
Menjelang subuh, semua penghuni rumah tuan Nathan siap berjamaah subuh, Badi di daulat sebagai Imam, bersyukur ia sudah mulai terbiasa sejak tahun lalu menjadi imam di mushola Desa Boru.
Setelah selesai jamaah subuh, para suhu berbicang, dan para wanita menyiapkan sarapan pagi.
"Bagaimana kabar pengantin baru?"Hana tersenyum menatap bik Sumi, wanita itu tersipu dengan wajah malu-malu.
"Sudah pintar ya ngerjai orangtua"Pak David mengusap pucuk kepala istrinya.
"Muda usianya, pengalamannya lebih tua Hana loh mas"alis Hana turun naik.
Pak David tertawa melihat tingkah istri cantiknya, didekap tubuh istri gemas.
"Pagi-pagi juga, sudah buat sakit mata az mbak ini"gerutu Heru.
"Anak dibawah umur nggak boleh comen, jomblo pula"ejek Hana dengan tersenyum.
"Ya ku akui mbak Hana sudah tua"balas Heru bergegas meninggalkan ruang makan.
-
Sebulan kemudian
Hari sudah menjelang sore, dua jagoan sudah mandi dan sedang bermain dengan kai dan neneknya, bik Sumi sedang membuat susu buat sikembar di dapur.
"Sum..sudah ada tanda-tanda belum?"tanya bik Ani yang sedang memasak buat makan malam.
"Tanda apa mak?"Sumi merasa nggak jelas dengan pertanyaan bik Ani, yang biasa ia panggil emak.
"Ya tanda kehamilan Sum"jelas bik Ani yang membuat bik Sumi terdiam, ia memang kepingin punya anak, tapi apa diumurnya yang sudah 32 tahun masih bisa punya anak.
"Kenapa..?"
"Mak bisakah Sumi punya anak, usia Sumi sudah 32 tahun mak..sudah tua"
"Sum umur 32 itu belum tua, seperti emak nih tua"bik Ani menatap Sumi dengan wajah menyakinkan.
"Nanti emak buatkan jamu penyubur, biar cepetan bunya bayi yah" bik Ani memberikan jempolnya..memberi tanda OK.
Bik Sumi senang sekali mendengarnya, ia mengangguk senang, ia sudah tak punya siapa-siapa lagi, hanya suaminya, ia pingin sekali punya anak dari pernikahannya kali ini.
Menjelang senja Pak David dan Badi baru kembali dari perkebunan, mereka langsung menuju pintu belakang.
Membersihkan diri dengan air kran, baru masuk ke rumah dengan memberi salam.
"Mas sudah datang, langsung mandi sayang...biar segar"ucap Hana yang sedang memasukan pakaian ke lemari.
Hana memberikan handuk pada suaminya, dan Pak David bergegas menuju kamar mandi.
Selang 30 menit Pak David sudah keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, lelaki yang sudah berusia 42 tahun itu terlihat memesona dengan tubuh yang masih kekar dan gagah.
__ADS_1
Hana merasakan tubuh segar mendekapnya, wangi sabun menyegarkan.. membuatnya tersenyum atas ulah suaminya.
"Sayang..pakai bajumu, itu sudah Hana siapkan di ranjang" Hana menggelinjang dengan kecupan dibelakang lehernya.
"Pakaikan...?"suara Pak David terdengar lembut merayu.
Hana mengelengkan kepala dengan sikap suaminya, namun ia lakukan juga keinginan suaminya itu.
Pak David senyum-senyum melihat istrinya yang focus memakaikan pakaian ke tubuhnya.
Satu kecupan lembut mendarat dibibir Hana, dengan sedikit ******* yang membuat Hana selalu merasa tersanjung dengan sikap suaminya.
"Love you bunda.."Pak David mengecup mesra kening istrinya.
"Love you to ayah.."Hana memeluk tubuh kekar suaminya.
Mereka keluar dari kamar menuju ruang keluarga untuk sama-sama menunggu waktu magrib.
-
Beberapa jam kemudian, semua sudah berada diperaduannya, si kembar tidur dengan ayah bundanya, hanya saja ia mendapatkan kasur terpisah, Hana dan Pak David tak ingin anaknya tidur di kamar terpisah dari mereka, sikembar masih terlalu kecil untuk tidur di kamar sendiri, itu pikiran Hana dan suaminya mendukung saja.
Di kamar terpisah masih di rumah yang sama, Badi dan istrinya sudah mulai terbiasa satu sama lain, bahkan untuk ritual yang satu itu jadi keharusan bagi Badi yang sangat menyukai atraksi jaran goyang istrinya.
Lelaki yang baru mengenal manisnya rumah tangga itu, seperti bucin pada istrinya.
Beberapa menit setelah masuk kamar tadi, Badi sudah minta jatah, ia sudah mahir goyang pinggul dan membuat Sumi me******, sepertinya Badi balas dendam karena baru menikah di usia 37 tahun, jika ia tau seenak ini beistri, sudah dari dulu-dulunya ia menikah, bisa jadi ia sudah beristri 2..hahhahh.
Beberapa jam berlalu waktu menjelang subuh, aktivitas di rumah tuan Nathan kembali dimulai.
Suara si kembar yang membangunkan ayahnya yang masih terlelap, Hana hanya tersenyum menyaksikan keusilan kedua putranya saat membangunkan ayahnya.
"Yaaah ....banun..eeemmmuuuah"
ciuman basah di wajah sang ayah membuat lelaki itu geli, kebiasaan dua jagoannya, Pak David mendekap dua jagoanya dikanan dan kiri lengannya, dengan posisinya yang tengkurap diciuminya putranya bergantian, membuat sikembar tertawa terpingkal-pingkal.
"Ayah...Fai...mau pipis?"rengek Faiz dengan wajah yang lucu, membuat Pak David bangkit dan mengendong ke dua putranya ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai mandi dan bertiga mereka bertelanjang dada, hanya menggunakan handuk yang melilit
di pinggangnya.
"Ya Allah mas..ini masih subuh, kau ajak putramu mandi junub"geleng Hana melihat ke dua putranya yang kegirangan karna ulah sang ayah.
Pak David tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia segera memakaikan pakaian sikembar.
"Sayangku susu sikembar sudah siap?"Hana mengangguk dan meraih Faiz dalam gendongannya, Fahd dalam gendongan ayahnya,mereka menuju ruang sholat.
"Assalamualaikum cucu kai..sudah ganteng begini" tuan Nathan menciumi kedua cucunya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam kai.."Pak David mengajarkan kedua putranya menjawab salam walau mereka belum sepenuhnya bisa melafalkan.
Bu Maria menciumi pipi kedua cucu tampannya,"geyi nek"ucap Faiz melap pipinya, tuan Nathan tertawa melihat ulah cucunya.
Hana memberikan susu pada dua jagoannya, mereka anteng selama orangtuanya sholat jamaah.
-
Beberapa jam setelah itu mereka menikmati sarapan pagi, Pak David dan tuan Nathan mengajak semua penghuni rumah duduk satu meja menikmati sarapan pagi, tak ada perbedaan dimatanya terhadap penghuni rumah ini, bagi mereka semua yang ada di rumah ini saudara.
Walau kadang Badi atau Pak Pri merasa lebih leluas makan dengan istri mereka saja.
Selesai sarapan pagi, beberapa menit kemudian Pak David dan Badi berangkat menuju ke perkebunan.
Fortuner merah meluncur di jalan yang sudah dicor, membuat jarak tempuh semakin dekat.
"Di nanti setelah dari perkebunan sawit, kita ke perkebunan buah ya, istriku tadi pesan buah manggis, semoga saja berbuah"ucap Pak David.
"Sepertinya musimnya memang pak..kalau feeling saya ada pak"Badi berucap yakin.
Pak David tersenyum senang, iya memang ini saat musim buah , "Jadi ingat waktu nembak Hana" guman Pak David dalam hati.
Badi tersenyum melihat majikanya yang terlihat senang.
Tak lama mereka sudah masuk ke wilayah perkebunan sawit, mobil fortuner merah itu berhenti di halaman kantor PT SR.
Para pekerja menunduk memberi hormat pada Pak David, bos mereka yang baik dan ramah.
Pak David dan Badi masuk ke ruang tamu kantor, dan bercakap-cakap dengan salah seorang pekerja.
"Jar..ikut nggak ke warung si cantik?" seorang pegawai memanggil orang yang berbicara dengan Pak David.
"Maaf pak, saya tidak tau jika ada bapak"sungkan lelaki yang tadi berteriak sembari menundukan kepalanya.
"Kau duluan, nanti aku menyusul"jelas Fajar dan kembali berhadapan dengan Pak David.
"Apa maksudnya warung sicantik, apa ada warung baru..atau orang baru?"tanya Pak David karena ucapan teman Fajar tadi membuat ia berpikir.
"Ada warung baru pak, penjualnya cantik sekali dan masih muda"jelas Fajar malu-malu.
"Warung baru...penjualnya dari mana?"
"Kami tidak tau asalnya pak, ia hanya tersenyum jika ditanya..kalau bapak mau kenal ayo sama saya, kita sarapan disana?"ajak Fajar sopan.
"Ah tidak..saya sudah sarapan..kau saja sana"tolak Pak David.
Fajar permisi dari hadapan pak David, karena memang ia sangat lapar.
"Wanita cantik diperkebunan sawit?"
__ADS_1
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka, maaf atas kekurangan ceritaku iniπππ
Jangan lupa like dan comenπππ