
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau bacaπ
***
Vero mengangguk dan bergegas masuk ke kamar mandi, setelah membuka pakaiannya.
"Luna aku merindukan permainanmu"senyum lelaki itu meyeringai.
Beni kembali teringat pertama kali bertemu Luna, wanita yang usianya 5 tahun lebih muda dari putranya.
Luna datang sebagai putri Doni Kusuma, yang meminta tolong karena Kusuma Grup mengalami masalah finansial, Doni sudah sepakat putrinya bersedia menjadi istri ke dua dari Beni dengan syarat Beni bersedia mengucurkan dana pada perusahaannya.
Selama tiga bulan Beni menutupi hubungan gelapnya dengan Luna, tanpa diketahui istri dan anaknya.
Hingga suatu hari Beni dan Luna kepergok oleh Diana di suatu cafe, dengan berdahlil mencarikan jodoh untuk putranya Beni mengenalkan Luna sebagai putri dari perusahaan Kusuma grup yang merupakan relasi bisnisnya.
Diana yang mendengar kepedulian suaminya merasa senang, apalagi melihat Luna yang cantik dengan usia yang pas untuk putranya, membuat wanita paru baya itu antusias mengenalkan Luna pada Vero.
Dengan sedikit drama pemaksaan, Vero akhirnya menyerah dan saat ini Luna malah mendapat dukungan dari Diana untuk menina bobokan putranya.
"Papa masih di sini"Vero membuyarkan lamunan papanya.
"Kau tau mamamu kalau sudah marah, akan terus diulang kecuali ada topik baru, oh ya bagaimana hubunganmu dengan Luna"
"Aku malas membahasnya pa" Beni menatap Vero dengan tatapan kepo.
" Ya maunya mama...papa tak bisakan menghentikan mama"wajah Vero terlihat kesal.
"Tapi kau dan Luna sudah.."Beni menghentikan ucapannya ketika suara istrinya memanggil dirinya.
Lelaki berusia setengah baya itu segera berdiri, dan bergegas mendatangi istrinya.
"Pa besok pagi jemput Luna di pelabuhan, Vero katanya tidak bisa karena ada masalah di perusahaan"jelas istrinya dan diangguki kepala oleh Beni.
Di kamarnya Vero terlihat gelisah, chatnya yang dikirim pada Za tak pernah dibalas, apalagi teleponnya.
"Wanita itu benar-benar tersinggung dengan ucapan mama"batin Vero kesal.
Sedang Za malam itu setelah isya, sedang melakukan meeting virtual dengan Pak Bisri dan teknisi lapangan atau surveyor tambang, yang akan melakukan survei ke lokasi tambang.
Tentu saja ditemani oleh abang Fahd dan suaminya.
-
Seorang lelaki paruh baya, dengan tubuh tinggi besar turun dari mobil, kacamata hitam bertenger di hidung mancungnya.
Setengah jam menunggu membuatnya menghabiskan tiga puntung rokok.
Tak lama seorang wanita cantik bak model, dengan wajah kebulean tersenyum manis padanya.
"Sudah lama dad"sapanya manis sembari memberi kecupan di pipi.
"Tak masalah lama beby..asal bisa bersamamu"senyum menyeringai.
"Kita cari penginapan dulu beb"Beni melajukan mobilnya, lima belas menit kemudian mobil sudah memasuki halaman penginapan melati.
Setelah melakukan transaksi mereka mendapat kamar, begitu masuk dalam kamar, Beni memeluk tubuh Luna, sembari meraup rakus bi*** ranum Luna.
Luna membalas perlakuan Beni, lima belas menit melakukan pemanasan, Beni sudah memposisikan miliknya, dengan membuka lebar pahe Luna.
Luna dan Beni sama-sama mend**** ketika melakukan penyatuan, detik berikut Beni sudah mulai bekerja keras, mengerakan bokongnya dengan gerakan cepat yang membuat Luna menjerit manja.
Luna sangat menyukai permainan calon mertuanya, yang dulunya ia panggil daddy, Beni selalu memanjakannya ketika di ranjang, berbeda dengan Vero yang hanya sekedar melepas hajat.
__ADS_1
Peluh membasahi tubuh polos mereka, Beni terus menghujami lebih dalam, membuat Luna mer***** nik***.
"Daaad lebih cepat daaah oohh"Luna melihat milik Beni yang keluar masuk di in**, terlihat begitu gagah.
Sampai akhirnya mereka saling mengerang panjang, bersama.
"Oh dad aku menyukai milikmu"puji Luna dengan suara manja.
"Daddy sangat merindukanmu beb"Beni memberi ciuman di kening Luna.
Vero datang ke ruangan Za, dilihatnya wanita cantik itu sedang asik dengan tugasnya.
"Aku ingin bicara"Vero mengetuk meja Za dengan jari telunjuknya.
"Silahkan bapak bicara"Za tak menatap lelaki di depannya, ia tetap asik dengan pekerjaanya.
"Kita bicara di ruanganku"Za mendongak, menatap lelaki tampan di depannya.
"Maaf..tidak ada yang harus saya laporkan, hingga saya harus bicara di ruangan bos"ketus Za.
Za menghubungi seseorang lewat hapenya.Vero terlihat gemas dengan tingkah Za.
"Ayolah sayang kita perlu bicara" guman Vero pelan.
"Pak Budi, saya sudah siap"ucap Za yang membuat Vero berbalik dan melihat Pak Budi yang memberi hormat seraya tersenyum.
"Kami permisi dulu pak"pamit pak Budi dan Khanza berbarengan.
Vero merasa terabaikan, kekesalannya pada mamanya penyebab dari sikap Za yang tak acuh padanya semakin menjadi, padahal ia begitu merindukan wanitanya.
"Ada apa dengan bos Za"ucap Pak Budi membuat Khanza menoleh ke arah lelaki yang duduk di sampingnya.
"Minta salinan laporan keuangan"elak Za.
"Iya Za..ibarat bekerja di warung bakso..ketika kita punya modal dan kesempatan, menurut saya sah-sah saja buka warung sendiri".
Mobil Za memasuki lokasi pembangunan bakal perusahaan Za.
Sudah nyaris tujuh puluh persen diselesaikan, nampak seorang lelaki menghampiri mereka, Afdi mengecup sekilas kening istrinya.
Afdi menyalami Pak Budi, dan mengangguk hormat
"Gimana kabarnya pak.."
"Alhamdulillah baik dek" Pak Budi tersenyum, dan mereka menuju bangunan sementara yang digunakan untuk istrirahat para pekerja.
Setelah tiga puluh menit mereka kembali ke kantor.
-
Disisi lain Fai semakin akrab dengan dua jagoannya, Ia bahkan meminta izin membawa putranya menginap di apartemennya, itu karena Eric belum kembali dari China.
"Kapan Eric kembali ke Indonesia?"Fai menatap Lena dan wanita itu segera membuang pandangannya, begitu matanya bersirobok dengan mata Fai.
"Lusa.."singkat Lena, sembari menyerahkan tas pakai si kembar pada Fai.
"Besok sore sikembar aku antar"ucap Fai sembari mengandeng tangan sikembar menuju mobilnya.
Fai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Lena.
"Kita makan es krim dulu ya pa"Fai mengangguk, membuat Avin tergelak senang.
Lima belas menit mereka sudah berada di stand makanan siap saji, di sebuah moll besar, dua bocah itu terlihat senang.
"Fai..apa kabar?" seorang wanita cantik tersenyum melihat lelaki tampan yang asik bercengkramah dengan dua bocah.
__ADS_1
"Sofi..baik, kau sendiri?"Sofi mengangguk dan tersenyum manis.
"Bergabunglah dengan kami, aku terlihat seperti duda dengan dua anak"keluh Fai sembari terkekeh.
"Duren sawit Fai"Sofi ganti yang terkekeh.
Fai menatapnya, seolah bertanya apa maksudnya?
"Duda keren sarang duwit"gelak Sofi dan Fai pun ikut tertawa.
Mereka terlihat akrab, jika orang melihat pasti mengira, mereka keluarga kecil yang bahagia.
Sofi ikut dengan mobil Fai, karena Sofi tak membawa kendaraan.
"Mau ikut denganku atau langsung pulang"
"Boleh aku ikut"
Fai mengangguk dan melajukan mobilnya menuju apartemennya.
Tiga puluh menit mereka sampai di apartemen Fai, laki-laki itu membiarkan kedua putranya bermain, sedang ia menyaksikan dari ruangan berbeda, Sofi duduk disamping Fai.
Fai menyebut nama Sofi yang membuat wanita cantik itu menoleh, Fai segera menyesap benda kenyal nan ranum milik Sofi.
Wanita itu membalas ci** Fai, dan mend***h begitu tangan Fai menerobos blusnya, meremas lembut gunungnya.
Ci** mereka semakin dalam, "Sayang kita ke kamar ya"Sofi mengangguk.
Fai mendatangi kedua putranya.
"Papa mandi sebentar ya..kalian main disini ..Ok"sikembar mengangguk.
Dengan segera Fai membopong tubuh Sofi menuju kamar, merebahkannya di ranjang segera Fai mengunci kamarnya.
Laki-laki itu membuka seluruh pakaiannya, terlihat miliknya yang sudah on.
Fai kembali meraup bi*** Sofi, mereka saling cec*p dan hi***, sofi melenguh ketika ujung gunungnya dihisap.
Fai mulai menyatukan tubuh mereka, Sofi mengerang nik***.
Tak lama lelaki tampan itu mulai bergerak cepat, suara pelicin yang menyatuhkan mereka terdengar berisik.
Peluh membasahi tubuh polos mereka, tak lama erangan panjang keduanya terdengar bersama tanda meraka mencapai nirwana.Fai rebah disamping Sofi.
"Bermalamlah disini..aku masih belum puas"bisik Fai ditelinga Sofi, wanita itu tersenyum dan menganggukan kepala.
Fai menemani kedua jagoannya tidur dikamar samping kamarnya, mereka asik bermain games.
Pukul 9 malam Fai menidurkan si kembar, jika biasanya ia tidur bertiga, tapi malam ini Fai membiarkan si kembar tidur berdua, ia menuju kamarnya dimana Sofi telah menunggunya.
Malam itu Fai membuat Sofi mend***h sepanjang malam, Lelaki itu sudah lama tak menyalurkan hasratnya, terakhir ia melakukan dengan Sofi di hotel XX.
Pagi hari mentari menerobos masuk lewat cela jendela kaca, Sofi mengeliat dilihatnya Fai tak ada di sampingnya.
Ia bergegas membersihkan diri di kamar mandi, beberapa menit kemudian ia sudah mengenakan pakaiannya semalam.
"Ayo aku antar pulang"Sofi terkejut tiba-tiba Fai masuk kamar.
"Kau akan ke kantor"Fai mengangguk.
"Ke kantorlah biar sikembar denganku"ucap Sofi.
"Maaf ..aku tak bisa, ayo bersiap"tegas Fai segera keluar dari kamarnya.
Yuuk kasih vote, like πππ dan comen yang banyakπππ
__ADS_1