NAFSU

NAFSU
Birthday Party Clara


__ADS_3

Tak berapa lama mata indah itu membuka, menangkap sosok tampan yang sedang menatapnya.


Khanza beranjak dari tidurnya, kepalanya ia sandarkan di kepala ranjang, saat ini ia duduk berhadapan dengan suaminya.


Afdi merasakan jantungnya berdebar, menerima tatapan lekat dari istrinya.


"Abang..kenapa menyetujui kemauan bunda"Khanza menunduk sembari memainkan hpnya.


"Abang tidak serta merta menuruti kemauan bunda dek..abang lakukan ini karena abang sayang dan cinta sama adek"


Ddeeeennnggg.....


Khanza menjatuhkan hpnya, sungguh ia terkejut..cinta?..abang bilang cinta?


Khanza masih terdiam, pikirannya seperti mencari cara yang sulit ia dapatkan.


Khanza menarik nafas kasar, tapi ia tak mau terjebak dengan perasaan kasihan..ia ingin memperjuangkan perasaan cintanya, "Apa salah jika ia mempertahankan perasaan cintanya?" gumannya dalam hati.


Afdi menatap istrinya dengan tatapan heran, reaksi Khanza atas pernyataan cintanya, sepertinya tak membuat istrinya itu senang.


"Maaf bang..jika ucapan Za membuat abang kecewa, tapi Za sudah memiliki kekasih dan Za mencintainya"


jdeeerrrr..


Afdi menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya, karena ia tau keseharian Khanza selama ini, seperti tak ada yang bisa disembunyikan Khanza darinya.


"Benar bang..Za sudah memiliki kekasih namanya Bian, Za mencintainya..Za mohon abang tak menaruh harapan lebih pada Za, Za tak mau berbohong dan menyakiti abang"Khanza berbicara dengan perasaan bersalah, melihat Afdi yang sepertinya terkejut dengan penjelasannya.


"Aku tak menyerah Za..aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu!"guman Afdi dalam hati.


"Abang tak bisa memaksamu, abang pun tak melarang perasaanmu..begitu juga kau dek..tak bisa memaksa perasaanku untuk berhenti mencintaimu, izinkan abang untuk mengalihkan perasaan cintamu itu hanya untukku"pinta Afdi dengan ucapan yang tenang dan itu membuat Khanza mengangguk.


Khanza tau lelaki di depannya ini tak akan bisa marah padanya, Afdi abang yang akan menuruti kemauannya, maka itu Khanza ingin bicara jujur...jika memang tak jodoh bang Afdi rela melepasnya.


Afdi mendekat dipeluknya tubuh istrinya dengan sayang, satu kecupan yang lama di kening istrinya, entah mengapa ada ketenangan dan getaran halus di jantung Khanza, gadis itu memejamkan matanya meresapi kecupan lembut di keningnya.


"Za..izinkan abang membuatmu jatuh cinta?"guman Afdi lirih.


Khanza mengurai pelukannya, ia tersenyum dan mengangguk, "Tak ada salahnya melakukan pilihan sebelum dirinya sepenuhnya dimiliki lelaki seutuhnya"pikirnya dalam hati.


-


Saat ini Faiz akan kembali meninggalkan keluarganya, wajah Hana terlihat sedih menatap putra keduanya.


"Jaga kesehatanmu nak..jangan lupa hubungi kami jika sampai disana"Hana berucap lirih di telinga putranya, Faiz mendekap erat tubuh bundanya dan mengiyakan.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada semua keluarga, Faiz melajukan mobil sport hitamnya meninggalkan rumah orangtuanya.


Fahd dan istrinya masih tinggal di rumah itu, orangtuanya baru mengizinkan mereka ke rumah perkebunan setelah seminggu nanti.


Khanza dan Afdi berencana keperkebunan buah, setelah izin pada keluarga mereka, Afdi membawa istrinya itu mengendarai motor menuju ke perkebunan.


Setelah puluhan menit kemudian motor Afdi sudah berhenti tepat di halaman yang sejuk di perkebunan buah, Khanza berlari kecil menuju rumah panggung, Afdi tersenyum melihat kelakuan istrinya.


"Bude..bude..masak apa?"Hana memghampiri istri Pak Wahono yang sedang sibuk di dapur.


"Eehh si cantik...bude buat pecel, mau coba"Khanza mengangguk.


"Jangan dikasih nasi ya de..Za mau peyeknya juga"Bude tersenyum dan segera meracikkan pesanan anak majikannya.


Tak berapa lama..Khanza sudah menikmati pecel di beranda belakang, sembari dari atas rumah panggung melihat para pekerja.


Afdi duduk di samping istrinya, ia meneguk setengah dari botol air meneral milik istrinya.


"Enak dek..."Afdi terasa beliuran melihat cara makan istrinya yang begitu lahap.


"Aaa.."Khanza menyuapkan sedok berisi pecel ke mulut suaminya.


"Enak..abang mau lagi disuapi dek"manja Afdi pada istrinya, Khanza menatap piringnya. tinggal sedikit, abang minta bude az..ini juga kurang"elak Za pada suaminya.


Afdi menuju dapur dan mencari Bude, wanita tua itu kebetulan sedang mencuci piring.


"Bude makanan yang dimakan istriku masih ada?...bisakan saya ..."


"Masih mas ...kebetulan bude buat banyak, siapa tau mas Fahd dan istrinya datang..jadi dilebihkan buatnya..sebentarnya mas bude racikkan"Bude memotong ucapan Afdi karena paham apa maksudnya.


Tak berapa lama Afdi sudah membawa piring berisi pecel dengan ukuran yang lebih banyak, ia duduk di samping istrinya.


Khanza yang memang masih pengen, segera duduk menghadap suaminya, dengan santai ia ikut makan satu piring dengan suaminya.


Setelahnya mereka istrihat di ruang tamu, saling menyandar sembari menikmati tontonan di TV yang merupakan hiburan satu-satunya buat Bude dan suaminya.


Khanza terlihat tertidur, perut kenyang ditambah udara sejuk membuat wanita itu tertidur.


"Kenapa tidak tidur di dalam mas..kasihan badannya non Za nanti sakit kalau tidur begitu"saran bude dan Afdi menurut.


Saat ini Afdi berbaring di samping istrinya, ia mendekap tubuh Khanza erat, sesekali ia mencuri kecupan pada bibir istrinya.


Ini kali pertama ia sedekat ini dengan istrinya, dulu sebelum mereka menikah Afdi hanya berani mengecup kening Khanza, namun saat ini ia akan berusaha membuat istrinya mencintainya dengan caranya.


Di tempat lain mobil sport Faiz, telah meluncur di dalam kota tempat tinggalnya, sedari tadi hpnya terus berdering.

__ADS_1


Tampak dilayar depan panggilan dari Clara, Faiz meletakan earphone di telinganya.


"Kak lagi dimana?"


"Di jalan ... ada apa?"


"Kak nanti malam datang ya di club XX pukul 8 malam, birthday party Cla"rengek manja Clara, Faiz mengiyakan untuk mengbirmati orang tua Clara, tuan Frizt yang merupakan colega bisnisnya.


Setelah memutus panggilan telpon dari Clara, mobil kembali meluncur kencang ke arah apartemen mewah di tengah kota.


Selang 1 jam, Faiz sudah sampai di apartemen mewahnya, ia bergegas menuju ruang kerjanya, mengecek beberapa email masuk dan tak beberapa lama melakukan rapat virtual dengan beberapa rekan bisnisnya.


Waktu menunjukan pukul 4 sore, Faiz selesai dengan pekerjaannya ia merasakan tubuhnya lelah, ia menuju kamar tidur, Faiz berbaring di ranjang size kingnya, mungkin karena tubuhnya terlalu lelah, tak lama ia sudah pulas tertidur.


Di tempat lain di club XX persiapan birthday party Clara sudah selesai saat waktu menunjukan pukul 7 malam, acara awal akan di dampingi kedua orangtuanya dan dilanjutkan dengan acara anak muda setelahnya.


Clara malam ini tampil dengan gaun malam yang sangat mewah berwarna hitam dengan bagian atas yang memamerkan punggung mulusnya dan bagian dada yang rendah.


Beberapa puluh menit kemudian, para tamu sudah mulai berdatangan, namun Cla nampak gelisah, sesorang yang dinantinya belum menampakkan batang hidungnya.


Clara tak mau memulai sebelum yang dinantikannya datang, saat pukul 8 lewat 10 menit, sosok pria yang dinanti datang, senyum mengembang dari Clara, Faiz menuju tuan rumah menyalimi tuan Frizt dan istri.


"Maaf tuan Frizt saya terlambat"sesal Faiz menampakkan wajah penyesalannya.


"Tidak apa Fai..saya tau kau baru dari perjalanan jauh, terimakasih kau bersedia datang"tuan Frizt menepuk lembut bahu Fai dan tersenyum ramah.


Acara dimulai dan Clara minta Fai mendampinginya, bahkan kue pertama diberikan pada Faiz.


Acara berjalan lancar, sampai tuan Frizt berbisik pada Faiz dan terlihat Faiz mengangguk.


"Sayang mama dan papa pulang duluan ya, Fai akan mendampingimu"ucap istri tuan Frizt, dan Clara segera mencium pipi kedua orangtuanya.


Acara semakin berani ketika menjelang malam, penari erotis dengan pakai minim bahan mewarnai panggung yang terbentang ditengah para tamu, yang rata-rata masih muda.


Minuman jus berganti dengan alkohol, sebagian tamu ikut bergoyang mengikuti alunan musik berirama keras.


Faiz duduk di sofa berdampingan dengan Clara, tampilan Clara malam ini membuatnya kagum, Clara nampak lebih dewasa dan terlihat sexy, dan saat ini pmereka sudah menghabiskan sebotol anggur merah.


"Kak temani Cla yuk..gerah nih"Clara menarik lembut tangan Faiz menuju kamar yang sudah di boxing.


Faiz belum terlalu mabuk, ia masih sadar ketika mengikuti Clara yang memeluk lengannya manja.


Semoga cerita ini bisa menghibur pembaca setiaku, maaf atas kekurangan dalam cerita iniπŸ™πŸ˜Š


Jangan lupa tinggalin jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘ dan comen ya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2