NAFSU

NAFSU
Mau Adek Towok


__ADS_3

Warning!!!


Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐Ÿ˜œ


***


Itulah sikap Vero yang membuat Lidya berani datang, lelaki itu bisa menjadi bos, teman, dan juga patner".


Bagi Vero, Lidya sudah seperti sekertaris sempurna, karna mampu melakukan semua tugas dalam pekerjaan dan kehidupnya pribadi.


Entah keterikatan model apa itu, tapi tentu di mata awam itu hubungan yang tak sehat.


-


Za dan suaminya sedang menikmati makan siang berdua, yang baru saja diantar oleh sekertaris Za, Tika teman Za waktu di kampus.


Tika baru setengah tahun bekerja dengan Za, lama ia mbambung karena tak ada lamaran kerjanya yang diterima.


Usahanya menghubungi Za merupakan kebetulan yang membawa keberuntungan, Za langsung menawarinya menjadi sekertarisnya, bukan karena teman, tapi Za tau potensi temannya itu dan sikap Tika membuat Za merasa aman menjadikannya sebagai sekertaris.


Za merapikan meja sofanya, ia menuju pintu keluar ruanganya.


"Yang aku ke ruangan Tika ya"


Afdi mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Lu sudah makan Ti?"


"Nih sudah selesai..aku beli 3 tadi, yang 1 buat aku"ucap Tika sembari tertawa.


"Nggak apa...harus gitu Ti, jangan sampai aku kenyang lu kelaparan"


"Enak banget aku kerja sama lu Za, serba aman"ucap Tika dengan senyum.


"Aku cerita ke teman-teman mereka pada kesal, katamya aku culas kerja sama kamu nggak bilang-bilang"


"Gimana kabar Merry dan Wulan ya, kangen aku, pengen sekali-kali kumpul sama mereka"


"Entar aku kasih tau mereka, biar atur waktu untuk bisa ngumpul bareng"


"Za lu tau Susan kakak tingkat kita yang pernah jadi selirnya Pak Vero kan"


Za terdiam beberapa detik kemudian ia mengangguk.


"Ia kembali pacaran sama mantan dosen ganteng itu"Za hanya diam menanggapi ocehan Tika.


"Lu koq diam Za"


"Terus aku harus apa..ya nggak apalah mereka pacaran, sama-sama jomblo nggak ada larangankan"


"Susan itu nggak jomblo Za, dia tuh sudah punya suami"


Deeenng...jantung Za berdetak, semoga wajahnya tetap tenang di depan Tika.


"Sudah menikah..?"Tika mengangguk.


"Suaminya itu kerja di Papua, di perusahaan tambang?(Tika berpikir). tambang emas.."

__ADS_1


"Di Freeport ..?"


"Ya itu..jadikan jarang pulang, katanya Wulan bisa setengah tahun sekali atau bisa setahun sekali"


"Ok dah..aku balek ke ruangan suami aku, lu atur saja waktu buat kumpul sama mereka, dirumah aku saja bermalamnya!"Za sengaja memutus percakapan seputar Vero, ia tak mau lelaki itu masih mengingatnya.


Tika mengacungkan jempolnya, dan Za segera kembali ke ruangan suaminya.


Za tak menemukan suaminya di ruang kerjanya,"Abang pasti ketiduran nih"


Za membuka pintu kamar di ruangan kerja mereka, dilihatnya suaminya yang mendengkur halus, kelelah tergores nyata di wajah tampannya.


Za melepaskan sepatu pantofelnya, dan naik ke ranjang.berbaring di samping suaminya.


Ditariknya blusnya keluar dari rok spannya, Za mendekap tubuh suaminya dari belakang.


Matanya terpejam, dan tak sampai 5 menit ia sudah mendengkur halus.


Tika masuk keruangan Za dengan sekedar berdiri diambang pintu, karena tak ada suara sahutan dari dalam, dilihatnya sang bos tak ada, hingga ia pamit pulang lewat chat, karena hari ini ia ada acara menghadiri undangan bersama Wulan ke acara pernikahan mantan kakak tingkat di kampus.


-


Vero sedang menanda tangani beberapa berkas yang sudah dicek Lidya, dan Lidya sendiri masih terlelap di dalam kamar ruang kerjanya.


Tiba-tiba hapenya berdering, Vero menghentikan pekerjaannya, terpampang di layar hapenya nama Susan.


"Sayang...kau sibuk?"


"Ya banyak berkas yang harus aku selesaikan, ada apa sayang?"


"Aku mau kau menemaniku di acara pernikahan Reni?"


"Acaranya setelah magrib sayang"


"Sayang .. aku minta maaf.."


"Ya sudah kalau tak bisa..ok aku tutup"


"Sayang jangan tutup dulu..jangan marah sayang, aku benar tidak bisa tapi nanti setelah jam 10 baru selesai ..bagaimana?"


"Oklah..tidak usah saja"


"weekend nanti aku akan menemanimu, sepuasnya sabtu dan minggu, atau kita pergi kemana untuk melepas penat..eemmm"


"Kita ke Bali...jumat sore..minggu malam kita kembali, siaap"


"Ok sayang...demi kamu aku siaaap"


Vero terkekeh dan tertular ke seberang sana, Susan ikut terkekeh.


"Aku harus melupakannya dan menikmati hari-hariku dengan bersenang-senang, walau sulit melupakan cintaku"guman Vero dalam hati.


Za terkejut begitu melihat jam di hapenya pukul 6 sore, suaminya tak ada di sampingnya, ia segera bangun dan bergegas turun dari ranjang.


Merapikan pakaiannya, lalu keluar dari kamar, dilihatnya sang suami sedang mengecek laporan hari ini.


"Abang koq Za nggak dibangunkan"

__ADS_1


"Kau nyenyak sekali sayang..apa kau ingin menikmati liburan?"


"Liburan terus abangku nih, bukannya kita bakal liburan ke kota K sekalian saat pertemuan itu"


"Itu masih lama sayangku, gimana jika kita curi-curi berlibur minggu ini, berdua..berpacaran..sabtu minggu ini?"Afdi mengedipkan matanya.


"Ke mana..ke kota atau ke perkebunan abang"


"Ke Bali"Afdi menurun naikan alisnya.


Za tertawa lalu beberapa saat kemudian ia mengangguk, pasti asik pacaran berdua suami jauh di Pulau Bali.


"Bang... Shaka ikut ya"


"Kita mau pacaran sayang, mau buat adek untuk Shaka"bisik Afdi lembut dengan tangannya yang sudah mendekap erat pinggang sang istri.


Afdi memberi lum*** kecil di bi*** sexy nan manis milik sang istri.


"Kita lanjutkan di rumah, kasihan putraku..pasti sedang menunggu kita"Za mengangguk dan memeluk erat lengan suaminya.


Satu jam kemudian mobil mereka sudah memasuki halaman rumah, bocah tampan itu sudah cemberut melihat kedua orangtuanya yang terlambat pulang.


"Putramu bang.."ejek Za terkekeh geli melihat sorot mata kesal sang anak.


Afdi segera mengendong jagoannya,"Maaf papa sama mama terlambat datang, papa tadi mau buat adek untuk Shaka"


Za mengeleng mendengar ucapan suaminya, sedang ibu mertua yang berada dekat dengan Shaka tersenyum mendengar ucapan putranya.


"Mana adeknya..Caka mau pa..mana pa"Shaka begitu excited mendengar kata adek.


"Nanti kalau papa sama mama sudah buat ya"


"Nanti Caka ikut buat ya pa"


Sekarang Afdi yang mulai kebingungan dengan pertanyaan putranya yang bersambung.


"Caka nggak mau adek cantik sepelti Aya..Caka mau yang towok"


"Ok sayang..sekarang papa mandi dulu ya, Shaka ikut nenek" bocah tampan itu mengangguk dan tersenyum senang mendapat janji sang papa.


Za menghampiri mertuanya mengambil alih pengasuhan putranya, bocah tampan itu masuk dalam pelukan mamanya.


"Shaka hari ini pinter nggak nek?"


"Cucu nenek selalu pinter, makannya habis dan tidurnya tepat waktu ma"


Shaka tertawa bangga, Za menciumi wajah putranya dengan gemas.


"Anak pinter..."ucap Za menyemangati putranya.


"Kata papa ..nanti dibuatin adek towok ma"Za tercekat mendengar ucapan putranya.


"Abang..kalau bicara nggak pakai rem"guman Za, membuat Sumi terkekeh.


"Caka ga mau adek cantik..mau towok az..ya ma"


Sumi meninggalkan Za dan cucunya dengan tawa yang tak bisa ia tahan.

__ADS_1


"Abaaaaannnggg"


Yuuk kasih vote, like๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ dan comen yang banyaaak๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2