
Pak David merasakan ketegangan yang dirasakan istrinya, ia mengenggam tangan Hana erat, tangan yang dingin karena nervous.
Pak David menghela nafas panjang, dengan sorot mata cemas ia memandang jalan di depannya.
Mobil fortuner merah itu sudah beberapa menit berhenti di halaman rumah Pak David, namun Hana masih bergetar ada rasa takut karena ia menikahi suami orang.
Pak David, memeluk tubuh istrinya agar lebih tenang.
"Ayoo sayang, tidak akan terjadi apa-apa..ayoo!" ajak Pak David pada istri cantiknya yang terlihat pucat.
Hana mengekor dibalik tubuh suaminya, walau Diang Ami pernah menawarkan ia untuk jadi madunya, tapi pada saat itu ia menolak, dan sekarang ia datang sebagai istri Pak David.
"Kalian sudah datang rupanya, bagaimana perasaanmu Han?" Diang Ami menatap wajah Hana dengan senyum, namun Hana merasa senyum itu seperti ejekan untuknya.
"Aa aaku bbaik.. maaf"ucap Hana terbata-bata.
"Ayoolah..aku antar kau ke kamarmu", Diang Ami menarik lembut tangan Hana, gadis itu menatap wajah suaminya dengan sorot cemas.
Pak David mengerti perasaan istri cantiknya, ia mengikuti kemana Diang Ami membawa Hana.
Diang Ami membuka pintu kamar, namun belum sempat terbuka suara Pak David menghentikan aksinya.
"Biar Hana menempati kamar Serly" tinta Pak David.
Diang Ami menatap datar pada Pak David, begitu juga dengan Pak David.
"Ayoo Han ikut denganku" Pak David menarik lembut tangan istri cantiknya.
"Apa aku tidak salah dengar, mas David memanggilku Hana, biasanya ia memanggilku..dek..sayang..atau sayangku, kenapa?..apa ia menjaga perasaan Diang?" batin Hana dipenuhi tanya.
Sesampainya di kamar yang dituju.
"Kau tidak keberatan untuk saat ini tidur di kamar inikan sayang, memang kamar ini milik Serly dulunya, tapi hanya kamar ini yang lengkap dengan kamar mandi di dalamnya" jelas Pak David.
Hana terdiam, ia masih belum paham keadaan rumah suaminya, ia hanya mengangguk setuju.
"Mas janji..beberapa hari kedepan mas akan membuatkan kamar untukmu"ucapan Pak David membuat Hana bingung." membuatkan kamar?, bukankah di rumah ini banyak memiliki kamar"
"Istirahatlah...mas mandi dulu",Pak David keluar dari kamar Hana.
Hana kembali berpikir, "jika berdua saja..mas memanggilku sayang..dek, serumit itukah beristri 2?" batin Hana.
-
Di sisi lain, saat Pak David menuju kamarnya, Diang Ami telah menunggunya.
__ADS_1
"Kau tidak memberitahuku, jika kau menikahi Hana?"tatapan Diang Ami terlihat tajam.
"Bukankah itu maumu?" Pak David berlalu dan masuk ke kamarnya.
"Ingat jangan gunakan perasaanmu pada wanita itu!" Pak David menatap tajam pada Diang Ami dan bergegas masuk ke kamarnya.
"Dia menyukai wanita itu..dia mencintainya..aku tau dari matanya!!!"
Beberapa menit kemudian, Hana yang kelaparan tak berani meminta, ia mengambil air minum untuk menahan laparnya, namun tubuh bergetar, hatinya sesak ketika ia mendengar suara... jelas itu suara Diang Ami.
Hana kembali ke kamarnya dengan cepat setelah ia mengambil air minum, dan ia masih mendengarkan suara itu.
Hana terduduk di bibir ranjang, hatinya terasa sakit, ia mengingat suara itu lagi, suara rintihan dan ******* Diang Ami.
Hana membaringkan tubuhnya, pikirannya berusaha menenangkan hatinya yang sakit.
"Kalau aku sakit mendengar suamiku dengan wanita lain, seperti itulah perasaan Diang Ami"
"Harusnya aku tau diri, akulah yang datang sebagai pihak ke 3, aku harus belajar iklas" pikir Hana berusaha menenangkan dirinya.
Beberapa jam kemudian Pak David masuk ke kamar Hana, ia mengunci pintu setelahnya ia berjalan menuju ranjang.
Pak David perlahan berbaring di samping istrinya yang terlelap, dipandanginya wajah cantik istrinya.
"Bersabarlah sayangku, mas akan selalu ada untukmu, hanya untukmu" Pak David mendekap tubuh sintal istrinya.
-
Hana bergegas ke kamar mandi, bersiap melakukan ibadah subuh.
"Seperti inikah menjadi madu..untuk beribadah saja tak bisa bersama"batin Hana kecewa.
Setelah selesai dengan kegiatan subuhnya, Hana membaca Quran di HPnya, entah apa perasaan Hana saja ia merasa tubuhnya kebas, namun ia berusaha kuat melanjutkan bacaannya.
Disisi lain ruang di dalam kamar itu terasa bergetar, hawa panas membuat penghuninya murka.
Hana selesai dengan mengajinya, ia membiasakan zikir pagi setelahnya dengan rentetan ayat untuk menjaga dirinya atas izin Allah.
Beberapa jam kemudian Hana sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Hana keluar dari kamar, ia menunggu suaminya di teras depan, udara pagi masih segar karena rumah suaminya dikelilingi banyak pohon.
"Kau tidak ingin sarapan dulu Han?" Hana terkejut ketika Diang Ami sudah berada di belakangnya.
"Tidak usah..terimakasih Diang, saya sarapan di kantor saja pagi ini perut saya sebah" tolak Hana sopan.
__ADS_1
Padahal sungguh Hana kelaparan, semalam ia tak makan hanya minum air putih.
Sedihnya baru 1 malam tinggal serumah dengan istri tua Hana sudah kelaparan.
Pak David datang, ia sudah gagah dengan pakaian dinasnya.
" Ayoo kita berangkat!" Pak David berjalan lebih dulu namun langkahnya terhenti ketika Diang Ami menghadangnya dengan menberi kecupan dipipi.
Hana menarik nafas pelan melihat sikap Diang Ami yang ia lihat tidak biasa.
Begitu pula Pak David ia terpaku" sejak kapan wanita ini menciumnya ketika ia akan pergi kerja" batinnya
Beberapa menit kemudian mobil melaju meninggalkan rumah, Hana diam memandangi suasana diluar mobil.
Pak David tau perasaan istri cantiknya.
"Kita sarapan dulu ya di kantor mas" tawar Pak David pada istrinya.
Hana hanya diam tak menjawab, ia merasa aneh dengan suasana yang ia hadapi sekarang.
"Sayang jangan diam." wajah Pak David terlihat gusar.
"Dia tawari makan disaat aku hampir mati kelaparan, di mana dia tadi malam ketika aku kelaparan, ooh ya dia melepas rindu dengan istri tuanya"batin Hana kesal.
"Tidak usah, antar saya ke kantor langsung" ketus Hana tanpa menoleh pada suaminya.
Pak David menatap istrinya sedih, ia tau ia salah..tapi ia takut dengan langkahnya.
Hana turun dari mobil suaminya tanpa salam, ia bergegas masuk ke dalam kantor, dilihatnya Pak Maman.
"Pak mbak Titin buat sarapan nggak?"
Pak Maman begong mendengar ucapan Hana.
Dilihatnya wajah cantik Hana yang pucat,"kamu kelaparan..?" Hana mengangguk.
"Sana mbakmu masak enak tadi!" tinta Pak Maman, tidak perlu disuruh 2 kali Hana sudah berlari dengan perut melilit dan tubuh gemetar menahan lapar.
"Ya Allah Han, nggak usah saja tinggal di sana, untung kamu nggak tinggal nama seperti istri-istri mudanya dulu!" kesal mbak Titin.
"Jangan-jangan istri-istrinya yang meninggal itu nggak dikasih makan ya" pikir mbak Titin Parno.
"Mbak ahh..Hana az yang nggak berani minta makan" ucap Hana.
"Apa harus minta makan dulu Han?" guman mbak Titin kesal.
__ADS_1
Selamat menbaca ceritaku semoga kalian suka, maaf masih banyak kekurangan πππ
Jangan lupa tinggalkan like dan comenπ