
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Alif menyerahkan hapenya, dan membuka galeri,"Ini foto-foto adek"
Namun tiba-tiba Hana tersentak..dan membuat hape itu jatuh ke lantai.
"Assalamuallaikum pengantin baru"
Tiba-tiba wajah Pak Bisri sudah memenuhi layar hape.
Jari Hana tak terasa menekan tanda terima panggilan Video dari Pak Bisri, sontak Hana terkejut dan menjatuhkan hape.
"Astagfirullah..."Hana mengelus dadanya dengan wajah yang masih terkejut.
Alif segera meraih hape yang jatuh.
"Waalaikumsalam..suara apa itu Lif"
Pak Bisri terlihat mengelus dada.
"Hapenya jatuh pak..."
"Pantas kepalaku sakit..rupanya terjatuh di sana"gelaknya, Alif hanya tersenyum..ia tau kawannya satu ini mau mengusilinya.
"Ada apa..."
"Duh Lif..kayak buru-buru sekali, sudah nggak tahan ya"tawa keras Pak Bisri membuat Hana dan Alif saling pandang dan geleng kepala.
Hana beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba pergelangan tangannya ditahan oleh tangan hangat suaminya, dengan tatapan lembut seolah meminta sang istri tetap di sampingnya.
Hana akhirnya kembali duduk, dan berikutnya panggilan vc hape itu diputus sepihak oleh Alif, dan kemudian mematikan hapenya.
"Mas koq.."
"Biar saja..dia mau ngusilin kita saja dek"senyum Alif pada sang istri begitu lembut.
"Dek nanti seminggu setelah di sini, kita tinggal di rumah mas ya"
Hana mengangguk, begitu seharusnya kan?seorang istri harus manut suaminya, jika itu menyangkut kebaikan rumah tangga.
Alif tersenyum, ia memberanikan diri menyentuh pipi istrinya, dan mengelusnya dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Jantung Hana berdebar dengan rona merah dipipinya, yang membuat sang suami tersenyum gemas.
Alif mendekatkan diri dan membenamkan bibirnya di kening Hana, lama hingga Hana memejamkan mata menerima curahan rasa sayang suaminya.
Alif tersenyum melihat istrinya yang terlihat meresapi kecupan yang ia beri di kening.
Perlahan bibir Alif berlabuh di bibir Hana, jantung mereka sama berdebar, terasa tubuh mereka bergetar menahan perasaan, beberapa detik setelah mereka dapat menguasai rasa, Alif memberi lum**** lembut..saling menerima dan membuka, hingga dengan mudah benda tak bertulang itu melesat masuk dan mengapai impian setelah sekian puluh tahun mendamba.
Hana menerima perlakuan lembut dari Alif, yang menuntunnya naik ke ranjang.
Beberapa menit kemudian, Alif sudah mengHAKi setiap bagian tubuh istrinya, lenguhan lembut Hana mengiringi setiap gerak bibir dan tangannya.
Setelah puas bermenit-menit bermain lidah di sawah Hana, mata berkabut Alif memohon izin memasuki goa yang lama ia impikan.
Hana mengangguk dengan sorot mata sayu dan wajah yang sudah memerah, perlahan Alif menyentuh dinding sempit dan hangat yang terus mengelusnya dengan pijatan memabukan, membuat mereka sama-sama mende*** menikmati sensasinya.
Satu jam kemudian tubuh penuh peluh itu saling berpelukan mesra.
"Terima kasih sayangku"Hana mengangguk dalam dekapan suaminya.
Malam kian larut namun tubuh penuh peluh itu terus bergerak dan saling memuaskan, suara d***** dan erangan diselingi lenguhan panjang, berkali-kali terdengar di kamar bernuansa manly dengan dominan warna putih hitam itu.
Beberapa jam tak membuat mereka puas, hingga menjelang subuh Sofi melayani has*** Fai dengan sepenuh hati, senyum di bibir dan kesenangan hatinya betul-betul menguasai dirinya, ia merasa dimanja oleh lelaki tampan beranak dua itu.
Fai ambruk di atas tubuh p*** Sofi, dan beberapa menit kemudian ia melepaskan penyatuan itu dengan menjatuhkan diri ke samping tubuh Sofi, menariknya dan menjadikan wanita itu guling hidupnya.
Sebulan kemudian di rumah mewah Vero, Diana tersenyum kecut melihat kedatangan suaminya.
Ia meraih vas bunga di atas nangkas di ruang tamu, benda itu melayang tak mengenai mangsanya.
Sumpah serapah dan segala caci maki terus tak berjedah keluar dari mulut tajam Diana.
"Kalau kau tak mau berhenti..aku pergi!!"teriak Beni membuat Diana sontak menghemtikan amukannya.
"Kelakuanmu tak berubah..kau sudah tua, tak tau diri"sarkas Diana.
Beni diam membiarkan Diana, mengekplorasi perasaannya.
"Dasar laki-laki menjijikan, tukang selingkuh. semoga kau cepat mati!!!"
"Ok aku tak lama disini..aku akan mengurus penceraian kita, aku sudah lelah menerima perlakuanmu yang tak tau diri!"
Diana tersentak menatap nanar lelaki yang sudah menemaninya selama tiga puluh tahun.
"Kau tak memikirkan anakmu..bicara seperti itu"
__ADS_1
"Vero sudah dewasa, ia bisa berpikir sendiri tanpa campur tangan dariku!!"
"Sebelum kita menikah, aku sudah mengatakan padamu siapa aku, namun kau bersikeras tetap menerima perjodohan itu, aku sudah menerima semua kekuranganmu sebagai istri..namun dirimu tak pernah belajar untuk menghargai aku sebagai suami"
Diana kembali melemparkan hiasan kristal ke arah Beni, dan masih bersyukur lelaki itu mahir menangkap lemparan Sofi, hingga benda puluhan juta itu tak hancur sia-sia.
"Pikirkan Vero akan menikah, kau malah bersikap gila begini"makinya dengan suara keras.
"Vero tidak akan menikah dalam waktu dekat ini, entah setelahnya..dan bukan dengan Luna, karena Luna adalah istriku..!!!"sarkas Beni dan bergegas meninggalkan rumah putranya yang sudah kacau karena amukan Diana.
Diana tercekat mendengar ucapan suaminya,"Luna istrinya..dia bilang Luna istrinya...dasar kalian ba*****" rutuknya menangis dan terus menjerit.
Beni terus melajukan mobilnya menuju sebuah hotel di kawasan perkotaan, pikirannya kembali teringat tentang tiga puluh tahun yang lalu.
Beni tinggal bersama om dan tantenya sejak SMP kelas 2, karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil, orangtuanya yang banyak meninggalkan warisan untuknya namun masih dikelola oleh pengacara keluarga sampai usianya 18 tahun, ia hidup dengan om dan tantenya yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri, hingga Beni memanggil papi dan mami pada om dan tantenya.
Kasih sayang dan perhatian mereka padanya yang tak membedakan dirinya dengan sepupunya, membuat Beni menyayangi mereka, sampai Beni lulus kuliah dan tiba-tiba papinya memintanya menikahi seorang wanita dengan tampilan yang seronok.
Entah kenapa papinya itu memaksanya menikahi Diana, namun Beni akhirnya mengabulkan permohonan pamannya.
Selang beberapa bulan Diana melahirkan seorang bayi lelaki tampan, Beni yang tak terlalu paham tentang hal itu menerimanya dengan senang hati.
Hubungannya semakin lengket dengan Diana, ia bagai kerbau yang dicocok hidungnya selalu menuruti kemauan Diana.
Papinya kerap mengunjungi kediamannya dengan Diana, dan Beni merasa senang saja dengan kebaikan pamanya.
Di suatu hari Beni pulang ke rumah tidak seperti biasanya, saat itu rumah sangat sepi, Beni memasuki rumah dan menuju le arah kamarnya.
Langkahnya terhenti dan kakinya tiba-tiba lunglai.
Ia menyaksikan adegan ranjang antara papinya dan Diana, Beni ambruk di depan pintu, mengejutkan dan menghentikan pergumulan mereka.
Beberapa bulan Beni tak bertegur sapa dengan istrinya, dan ia memutuskan untuk menceraikan Diana.
Wanita itu menolak perceraian, ia berjanji tak akan mengulangi lagi.
Dan membolehkan Beni membalas perbuatanya, ia tak akan melarang, dan sejak saat itu Beni mulai melampiaskan has***nya pada wanita-wanita kesepian.
Sampai suatu hari papinya memanggil mereka berdua, saat itu papinya dalam keadaan sakit parah, meminta Beni mengabulkan permintaan terakhirnya.
Beni mengiyakan karena ia sangat menyayangi papinya.
"Papi minta kamu berjanji nak, tidak akan menceraikan Diana dan tolong besarkan Vero seperti anakmu sendiri, maafkan kesalah papi"
Beni menbuang nafasnya kasar, kembali ia pada kesadarannya, dan melajukan mobilnya dengan lecepatan tinggi.
__ADS_1
Yuuk kasih vote, like๐๐๐ dan comen yang banyak๐๐๐