NAFSU

NAFSU
Diang Ami sakit


__ADS_3

"Mas bisakah malam ini temani Hana?"suara Hana sangat lirih, Pak David memeluk tubuh istrinya, ada sesak dihatinya.


"Mas temani sampai sayangku tidur ya" Hana mengangguk.


Hana naik ketempat tidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian babydolnya, tak lupa ia bersuci untuk menemani tidur malamnya.


-


Subuh menjelang, Hana melalui rutinitas subuhnya dengan situasi seperti kemarin, namun kali ini disetiap ayat dari zikir pagi yang dilafazkannya, ia mendengar suara jeritan memaki.


Terkadang ia merasa kaget sendiri ketika suara itu terdengar keras di telinganya, namun Hana berusaha tak terpengaruh, dan suara itu tak terdengar lagi ketika ia khusyuk dengan bacaannya sampai akhir.


Beberapa menit kemudian Hana keluar dari kamarnya menuju dapur, ia tak melihat Diang Ami.


Hana berinisiatif memasak untuk sarapan suaminya, Hana mulai sibuk dengan masakan seadanya , dengan bahan yang ia lihat ada di dapur.


Hana terkejut ketika kecupan lembut mendarat dipipinya.


"Mas..."Hana melihat suaminya yang sudah rapi dengan pakaian dinasnya.


"Pagi sayangku"bisik Pak David lirih di telinga istrinya.


"Mas duduklah aku sudah buatkan teh!" Hana menarik lembut tangan suaminya.


Pak David asik menyeruput teh panasnya, ketika Diang Ami masuk ke dapur.


Hana menatap wajah pucat Diang Ami, "Kau sakit Diang?" Hana menghampiri dan menempelkan punggung tangannya pada kening Diang Ami.


Tubuh wanita yang lebih rendah dari Hana dan lebih kurus itu terasa dingin, tatapannya datar pada Hana.


Hana mngiring Diang Ami untuk duduk, ia menyodorkan teh hangat dihadapan Diang Ami.


"Minumlah teh ini dulu..aku akan tautkan nasi untukmu, biar kau bisa segera minum obat setelah sarapan"suara Hana terdengar cemas.


Pak David yang melihat kelakuan istri cantiknya tersenyum."Kau takkan bisa menjamahnya"gumanya dalam hati.


"Mas...pagi ini izinkan aku ke Pak Abdul, aku tidak masuk pagi ini..kasihan Diang sendiri dia sedang sakit, biar aku menemaninya di rumah!".


Deeegggg.....


Jantung Pak David dan Diang Ami sama-sama berdebar, namun perasaan mereka berbeda.


Pak David mendadak cemas, ada rasa takut meninggalkan istri cantiknya dengan istri tuanya.


Hana menatap mata suaminya dengan memohon, lelaki 40 tahun itu menarik nafasnya kasar.

__ADS_1


"Tidak perlu ada Dun dan Badi, ia yang akan mengurusku, pergi kerja saja " tinta Diang lirih tanpa menatap Hana.


"Sudah tidak apa... Badi dan Dun lelaki, Diang akan sungkan pada mereka" Hana masih keras dengan keinginannya.


"Tanyakan pada suamimu, apa ia bersedia kau merawatku"Diang menatap Pak David datar.


Pak David menghela nafasnya, akhirnya ia mengangguk pada istri cantiknya.


Pak David berpamitan pada istri-istrinya, Hana tak mengantarkannya ke teras depan, ia menemani Diang Ami yang masih memakan sarapannya dengan lamban.


Pak David berbicara pada Dun dan Badi sebelum meninggalkan rumah untuk bekerja.


-


Hana memberikan obat demam yang biasa ia gunakan dan selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


"Minum dulu obatnya Diang"Hana menyerahkan tablet bulat putih itu di tangan Diang dan menyodorkan segelas air putih.


Tanpa berbicara Diang menerima dan meminumnya.


Hana mencuci alat-alat dapur setelah sarapan tadi, setelahnya ia ikut duduk dekat Diang Ami.


"Sebaiknya Diang istirahat di kamar saja" saran Hana, namun Diang Ami tak menjawabnya.


"Apa mau kubantu ke kamar Diang?"Hana menawarkan niat baiknya, Diang Ami menatap Hana dengan senyum.


Hana bingung dengan pertanyaan yang diajukan Diang Ami, dan wanita tua itu mengerti kebingungan Hana.


"Kenapa kau menikahinya?"Hana tersedak salivanya dengan pertanyaan Diang, namun beberapa menit kemudian ia kembali tenang.


"Aku tak tau jika ia jodohku..aku bisa apa jika Allah memberikan aku jodoh laki-laki tua itu" guman Hana pelan, dengan menekankan nama pemilik hidupnya.


Deeennnggg....


Jantung Diang bergetar kecang tiba-tiba dadanya terasa nyeri.


Hana melihat perubahan pada wanita dihadapannya.ia panik melihat wajah Diang yang memucat.


"Subhanallah...Diang kenapa?"Diang Ami menatap tajam ke arah Hana.


Jantungnya terasa terbakar, Hana berlari mencari Dun atau Badi, wanita cantik itu benar-benar panik.


"Badi tolong ...Diang wajahnya memucat seperti ...." ucapan Hana terhenti ketika ia melihat sosok semalam di belakang tubuh Badi.


"Astaghfirullahaladzim...."Hana yang terkejut sepontan berteriak membuat Badi terkejut dan mendekatinya.

__ADS_1


"Bu..ibu kenapa...?"Badi menepuk lengan Hana pelan.


Hana tersadar, dan sosok yang dilihatnya tadi menghilang entah kemana.


Hana segera berlari masuk ke dalam rumah menuju di mana Diang Ami ia tinggalkan tadi, dan diikuti oleh Badi.


Hana bingung, tak menemukan Diang Ami ditempatnya, ia bermaksud mencari, namun Badi melarangnya.


"Sudah bu..tidak usah dicari, itu sudah biasa" saran Badi.


"Sudah biasa..sakit apa Diang, kenapa mas tidak mengajaknya berobat?"pikir Hana dalam hati.


-


Beberapa jam kemudian, Hana masih cemas akan keadaan Diang Ami, namun ia tak tau di mana kamar Diang.


Hana terkejut ketika Diang muncul dengan wajah yang terlihat segar.


"Alhamdulillah, Diang Ami sudah sehat kembali" guman Hana dalam hati.


"Diang kita makan siang dulu ya?" Diang Ami mengangguk.


Mereka makan dengan tenang dan setelahnya."Biar aku yang membereskan dapur, istirahatlah kau pasti lelah mengurus dapur dari pagi"Diang Ami mengambil alih menbereskan meja dan mencuci piring bekas makan mereka.


"Hana apa kau tak ingin meminta perhiasan seperti yang dibelikan suamiku, tunggu sebentar" Diang Ami bergegas meninggalkan dapur dan berlalu begitu saja tanpa mendengar jawaban Hana.


Hana bingung dengan sikap wanita tua itu.."apa maksudnya?"guman Hana dalam hati.


Tak beberapa lama Diang Ami datang dengan kotak perhiasan yang berukuran lumayan besar untuk sebuah tempat perhiasan.


"Sini Hana, lihat ini" Diang Ami membuka kotak itu dan menyorongnya ke hadapan Hana.


Hana memandang isi kotak itu dan dalam pikirannya"untuk apa perhiasan sebanyak ini, perhiasan sebanyak ini nisabnya berapa?"guman Hana dalam hati.


Diang Ami menatap Hana dengan selidik." Baguslah Diang..bearti suamimu menyayangimu, maka kau wajib menjaga harta pemberiannya, gunakan untuk kebaikan"ucap Hana pelan.


"Kau tak ingin perhiasan ini?"Diang Ami menatapnya lembut.


"Tidak ..itu milikmu, Hana untuk apa juga memiliki perhiasan begitu, Hana tak suka mengunakan perhiasan berlebihan"guman Hana pelan tanpa sadar jemarinya menyentuh cincin pemberian suaminya.


"Aku cukup dengan ini, bukti rasa sayang tak harus dengan perhiasan"guman Hana dalam hati.


Tak beberapa lama kemudian Diang Ami dan Hana masuk ke kamarnya masing-masing.


"Dia berbeda..." gumannya lirih, ada rasa kesal yang menyulut emosi, hingga sosok itu hadir, dan menuntut raganya.

__ADS_1


Selamat membaca ceritaku, semoga kalian terhibur, maaf masih banyak kekurangan dan kesalahan pengetikan πŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa like dan comen😘


__ADS_2