
Wanita tua itu menangis histeris, ia meolak ucapan Pak David, baginya ia adalah istri Dev..lelaki yang sangat memujanya dulu.
"Aku tidak akan tinggal diam Dev, Hana akan bernasib sama seperti istri-istrimu dulu!!!"guman Diang Ami dalam hati, hatinya sudah penuh dengan amarah.
Amarah dan kebencian di dalam hatinya membuat sosok gaib itu hadir dan menunggunya di kamar khusus mereka, penebusan dari hati yang dipenuhi amarah dan kebencian...
-
Guyuran air yang terasa dingin bagai menembus tulang di hari yang masih basah oleh embun.
Namun tubuh yang kurus dengan banyak tanda cinta yang tak wajar itu, merasa tak peduli, tubuh yang dulu molek mengundang banyak hasrat kaum adam itu sekarang menyusun, bukan hanya karena lelaki yang dicintainya yang membuat beban hati dan pikirannya, namun juga jiwanya yang sudah menyatu dengan kegelapan.
Sisa kecantikannya masih terpahat jelas diwajah tirusnya, kulit putih bak susu ciri khas masyarakat asli Desa Boru terlihat tak kencang lagi.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, ia mengenakan pakaiannya, setelahnya ia mengunakan kerudung untuk menyamarkan wajahnya, Diang Ami wanita berusia 46 tahun itu keluar dari rumah.
Dun memperhatikan istri tuannya itu yang melangkah meninggalkan rumah menuju arah hutan bambu, ada keinginan dihati Dun untuk mengikuti majikan perempuannya itu.
Dun dan Badi adalah saudara sepupu, mereka penduduk asli dari Desa Boru, ia dulu bekerja pada tuan Nathan yang merupakan ayah tuan David.
Usia Dun dan Badi tidak jauh dari Pak David, Dun lebih tua 3 tahun dari Pak David dan Badi usianya lebih muda 5 tahun dari Pak David.
Dun dulu pernah menikah dengan wanita Desa tetangga, namun istrinya sudah meninggal karena sakit TBC.
Sedang Badi lelaki itu sampai saat ini belum mau menikah, sepertinya ia sangat suka dengan status lajangnya.
Dun berjalan perlahan mengikuti Diang Ami, wanita itu seperti tau jika diikuti, bisa jadi indera rungunya yang tajam, atau suara daun bambu kering yang dipijak pasti menimbulkan bunyi di tempat sesunyi itu.
"Keluarlah Dun..."suara lantang Diang Ami membuat lelaki yang disebut namanya itu keluar dari rimbunan bambu betung.
"Aku hanya khawatir Diang, biar aku mengantarmu" Dun menunduk.
"Baiklah...kau boleh mengikutiku" Diang Ami tau selama ini Dun memiliki perasaan lebih padanya, bukan hanya sebagai pesuruh pada majikan.
Karena Dun pernah mengucapkan rasa sukanya pada Diang.
flashback# Dun dan Diang
Malam itu hujan turun sangat deras , Pak David sedang keluar daerah, Dun yang sedang terjaga keluar dari kamarnya, ia melihat majikannya sedang duduk diruang tengah.
"Diang belum tidur...?"Dun memandang majikan perempuanya yang sedang diam melamun.
Majikannya yang cantik itu tersenyum, dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Saya tidak berani Diang..derajat kita berbeda, biar saya duduk di bawah saja"elak Dun pada majikan perempuannya.
Diang Ami tertawa,"Derajat...aku ini wanita yang menyedihkan Dun, bahkan suamiku tak sudi menjamahku, ia lebih suka menjamah wanita nakal!"keluhnya dengan wajah menyedihkan.
"Bersabarlah Diang.."
"Aku merindukan dirinya Dun"mata Diang Ami menatap Dun sendu.
"Diang wanita yang sangat cantik, bersabarlah dengan Pak David" Dun menatap mata sendu yang selalu menemani tidurnya.
"maaf jika aku berdosa, merindukan dirimu dalam anganku".
"Apakah kau menyukaiku Dun?"Diang Ami menatap Dun tajam seakan menyelidik.
"Maaf Diang, aku tak berani menyukaimu dalam dunia nyata, tapi biar saya mencintaimu dalam angan saya..maaf"Dun tertunduk dan berniat beranjak dari duduknya.
Dun melangkah meninggalkan majikan wanitanya, namun tiba-tiba tubuhnya membeku..tangan lentik nan mulus majikan wanitanya itu melingkar dipinggangnya.
"Temani aku malam ini Dun, aku merindukan suamiku"lirihnya.
Segala kata maaf Dun ucapkan pada Pak David...
Dan atas nama cintanya yang saat ini bukan hanya diangan, rasa yang bertahun-tahun ia tanam tanpa berani bertumbuh itu, malam ini mendapat siraman memabukan.
Dun hanya berani berhayal menyentuh tubuh yang selalu menari-nari di matanya.
Dan malam ini khayalannya menjadi nyata, ia bekerja keras membantu Diang melepas rindu, menancapkan paku hidup dalam inti yang bagi Dun sangat nikmat.
Tak ada lagi jarak derajat dan kasta...mereka saling menguasai untuk mencapai nirwana dan terkapar dengan peluh hasil nikmat.
Dun mendekap kenyataan yang selama ini hanya berani ia impikan.
flashback#Author
Dun mengiringi Diang Ami semakin masuk ke dalam hutan bambu, sampai mereka berhenti di kerimbunan bambu yang seperti membentuk suatu tempat.
Diang Ami menyuruh Dun menunggu di luar, dan ia akan masuk ke dalam.
Dun mengangguk dan duduk diatas batu besar yang ada di sekitar rimbunan bambu.
Dun memandang sekitar perkebunan bambu, sunyi ..sangat sunyi.
"Kehidupan apa yang ada di dalam, kenapa wanita secantik Diang Ami harus bernasib menyedihkan seperti ini" batin Dun iba.
__ADS_1
"Andai ia mau menjadikan aku suaminya, aku akan membahagiakannya, aku akan meminta Pak David melepaskannya?"pikir Dun sok tau...hahhaaahh
Cukup lama Dun menunggu sampai akhirnya Diang Ami keluar dan meminta Dun masuk untuk membantunya.
Hati Dun diliputi rasa takut ketika memasuki rimbun bambu, langkah kakinya gemetar, Diang Ami mengambil tangan Dun dan mengenggamnya.
Dun heran melihat penampakan dalam rimbun bambu, ruangan ini begitu mewah, lantai putih bersih dengan dinding kuning emas bercahaya.
Ada singgasana dengan uliran kepala naga..atau kepala ular.
Seorang wanita cantik mengunakan mahkota berkilau menatap tajam ke arah Dun.
"Dia akan membantuku nyi..."suara Diang membuat Dun menatap Diang.
"Kau mau membantuku kan Dun...?"Diang Ami menatap lembut mata Dun dan tangannya yang lembut mengelus-elus punggung tangan Dun.
Dun yang tak tau apa-apa hanya mengangguk, akalnya seperti hilang.
Beberapa saat kemudian, Dun terkesima dengan keadaan Diang yang polos dan berbaring diatas meja marmer yang beralaskan bulu lembut.
Suara lembut Diang Ami memanggil nama Dun, lelaki itu tersadar dari pesona Diang Ami.
"Duuuunnn..kemarilah!" Dun beranjak menghampiri Diang Ami.
Berkali-kali Dun menelan salivanya, sungguh tu*** polos itu mengodanya, ia pernah bersama dengan tu*** itu melepas hasrat.
"Ayoo Duuun..kau tak mau membantuku melepas rindu?"tatapan wanita itu sungguh mengoda Dun.
Lelaki itu sudah naik ke meja marmer beralas bulu nan lembut, ia mulai mengapai nyata kembali mimpi dan hayalannya, kali ini ia mereguknya lebih dalam dan lebih lama.
Dun terkapar setelah berjam-jam bergelut dengan cintanya, hingga ia banjir peluh dan setelahnya ia tak sadarkan diri, gelak tawa melengking memenuhi hutan bambu.
Diang menatap tubuh polos Dun yang membiru, dipenuhi banyak memar kehitaman, dan matanya terbelalak seperti ketakutan.
Setelahnya Diang Ami melakukan ritual mandi bunga yang dilakukan oleh wanita tua yang hanya menggunakan tapih.
Wajah yang tirus itu mulai berisi dan bercahaya, kulit Diang Ami mulai nampak kencang, cahaya kecantikannya bagai gadis 17 tahun.
"Aku akan mengembalikan perasaanmu"gumannya dalam hati.
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka, maaf ya masih banyak kekurangan dalam ceritaku ini terlebih kesalahan pengetikan๐๐๐
Jangan lupa like dan comen๐๐๐
__ADS_1