NAFSU

NAFSU
Kepergian Dun


__ADS_3

Setelah 3 jam pencarian, terdengar teriakan salah seorang lelaki, yang membuat mereka semua berlari menuju arah suara teriakan.


"Paman lihat itu, bukankah itu paman Dun"lelaki tanggung yang masih berusia 20 tahun itu menangis melihat sosok yang dia temukan dalam keadaan mengenaskan.


Mereka semua terkejut dengan keadaan Dun yang sangat mengenaskan.


"Kejadian ini sama seperti beberapa belas tahun lalu, tumbal Ratu Nipo" guman kai lirih.


Para pemuda yang ada disana meremang dan mendekat ke arah kai.


"Ayo segera bawa Dun keluar dari hutan ini!"Kai mengingatkan agar para pemuda itu tidak merasa takut.


Mayat Dun digendong dipunggung oleh Iran, Badi dan pemuda lain memegangi punggung Dun dengan tangan mereka.


Para pemuda tak ada yang bersuara, perjalan pulang dari hutan bambu membuat mereka sedih, apalagi sesekali terdengar isakan Badi.


Lelaki itu masih berpikir dengan nalarnya, "Kenapa sepupunya sampai ke hutan bambu, apa yang dicarinya?"


Tak terasa mereka sudah keluar dari hutan bambu.


"Bawa mayat Dun kerumahku, kita akan kuburkan setelah Kades datang, kau sanggup menemui Kades Di?"


Badi mengangguk, entah apa yang akan ia katakan pada majikannya, walaupun Pak David majikannya, tetapi beliau itu menganggap Dun dan Badi bagai saudara, tak pernah beliau marah atau berkata kasar jika mereka melakukan kesalahan.


"Biar aku menemani paman Badi, kai!" Za berucap dan yang lain mengiyakan, mereka takut Badi mengendarai motor dalam keadaan sedih.


Zaki menjalankan motor dengan kecepatan sedang, ia merasa lelaki di belakang punggungnya masih terisak, karena sesekali ia merasa tetesan air dipunggungnya.


Zaki menghentikan motornya di kantor desa, ia berjalan mengiringi langkah paman Badi.


"Permisi...Pak Kades adakah?"


Zaki bertanya pada seorang lelaki yang duduk di kursi tamu.


"Ada perlu apa, jika urusan administrasi warga, bisa saya tangani?"Lelaki itu menatap Zaki dan Badi bergantian.


"Ini penting..tolong panggilkan Pak David" suara Badi lirih dengan mata merah karena tangisannya tak jua berhenti.


Lelaki itu mengangguk dan masuk ke salah satu pintu, tak lama seorang lelaki gagah keluar bersamanya.


"Badi ada.....?"Pak David tak meneruskan ucapannya ketika tubuhnya langsung dipeluk oleh Badi.


Laki-laki itu kembali menangis dengan pilu, membuat para pegawai kantor desa keluar dari ruang kerjanya masing-masing.


"Dun pak .. Duuun .... hhmmmhmm" Badi melemah dan Pak David segera memapahnya untuk duduk di kursi tamu.


"Yat..ambilkan air minum .... capat!" suara Pak David mengejutkan pegawai bernama Yatno yang tersentak dan cepat berlari mencari apa yang diminta atasannya.


"Minumlah dan tenangkan dirimu baru bicara!"tinta Pak David pelan, sembari memberikan air kemasan dengan sedotan yang dibawakan Yatno.

__ADS_1


Badi menatap kosong ke depan, wajahnya nampak letih, ada guratan kesedihan diwajahnya.


"Dun ditemukan tak bernyawa pak" ucapan Badi membuat semua orang yang ada disitu tersentak.


Pak David merasakan tubuhnya lemas dan beberapa saat kemudian matanya berkaca-kaca.


Ingatannya melayang ke sosok yang saat ini jadi topik pembicaraan.


Akhirnya Badi dan Zaki menceritakan kejadiannya, para pegawai kantor desa merinding ketakutan.


"Ada apa ini pak..kenapa ada kejadian seperti begini?" guman salah seorang pegawai wanita yang sudah berumur.


"Saya akan mengurus jenazah Dun, biar 2 orang lelaki ikut denganku!"tinta Pak David pada bawahannya.


Tak berapa lama mobil Pak David melaju meninggalkan halaman kantor desa, Dun ikut dalam mobil sedang Zaki ditemani oleh Yatno naik sepeda motor.


-


Pak David terisak melihat keadaan mayat Dun, sampai prosesi pemakanan suasana sangat mencekam, warga diliputi rasa takut dan sedih mendalam atas kematian yang tak wajar dari tetangganya.


Beberapa jam kemudian, acara penguburan Dun selesai, Pak David dan dua pegawainya kembali ke rumah Kai Hasbi.


"Pak Kades, berhati-hatilah aku mempunyai firasat tidak baik" Kai Hasbi berucap dan membuat warga yang masih ada di rumah itu ketakutan.


"Semoga desa kita terhindar dari bala"Ucap Pak David segera dan di Aamiinkan oleh orang yang masih berkumpul di rumah Kai Hasbi.


Bukankah ucapan adalah do'a..maka marilah kita berucap dan berharap yang baik-baik.


Walau Pak David masih shock mengingat jenazah Dun, yang sangat mengenaskan dan itu membuat hatinya sakit, tapi sebagai pemimpin ia harus menenangkan perasaan warganya.


"Bisakah Kai Hasbi memberikan saran untuk menghindari masalah itu?"Pak David menatap lelaki tua yang masih terlihat kuat fisiknya itu.


Ucapan Pak David membuat Kai Hasbi tercenung.


Kai Hasbi akhirnya bercerita dan semua yang ada disitu mendengarkan dengan rasa takut.


"Siapa orang itu Kai...?" Kai Hasbi menatap Pak David ragu, ia tau hubungan Pak David dengan orang yang dia maksud.


"Kades Jaya..."


Deeeeegggg....


"Kades Jaya..bukannya itu mertua bapak?"Badi menatap Pak David.


"Iya benar...tapi lelaki itu sudah lama meninggal?"Pak David menatap Kai Hasbi dengan tatapan bingung.


"Ia memiliki anak, bisa jadi anaknya yang melakukan" lirih suara Kai Hasbi.


"Sebentar Kai..apakah ada tanda tertentu setelah hal itu?"Badi semakin bermain dengan nalarnya.

__ADS_1


'


"Ya ...ia akan tampak memesona, ada yang ditujunya" Kai Hasbi menatap Pak David dengan senyum.


"Astaga malam kemarin aku terkesima akan perubahannya Kai, dia cantik sekali"Badi mengingat wajah cantik majikannya.


"Kau tujuannya..hanya kau ...seperti dulu itu" mata lelaki tia itu menatap Pak David, lelaki tampan yang digilai putri Kades Jaya.


Yang lain terkejut dan merinding, sampai ada suara yang membuat mereka sontak terkejut.


"Kita harus membunuhnya, ia harus mati..!!!"suara itu bagai genderang perang dan disambut warga yang lain.


"Ya kita harus membunuhnya, ia harus membayar atas perbuatannya!!!"


Tanpa dikomando para warga sudah berlarian menuju rumah Pak David, lelaki itu seperti kehilangan akal, ia terdiam atas amarah warga.


"Aku yang salah..memelihara iblis dirumahku"guman Pak David lirih, seketika ia mengingat akan istrinya, ada rasa takut akan ucapan Diang tentang kebenciannya pada istri cantiknya waktu itu.


Pak David segera mengikuti warga berlari menuju rumahnya, sangking paniknya ia lupa dengan mobilnya.


Di sisi lain di dalam kamar ritual Diang Ami, wanita yang rupanya sangat cantik itu baru selesai melayani suami gaibnya yang merupakan sahabat gaib leluhurnya, yang berubah wujud sebagai David Nathan.


Rupa sosok itu akan menyerupai manusia manapun yang diinginkan Diang. karena ritual hubungan mereka saat itu sebagai suami istri,


Sosok itu akan akan sangat lembut dan menuruti kemauan Diang disaat ritual suami istri...tak ada warna merah kebiruan seperti lebam disekujur tubuhnya.Ia akan manjakan Diang Ami disetiap sentuhannya.


Berbeda disaat amarah menguasai, ia akan datang dalam wujud mengerikan dengan kekuatan yang membuat lawannya bisa merenggang nyawa, seperti istri-istri Pak David yyang terdahulu, mereka mengantikan Diang Ami karena jiwa mereka kotor dan bisa tersentuh sosok gaib itu.


"Masuklah kedalam dekapanku, mereka datang mencarimu"Suara mengelegar sosok itu kepada Diang.


"Siapa mereka ..?"


"Para warga yang marah atas korbanmu, kenapa kau melibatkan Ratu Nipo itu, kenapa tak meminta bantuanku!"


"Kau tau aku melakukan ini untuk apa..apakah kau tak marah jika aku mengaulinya?"tawa mengerikan terdengar di kamar ritual itu.


"Tak ada perasaan itu pada kami, semakin manusia kotor, kami semakin memujanya"tawa mengerikan itu semakin terdengar menakutkan.


Beberapa jam kemudian, beberapa warga sudah sampai di halaman rumah Pak David.


"Pak kami izin memcari wanita itu."Pak David mengangguk dan mempersilahkan.


Beberapa warga masuk ke dalam rumah dan melakukan pencarian di setiap kamar.


Tiba-tiba suara tawa mengerikan terdengar dan mengetarkan rumah, membuat warga yang ada di sana merinding.


Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka...maaf masih banyak kekurangan dalam ceritaku๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jangan lupa like dan comen๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2