NAFSU

NAFSU
Kuret


__ADS_3

Warning!!!


Buat anak-anak dibawah umur 21 ke bawah DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel bacanya😜


Vero lelaki tampan itu sedang berhayal, dengan senyum licik ia bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian lelaki tampan itu sudah selesai dengan mandinya, Vero keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terlihat basah dan awut-awutan karena hanya dikeringkan dengan handuk.


Ia menuju lemari pakaian dan berganti dengan stelan kerja berwarna krem, Vero terlihat begitu gagah dan sangat tampan, lelaki yang memiliki tinggi 179 cm dengan wajah campuran terkenal sebagai casanova bagi teman dekatnya.


Vero tak berminat dengan pernikahan, wanita baginya hanya untuk bersenang-senang.


Selesai dengan penampilannya, lelaki itu keluar kamar, Lidya sudah menghilang dari ranjangnya, Lidya sebenarnya sudah memiliki tunangan namun terpisah oleh jarak.


Hanya dengan minum sebotol air mineral tanpa sarapan, lelaki itu menuju garasi mobilnya.


-


Ditempat lain Za terbangun dari tidurnya, mata masih sangat mengantuk karena ia semalam tak bisa tidur pulas, ia selalu merasakan sakit dibagian perutnya.


"Adek sudah bangun, abang bantu-bantu yang lain dulu ya"Afdi mengecup kening istrinya.


"Bang Za masih ngantuk"suara wanita cantik itu terdengar lirih.


Afdi menyuruh istrinya untuk tidur kembali dan setelahnya ia keluar dari kamar.


Za kembali melanjutkan tidurnya, ia merasakankan tubuhnya sangat lelah, akhirnya ia terlelap kembali.


Hari ini di kediaman keluarga Nathan masih disibukkan dengan acara beres-beres setelah acara kemarin.


"Eh nak kau sudah bangun..mana istrimu"tegur sang mertua pada Afdi.


"Za masih tidur..ia kelihatan lelah sekali yah"jelas Afdi pada ayah mertuanya.


"Dasar anak nakal itu..nggak juga dewasa setelah menikah"guman Pak David sembari terkekeh.


Tengah hari acara beberes itu selesai, seluruh barang catring sudah diangkut, begitu pula tenda pernikahan sudah dibereskan oleh WO nya.


Hana mengistirahatkan dirinya di kamar, ia sangat lelah...setelah makan siang bersama tetangga dan keluarga dekat, ia berpamitan untuk istirahat sebentar.


Hana terkesimak begitu melewati kamar putrinya, ia mencium aroma busuk yang cukup menyengat.

__ADS_1


"Bau apa ini...seperti bangkai, apa ada tikus mati..tapi tak mungkin tikus bisa masuk ke rumah ini"guman Hana dalam hati.


Hana memanggil Fahd, dan meminta Fahd mencari sumber bau tak sedap tersebut, namun Fahd merasa tak mencium aroma itu.


"Apa ada masalah dengan penciumanku"guman Fahd dalam hati.


Akhirnya lelaki tampan itu tetap saja melakukan tinta bundanya, namun ia tak menemukan apa-apa.


"Mas sedang apa..?"Kanti memandangi kegiatan suaminya dengan heran.


Bau menyengat membuat wanita itu menutup hidungnya, namun tidak dengan suaminya yang malah mengendus-gendus macam hewan pelacak.


Kanti menarik lembut tangan suaminya dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


Ia melihat penampakan kedua orangtuannya, ia bukan takut dengan sorot mata tajam mereka, namun takut jika mereka memanfaatkan suaminya.


Dua sosok kasat mata itu terus memperhatikan tubuh putrinya, namun Kanti enggan untuk memandang mereka karena sifat mereka yang sangat jahat.


"Mas..nanti sore kita balik ke rumah kita ya"ajak Kanti pada suaminya ketika mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga.


Fahd mengiyakan keinginan istrinya, karena dilihatnya semua pekerjaan sudah beres di rumah ini.


-


Za mengendarai sendiri mobilnya, tidak memakan waktu lama mereka sampai di rumah sakit XX.


Za dan bundanya melakukan pendaftaran terlebih dahulu, karena suasana pagi itu sangat ramai dengan para wanita korban lelaki.


Puluhan menit kemudian Za masuk ke ruangan pemeriksaan begitu mendengar namanya dipanggil.


Setelah melakukan pemeriksaan awal, Za berbaring di ranjang atas perintah dokter.


Za melihat wajah dokter itu yang kelihatan bingung.


"Bagaimana keadaan calon cucu saya dok"Hana memandang layar USg di depan dokter wanita yang usianya berkisar 40 tahun itu.


"Maaf sebelumnya...dari yang saya lihat janin nona Khanza tidak berkembang, sehingga perlu dilakukan...(dokter itu menghela nafas kasar dan menatap wanita cantik itu dengan wajah sendu) kuret?"


Hana dan Za terkejut mendengarnya, wajah wanita cantik itu terlihat pucat karena terkejut.


"Kenapa bisa begitu dok..waktu pemeriksaan bulan lalu, janinnya sehat"sarkas Hana.

__ADS_1


"Maaf bu..hal seperti ini memang biasa terjadi, banyak faktor yang menjadi penyebab, untuk kebaikan nona Khanza perlu segera dilakukan tindakan"jelas bu dokter itu kembali.


Hana menatap putrinya yang terlihat sudah menghamburkan airmatanya, hatinya ikut sakit melihat kesedihan putrinya.


"Nona Khanza masih sangat muda, tunggu tiga bulan lagi setelah kuret, nona bisa program hamil kembali" jelas bu dokter menguatkan hati Za.


Hana memeluk tubuh putrinya dan mengelus-ngelus pundaknya lembut, seolah menyalurkan energi positif agar putrinya kuat.


Hana pamit sebentar dari ruangan bu dokter, untuk menenangkan putri sebelum melakukan tindakan kuret, Hana menuntun putrinya menuju cafetaria rumah sakit, mengajak putri cantiknya untuk bersedia kuret.


Hana memesan teh hangat dan kembali duduk di samping putrinya,


"Sayang apa yang disampaikan bu dokter itu benar, ini semua sudah takdir sayang..kita harus iklas, kau bisa memilikinya lagi nanti..atau kau bisa melanjutkan kuliahmu kembali" saran Hana lembut.


Za kembali terisak dan meringsek dalam pelukan bundanya.


Akhirnya wanita itu setuju untuk kuret, Hana menghubungi mantunya dan suaminya untuk datang ke rumah sakit.


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah berada di rumah sakit, Afdi langsung memeluk istrinya dan menguatkan hati wanita cantik itu.


"Allah lebih sayang padanya dek...ia akan jadi bidadari di surga nanti"guman Afdi lirih di telinga istrinya dan Za mengangguk pasrah.


Setelah semua prosedur ditentukan, Za masuk ke ruang operasi untuk dilakukan kuret.


Pak David dan istrinya serta mantunya duduk menunggu di depan ruang operasi, satu jam setelah Za dibawa ke dalam ruangan, sekarang wanita itu sudah keluar dari ruang operasi dan di dorong dengan bankar menuju ruang rawat pasien.


Za masih belum sadarkan diri karena pengaruh bius, wajah wanita cantik itu nampak pucat.


Setelah berada di ruangan rawat, Hana dan suaminya pamit mencari minuman ke cafetaria pada mantunya dan meminta Afdi untuk menjaga Za.


"Ya bun..silahkan, Afdi akan menjaga Za"Afdi kembali duduk disisi istrinya yang masih belum sadar itu.


"Mungkin ini yang terbaik buat kita sayang, keraguan tentang siapa ayahnya tidak akan menjadi beban pikiranmu lagi, begitu juga aku..aku takut tidak bisa berbuat adil pada anak-anakku kelak"guman Afdi dalam hati.


"Kau begitu cantik, wanita yang sangat sempurna di mataku, aku tau sikap manjamu padaku kemarin karena rasa bersalahmu padaku, dan sebagai suami, aku tak mau orang tau tentang aibmu..jadi inilah cara Allah membantu kita untuk tak saling tersiksa dengan keraguan"guman Afdi lirih.


Ada sesak di hati mendengar ucapan suaminya, ya Za sudah tersadar, namun matanya seolah masih enggan membuka, ia mendengarkan dan dapat merasa sesuatu di sekitarnya.


Bulir bening di sudut mata yang terpejam itu, membuat lelaki yang saat ini menatapnya menjadi terharu, Afdi berpikir tetesan airmata itu karena kesedihan atas kepergian calon baby mereka.


"Za sudah sadar nak.."suara Pak David yang tiba-tiba masuk ruang rawat mengejutkan Afdi.

__ADS_1


Ayooo reader setia..bagi likeπŸ‘πŸ‘πŸ‘..bagi comen dan kalau bersedia bagi vote buat aku😊😊😊😘😘😘


__ADS_2