
Warning!!!
Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐
***
Beni mengangguk, Luna tak menyangka jika sikap sombong Diana yang selalu mengagungkan derajat, ternyata latar belakangnya sendiri seperti itu.."Seperti kacang lupa kulitnya!".
Beni menarik Luna dalam pelukannya.
"Ada yang tak harus kamu tau beb, biar ini menjadi rahasia seumur hidup antara aku dan Diana".
"Beb..kau masih minum pilmu?"
"Sudah tidak, sejak kita menikah dad"lirih Luna, seketika senyum Beni mengembang.
"Kenapa kau tak bilang padaku beb..kau menginginkan anak dariku"
Luna tersipu, pipinya merona dan itu membuat Beni gemas, satu kecupan mendarat di pucuk kepalanya.
"Aku baru berani melakukannya ketika kau menikahiku, aku tak mau hamil diluar nikah, nanti kau meninggalkanku dad"manjanya dan membuat Beni terkekeh.
"Semoga segera hadir disini..cinta kita"Tangan besar Beni mengelus perut rata Luna.
"Dad apakah kau tidak akan bicara mengenai pernikahan kita pada Diana?"
Beni menghela nafas kasar...
"Aku pasti bicara padanya, itu pasti terjadi karena saat ini ia sedang sibuk mencarimu"
"Apakah dia akan membunuhku dad.."cemas Luna.
"Aku tak akan membiarkan Diana menyentuhmu"guman Beni mantap.
-
Hari bahagia bagi Pak Alif yang akan mengucap ijab Qobul tinggal menghitung menit.
Lelaki paru baya itu nampak tegang, gurauan Pak Bisri seperti tak terdengar di telinganya.
Padahal ini bukan kali pertama bagi Pak Alif, mungkin efek terlalu lama mengharap Hana yang membuat pria paru baya itu ndredek..semoga saja beliau bisa mengucap ijab Qobul dengan lancar.
Hana keluar dari ruangan dimana ia dirias seperti pengantin pada umumnya, wanita beranak tiga itu terlihat ayu dengan balutan kebaya adat jawa berwarna putih, membuat lelaki yang duduk di sampingnya semakin grogi.
"Santai saja pak..baca bismillah"bisik Fahd lirih pada calon bapaknya.
Tangan Pak Alif berjabat erat dengan penghulu, Heru telah meyerahkan pada penghulu untuk menikahkan mbaknya.
Lelaki itu duduk di samping penghulu, dan tak lama setelah Pak Alif mengucapkan Ijab Qobul yang hadir berteriak...
"Syah...syaaahh.... Alhamdulillah"
Hana diarahkan oleh pak penghulu untuk mencium tangan suaminya, wanita yang masih cantik itu menitikan airmata, dan berganti Pak Alif yang mengecup sekilas kening Hana, suasana yang tadinya syahdu berubah jadi gelak tawa karena candaan Pak Bisri.
"Jangan lama-lama Pak Alif, nanti saja di kamar..nanti waktunya nggak cukup buat foto-foto"
__ADS_1
Pasangan baru itu merona karena gurauan Pak Bisri.
Lena focus menyaksikan ijab Qobul itu dengan memangku Erica, bayi kecil itu asik menghisap jarinya.
Fai mencuri pandang ke arah Lena, namun wanita itu tak menoleh sama sekali ke arahnya, ada rasa kesal dihatinya atas sikap Lena, ia tau wanita itu menghindarinya.
Setelahnya acara ijab qobul, berlanjut dengan ucapan selamat dan acara makan-makan.
"Mas Fahd ..bisa saya bicara"seorang lelaki berusia sekitar 50 tahunan menyalami Fahd.
"Oh ya pak..mari sambil makan kita duduk di situ"ajak Fahd.
"Setelah mereka duduk lelaki itu mengenalkan diri, bahwa ia pengacara Pak Nathan yang menangani waris atas saham di PG Grup.
Fahd nampak terkejut mendengar hal itu, ayahnya tak pernah cerita.
"Iya Pak David tak cerita karena beliau terlalu sibuk dengan perusahaannya yang lain, yang ia rintis sendiri seperti PT SR dan cabangnya dibeberapa daerah"
Akhirnya Fahd menceritakan usaha Za membuka Perusahaan NT grup.
"Kalau usahanya sama begitu mas, untuk membesarkan NT grup, saham di PG grup bisa dialihkan"
Fahd mengangguk dan meminta Pak Erwin mengurus masalah itu, dan meminta beliau untuk tetap menjadi pengacara keluarga termasuk Perusahaan NT grup.
"Begini mas Fahd..sayakan sudah tua, saya akan kenalkan pada putra saya yang juga seorang pengacara, biar ia nanti bisa mengantikan saya sebagai pengacara dalam keluarga Nathan"
Fahd setuju dan menyalimi Pak Erwin.
"Silahkan bapak dan putranya datang keperusahaan PT SR, nanti kita sama-sama berkunjung ke NT Grup"
-
Fai dan Lena telah kembali ke kota, terlalu lama di rumah orangtua Fai, membuat Lena merasa berdosa.
Karena mereka mengira Fai adalah suaminya, wanita cantik itu seperti tak punya muka.
Sepanjang perjalanan sikembar terlelap, sepertinya efek lelah bukan karena rewang namun karena puas bermain dan sekarang baru merasa capek.
Fai focus dengan kemudinya, tak banyak bicara..ia seperti kesal dengan Lena yang menolak lebih lama di rumah bundanya.
Beberapa jam kemudian mobil Fai sudah terparkir di halaman rumah Lena.
Fai mengendong Avin terlebih dahulu, dan meminta security di rumah Lena untuk mengendong Avan.
Setelah menidurkan sikembar, Fai keluar dari rumah Lena tanpa permisi.
"Lelaki menyebalkan itu..tidak pernah berubah, selalu egois"rutuk Lena begitu Fai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.
Fai sampai di aprtemen pukul dua siang, ia menghempaskan tubuhnya disofa tamu.
Suara bel membangunkan lelaki tampan itu, diliriknya jam di pergelangan tangannya pukul tujuh malam.
"Ya Tuhan..pulas sekali tidurku..sekarang perutku lapar"gumannya melangkah ke arah pintu.
Senyum manis menghiasi wajah cantik Sofi begitu melihat sang pencuri hati berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Boleh aku masuk..aku membawa makanan"izin Sofi sopan.
"Tentu masuklah..kebetulan aku lapar.."
"Baiklah aku akan siapkan di meja makan"Fai mengangguk dan mengunci pintu kembali.
Mereka makan dengan tenang, dan setelahnya Sofi membereskan bekas makanan itu.
Sofi mencuci piring kotor mereka di wastafel, tiba-tiba tangan hangat Fai sudah melingkar di perutnya, Sofi tersenyum dalam hati.
"Bermalamlah aku ingin"bisik Fai dan diangguki oleh Sofi.
Di kamar pengantin Hana masih terlihat cangung berduaan dengan Alif.
Wanita itu telah berganti pakaian dengan piyama tidurnya, dilihatnya sang suami sedang sibuk dengan hapenya.
"Mas mandi dulu"Alif tersenyum dan meletakan hapenya.
Lelaki itu mengambil handuk dari dalam kopernya, dan berjalan menuju kamar mandi.
"Mas..ini pakaian mas, saya susun di lemari pakaian ya"tawar Hana dan lelaki itu mengangguk.
Hana mulai mengeluarkan pakaian Alif dari dalam kopernya, dan menyusunnya ke dalam lemari.
Tiba-tiba hape Alif berdering, Hana menghampiri dan melihat panggilan telpon dari Pak Bisri.
Belum sempat Hana menyentuh hape itu sudah mati, tak lama layar hape kembali terang nampak wallpaper yang membuat Hana tercengah, fotonya semasa SMA.
Hana tersenyum dan beranjak menjauh dari meja, kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Alif keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos oblong putih dan celana selutut berbahan kain.
"Mas Hana buatkan teh ya"Hana bergegas keluar kamar, entah mengapa dadanya bergemuruh dan kikuk melihat suaminya.
Alif menatap istrinya itu sampai keluar dan memghilang di balik pintu.
"Dia masih sama seperti waktu SMA, membuat deng-dengkan"guman Alif sembari tersenyum.
Tak lama pintu terbuka, Hana masuk dengan membawa nampan, berisi dua gelas teh yang masih mengepul.
"Mas tehnya.."ucap Hana sembari duduk di sofa.
"Iya dek..terimakasih"Alif mendekati Hana dan ikut duduk di samping wanita itu.
"Mas masih nyimpan foto lawas ya"
Alif tersenyum kikuk dan mengiyakan.
"Obat rindu dek.."canda Alif yang membuat Hana merona.
Alif memyerahkan hapemya, dan membuka galeri,"Ini foto-foto adek"
Namun tiba-tiba Hana tersentak..dan membuat hape itu jatuh le lantai.
Yuuk kasih vote, like๐๐๐ dan comen yang banyak๐๐๐
__ADS_1