
Hana menatap suaminya yang sedang memandangnya dengan senyum, ada yang aneh ia rasa dengan sikap suaminya.
"Ada apa mas, koq senyum gitu?"Hana menatap lekat suaminya.
"Tidak...tidak apa mas hanya senang pada sikap istri cantikku ini, teruslah berpikir baik pada siapapun, tapi sayang...sikap hati-hati itu perlu" Pak David mengelus pipi istrinya.
Beberapa saat kemudian mereka malah kedatangan mbak Titin, Pak Maman, dan Pak Abdul juga istrinya.
"Waaah, rencana kami yang mau berkunjung, mari masuk", Pak David mepersilahkan tamunya masuk.
Mereka duduk di ruang tamu, ngobrolin hasil laporan ke prov.
Hana keluar dengan membawa nampan berisi beberapa gelas teh.
"Aduh Han...seperti tamu jauh saja, nggak usah repot..sini bapak mau tanya tentang ceritamu pada mbak Titin tadi" ucap Pak Abdul membuat Hana mengangguk dan ikut duduk.
Beberapa detik kemudian pintu rumah mas Agus terbuka, ia mendengar suara ramai di rumah sebelah hingga kekepoannya membuatnya ikut gabung.
" Benar Han kau menikah disana dengan Pak David?"Hana mengangguk dan memandang suaminya.
Pak David permisi sebentar, ia masuk ke kamar, beberapa menit kemudian ia keluar dengan membawa dua buku kecil, berwarna merah dan hijau.
Pak David menyodorkan buku nikah itu kepada Pak Abdul dan Pak Maman, sedang Hana menceritakan proses sampai ia menikahi Pak David.
"Aduuuh Han, kenapa bukan aku yang antar kamu waktu itu...senangnya mas Han kalau bisa mengantikan keparat Danu itu" celutuk mas Agus.
"Ya kamu juga kenapa saya tawari kemarin nggak mau..ya bejanya Pak David" ejek Pak Maman.
" Ya sayakan nggak tau kalau acaranya begitu.." gerutu mas Agus.
Pak David hanya memandang wajah istrinya yang tersenyum mendengar ucapan mas Agus, ada rasa takut kehilangan istri cantiknya.
Tak semudah itu juga mas Agus..Hana menikahi Pak David karena mereka sebenarnya sudah ada perasaan suka.
Akhirnya malah mas Agus yang dibully rekan-rekannya..sebagai jomblo forever....hahaahh
Akhirnya mereka pamit pulang ke rumah masing-masing, tapi tidak dengan mbak Titin dan istri Pak Abdul, mereka mengajak Hana dengan alasan mengambil makanan yang sudah disiapkan di rumah mbak Titin, Mbak Titin dan Bu May memberi saran jika Hana ikut tinggal di rumah Pak David dengan istri tuanya, Hana harus mengikuti anjuran mereka.
Hana mengiyakan"Kalau demi kebaikan tidak masalah diiterima anjuran dari mereka yang sudah seperti saudara ini"pikir Hana.
Hana kembali ke rumah dengan membawa nampan berisi, nasi, sayur dan lauk pauk, tidak lupa sambal mangga muda kesukaan Hana.
Hana meletakan nampan di atas meja dapur, begitu sampai rumah.
__ADS_1
Setelah pintu ditutup karena menjelang magrib, Hana bersiap-siap magriban.
"Mas ayoo kita magrib dulu..ambil air wudhu" ajak Hana pada suaminya yang sedang membereskan bawaan dari rumah mertua.
Beberapa jam kemudian setelah selesai isyaan, Hana dan suaminya masuk ke kamar, mereka melanjutkan membereskan bawaan dari kota kelahiran Hana.
"Dek besok kita pindah ke rumah mas atau gimana?"Pak David menghentikan kegiatannya dan menatap istrinya ragu.
"Saya sebagai istri ikut mas saja, tapi alangkah baiknya jika kita tinggal terpisah dari Diang?"Hana melihat ekpresi suaminya yang terkesan cemas.
"Mas apa harus besok pindahnya, kita baru datang .. rumah ini sudah lebih seminggu tak berpenghuni, pamali" Hana menatap suaminya.
Pak David tersenyum,"Baiklah kita disini dulu beberapa hari, baru ke rumah mas"tawar pak David.
-
Sudah 2 malam mereka tinggal di rumah Hana, kemesraan Hana dan suaminya semakin lengket bak perangko, Hana tak mau kejadian yang lalu terulang lagi, kali ini ia selalu mau tau kegiatan suaminya dan siapa teman suaminya.
Pak David tentu saja sangat senang dengan sikap posesif istri cantiknya, ia semakin yakin istrinya mulai mencintainya.
Hubungan penganten baru itu, membuat sosok gaib seperti Sultan panas, ia seperti terbelenggu tak mampu menyentuh raga Hana.
Semenjak pertempuran itu, kekuatannya seperti lenyap dan itu membuatnya lemah, apalagi saat ini Hana selalu bersama dengan suaminya yang terlihat tak mau jauh dari istrinya, ia jadi tak memiliki peluang.
Hal itu membuat tubuh Sultan memanas dan akhirnya lenyap bersama udara malam.
Pak David tersenyum menatap wajah cantik istrinya."sudah capek..?" tatapnya mengoda istrinya setelah melalui malam indah beberapa puluh menit lalu.
Hana mengangguk dan masuk ke dalam dekapan suaminya.beberapa menit kemudian dengkuran halusnya terdengar.
" Aku akan menjagamu dan tak akan melepaskanmu...kau memiliki hati yang tulus itu kelebihanmu" guman Pak David lirih.
Dieratkannya pelukan pada tubuh istrinya, dan ia ikut memejamkan mata menemani istrinya mengapai mimpi.
-
Pagi menjelang, Hana telah siap dengan pakaian kantornya, ia sudah duduk di kursi makan menemani suaminya sarapan.
"Mas..hari ini agendanya apa saja?" ia menatap suaminya lembut.
Pak David mengelus pipi istrinya, senyumnya mengembang dan tatapannya lebih lembut ke manik mata bening Hana.
"Mas pagi ini di kantor saja, akan ada sosialisasi dari kantor sosial mengenai bantuan tunai"Pak David menatap istrinya penuh damba.
__ADS_1
Ia menarik tubuh istrinya yang telah selesai merapikan meja, kedalam pangkuannya.
Hana mengalungkan tangannya dileher suaminya, dengan tangan Pak David yang memeluk pinggang ramping istrinya.kecupan diberikan pada pipi suaminya lembut dan lama, perasaan lelaki 40 tahun itu seakan melambung, bahagia atas perhatian dan rasa sayang istri cantiknya.
"Mas berangkat ya, nanti sore setelah pulang kerja kita ke rumah mas"Han mengangguk dan kembali memberi kecupan singkat dibibir suaminya.
Setelah kepergian suaminya, Hana bersiap ke kantor.
Waktu terus bergulir sampai tiba sore hari, Hana sudah bersiap menunggu kedatangan suaminya.
Beberapa menit kemudian mobil suaminya memasuki halaman perumahan.
Hana tersenyum di depan pintu menyambut suaminya, kecupan lembut dan lama di kening Hana membuat tetangga yang baru membuka pintu shock.
"Aduuuh kasihani nasib jomblo ini Pak Kades, ..nanti malam bisa mimpi buruk aku" gerutu Agus yang dibalas ejekan oleh Hana.
"Nasibmu mas, makanya jangan sok jual mahal sama Siti" tawa Hana pecah membuat suaminya ikut tertawa.
"Han nikah juga milih-milihlah..tega kamu kalau tiap malam aku dikekepin emaknya bekantan" gerutu Mas Agus.
Pak David permisi masuk ke rumah, dan Agus mempersilakan, Hana merangkul lengan suaminya manja dan mejulurkan lidahnya pada Mas Agus, Pak David hanya tersenyum melihat Mas Agus yang kelihatan frustasi.
"Sayang jangan suka menjulurkan lidah begitu sama laki-laki ya, mas nggak rela", tinta Pak David, setelah pintu ditutup.
"Kenapa...?"Hana bingung karena ia mengolok mas Agus yang memang hoby mengodanya.
"Laki-laki bisa tergoda sayang..aku nggak mau itu terjadi" Pak David langsung memberi ci***an lembut pada bibir istrinya.
Hana tersenyum begitu ci***an itu terlepas, ia mengangguk.
"Kita jalan sekarang ya.." ajak Pak David pada istrinya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam mobil yang meluncur ke rumah Pak David.
Sepanjang perjalanan hati Hana, diliputi kecemasan dan sesekali ia menghela nafas kasar.
Pak David merasakan ketegangan yang dirasakan istrinya, ia mengenggam tangan Hana erat, tangan yang dingin karena nervous.
Pak David menghela nafas panjang, dengan sorot mata cemas ia memandang jalan di depannya.
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian terhibur, maaf ya masih banyak kekurangan dan kesalahan pengetikan karena hp murah ini kebanyakan aplikasi jadi hurufnya suka salah-salah πππ
Jangan lupa tinggalkan like dan comenπ
__ADS_1