NAFSU

NAFSU
Aku Serahkan pada Za


__ADS_3

Lampu di teras rumah belum dinyalakan, rumah sewaan yang sudah 2 tahun ini dihuni oleh sepasang anak manusia yang berbeda jenis, dan juga berbeda status sosial itu nampak sepi.


"Tidak biasanya abang jam segini lampu belum dihidupkan"guman Za dalam hati.


Za membuka pintu, ternyata di dalam rumahpun gelap gulita, tangan Za mencari-cari tombol saklar.


Dan tak berapa lama tangannya langsung menekan tombol saklar tersebut.


"Astaghfirullahaladzim.." Za menjerit melihat sesuatu di depannya.


Za melihat suaminya yang duduk membeku di kursi ruang tamu, dengan tatapan mata yang tak mengarah padanya.


"Abang ngagetin az..kenapa lampu tidak dihidupkan?"tanya Za namun suaminya tak menjawab, bahkan tak memandang padanya.


Za merasa aneh dengan sikap suaminya.


"Abang kenapa..abang sakit"Za mendekat dan meletakan telapak tangannya di kening Afdi, tetapi lelaki itu menghindar.


Za terkejut ..."Abang marah sama Za?"


Afdi menatap dalam wajah wanita yang sangat dia cintai, pikirannya sedari tadi sampai rumah berusaha mencari solusi.


"Haruskah aku mundur...?"


"Haruskah aku pertahankan cintaku, apakah Za akan bahagia denganku?"


"Apa yang harus kulakukan Ya Allah..haruskah aku menghukum istriku atas perselingkuhannya!!!"


Za melihat mata suaminya sembab, ia yakin Afdi habis menangis, tidak biasa lelaki yang dikenal Za sebagai sosok yang selalu tampil cool dan pemberani ini menangis."Ada apa..?"


"Kau dari mana dek?"Afdi mengarahkan pandangannya pada istrinya.


"Za baru ngerjakan tugas dengan teman"bohong Za.


Afdi meringis mendengar kebohongan istrinya, ia tak menyangka wanita yang polos, dan membuatnya tergila-gila ini sanggup membohonginya.


"Tugas ..melayani kekasihmu"lirih suara Afdi namun masih terdengar oleh Za.


Wajah Za nampak terkejut, abang mengetahuinya.


"Aku akan menceraikanmu dek, bukan karena tak cinta..tapi aku tak sanggup menahan perasaanmu pada kekasihmu yang sangat kau cintai..dan aku tak sanggup menanggung beban dosa perselingkuhanmu!!!"Afdi berucap pelan tanpa emosi dan segera beranjak masuk ke kamarnya.


Za tersentak dengan ucapan suaminya,"Abang tau...apa ia mengawasiku selama ini?"Za bermonolog dalam hati, ada rasa sakit dihatinya mendengar ucapan suaminya.."Menceraikanku.."guman Za pelan.


Di dalam kamar Afdi kembali merenung, hatinya sakit ketika mengambil keputusan itu..ia ingin mengambil keputusan yang tidak merugikan dan menyakiti siapapun.


Afdi meraih hpnya..ia mencari nama seseorang dan segera menghubunginya, tampak ia tak dapat menahan perasaannya, ia terisak dan tak berapa lama kemudian panggilan terputus.

__ADS_1


Za baru memahami ucapan suaminya, Afdi tak sanggup menanggung beban dosa atas perselingkuhannya dengan Bian, tapi ia mencintai kekasihnya itu, bagaimana jika abang menceritakan kelakuannya selama ini pada orangtuanya.


Za tak beranjak dari ruang tamu, ia masih bimbang menentukan pilihanya, bukan karena perasaannya, karena sampai saat ini cintanya lebih besar ke Bian, ia ingin menuruti hatinya..bukankah hati tidak pernah berbohong?


-


Matahari sudah beranjak naik, Afdi belum keluar dari kamarnya, setelah sholat subuh ia kembali berbaring di ranjangnya.


Hatinya sudah mantap setelah sholat malam memohon petunjuk, "Cinta tak harus memiliki..bukan karena tak sanggup melihat wanita yang ia cintai mendua...tapi ia lebih tak sanggup melihat Za terus melakukan dosa zina"


Za terbangun dari tidurnya, badannya terasa sakit karena semalaman ia tertidur di sofa tamu.


Wanita cantik itu bergegas masuk ke kamarnya, dan membaringkan tubuh lelahnya di ranjang empuk miliknya.


Terasa tak ingat ucapan suaminya semalam, Za menikmati tidur paginya hingga hari lewat siang.


Za terbangun karena merasakan perutnya lapar, ia bergegas ke dapur, namun tak ada masakan seperti biasanya suaminya membuat sarapan pagi.


Za membuka lemari pendingin, ada beberapa snack dan buah, ia mendudukan dirinya di kursi makan dan menikmati snack dan segelas susu coklat kesukaannya.


"Abang masih di kamarnya..sebegitu marahkan ia padaku?"


"Aku sudah pernah bercerita padanya jika aku punya kekasih, dan abang tak mempermasalahkannya, kenapa sekarang sikapnya begitu?"guman Za mencari pembenaran atas sikapnya.


Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, Za keluar melihat siapa yang datang, ia terkejut melihat abang sulungnya datang dengan istrinya.


"Gimana keadaanmu cantik?"Za memeluk tubuh kakak iparnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Aku baik saja kak.."suara Za manja.


Setelah mengantar kakaknya dan iparnya ke kamar, Za masuk ke kamar suaminya.


"Bang..apa abang yang menyuruh bang Fahd datang kemari?"


Za merasa curiga dengan kedatangan Fahd yang tak biasa, ditambah lagi sikap abangnya yang terkesan dingin padanya.


"Abang Fahd walimu setelah ayah..aku tak mungkin meminta ayah datang kemari, kita selesaikan masalah ini dengan baik..tanpa menyakiti orangtua kita"ucap Afdi pelan.


Za kesal dengan sikap suaminya, yang ia nilai pengaduan..tidak bisakah diselesaikan sendiri tanpa keluarganya.


"Dasar pengaduan.."gerutu Za sembari keluar kamar.


-


Saat ini diruang makan..ada tiga pasang mata yang saling menatap.


Za duduk di samping Afdi dengan jarak yang cukup jauh, sedang Fahd duduk dihadapan mereka berdua.

__ADS_1


Kakak ipar mereka tidak ikut dalam pembicaraan ini karena masih lelah dan beristirahat di kamar tamu.


Fahd memulai pembicaraan, ia menanyakan pada adiknya, dasar memang Za, ia jujur tentang hubungannya dengan Bian kekasihnya, dan itu membuat Fahd murka.


"Apa tindakanmu Di..atas perselingkuhan istrimu, dalam agama kau boleh merajam istri yang selingkuh sampai mati"ucap Fahd tegas, yang membuat Za bergidik ngeri namun hatinya tetap marah pada suaminya yang memanggil abang sulungnya untuk datang menengahi masalah mereka.


Za merasa dihakimi..ia tidak terima karena sebelumnya ia sudah menceritakan perasaannya pada Afdi, dan lelaki itu tidak mempermasalahkannya ...kenapa sekarang membuatnya seperti penjahat.


"Maafkan saya bang, saya serahkan keputusan pada Za..Jika ia ingin kembali pada saya, saya mohon pada Za untuk memutuskan hubungan dengan lelaki itu..tapi jika Za.."


"Aku tidak bisa meninggalkan kekasihku bang..aku mencintainya"Za memotong ucapan suaminya.


"Sudah jelas kemauan Za bang, saya yang mundur..semoga Za bisa segera menghalalkan hubungannya dengan kekasihnya"guman Afdi lirih..sakiiiit sangat sakit hatinya mendengar ucapan istrinya..wanita yang sangat ia cintai.


Fahd murka dengan ucapan adiknya, gadis nakal ini sudah sangat kelewatan, andai Za dekat dengannya, tangannya mungkin sudah membekas dipipi adiknya.


Namun sorot mata tajam dengan amarah besar itu meluapkan perasaan nya saat ini atas sikap adiknya.


"Abang lebih membela dia..aku adikmu bang, dia bukan siapa-siapa kita..dia hanya anak pelayan dirumah kita!!"


Plaaaakkk....tamparan keras dipipi mulus itu tak lagi bisa Fahd tahan, ia tak menyangka adiknya akan setega itu pada Afdi.


"Dengar Za...abang lebih menganggap


Afdi sebagai keluarga abang dari pada kamu, sikapmu sangat mengecewakan..betapa terlukanya ayah dan bunda jika tau anak yang mereka sayang berubah jadi mendusa!!!"


Afdi dan Za sama-sama terkejut atas sikap dan ucapan Fahd.


Za berdiri dan ia mengambil kunci motornya, berlari keluar rumah.


Afdi dan Fahd terperanjat melihat sikap keras Za yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.


Za melajukan motornya menuju kostan Bian, namun sesampai di kostan, kekasihnya tidak ada, teman-temannya bilang sejak sore lelaki itu keluar.


Za kembali melajukan motornya menuju rumah Lira, wanita yang baginya sudah seperti saudara yang selalu perhatian dan menyayangi, yang selalu mendukungnya untuk menemukan kebahagiaan.


Motor Za terhenti di simpang jalan, menuju rumah Lira..Za mencoba menstater ulang, namun motor itu tetap tak mau menyala, Za mendorong motornya memasuki perkarangan rumah terdekat dan menitipkan motornya pada pemilik rumah.


Nafas Za memburu begitu memasuki rumah Lira, ia berjalan kaki dari simpang jalan menuju rumah sahabatnya.


Perlahan Za membuka pintu samping yang memang jarang terkunci, kata Lira agar teman-temannya bisa masuk dengan mudah jika ingin beristirahat di rumahnya.


Za terus melangkah menuju kamar Lira, langkahnya gontai karena lelah berjalan tadi..di ruang tengah botol minuman beralkohol berhambur, Za melihatnya selintas dan detik berikutnya langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar sahabatnya yang memang tidak tertutup.


Tubuh wanita cantik itu membeku, tak mampu bersuara...


Terimakasih yang sudah setia membaca cerita aku, semoga menghibur..ambil sisi baik dari cerita ini dan jangan ditiru hal negatifnya yaπŸ™πŸ™πŸ€­

__ADS_1


Jangan lupa likeπŸ‘πŸ‘πŸ‘ dan comen😘😘😘


__ADS_2