
Diang menatap tubuh polos Dun yang membiru, dipenuhi banyak memar kehitaman, dan matanya terbelalak seperti ketakutan.
Setelahnya Diang Ami melakukan ritual mandi bunga yang dilakukan oleh wanita tua yang hanya menggunakan tapih.
Wajah yang tirus itu mulai berisi dan bercahaya, kulit Diang Ami mulai nampak kencang, cahaya kecantikannya bagai gadis 17 tahun.
"Aku akan mengembalikan perasaanmu"gumannya dalam hati.
-
Waktu menunjukan pukul 15, Hana dan rekan-rekannya bersiap untuk pulang.
"Han...kamu sudah nggak pernah ke rumah suamimu lagi kan?" Mbak Sita menjejeri langkah Hana.
"Nggak mbak..emang ada apa?"
Hana menatap Mbak Sita yang terlihat ragu-ragu.
"Kenapa mbak...?"Hana jadi penasaran dengan sikap Mbak Sita.
"Han aku ada ketemu Serly, dia cerita tentang istri tuanya Pak David", Mbak Sita kembali ragu, dan hal itu membuat jiwa kepo Hana makin meronta.
Mbak Sita menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, ia menatap Hana.
"Kata Serly kamu harus hati-hati sama wanita itu" wajah mbak Sita nampak pias.
"Wanita itu mengerikan Han..selama ini ia tak bisa menjamah Serly, karena ia takut dengan warga sini...Serly kan warga asli, orangtuanya juga berteman baik dengan keluarga Pak David"Mbak Sita menatap Hana.
"Katanya ilmu hitamnya ngeri Han..."Mbak Sita bergidik.
Hana sebenarya tau jika Diang Ami ternyata licik, namun ia tak mau punya urusan dengan wanita itu lagi, dan beruntungnya suaminya menuruti kemauannya untuk tinggal diperumahan ini.
'Han..apa dia tau tempat tinggalmu?"
Mbak Sita membuat Hana berpikir, jika manusia biasa mencari alamat memerlukan waktu, bagaimana dengan Diang Ami ia memiliki monster itu.
"Audzubillah himinas syaiton nirojim"
...*Aku berlindung kepada Allah dari godaan syeitan yang terkutuk*...
"Hanya Allah tempatku berlindung" guman Hana dalam hati.
"Nanti mbak carikan orang pinter ya Han, biar nggak bisa dia nemukan kamu"Hana mengangguk dan tersenyum.
"Daah kamu balek giih, jangan keluar rumah menjelang magrib"Mbak Sita menepuk pelan pundak Hana.
-
Pukul 16 lewat, Pak David sudah pulang dari kerjanya, ia langsung masuk ke kamar mandi begitu istrinya membukakan pintu.
Setelahnya kegiatan rutin mereka, mengaji bersama dan melanjutkan dengan zikir.
"Mas... ada pulang ke rumah?" Pak David memandang istrinya, ia merasa aneh dengan pertanyaan istrinya.
"Ada apa sayangku?"Pak David mendekat dan membaringkan kepalanya di pangkuan istrinya.
__ADS_1
Pak David menciumi perut istrinya dengan sayang.
"Mas apakah Diang tau rumah ini?"Pak David melihat kecemasan di wajah cantik istrinya.
"Sayangku..jangan khawatir ya, berdoa saja..ada Allah yang selalu menjaga kita"lelaki itu mengecup kembali perut Hana.
Hana mengangguk, ya kita wajib menjadikan Allah satu-satunya penolong kita, tapi sebagai manusia kita juga harus beikhtiar.
Pak David mendudukan dirinya dan merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya.
-
Ditempat lain Badi bingung mencari Dun, yang mulai pagi tadi sampai menjelanģ magrib begini tak kelihatan batang hidungnya.
Biasanya saudara sepupunya itu selalu pamit jika pergi kemana, ini sampai jam begini tak ada kabar.
"Aku lihat Diang ada di rumah, apa dia tau kemana Dun ya..apa Dun pamit padanya?"
Badi mencari majikan perempuannya, ia melihat wanita itu duduk di hambal di ruang makan, Badi nampak tertegun melihat wajah majikannya.
"Kenapa dia cantik sekali, biasanya wajahnya terlihat lesu dan tak bercahaya, kenapa ini memesona sekali" guman Badi dalam hati.
"Ada apa..?"entah kenapa aku merasa merinding" guman Badi dalam hati ketika Diang bertanya tanpa melihatnya, wanita iti menundukkan wajahnya.
"Maaf Diang..apa tadi Dun ada izin mau pergi?"Badi memperhatikan wanita di depannya yang terus menunduk.
"Tidak.."Jawaban singkat itu membuat Badi segera berlalu dari hadapan Diang.
Badi berniat ke rumah tetangganya untuk menanyakan Dun, siapa tau mereka melihatnya.
"Kau akan menemukan mayatnya",Diang Ami beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Sosok mengerikan itu sudah duduk di tengah ranjang, matanya yang merah menatap Diang Ami.
"Kau harus membantuku, datanglah pada wanita itu, buat ia menjadi pengikutmu" Diang Ami mengelus sosok yang telah berubah menjadi David.
-
Setelah Badi meninggalkan rumah ia menuju rumah tetangga menggunakan sepeda motor, jarak rumah tetangga terdekat bisa ratusan meter, karena rumah mereka dibangun di tengah perkebunan.
"Saya tidak ada bertemu dengan Dun beberapa hari ini, kemana dia pergi?"
Badi menjelaskan perihal Dun, dan tetangga itu akan menghubungi Badi jika melihat atau bertemu Dun.
Diperjalanan Badi singgah di warung kopi penduduk, disitu terlihat beberapa lelaki sedang bercerita.
"Di mau kemana..?"tegur salah seorang lelaki bernama Iran yang merupakan kawan Badi, begitu Badi menyetandarkan motornya.
"Adakah melihat Dun..?Badi ikut duduk dan memesan kopi.
"Kemana dia...aku tak ada melihatnya"
"Tadi pagi aku melihat paman Dun, ke arah hutan Bambu"Seorang anak lelaki menyelutuk, membuat Badi heran.
"Hutan bambu, mau apa Dun kesana?"guman Badi dalam hati.
__ADS_1
"Kau sungguh melihatnya Za?"Badi bertanya pada anak lelaki yang bernama Zaki.
Zaki mengangguk dan merasa yakin melihat paman Dun menuju hutan Bambu.
"Za..apakah kau melihat paman Dun dengan seseorang?"timpal lelaki lain.
Zaki mengatakan tidak melihat siapa-siapa, ia hanya melihat paman Dun saja.
"Di malam begini kita tak bisa mencarinya, wilayah itu sangat gelap dan angker, besok pagi kita semua akan membantu mencari Dun"
"Iya kita akan ikut mencarinya besok, gimana kalau kau bermalam saja dirumahku" lran menawarkan rumahnya karena esok setelah subuh mereka bisa langsung berangkat mencari Dun.
Akhirnya Badi menyetujui, toh ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, berdua saja dengan istri Pak David membuatnya merinding, entah ia sendiri tak mengerti, padahal wajah majikannya itu begitu cantik.
Badi ikut ke rumah Iran ketika warung kopi itu hendak tutup.
"Kami gabung ya paman Iran, biar lebih seru ceritanya"pemuda lajang yang lain akhirnya ikut gabung, mereka begadang dengan obrolan seputar warga yang hilang belasan tahun lalu dan ditemukan sudah tak bernyawa.
-
Hari menjelang subuh, dari mereka yang begadang, hanya Badi dan Iran saja yang tidak tidur, perasaan mereka diliputi kecemasan tentang Dun.
"Kau perlu kopi, aku akan buatkan biar kita tak mengantuk dalam pencarian" tawar Iran pada kawannya.
"Tak usah semalam aku minum kopi, yakin bukan hari ini saja aku tak bisa tidur, tapi besok pun bakal melek nih mata"Dun mengerutu yang membuat Iran terkekeh.
Setelah lepas subuh, dimana mentari masih semburat jingga yang tertutup awan hitam, pencarian Dun mulai bergerak menuju hutan bambu.
"Jangan ada yang tertinggal parangnya, di hutan bambu sarang nipo!!" teriak Iran pada yang lain.
"Kemana kalian pagi buta begini?"tanya lelaki yang sudah sangat tua membawa lanjung dipundaknya, rupanya hendak ke kebun.
"Kami hendak mencari Paman Dun kai"Iran menjelaskan bersamaan dengan Badi.
"Kenapa mencarinya bersamaan ..memang Dun kemana?"
Badi mulai menjelaskan dan kai itu merasa terpanggil untuk membantu mencari.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju hutan bambu.
1 jam perjalanan mereka sampai di hutan bambu, mereka berpencar mencari Dun.
Setelah 3 jam pencarian, terdengar teriakan salah seorang lelaki, yang membuat mereka semua berlari menuju arah suara teriakan.
"Paman lihat itu, bukankah iti paman Dun"lelaki tanggung yang masih berusia 20 tahun itu menangis melihat sosok yang dia temukan dalam keadaan mengenaskan.
Mereka semua terkejut dengan keadaan Dun yang sangat mengenaskan.
"Kejadian ini sama seperti beberapa belas tahun lalu, tumbal Ratu nipo" guman kai lirih.
Para pemuda yang ada disana meremang dan mendekat ke arah kai.
Selamat membaca ceritaku, semoga menghibur kalian, maaf masih banyak kekurangan dalam ceritaku🙏🙏🙏
Jangan lupa like dan comen😘😘😘
__ADS_1