NAFSU

NAFSU
Teman Seperjalanan


__ADS_3

Hana tiba diterminal, sarana yang ada di terminal terlihat kurang terawat, disepanjang kiri dan kanan halaman terminal banyak penjual makanan , ia bingung mencari taxi colt yang bakal membawanya ketempat tujuan.


" mau kemana mbak", seorang lelaki berumur sekitar 30 tahunan dengan pakaian dinas berwarna biru kusam bertanya padanya, tangannya menggenggam karcis dan uang lembaran yang tersusun berdasarkan nilainya.


Hana menyebutkan tujuannya, dan lelaki tersebut mengantarnya menuju taxi trayeknya, Hana celingukan melihat situasi di dalam taxi, "duh sesaknya duduk dimana?", tanya Hana dalam hati.


" kursi belakang masih kurang 1 mbak, atau mau dekat pintu?", seorang lelaki muda menjelaskan.Hana menegok ke belakang seorang lelaki yang nyaris dekat dengan punggungnya, membuat Hana bergeser ke samping.


" di depan ada penumpangnya mas?",


" sudah penuh mbak tinggal 2 lagi, kita langsung jalan!", ternyata lelaki itu sopir taxi.


Taxi colt berpenumpang 15 orang itu keluar dari terminal, sempit terasa karena seharusnya hanya 10 orang muatannya, namun karena tak mau rugi, dibuatlah tempat duduk kayu disetiap lorong kursi, Hana merasakan bau yang membuatnya sulit bernafas, asap rokok dari penumpang lelaki yang tak peduli dengan keadaan penumpang lain.


Hana menengok ke sebelah kirinya, lelaki muda yang umurnya sekitar 2 atau 3 tahun di atas Hana, menyerahkan masker yang masih di dalam plastik, kelihatan belum dipakai, sebenarnya Hana membawa masker namun ia memasukannya ke dalam tas pakaian, Lelaki yang hanya terlihat mata dan alis tebalnya itu meletakan masker tersebut ke pangkuan Hana.


" pakailah, akupun tak tahan baunya", lelaki itu seperti berbisik takut suaranya terdengar orang lain, Hana mengangguk dan segera memakai maskernya dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


" tinggal dimana?", lelaki itu mulai mengajaknya berbicara, dan Hana menjawab setiap pertanyaan Danu, yang ternyata juga berasal dari tempat yang sama, dan syukurnya lagi Danu juga bekerja di daerah yang sama, hanya beda lokasi.


Mereka mulai akrab dengan cerita Danu mengenai daerah yang bakal dituju, Hana mendengarkan dengan antusias.


2 jam perjalanan Hana merasakan kantuk di matanya, ia tak lagi merespon Danu, tak lama gadis cantik berkulit putih itu terlelap, Danu tersenyum dan mengarahkan kepala Hana pada pundaknya, karena sebelah kanan Hana kaca jendela, Danu kasihan setiap mendengar benturan antara kepala Hana dan kaca jendela.


Hana merasakan taxi yang dinaikinya tak bergerak, matanya mengerjap perlahan, ia tersadar kepalanya yang begitu menikmati pundak Danu, dan lelaki itu hanya tersenyum melihatnya.


" maaf mas..sy ketiduran, ini dimana ?", gadis itu menengok ke luar jendela, ia melihat banyak warung makan dan kendaraan lain yang mampir.


" ini terminal Kecamatan Baru, masih 2 jam lagi ke arah kecamatan kita, turun yuk..kita minum yang hangat-hangat?", ajak Danu yang dibalas anggukan oleh Hana.


Danu mengajak Hana menuju rumah makan yang didepannya terpampang tulisan


* Warung Soto Lamongan*, Hana tersenyum karena soto lamongan merupakan salah satu favoritnya.


Hana terkejut ketika melihat Danu membuka maskernya, namun ia berusaha tak memperlihatkan keterkejutannya, ternyata wajah Danu begitu tampan, wajahnya bersih dan bersinar." Masya Allah sudah ganteng g sombong baik hati pula", guman hati Hana senang.


Mereka memesan soto dan jeruk panas, Hana begitu lahap, entah dia lapar atau doyan.Danu berdiri dari kursinya dan menuju kasir ia membayar pesanannya dan Hana, dilihatnya gadis cantik itu menghabiskan sotonya, ia tersenyum sendiri melihat tingkah Hana.


"kenapa mas yang bayar, kita bayar sendiri-sendiri az ya?",


" kamukan belum bergaji, biar mas yang traktir nanti kamu balas kalau sudah gajian"

__ADS_1


tak beberapa lama klason mobil mereka berbunyi, tanda mobil siap berangkat.


Taxi colt kembali melaju meninggalkan terminal Baru, saat ini Hana merasa segar, bisa jadi karena perutnya sudah kenyang dan tadi sudah tertidur.


Tiba-tiba Hana menutup telinganya dan menyembuyikan wajahnya dalam dada Danu, Danu yang terkejut merasakan jantungan berdebar, senyumnya mengembang dalam masker yang tak nampak.


"ada yang mabuk mas, aku g tahan bau dan suaranya", guman Hana dengan lirih, terlihat gadis itu menarik nafasnya panjang dan menghembuskanya perlahan.


" hahaha..kukira ia ingin mendekapku karna apa?", tawa Danu dalam hati, tak berapa lama dilihatnya wajah Hana yang memucat dibawah wajahnya.


" mas maaf aku g tahan dengan baunya,jadi...", dilihatnya Danu mengangguk paham, bagi Danu ini biasa ia lihat, 2 tahun sudah ia bekerja di Kecamatan Aru setiap cuti tahunan ia selalu pulang ke tanah kelahiran. suasana colt yang tidak biasa membuat penumpangnya seperti ikan pepes ..lemah bergulung dalam balutan yang berbau..hahaha


Danu tak sadar tangan mengelus rambut Hana, yang masih bersembunyi dibalik dadanya.tangan gadis itu basah oleh keringat dingin, terlihat lemah tak bertenaga.


Hana berlari meninggalkan tas jinjing yang ditunggui Danu, gadis cantik itu mencari tempat untuk mengeluarkan isi perutnya yang ditahannya sedari mendengar dan mencium bau mabuk darat.


Hana menghampiri Danu yang duduk dikursi kayu panjang di depan loket penjual karcis, wajahnya sudah terlihat segar , Hana sudah mencuci wajahnya tadi dengan air mineral dibotol minumannya, ia tak sanggup mencuci wajah di wc umum, bisa pingsan nanti.


" mau singgah dulu minum teh hangat", tawar Danu, Hana mengangguk, Danu menenteng tas Hana..sedang gadis itu mengedong tas punggung yang berisi keperluannya.


Hana memesan teh panas, begitu juga Danu, mereka menikmati teh sembari ngobrol.


" mas nanti temani saya ke kantor ini ya!", pinta Hana menyerahkan HPnya yang menyimpan alamat kantor Hana.


"Terus aku gimana mas, ke rumah kepala Desa az ya mas, antarkan aku ke sana", pinta Hana.


" Maaf, mas g terlalu srek sama kepala desanya", guman Danu pelan ia menatap Hana seperti memberi taukan sesuatu.


" nanti saja mas cerita, malam ini Hana di mes mas az ya, besok mas izin ngatar Hana ke kantormu",


Hana mengangguk, terus terang ia tak mengenal daerah ini, dan seperti apa karakter warga disini, untung ia bertemu Danu, setidaknya ia merasa punya saudara di kampung orang.


Dari terminal mereka masih harus menunggu taxi desa, untung mereka tiba diterminal pukul 14.00 ditambah ngteh diwarung 30 menit jadi sekarang sudah 14.30, Insya Allah masih bisa bertemu taxi desa yang biasa operasi sampai pukul 16.00.


Hana tiba di mes Danu, tubuhnya terasa menebal, ia merasa ada sesuatu yang mengamatinya, mes Danu terlihat sintrung,


terasa sekali aura mistiknya.


Mes yang ditempati Danu terdiri dari 6 pintu yang penghuninya silih berganti, terkadang 6 pintu itu tidak semua terisi, ada beberapa lokal mes di komplek sini, lokal yang ditempati Danu termasuk yang faailitasnya baik karena Danu termasuk staf di kantornya.


Hana mengucap salam sebelum masuk kedalam ruang tamu, Danu tersenyum dengan prilaku Hana.

__ADS_1


" kalau mau mandi, disini Han", Hana mengangguk dan mwnyiapkan keperluan mandinya.


Hana masuk kekamar mandi ia merasakan sesuatu yang terus mengamatinya, gadis itu tak berani membuka semua pakaiannya, ia memanggil Danu sebelum masuk kembali ke kamar mandi. Hana meminjam sarung untuk telasan..ia tak berani mandi dalam keadaan polos.


-


Suasana malam sehabis magrib begitu hening, maklum di daerah pinggiran desa, menurut mas Danu kantorku dan perumahan yang ada di instansiku lebih terpencil dari ini, mas Danu juga bercerita karakter masyarakat disana yang masih mengunakan cara- cara yang bertentangan dengan agama termasuk kepala desa yang tak disukai mas Danu.


Mas Danu berpesan padaku untuk selalu menghubunginya jika ada sesuatu.


" kalau kau adikku, terus terang aku tak akan mengizinkan menerima tugas di daerah ini, tapi memang ID selalu tertuju pada daerah terpencil dan terisolasi", terang mas Danu.


" sebenarnya walau kau bukan adikku, mas juga sangat khawatir, seorang gadis cantik yang masih muda harus berada didaerah seperti itu", wajah mas Danu terlihat gusar.


"doakan saja Hana baik-baik saja disana mas", Hana menatap lelaki didepannya yang begitu perhatian.


" nanti lagi kita ngobrolnya, kamu g lapar, tapi mas hanya punya mie, telur sama sarden",


" mas lapar, ayoo kita masak", mas Danu mengangguk dan kami menuju dapur sempit ukuran 2x 2 meter. masak mie instan dicampur telur , mereka makan dengan bercerita.


" mas..aku lupa tanya, mas sudah menikah atau sudah punya pacar gitu, aku g enak sama istri atau pacar mas?", Hana menghentikan suapannya begitu teringat sesuatu yang baginya penting untuk ditanyakan.


" aku belum menikah, kalau pacar untuk saat ini juga belum punya, lagian mas seharian dikantor, pulang menjelang magrib g sempat cari pacar", penjelasan Danu membuat Hana senang.


" kenapa senyum-senyum..mau jadi pacar mas", goda Danu


" g gitu mas, seneng az karena g ngerasa nganggu suami atau pacar orang, takut disebut pelakor", gelak Hana. Danupun tertawa melihat gadis didepannya yang sangat nyambung dengannya.


Waktu berjalan pasti, tak terasa obrolan mereka sampai pukul 22.00, setelah mereka selesai sholat isya.


Danu menyuruh Hana tidur dikamar, dan ia tidur diruang tamu dengan kasur tipis yang dapat digulung.


Hana mengunci pintu kamar dan membaringkan tubuhnya yang lelah di kasur busa, ia jadi kepikiran mas Danu yang tidur dengan kasur tipis, pasti badannya sakit besok pagi, dilihatnya selimut yang lumayan tebal terlipat rapi diujung kasur, Hana membawanya keluar kamar.


Danu terkejut melihat Hana didepannya," mas dilapisin ini kasurnya biar g sakit badannya", Hana melipat selimut itu menjadi 4 bagian karena selimut itu cukup lebar Danu berdiri dan membiarkan Hana mengatur tempat tidurnya, entah mengapa ia merasakan debaran dijantungnya melihat gadis itu meyiapkan tempat tidurnya.


Hana tersenyum dan pamit masuk ke kamar, Danu kembali membaringkan badannya, kali ini terasa lebih nyaman, ia tersenyum sendiri melihat Hana yang terlihat cantik dengan daster tidurnya, ada yang terasa hangat dihatinya.


Hana merasakan dadanya sesak, tubuhnya terasa terhimpit beban besar, ia berusaha bangun dari tidurnya, namun tubuh besar itu membuatnya sulit untuk bergerak, dekapan itu begitu kuat.


Selamat mebaca ceritaku

__ADS_1


Semoga kalian suka, maaf jika typo bertebaran🙏🙏🙏


Tinggal like dan comen ya😘


__ADS_2