayahlah.."Khanza masuk kepelukan Pak David.


"Jam 8 pagi om, karena tuan putri itu sulit untuk dibangunkan"ejek Afdi menatap Khanza yang menatapnya kesal.


"Pengaduan.."Khanza menjulurkan lidahnya, membuat kedua orangtuanya mengelengkan kepala.


Tak beberapa lama mereka masuk ke dalam rumah, Afdi menuju rumahnya yang berada dibelakang rumah induk..walau masih satu atap tapi rumah itu memiliki sekat taman tersendiri.


Tuan Nathan dan Ibu Mariana, tak memgizinkan Badi dan keluarganya menempati rumah diperkebunan, mereka membangunkan rumah di tanah yang masih luas di belakang rumah induk.


Alasannya kasihan Afdi, ia akan kesepian jika tinggal di perkebunan, hingga akhirnya Badi dan istrinya setuju dan mereka berjanji dalam hati akan mengabdi pada keluarga Pak David dengan sungguh-sungguh.


Badi dan istrinya begitu senang kedatangan putra semata wayang mereka, putranya yang tumbuh menjadi lelaki tampan dan sederhana.


"Ayo nak..kita makan dulu, ayah dan ibu sudah kangen makan bareng putra ibu yang tampan ini"ucap Sumi senang.


"Bagaimana dengan sekolahmu nak?"Badi menatap lekat wajah putranya dengan sayang.


"Alhamdulillah..baik yah..ini berkat doa ayah dan ibu"Afdi menjawab dengan suara rendah.

__ADS_1


Mereka melanjutkan obrolan sembari makan, kebanggaan mereka memiliki putra seperti Afdi yang selalu bersikap sopan pada orangtua.


-


Sudah seminggu Khanza berada di rumah dan ia sama sekali tak mau menerima telepon atau chat dari Bian disaat sebelum malam, ia tak berani jika terciduk oleh kedua orangtua ataupun Fahd kakak sulungnya.


Ia akan memblock nomor Bian dan akan membukanya disaat malam menjelang tidur.


Pagi ini, di PT SR seorang lelaki tampan yang dikenal sangat tenang dan cuek, melajukan mobilnya di depan sebuah warung makan di wilayah perkebunan.


Suasana warung belum ramai, karena masih pagi, hanya nampak dua orang pembeli yang menikmati minuman hangat.


Fahd masuk ke dalam warung, membuat pembeli yang lain merasa sungkan, mereka seperti terburu-buru menghabiskan minumanya, dan bergegas pamit meninggalkan warung.


"Mau minum apa pak?"seorang gadis muda dengan wajah cantik namun terlihat sangat sederhana berucap ramah.


"Teh hangat.."ucap Fahd menatap gadis di depannya dengan takut-takut.


"Apakah aku harus bicara sekarang padanya, bagaimana kalau dia menolak"guman Fahd dalam hati.


"Ini tehnya pak.."gadis itu menunduk, ia tak punya keberanian menatap wajah tampan di depannya, ia tau siapa lelaki yang sedang menatapnya sekarang.


"Bisa kita bicara berdua"ucap Fahd ragu, ia melihat gadis itu seperti bingung, matanya seperti mencari sesuatu.


"Bodoh...kami sekarang memang hanya berdua"guman Fahd dalam hati, lelaki tampan yang terkenal pintar semasa sekolah itu..sekarang seperti kehabisan akal, hanya karena bicara dengan gadis sederhana di warung nasi perkebunannya.


"Maksudnya...tidak di sini, kita bicara di tempat lain?"jelas Fahd, gadis di depannya nampak bingung, dan Fahd paham maksudnya.


"Saya akan menjemputmu setelah warung tutup, bisakah kau tutup setelah para pekerja makan siang?"Fahd menatap gadis di depannya dengan tatapan teduh dan sikap yang tetap tenang.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk, setelahnya Fahd pamit ke luar dari warung.


"Apa yang akan dibicarakan orang kaya itu?"gumannya dalam hati.


Selamat menikmati ceritaku, aku nggak berharap banyak..kalau kalian suka cerita ini Alhamdulillah๐Ÿ˜Š


Biat kalian yang merasa cerita ini menghibur, tinggali jejak ya ๐Ÿ‘ dan comen apa az ..aku akan terima..mau protes.. mau ngejelekin juga boleh๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜..aku iklas๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2