
Perlahan Za membuka pintu samping yang memang jarang terkunci, kata Lira agar teman-temannya bisa masuk dengan mudah jika ingin beristirahat di rumahnya.
Za terus melangkah menuju kamar Lira, langkahnya gontai karena lelah berjalan tadi..di ruang tengah beberapa botol kosong bekas minuman beralkohol berhambur, Za melihatnya selintas dan detik berikutnya langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar sahabatnya yang memang tidak tertutup.
Tubuh wanita cantik itu membeku, tak mampu bersuara...
Pandangan mata Za tak lepas dari adegan di atas r****ng, antara kekasih dan sobatnya...Bian dan Lira yang sama-sama dalam keadaan polos, saling meluapkan n****, mereguk nikmat dalam kenistaan.
Tubuh Za ambruk seiring suara laknat Lira dan Bian yang saling bersahutan, airmata wanita cantik itu tumpah tanpa suara, tangan Za membekap mulutnya, sakit itu yang ia rasakan.
Seperti inilah yang dirasakan suaminya.
Dua manusia laknat itu benar-benar tak menyadari kehadiran Za, hingga gadis itu memilih keluar dari rumah sahabatnya, pengaruh alkohol membuat mereka tak peduli situasi sekitar.
-
Disini wanita cantik itu sekarang, duduk di taman sembari terisak, ia malu untuk kembali ke rumah, baru beberapa jam ia sudah merasakan balasan yang sangat menyakitkan atas sikapnya pada suaminya.
"Ya Allah..terlalu hina diri ini di hadapanmu, dihadapan suamiku..apa yang harus kulakukan..aku tak punya muka menemui abang"isaknya pedih.
"Bi aku percaya kau mencintaiku, tapi kenapa kau begitu tega menghianati ku dengan sahabatku sendiri...Lira itukan kekasaran yang kau sukai..kekasaran dari sikap Bi"
Disisi lain..Afdi nampak cemas atas kepergian Za, waktu sudah menunjukan pukul 11.30 malam, namun Za belum juga pulang ke rumah.
Semarah-marahnya Afdi pada Za, ia tak sanggup melihat wanita itu menderita.
"Kita cari Za bang!"ajak Afdi melihat kegelisahan di wajah Fahd.
"Iya mas..kasihan Za..malam-malam begini belum balik, takutnya kenapa-napa"timpal Kanti.
Akhirnya mereka bertiga mencari Za menggunakan mobil, keliling ketempat-tempat yang biasa Za datangi.
Waktu sudah menunjukan pukul 2 malam, mobil Fahd berjalan perlahan diseputar jalan kota.
"Bang stop dulu disini, di taman ini biasanya Za suka kemari saat lari pagi"Afdi turun begitu mobil Fahd berhenti.
Mata lelaki itu menelisik keadaan taman, namun justru telinganya yang mendengar suara isakan.
__ADS_1
"Bang..sepertinya itu suara Za"yakin Afdi mendekati sumber suara.
Disudut taman di atas bangku, Za duduk dengan kaki ditekuk, tangannya memeluk lutut dengan wajah yang dibenamkan diantara dua lututnya.
Afdi mendekat..ia berdiri tepat didepan bangku, dimana istrinya duduk.
Tangan lelaki itu reflex mengelus puncak kepala Za, hatinya sakit melihat wanita yang dicintainya seperti ini.
"Aku iklas berpisah darimu dek, perjuangkan cintamu..aku hanya bisa mendoakan kamu bahagia walau bukan dengan abang"
Za yang merasa suaminya datang mencarinya, menangis meraung..Afdi dan Fahd serta istrinya menjadi salah tanggap atas sikap Za, mereka mengira Za menangis karena tidak mau berpisah dari kekasihnya.
Akhirnya Kanti menarik lembut tangan Za, untuk ikut naik ke dalam mobil.
Beberapa menit kemudian mobil Fahd memasuki halaman rumah, Za masih terisak, terpaksa malam ini Kanti menemani adik iparnya tidur di kamar yang berbeda dari suaminya.
-
Pagi ini setelah melakukan sholat subuh berjamaah, Kanti memasak ditemani Za.
Setelahnya mereka berkumpul menikmati sarapan pagi tanpa suara, hanya denting sendok dan garpu memecah kesunyian di meja makan.
Za menatap suaminya, lelaki itu mengeleng, ya rasanya jiwa laki-laki itu menghilang, ia enggan melakukan sesuatu untuk saat ini.
Untungnya Afdi tinggal menunggu wisuda saja, ia ke kampus karena kegiatan sebagai asdos dan kepengurusannya di organisasi kemahasiswaan yang masih memerlukan dirinya.
Dan yang utama menemani istrinya, ia tak tega Za sendiri di kota ini, kota yang manusianya bisa tega karena ambisi.
Za menatap suaminya, lelaki itu seperti menghindari dirinya.
"Kalau begitu temani abang dan kakak iparmu jalan-jalan di kota ini.Afdi dan Za mengangguk berbarengan.
Beberapa jam kemudian mereka sudah berada di moll terbesar di kota itu, Fahd ingin membelikan pakaian dan segala aksesoris wanita untuk istrinya.
Wanita sederhana seperti Kanti yang tak mengenal kehidupan kota, ia nampak kagum dengan suasana moll dan barang-barang yang baginya mewah.
Setelah puas berbelanja mereka menuju restoran yang sedang viral di moll itu, sangking asiknya berbelanja waktu sudah menjelang sore, baru terasa ketika perut terasa lapar. di restoran itu Fahd duduk bersebelahan dengan istrinya, begitu pula Afdi duduk bersebelahan dengan Za.
__ADS_1
Za melihat kemesraan abangnya dan kakak iparnya, hatinya terasa berdenyut, karena seperti itulah sikap Afdi padanya..penyayang dan penuh perhatian, namun saat ini lelaki itu bersikap seolah tak menganggap ia ada.
Sebenarnya Afdi sendiri tak mau larut dengan perasaannya, ia tau istrinya tidak mencintainya dan lebih memilih kekasihnya, maka ia harus berusaha melupakan perasaannya pada Za.
Saat mereka sedang menikmati makanan, Za permisi untuk ke toilet karena panggilan alam.
Saat menuju toilet ia melihat Bian kekasihnya sedang berpelukan mesra dengan seorang wanita, dan dari penglihatan Za itu bukan Lira.
Za mengikuti mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh, mereka menuju area parkir di bawah gedung, saat menuruni tangga Za melihat dengan jelas Bian menc*** wanita itu, dan cukup panas.
Za menepuk dadanya sesak.
"Lelaki seperti apa yang kucintai, bodohnya aku.."ratap Za sendu.
Tak berapa lama Za sudah kembali ke restoran, ia segera duduk dan menghabiskan makanannya tanpa bersuara, sungguh ia menyesal sekarang..tapi melihat sikap suaminya, ia harus tau diri sekarang.
"Kau sudah selesai dek..ingin jalan lagi"tawar Fahd namun Za mengeleng.
Afdi yang melihat Za nampak lesu tak berani bersikap lebih, ia cukup tau diri bahwa istrinya tak memerlukan dirinya.
Akhirnya mereka pulang ke rumah, Afdi yang membawa mobil karena Fahd mengeluh capek, ditambah besok ia akan kembali pulang.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah, Za segera turun, ia merasa ada yang hilang melihat sikap suaminya yang menjadi lebih pendiam.
"Maafkan Za bang..Za menyesal"gumannya dalam hati.
Malam itu Za tidur sendiri ia terisak menyesali kesalahannya, ucapannya yang menyakiti hati suaminya, lelah terisak hingga akhirnya ia terlelap.
Di kamar lain Afdi memasukkan pakaiannya ke dalam tas, ia berencana kembali pulang ikut dengan bang Fahd dan menunggu wisudanya di rumah bersama orangtuanya.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, sebelum meninggalkan rumah adiknya perempuannya, Fahd menasehati Za untuk membawa lelaki yang menjadi kekasihnya itu untuk menghadap pada orangtuanya, dan meminta restu setelah Afdi resmi menceraikannya di depan orangtua meraka.
Za kembali menangis terisak-isak, hatinya sakit jika ingat ucapannya pada suaminya.
"Abang akan ikut balek dengan bang Fahd, jaga diri adek baik-baik, maaf abang tak bisa menjadi lelaki seperti harapan adek"guman Afdi pilu, mata laki-laki itu berkaca-kaca..sakit!!!itu yang ia rasakan saat ini.
Afdi bergegas membawa tasnya menuju mobil, begitu juga Fahd dan istrinya.
__ADS_1
"Za ikut..Za nggak mau disini sendiri, bang Afdi.. Za nggak mau bercerai dari abang!!"suara tangis Za kembali pecah.
Trims buat reader setia, jangan lupa likeπππ dan comenπππ