
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Tubuh Fai melemah, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak, dokter pribadinya sudah datang, dan sedang menangani wanita yang hamil besar itu.
"Aku ingin menemui suamiku"isak Lena begitu sadar, dengan suara yang terdengar lemah.
"Tolong Len...kasihi bayi diperutmu, pikirkan dia"
"Aku ingin menemui suamiku..tolong aku"isak Lena yang membuat Fai bingung.
"Fer..bisakah ia melakukan perjalanan jauh"Fai menunjuk Lena dengan dagunya.
"Jika ibu dan bayinya sehat, bisa saja"
"Kau dengar itu..kau harus sehat baru bisa menemui suamimu!tegas Fai menatap Lena.
Lena menatap sayu kedua putranya yang tak henti menciumi dan menghapus air matanya.
"Kita mengunjungi daddy ya"Lena mengelus kepala Avan dengan lemah.
"Daddy kenapa mom"rengek Avin yang membuat air mata Lena kembali menetes.
"Daddy sakit sayang..kita jenguk daddy ya"
"Aku harus kuat, besok aku harus ke China menemani kak Eric"gumannya dalam hati.
-
Keesokan harinya Lena sudah terlihat tenang, wajahnya yang sembab semalam sudah berganti dengan wajah yang teduh.
Semangatnya untuk menemui lelaki yang sudah mulai ia cintai, membuatnya menguatkan hati.. apapun nanti yang akan terjadi, ia harus kuat.
Fai yang selesai memandikan kedua putranya nampak terkejut melihat Lena yang sudah rapi.
"Aku akan ke China hari ini, aku akan membawa sikembar pada daddynya"
"Aku akan menemani kalian"ucap Fai tenang.
"Tak perlu...aku bisa berangkat sendiri"
"Kau tak bisa membantah...aku tak mau terjadi sesuatu pada kedua putraku, kau pikir mudah dengan perut hamil besar begitu, membawa dua balita...ingat Len ini penerbangan jarak jauh"tegas Fai tak mau dibantah.
Saat ini mereka berempat sudah berada di bandara, Fai segera memesan tiket dan syukurnya ia langsung mendapatkan tikat itu via aplikasi biru.
Fai memesan tiket bisnis, agar Lena bisa lebih leluas.Avin duduk bersebelahan dengan Lena dan Fai dengan Avan.
Perjalanan yang panjang membuat dua bocah itu lebih banyak tertidur.
Fai menengok ke sebelah kiri, dilihatnya Lena yang memejamkan mata, ia tau wanita itu tidak sedang tidur.
__ADS_1
Fai kembali traveling dengan pikirannya, dimana dulu Eric meminta Lena menjadi teman***, Fai jadi serba salah, ia ingin menolak namun tak enak hati karena seperti itulah bisnis, tak pernah jauh dari urusan wanita dan ranjang.
Ternyata saat itu Eric sudah jatuh cinta pada Lena, dan laki-laki gentleman itu langsung menikahi Lena.
Sedang aku yang hampir tiap hari bersamanya, tak menyadari perasaanku sendiri.
"Maafkan aku Len..aku yang gila dan egois, seharusnya aku tak memintamu menemani Eric, hingga kau memilih menjauhi lelaki gila ini, yang tak menyadari sudah sangat menyakitimu"guman Fai dalam hati.
-
Saat ini mereka sudah berada di Kota Beijing, Asisten Eric sudah menyuruh seorang sopir menjemput mereka.
"Kita langsung ke rumah sakit"ucap Lena dengan wajah menegang.
"Pikirkan anak-anakmu, mereka pasti sangat lelah..tidak bisakah mereka beristirahat dulu di rumah, biar kita yang ke rumah sakit"Fai menatap Lena yang terlihat begitu tegang.
"Iya .."Fai berdecak dan akhirnya mobil itu melaju ke kediaman Eric, satu jam mereka sampai di rumah mewah di pusat kota, Lena memeluk pengasuh putranya.
"Kau jaga tuan muda ya, aku akan terus ke rumah sakit menengok daddy mereka"pengasuh sikembar mengangguk dan segera membawa sikembar masuk ke dalam rumah.
Sopir kembali melajukan mobilnya, kali ini tujuaannya ke rumah sakit.
Lena duduk sendiri di kursi belakang, suasana dalam mobil hening tak ada suara.
"Kau tau kejadian kecelakaan itu?"
Fai bertanya pada sang sopir.
"Saya tidak tau..tuan berangkat dengan sopir dari kantor"
"Bagaimana keadaan sopirnya"
"Saya dengar sopirnya meninggal di tempat kejadian"
Mendengar itu tubuh Lena mendadak lemas, isaknya kembali terdengar.
"Ya Tuhan lindungi suamiku"batinnya ngilu.
Disisi lain, Za sedang memantau di lokasi pembangunan perusahaannya, tim survey dan Pak Bisri baru tiba pagi tadi, dan langsung ikut dengan Fahd, Za dan Afdi mengunjungi lokasi.
"Mbak Khanza, mas Afdi dan Mas Fahd..kenalkan beliau ini ketua tim dan surveyor tambang Pak Zulfikar Alif"
Za dan suami serta bang Fahd menyalimi Pak Zulfikar Alif, lelaki setengah baya yang terlihat masih tampan dan terlihat berwibawa itu menerima uluran tangan para pemuda itu dengan senyum ramah.
"Bagaimana menurut bapak?"Pak Zul tersenyum.
"Kami akan melakukan survey dulu dengan tim, karena lahan ini sangat luas, walau saya tau ada potensi besar disini"ujar Pak Zul ramah.
Pembicaraan mereka semakin panjang, karena semangat Za akan usaha barunya ini, membuat Pak Bisri senang.
"Mbak Za..saya suka semangat mbak yang luar biasa..anak muda yang mau berjuang begini..saya salut"Pak Bisri mengacungkan jempol membuat yang lain tertawa.
"Oh ya..bapak-bapak menginap dimana ini?"Fahd menatap dua lelaki setengah baya itu bergantian.
__ADS_1
"Ada penginapan di daerah jalan poros..penginapan Rezeki1"
"Nanti malam..saya mengundang bapak beserta tim untuk makan malam di rumah"undang Za yang diiyakan oleh Pak Bisri dan Pak Zul.
Beberapa menit kemudian, di rumah besar keluarga Nathan.
"Berapa orang dek..?"
"Sekitar 10 orang bun"
"Baiklah nanti bunda dan mertuamu siapkan"
"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh..."ucap Hana menutup panggilan putrinya.
Hana menuju ke dapur, wanita yang masih kelihatan cantik itu menulis apa-apa saja yang mau dimasak untuk menu makan malam, tak lama ia mencari bibik yang mengurus dapur.
"Nen kamu ke pasar sama mbakmu ya, nanti malam kita menjamu tamu, ini yang akan dimasak dan ini uangnya"
Neni membaca tulisan dikertas, ada beberapa menu..
"Baik bu..saya cari mbak dulu, permisi bu"ucap Neni sopan.
Hana kembali ke kamarnya, Shaka cucunya diemong sang besan, hingga waktu Hana hanya diluangkan di dalam kamar.
-
Di sebuah rumah sakit di Kota Beijing, Lena kembali terisak melihat keadaan suaminya yang kritis, lelaki tampan itu masih erat menutup mata.
Lena meraih jemari Eric, menciuminya dengan sayang dan mengarahkannya ke perutnya.
"Kak..bangunlah kami memerlukanmu, coba lihat baby kita ia bergerak mengajakmu bermain"rintih Lena pilu.
Lena terus mengapai tangan suaminya dan dieluskan ke perutnya, "Doakan daddy sehat sayang nak.."isak Lena, Asisten Eric yang melihatnya ikut meneteskan air mata.
"Kak..kamu yang ingin punya anak lagi..kumohon buka matamu kak, kasihani aku dan anak-anakmu..kami membutuhkanmu"isak Lena makin menjadi.
Tiba-tiba Lena merasakan perutnya dielus pelan dan lembut, wanita itu tersentak dan segera memanggil asisten suaminya.
"Dev..lihat..lihat tangan kak Eric"
Dev sontak menatap tangan bosnya dan memang, tangan itu dengan lemah mengelus perut istrinya, pandangan Dev beralih kewajah bosnya, ia melihat mata lelaki itu terbuka redup.
Dev berlari mencari dokter dan tak lama suara derap langkah memasuki ruangan Eric, Fai yang duduk di kursi tunggu sontak terkejut dan bergegas ikut masuk ke dalam ruangan.
"Eric membuka matanya perlahan, tangannya terulur lemah, seakan meminta istrinya mendekat.
Lena masih terisak mendekat ke arah Eric, diciuminya tangan suaminya, tak lama dikecupnya kening suaminya.
Lena mengurai pelukannya, "Jangan tinggalkan kami..."isak Lena.
Lena masih merasa tangan suaminya yang mengelus lembut perutnya, senyum manis lelaki tampan itu mengembang tipis.
Namun tiba-tiba, Lena tersentak ketika tangan itu tak lagi mengelus perutnya, tangan Eric lunglai melemah dan terkulai di samping ranjang.
__ADS_1
Tubuh Lena melemah, dan dengan sigap Fai memeluknya dari belakang.
Yuuuk kasih vote, like๐๐๐ dan comen yang banyak๐๐๐