NAFSU

NAFSU
Mau Pisang Gapit


__ADS_3

Warning!!!


Buat anak-anak di bawah umur 21 ke bawah DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca😜


***


Afdi mengecup lama kening istrinya, dan menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya, nafas mereka memburu dengan peluh membasahi tubuh.


"Ayo kita mandi sayang..sudah mau masuk magrib, Afdi mengendong tubuh Za ke kamar mandi., air shower membasahi tubuh mereka yang masih saling berpelukan.


"Tuhan luluhkan hati istriku..tanamkanlah cinta dihatinya untukku" batin hati yang mencinta.


Di tempat lain Fai bagai kebakaran jengot, karena Lena resign dari perusahaan tanpa ia tau, tiga hari Fai sibuk menangani masalah di lapangan, sampai ia baru tau surat pengunduran diri Lena.


Dengan perasaan kesal lelaki itu menghubungi hape Lena, tapi sialnya nomor Lena tidak aktip, dan yang ia tau apartemen Lena sudah lama tak ditempati.


Lelaki tampan itu terlihat frustasi, saat ini ia sangat merindukan sentuhan sekertarisnya itu, dan bodohnya ia tak pernah tau dimana keluarga Lena tinggal.


-


Tiga bulan kemudian ....


Seorang lelaki yang sangat tampan baru turun dari mobilnya, dengan stelan karyawan tambang yang terkesan manly, lelaki tampan itu masuk ke dalam rumah mewahnya.


Vero lelaki yang wajah dan tubuhnya banyak diminati wanita itu terlihat galau, setelah melepas semua pakaiannya Vero masuk ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian ia sudah terlihat segar dengan handuk membelit di pinggangnya.


Vero mengenakan celana pendek dan kaos, lalu turun ke lantai bawah.


Ia menuju meja makan, dilihatnya makanan sudah siap dalam pirek kaca yang terlihat masih hangat.


Di rumah mewahnya Vero mempekerjakan sepasang suami istri yang mengurus dan menjaga rumahnya, di tambah beberapa pelayan, namun pelayan yang lain pulang ke rumah mereka setelah selesai dengan pekerjaannya.


Lelaki itu makan dengan tenang, hingga terdengar langkah kaki mendekat.


"Duduklah..temani aku makan"Vero sudah hapal dengan kebiasaan sekertarisnya itu.


"Ada apa.."Vero memandang Lidya yang terlihat lebih pendiam.


"Pak..aku hamil"Vero menghentikan makannya dan menatap sekilas wajah Lidya.


"Kau yakin itu anakku?"Vero menatap sinis pada Lidya dan nampak gadis itu menunduk.


"Aku tak tau.."Vero tersenyum mengejek dan menatap lekat wajah Lidya.


"Ku kira hanya aku dan tunanganmu..apa ada yang lain?"Lidya terisak mendengar perkataan Vero dan wanita itu mengangguk.


"Siapa..?"


Lidya tak berani menatap wajah bosnya, ia memang melakukan dengan beberapa pria selain bos dan tunangannya, sekarang ia bingung.


"Berapa bulan?Vero kembali bertanya.

__ADS_1


"Empat... minggu"lirihnya dan Vero menarik nafas lega, ia tersenyum karena nyata itu bukan miliknya, karena terakhir ia berhubungan dengan Lidya sudah empat bulan lalu.


"Mau gimana?"Lidya mulai terisak


"Aku ingin mengugurkannya"isaknya


Vero menarik nafas dalam,"Kenapa kau tak meminta tunanganmu untuk menikahimu"


"Waktu pernikahan kami sudah ditentukan tahun depan, dan jika ia tau saya hamil, keluarganya pasti membatalkan pernikahan kami" isak Lidya.


Vero terdiam, hal itu pernah terjadi padanya..ketika mahasiswi yang menjadi kekasihnya hamil, dan takut orangtua dan teman-teman kampusnya tau, hingga kekasihnya mengugurkan janinnya.


Tapi Vero tidak pernah menganjurkan untuk mengugurkan janin itu, justru setelah pengakuan kehamilannya kekasihnya itu meminta biaya untuk mengugurkan janin itu, karena ia masih ingin kuliah dan belum siap memiliki anak.


Setelah kekasihnya melakukan aborsi itu, Vero mulai menjauhi kekasihnya dan setaunya sebulan setelah itu, kekasihnya sudah memiliki lelaki lain.


Selintas Vero mengingat Za, "Jika kau yang hamil aku akan menikahimu segera, aku tak peduli dengan suamimu..aku akan membawamu pergi"khayal Vero sembari tersenyum.


Namun malangnya setelah percintaan mereka saat mid semester itu, Za selalu menghindarinya, padahal ia sudah sangat merindukan ******* Za, Za meminta waktu menyelesaikan masalahnya dengan suaminya dulu.


Lelaki itu terlihat lesu, ia sampai lupa dengan Lidya yang masih terisak karena nasibnya.Vero tersadar kembali dari khayalannya setelah mendengar suara isak Lidya yang mengeras.


"Kau tak bisa menebak siapa pemiliknya?"Lidya terdiam, ia menatap Vero lekat.


"Saya tau pak..tapi saya tak yakin dia mau bertanggung jawab"kembali Lidya terisak.


"Kenapa kau yakin..kau belum bicara padanya kan?"


"Lelaki itu sudah beristri pak..saya tak mau menikah dengan suami orang"Vero hampir tertawa mendengar penjelasan Lidya namun ia cepat membekap mulutnya dengan tangan sebelum suara laknat menyakiti hati sekertarisnya.


"Bodoh..tidak mau menikah dengan suami orang, tapi mau dikawini suami orang..Lidya..Lidya.."Vero membatin dalam hati.


"Sekarang istirahatlah..kalau kau mau tidur disini silahkan, jika mau pulang berhati-hatilah..cari solusi..kau menangis darahpun tak merubah keadaan..karena semua sudah terjadi"jelas Vero.


Lidya beranjak dari duduknya dan pamit untuk pulang saja.


Setelah kepergian Lidya Vero masuk ke kamarnya, ia mencoba menghubungi Khanza..namun tak diangkat, Vero sangat frustasi dengan sikap Za, laki-laki tampan itu akhirnya menghubungi seseorang.


Nasib setali dua uang dengan Vero, siapa laki jika bukan si tampan Fai, lelaki itu saat ini sangat terpuruk setelah ditinggal pergi tanpa pesan oleh sekertarisnya.


Bukan hanya hatinya yang sakit namun juga fisiknya, sudah dua bulan lebih lelaki itu seperti orang mabuk, setiap pagi ia selalu mual dan muntah, membuat dirinya makin menderita.


Fai terkejut ketika kedatangan ayah Clara, lelaki itu tanpa basa -basi, meminta Fai bertanggung jawab atas kehamilan Clara, putri kesayangan dan satu-satunya keluarga Frizt.


"Om ingin kau menikahi Cla secepatnya, jangan sampai perutnya membuncit, kau tau kan putriku itu sangat mencintaimu"


Fai terduduk lesu...


"Apakah karena ini aku mengalami sindrom Couvade seperti ucapan dokter itu..bahwa kekasihku sedang hamil anakku"


Tapi hati lelaki tampan itu seperti menolak mengakui janin Clara sebagai miliknya, tapi ini nyata..dan ia harus bertanggung jawab.


Seminggu setelah kedatangan papa Clara, Fai menikahi kekasihnya itu..wanita baik-baik yang membuatnya tanpa sadar membuat Lena menjauh.

__ADS_1


Fai menikah tanpa kehadiran keluarganya, bukan tak mau hadir karena suatu alasan seperti ucapan Fai pada keluarga Clara, namun Fai tak memberitahukan pernikahan ini pada keluarga besarnya.


Di tempat lain Za baru selesai membersihkan diri setelah suaminya meminta jatah sepulang kerja.


Afdi menghilangkan rasa sungkan pada istrinya, ia berusaha membuat Za hamil, dan bersyukurnya...walau Za meminta suaminya untuk menalaknya, ia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai istri.


Afdi mengambil alih hair dryer dari tangan istrinya, dengan lembut ia mengeringkan rambut hitam Za, wangi shampo membuatnya sesekali mencium pucuk kepala istrinya, hal itu menjadi perhatian Za lewat pantulan cermin.


"Abang...."Afdi menatap pantulan wajah istrinya di cermin.


"Ada apa dek...?"Lelaki itu mematikan hair dryer, ketika istrinya berdiri.


Za memeluk dan mendusel-duselkan wajahnya pada tubuh suaminya.


"Za pengen makan pisang gapit"ucapnya lirih.


Afdi tersenyum, "Mau ori atau pakai nangka?"


"Pakai nangka..pisangnya yang mengkal dan bakarnya agak hangusan ya bang"Afdi mengiyakan dan mencuri kecupan di bibir istrinya.


"Ya sudah abang beliin dulu"Afdi mengacak poni Za dan segera berlalu.


Afdi keluar dari kamar, di ruang tengah ia bertemu mertuanya yang asik bercengkrama.


"Mau ke mana nak?"Hana menegur mantunya.


"Saya keluar sebentar bun..ada keperluan"Afdi berpamitan pada kedua mertuanya.


Hana dan Pak David tersenyum dan mengangguk pada mantunya.


Selang satu jam kemudian, Afdi sudah memarkirkan motornya di garasi samping rumah.


Mertuanya sudah tak ada di ruang tengah, sepertinya sudah masuk ke kamar.


Afdi mengambil sendok dan piring, lalu membawanya ke kamar.


Za menghampiri suaminya begitu dilihatnya Afdi datang.


"Ada mas..seperti pesananku" wajahnya bersinar bahagia.


Afdi mengangguk dan mengajak istrinya duduk, lelaki beistri itu memindahkan pisang gapit di piring dan menyerahkannya pada istrinya.


Za menikmati makanan kesukaannya itu dengan lahap, Afdi yang melihat semangat istrinya menyantap makanan manis itu meneguk liur.


"Aaaaahh...."Za mengarahkan sendoknya pada mulut suaminya, karena dari tatapannya suaminya itu kepengen juga pada makanan di depannya.


Afdi menguyah makanan manis yang masuk ke mulutnya...enaaak.


Za menatap suaminya dan segera


menghabiskan pisang gapitnya.


Yuuuuk kasih vote..likeπŸ‘πŸ‘πŸ‘ dan comen😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2