NAFSU

NAFSU
Kelahiran


__ADS_3

Warning!!!


Buat yang masih di bawah umur 21 DILARANG baca cerita ini, aku nggak ikut nanggung kalau masih ngeyel mau baca๐Ÿ˜œ


***


Diana mengerutu begitu wanita itu pergi,"Apa lagi yang dilakukan anak nakal itu, pernikahan ini harus secepatnya dilakukan"gumannya dalam hati.


Diana segera menghubungi suaminya, ia mencari hapenya yang ia tinggal di kamar tidurnya.


Wanita paruh baya itu mulai mencari nama suaminya, dan mendealkan panggilan, suara hape suami aktip namun tak diangkat, 1..2...3 panggilan ke tiga baru terangkat.


Disisi lain Beni sedang asik menikmati suara merdu Luna yang teruh meri**** dan mend****, tiba-tiba suara hapenya berdering, ia mengabaikan panggilan itu dan terus memuaskan calon mantunya.


Saat mereka masih mendayung nikmat ketepian, suara hape itu kembali mengusik,"Dad jangan hiraukan aku nyaris ke puncak dad, lebih cepat dad"


"Ya beb..daddy juga..sama-sama kita keluarkan beb"suara Beni tersenggal -senggal, hingga akhirnya mereka mencapai pantai dan terdampar dengan peluh yang bagai rintik hujan di tubuh mereka.


Menit berikutnya suara hape Beni kembali berdering, Laki-laki paruh baya itu meraih hapenya di nakas, dilayar tertulis my wife..


Lelaki itu memberi kode pada Luna untuk diam, namun tubuh mereka masih tak ingin pisah, lengket bak permen karet.


"Ya ma..maaf aku sedang rapat penting dengan klien....?"


"Maksudmu..oh ma, biarkan ia bersenang-senang kau jangan terlalu mengekangnya"


"Sudahlah mam..aku sedang sangat sibuk..aku meninggalkan klien ku.."


Beni segera memutus panggilan istrinya, dan meyeringai menatap wajah cantik dalam pelukannya yang terlihat kepo"


"Dad..ada apa..?"


"Kau tau..wanita tua itu ingin mempercepat pernikahanmu"


"Oh no dad..aku masih tak mau melepaskanmu"rengek Luna manja.


"Kenapa sayang..bukankah Vero lebih muda?"


"Aku lebih menyukaimu dad, kau membuatku gila saat diran***"suara Luna terdengar manja dan memgoda.


"Benarkah beb..bagaiman jika aku yang menikahimu?"


"Kau serius dad..tentu aku mau"Luna menatap genit pada Beni.


"Aku mulai menyukai Luna..mungkin ini cinta, aku sangat bahagia saat bersamanya, sikapnya selalu membuat aku merasa dihargai"guman Beni dalam hati.


"Kenapa dad?"Luna memberi kecupan dipipi Beni sekilas.


"Ayo kita menikah beb!"ucapan Beni membuat Luna terduduk seketika, dan perlahan Benipun duduk berhadapan dengan Luna di atas ranjang.


"Sungguh dad"mata Luna bersinar bahagia, ketika Beni mengangguk.


Wanita cantik itu langsung mendekap tubuh Beni erat, "Aku mau dad..aku mau menikah denganmu"


"Besok kita terbang ke London, kita menikah di gereja dekat rumah keluargaku..bagaimana beb"Luna mengangguk senang.

__ADS_1


"Dad..aku akan menghubungi papi untuk datang ke London, keluarga papi juga banyak di London"


"Hari ini aku akan mengurungmu seharian, aku suka mendengar rengekan manjamu..yang tidak sabaran"ucap Beni sembari mengigit gemas pucuk hidung Luna.


-


Pak Zul sudah berada di lokasi, setelah beberapa jam melakukan survey ulang, lelaki itu melakukan pemetaan, dan Alhamdulillah selesai.


"Pak Zul..sudah makan siang"tiba-tiba Fahd datang memghampiri.


"Nanti saja dek..nunggu Pak Bisri"


"Biar Pak Bisri dengan Za dan Afdi pak, mari bapak ikut dengan saya"ajak Fahd sopan.


Akhirnya Pak Zul naik ke mobil Fahd, mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Pak ...boleh saya bertanya?"


"Oh silahkan dek ..mau tanya apa?"


"Berapa anak bapak?"Pak Zul menghela nafas dan melirik sekilas ke arah Fahd.


"Bapak tak memiliki anak dek, saya menikahpun sudah terlalu berumur, karena saya mencari keberadaan cinta pertama saya yang raib di telan bumi, hingga orangtua saya menjodohkan saya, namun pernikahan saya hanya seumur jagung, karena istri saya meninggal"jelas Pak Zul lirih.


"Maaf pak..saya nggak bermaksud membuat bapak mengingat kesedihan bapak"Fahd menjadi tidak enak hati.


"Nggak apa dek..itu garis hidup saya, dijalani saja"ucap Pak Zul slow.


"Apa cinta pertama bapak, ibu saya?"


"Kami sangat menyayangi bunda pak, tapi kami juga punya kewajiban membahagiakan bunda, jika memang anda jodoh bunda..saya sebagai anak sulung merestui"


Pak Zul sontak menikung posisi duduknya 45ยฐ, Fahd tersenyum ia semakin yakin..bahwa cinta pertama Pak Zul alias Pak Alif seperti panggilan bundanya adalah Hana, bundanya.


"Nak Fahd..eh..maaf..dek"Fahd tergelak melihat sikap polos Pak Zul.


"Saya mau koq pak..jadi anak bapak"goda Fahd membuat lelaki nyaris setengah baya itu tersipu.


Mobil Fahd tak terasa sudah memasuki halaman rumah, terlihat Pak Bisri dan Afdi serta Pak Badi sedang ngobrol di teras.


"Loh makan di sini nak"Fahd tersenyum.


"Panggil nak saja ya pak..saya lebih suka"Fahd tersenyum dan diangguki oleh Pak Zul.


"Aduh..Fahd kau seperti membawa perempuan beranak saja, kami menunggu sampai beliuran"canda Pak Bisri.


hahhaahh...semua tertawa mendengar candaan Pak Bisri.


Mereka langsung menuju meja makan, sengaja Za dan Fahd duduk mengapit Pak Zul, begitu bundanya bergabung, Za langsung berdiri dan meminta bundanya duduk di samping Pak Zul, Za duduk di samping putranya.


"Dia putramu Za..."Za mengangguk.


"Mam..itu siapa?


"Itu om Bisri..yang ini opa Alif..opanya Shaka".

__ADS_1


Hana dan Pak Zul menjadi celingukan, mendengar ucapan Za.


"Za ..nggak adil banget, masak Pak Zul jadi opanya Shaka, saya mau juga loh Za"canda Pak Bisri seperti rengekan.


"Bapak loh beruntung..Shaka panggil om, artinya wajah bapak baby face alias awet muda"


"Iya juga Za..panggilan itu menandai wajah ya..opa berarti wajah Pak Zul tua ya"kekeh Pak Bisri, membuat yang lain ikut tertawa.


"Pak Zul..pasti kangenkan sama bunda..silahkan ngobrolin hal yang tertunda"Fahd berbisik lirih dan segera keluar bersama istrinya, menemani Pak Bisri dan Pak Badi, sedang Afdi menemani putranya.


"Bun Za nemani abang dulu, bunda silahkan ngobrol sama Pak Alif..siapa tau ada yang harus dibicarai"


Za tersenyum dan meninggalkan mereka berdua yang semakin kikuk dan salah tingkah.


Fai baru saja menina bobokan si kembar, dan beranjak dari kamar si kembar menuju ruang tengah.


"Kenapa Len.." Fai melihat Lena yang meringis memegangi perutnya.


"Sepertinya mau lahiran..sakitnya nggak berhenti.."


"Apa..terus gimana"Fai terlihat panik.


"Bantu saya ke rumah sakit.."


"Iya duduk dulu saya panggil bibik"


Beberapa menit kemudian, Fai sudah membawa tas jingjing yang sudah disiapkan Lena jauh hari, agar bisa langsung dibawa ketika mendadak ke rumah sakit, Fai meminta bibik menemani sikembar yang sedang tidur.


Fai melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Bagaimana apa sakit sekali?"wajah Fai terlihat cemas.


"Sakitnya timbul tenggelam..tidak seperti sikembar"


"Oh ya..gimana waktu sikembar"


"Sakitnya tak mau berhenti, pinggangku seperti mau patah"


Fai meringis mendengarnya.


Mobil Fai memasuki halaman rumah sakit, Fai meminta bangkar pada perawat dan mengendong Lena perlahan, wanita itu tak bisa menolak..karena tatapan Fai sangat mematikan.


Bangkar Lena memasuki ruangan bersalin, dan tak lama seorang perawat menarik tangan Fai.


"Bapak istrinya ditemani, kasih semangat biar proses kelahirannya cepat"tinta sang perawat.


Fai tak berkutik kali ini, karena perawat itu melihatnya mengendong Lena ke bangkar, pasti ia mengira Fai suaminya.


Tubuh Fai lemah melihat keringat Lena yang sebiji jagung, wanita itu terus berusaha mengeluarkan bayinya, Fai akhirnya luluh..dikecupnya kening Lena..


"Ayo sayang kamu bisa..ayo demi anak kita"sesak hati Fai..seperti ini Eric memberi semangat pada Lena ketika melahirkan sikembar, bukan satu tapi dua.


Lena meneteskan airmata mendengar ucapan Fai, hatinya sesak namun ada bahagia.."Kau harus segera menatap dunia sayang..."


Yuuk kasih vote, like๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘dan comen yang banyak๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2