
Warning!!!
Buat anak-anak di bawah umur 21 ke bawah DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Za menikmati makanan kesukaannya itu dengan lahap, Afdi yang melihat semangat istrinya menyantap makanan manis itu meneguk liur.
"Aaaaahh...."Za mengarahkan sendoknya pada mulut suaminya, karena dari tatapannya suaminya itu kepengen juga pada makanan di depannya.
Afdi menguyah makanan manis yang masuk ke mulutnya...enaaak.
Za menatap suaminya dan segera
menghabiskan pisang gapitnya.
Za membereskan sisa makannya, dan segera naik ke ranjang.
"Abang minta upahnya.."Afdi tersenyum mengoda dan segera mengungkung tubuh aduhai milik wanita cantik itu.
Beberapa jam berlalu, "Sebut nama abang sayangku.."pinta Afdi dengan terus membuat istri cantiknya mende***.
"Bang Aaafdi...bang...Za mau keluuuar"ucap Za bergetar, wanita cantik itu memeluk erat tubuh basah suaminya.
Afdi tak pernah berhenti meminta hakmya setelah permohonan talak istrinya, ia berusaha menumbuhkan cinta di hati istrinya.
Afdi menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya, nafas mereka masih ngos-ngosan...cup satu kecupan di kening Za.
Afdi membaringkan diri di samping istrinya, ditariknya tubuh istrinya masuk dalam pelukannya, begitu juga selimut lembut itu ditariknya menutupi tubuh polos mereka, dan setelahnya Afdi menurunkan suhu ruangan menjadi lebih dingin.
Za masuk dalam dekapan suaminya, selintas ia mengingat Vero..Za menghela nafas mengingat cerita temannya, lalu kembali masuk lebih dalam kepelukan suaminya.
"Sayang jangan bergerak terus, milikmu ini bisa bangun lagi"Afdi meraih tangan istrinya dan meeltakkan pada miliknya.
Za terkejut tapi tak menolak perlakuan suaminya, ia meremas lembut benda yang baru mengantarkannya ke nirwana.
Afdi mengerang dan Za twrsenyum usil, tangannya tak diam..membuat suaminya meraup benda lembut di yang mengulas senyum di dadanya.
Dan malam itu Afdi tak berhenti melakukannya, sampai Za kewalahan dan menyerah.
-
Za mencoba berusaha santai, ketika Vero berada dalam kelasnya, hari ini mata kuliah dosen tampan itu.
Vero berkali-kali mencuri pandang pada wanita cantiknya yang membuat perasaannya bahagia, sudah beberapa bulan wanitanya itu menghindarinya, namun saat ini wanita cantik itu sedang tekun dengan tugas yang ia berikan.
Beberapa jam kemudian, Za bergegas keluar kelas dengan teman-temannya.
"Za...tolong antarkan tugas teman-temanmu ke ruangan saya!"Vero berlalu mendahulu Za dan kawan-kawannya yang saling pandang.
"Hati-hati..permainan dimulai sepertinya nih, gue pernah bilangkan Za, lu bakal jadi incaran casanova dan playboy cap gayung"Merry menepuk lembut bahu Za, wanita cantik itu hanya tersenyum kecut.
Za mengetuk pintu ruang dosen, dengan dada berdebar Za mendekati Vero yang memandangnya tanpa kedip.
"Ini tugasnya pak..saya permisi"Za berbalik namun ..Vero sudah memeluknya dari belakang.
Tubuh Za membeku, jantungnya berpacu cepat, ia menghindari tatapan Vero.
"Aku merindukanmu sayangku .. sangaaat"guman Vero lirih di telinga Za.
Wanita cantik itu bergetar, ada perasaan takut dan ingin..jujur ia rindu pada dosen tampannya.
Vero membalik tubuh Za menghadapnya, dikecupnya lama kening wanita cantik dihadapanya.
Za diam...matanya justru terpejam, hingga ia merasa benda kenyal itu sudah berpindah, mengecup lembut bi***nya.
Dan setelahnya Za sudah duduk dipangkuan Vero, di kursi kebesarannya sebagai dosen dan pemilik sebagian besar saham kampus WX.
Vero terus melancarkan aksinya, mulut dan tangannya tak diam, des**** Za membuatnya bersemangat.
__ADS_1
Mata mereka berkabut rindu dan gairah, Vero mendudukan Za dimejanya setelah menarik ** wanitanya, dan sekali hentak..jleb..milik Vero sudah memenuhi Za.
Di kantin Tika, Wulan dan Merry masih menunggu teman mereka dengan asik menyantap bakso dan minuman segar, mereka saling tebak apa yang dilakukan sang dosen pada Za.
Za memeluk erat tubuh Vero dengan hem yang kancingnya sudah terbuka, menampakan pemandangan yang membuat Vero mengila.
Vero masih asik menikmati minuman kesukaannya, setelah satu ronde mereka lewati dengan panas.
Za ..wanita labil itu tak mampu menghindari pesona dan keahlian sang casanova.
"Sayangku, aku merindukanmu .. sangaat cintaku"ucap Vero dengan wajah sendu.
"Za tak percaya...paling juga hanya rindu tubuh Za"Vero melotot mendengar ucapan wanita yang sudah membuatnya gila.
Za turun dari pangkuan Vero, namun lelaki tampan itu semakin mempererat pelukannya pada pinggang Za.
"Lepaskan...pak dosen mesum"Za berusaha melepaskan tangan Vero dari pinggangnya..namun Vero bukan melepas tangannya, Lelaki itu kembali meraup gemas bi*** Za, dan beberapa detik kemudian lidahnya sudah meyapu bersih rongga mulut wanita yang terus berontak dalam pelukanya.
Vero mengendong tubuh Za ke sofa, dan ia melakukan lagi dan lagi permainan panas mereka, hingga tubuh mereka lelah di atas sofa dalam ruangannya yang kedap suara.
Za masih memejamkan matanya,"Aku sudah pernah mengatakan padamu kan sayangku, bahwa aku bukan pria baik-baik..tapi aku berusaha berhenti ketika mengenalmu..kalau kau ingin aku menikahimu saat ini..aku siap..sangat siap!"tegas Vero dan itu membuat Za terdiam, sampai ia merasa Vero menariknya pelan untuk duduk dalam pelukannya.
"Aku menunggumu sayangku .. menunggu keputusanmu"Vero mengecup pucuk kepala Za.
Za berdiri dan memunguti pakaiannya lalu mengenakannya.
"Aku antar.."Vero menarik tangan Za pelan.
"Tidak... Za pulang sendiri saja"Za melepas tangan Vero, namun tiba-tiba ia berbalik dan berlari memeluk tubuh Vero yang sudah mengenakan celana panjangnya.
Za memeluk tubuh manly itu, Vero tersenyum dan membalas pelukan wanitanya.
Kecupan yang lama dan dalam pada pucuk kepala Za, membuat hati mereka menghangat.
"Za pulang dulu om.."Vero menangkup pipi lembut Za dan memberi ******* lembut pada benda kenyal nan lembut milik Za.
"Sabtu nanti temani aku ya"Vero menatap sendu wajah cantik yang sudah membuatnya tergila-gila.
-
Sebulan kemudian di kediaman Nathan, Hana dan Sumi panik ketika tiba-tiba saja Za pingsan setelah beberapa menit sampai di rumah, sepulang kuliah.
Dengan tergopoh-gopoh Pak David menuju teras, ketika mendengar teriakan istrinya yang memanggilnya.
Ia terkejut melihat putrinya sudah terkulai di lantai dengan kepalanya berada diatas pangkuan bundanya.
Pak David di bantu istrinya dan Sumi mengangkat Za ke kamar dekat ruang tamu.
Pak David segera menghubungi dokter keluarga, dan terlihat Hana sangat cemas melihat putrinya yang terlihat pucat.
Setengah jam kemudian dokter datang dan segera diarahkan ke kamar dimana Za berada.
Dokter wanita setengah baya itu tersenyum setelah memeriksa Za.
"Selamat Pak David..sepertinya putri anda bakal memberi cucu pada anda" Pak David dan yang lain terkejut, namun beberapa detik kemudian mereka tersenyum dengan wajah senang.
"Alhamdulillah.."ucap mereka bersamaan yang membuat mereka akhirnya tertawa.
"Besok pagi nona Khanza bisa dibawa ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan janinnya"ucap dokter Vini dan sekalian pamit pada Pak David sekeluarga.
Tak berapa lama Za sadar, Hana tersenyum menatap lembut putrinya.
"Za kenapa bun?"suara Za terdengar lemah.
"Sayangku..kau bakal jadi ibu"Hana memeluk tubuh putrinya dan tak lama Pak David masuk, lelaki yang sudah tidak muda lagi itu, mengelus kepala Za.
"Jaga calon cucu ayah dengan baik ya..dan besok bundamu akan menemani untuk memeriksa kehamilanmu"Pak David memandang lembut putri semata wayangnya.
Za mengangguk lemah, tak lama mertuanya datang dengan membawa segelas susu.
__ADS_1
"Ayo minum dulu.."Hana membantu Za duduk dan mertuanya menyerahkan gelas susu itu ke tangan mantunya.
"Kau sudah makan.."Hana mengelus rambut Za dan wanita cantik itu mengeleng, beberapa minggu ini ia malas makan..hanya makanan yang ia inginkan saja yang akan dilahapnya.
"Za sudah kenyang minum susu ini..nanti saja Za makan"
Akhirnya Za sendiri di kamar setelah ia bilang ingin istirahat.
Za mengelus lembut perutnya dengan mata terpejam,"Kau ada disini sayang..mami akan menjagamu dengan baik"
Keesokan harinya Hana sudah bersiap mengantar Za ke klinik bersalin, namun tiba-tiba mantunya menghampiri.
"Bun..biar saya yang bawa mobilnya"
Afdi mengulurkan tangannya meminta kunci mobil pada mertuanya.
Lelaki itu begitu gembira ketika istrinya semalam mengatakan diri hamil, ia lalu menghubungi kakak iparnya, untuk tidak masuk kerja karena ada urusan dengan istrinya.
Satu jam kemudian mereka sudah berada di klinik bersalin dimana dulu Za pernah memeriksakan kandungan.
Setelah mengantri cukup lama, nama Za dipanggil, Afdi memeluk istrinya dan menuntunnya masuk ke ruangan, sedang Hana mengekor di belakangnya.
"Maaf suster ibu saya boleh ikut masuk ya"Za memohon pada suster jaga dan wanita berbaju putih itu tersenyum dan memgangguk.
Setelah melewati prosedur mereka masuk ke ruang dokter.
"Nona Khanza ya.."ucap bu dokter yang dulu menangani Za, Khanza mengangguk.
"Alhamdulillah...mari silahkan duduk, saya dokter Sri"Bu dokter tersenyum ramah dan diangguki oleh mereka bertiga, tak lama Za dibantu suster naik ke ranjang untuk pemeriksaan Usg
Dokter itu tersenyum, Hana dan Afdi memandang layar Usg dengan tatapan bingung, karena tidak mengerti, terlihat di layar hitam itu hanya ada bentuk-bentuk abstrak.
"Nona Khanza...ini calon bayinya, sangat sehat dan aktif, usianya sudah 12 minggu, mau lihat jenis kelaminnya sudah bisa"ucap dokter Sri antusias.
"12 minggu..artinya sudah 3 bulan dok, Ya Allah Za apa kamu nggak sadar jika sedang hamil..!"ucap Hana gemas, ia sangat khawatir karena Za pernah keguguran, dan untungnya saat ini kehamilan putrinya sudah 3 bulan dan janinnya sehat.
Afdi yang mendengar ucapan dokter tersenyum, tanpa sadar ia mengecup singkat kening istrinya.
"Terimakasih sayangku"gumannya lirih.
"Boleh dokter..putra atau putri baby kami dok"Za tersenyum menatap suaminya.
"Ini lihat ada antenanya..baby boy"jelas dokter membuat Za merasa senang dan Afdi mengeratkan rengkuhnya pada pundak istrinya.
Hana keluar lebih dulu dari ruangan dokter, sampai Afdi berbalik kembali dan mendekati sang dokter, Za memandang heran sikap suaminya.
"Dok..bolehkah kami melakukannya, saat istri saya hamil begini"dokter Sri tersenyum.
"Tidak apa..baby kalian kuat..buktinya ia sangat sehat dan aktip di usia yang sudah 12 minggu" dokter Sri tersenyum.
Za terkejut dengan pertanyaan suaminya yang absurd, jarinya menusuk pelan perut suaminya, membuat lelaki itu mengenggam erat tangan halus istrinya.
-
Tak terasa kehamilan Za sudah memasuki 8 bulan, ia mengajukan cuti kuliah selama kehamilannya, karena keluarga dan juga suaminya semakin posesif padanya.
Za masih belum bisa menentukan hatinya, namun ia mulai nyaman dengan sikap suaminya, dan entahlah jika ia bertemu Vero, lelaki yang bisa mengoyahkan imannya.
Untungnya selama cuti ini ia tak bertemu dengan Vero, walau lelaki itu tak berhenti mengirimkan pesan lewat aplikasi W, mengajaknya untuk bertemu dengan sejuta kata rindu yang membuat hati Za ingin berlari kepelukan Vero.
Seperti terakhir dia bermalam di rumah lelaki itu di sabtu sore dan baru pulang setelah senin siang dengan alasan ada tugas kelompok yang harus dipresentasikan.
Dirinya dan Vero tak keluar kamar selama menikmati weekend itu, Vero betul-betul meluapkan rasa rindunya pada Za yang beberapa bulan menghindarinya, walau Vero sudah melakukan DP diruang kerjanya di kampus WX, namun itu belum bisa memuaskan dahaganya akan Khanza.
Za terjebak diantara dua hati, dan wanita labil itu sampai saat ini belum tau pilihan hatinya, ia hanya mengikuti na*** dan hatinya saja.
Sifat Za bagai air di daun talas.
Aku tuh menulis cerita tentang Afdi sampai meneteskan airmata, karena lelaki seperti Afdi itu banyak di dunia nyata dan di depan mataku๐ญ๐ญ๐ญ
__ADS_1
Yuuk kasih vote, like๐๐๐dan comen yang banyak๐๐๐